By
Mujiburrahman Al-Markazy
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Segala puji milik Allah. Dialah yang telah menciptakan kita. Dialah Allah yang menjamin Rezeki kita. Dialah yang menjadikan kita dari tidak ada menjadi ada, dari setetes nutfah yang hina menjadi manusia makhluk yang sempurna.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ -٤-
“Sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin 4)
Alhamdulillah Allah swtpun menjadikan kita orang Islam. "Sesungguhnya agama yang diterima disisi Allah adalah Islam." (Al- Imron: 19). Maka, sungguh berlipat-lipat kemuliaan yang Allah berikan kepada kita. Menjadi semulia-mulia ciptaan, menjadi sesempurna-sempurna makhluk, memiliki agama paling mulia dan diterima. Dan diberikan iman, modal untuk tidak rugi. "Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian., kecuali orang yang beriman..." (Al-Ashr: 1-3).Shalawat serta taslim kita haturkan kepada junjungan kita, Baginda Rasulullah saw., dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Beliau tidak mempedulikan harta ataupun nyawa berkorban demi tersebarnya agama yang suci ini hingga ke pelosok negeri. Sampailah agama yang suci itu ke haribaan pundak-pundak kita. Kita bukanlah yang pertama, bukan pula yang terakhir tapi kita adalah pelanjut. Pelanjut hanya akan terus berjalan sampai ajal menjemput kita.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Tidak lupa khatib mengajak diri khatib dan jamaah sekalian untuk sama-sama meningkatkan imam dan takwa kita kepada Allah swt. Karena iman adalah pokok dari segala urusan. Jika iman baik maka semua urusan akan berakhir dengan baik pula.
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Adapun judul khutbah yang akan disampaikan oleh khatib pada kesempatan kali ini adalah "Membangun Umat berbasis Masjid dan Rumah" . Masjid adalah basis kebangkitan umat. Masjid adalah rumah Allah, rumah kaum muslimin. Masjid adalah rumah bersama kaum muslimin. Di dalam masjid tidak boleh ada warna selain persatuan. Warna suku tidak boleh mendominasi, warna partai tidak boleh mendominasi, warna organisasi tidak boleh mendominasi. Mesjid adalah rumah bersama, dari suku mana saja, organisasi apa saja, partai mana saja semua harus satu warna. Warna keimanan, warna keislaman, warna ketakwaan. Nabi Muhammad saw bersabda:
«الْمَسْجِدُ بَيْتُ كُلِّ مُؤْمِنٍ»
“Masjid adalah rumah bagi setiap mu’min”.
(Hadits Hasan, Riwayat Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah, Lihat Shahiihul jaami’ no. 6702). Inilah rumah kebangkitan kaum muslimin. Jika berjaya kaum muslimin maka akan tentram seluruh alam. Dunia pernah menjadi saksi selama ratusan abad, ribuan tahun ketika kaum muslimin memegang kendali dunia, kedamaian, kewibawaan, toleransi mewarnai seluruh jagad. Semua dimulai dari masjid.
Allah swtpun., telah menggambarkan:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS Attaubah:18)
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah.
Masjid adalah rumah bersama. Berarti, setiap kita punya rumah atau tempat kediaman pribadi. Rumah benar peruntukannya adalah rumah yang dibangun berbasis masjid, dengan berlandaskan iman dan taqwa.
Keluarga yang merupakan bagian komunitas terkecil dalam masyarakat. Jika dari rumah telah terbentuk pribadi-pribadi surgawi yang beretika, beriman, bertakwa kepada Allah. Maka hidup lebih mulia daripada mati karena manfaat lebih banyak yang diberikan dan pahala, kemuliaan akhirat terus didapatkan.
Sebaliknya, jika rumah kita dibangun bukan berlandaskan iman dan takwa, akan melahirkan generasi semerawut, generasi perusak, adalah lebih baik hidup dibawah bumi daripada di atasnya karena dosa demi dosa dicipta, maksiat demi maksiat terus berbuah maksiat. Lebih baik mati dan terputus celah untuk berdosa daripada hidup memupuk dan menyuburkan dosa. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS.at-Tahrim:6)
Bagaimana seharusnya kita membangun rumah kita. Kita bangun dengan pondasi amalan masjid. Anak kita perhatikan kapan jam mengajinya. Bukan hanya anak-anak. Remaja kita bagaimana amalannya. Sholatnya bagaimana, di masjid atau tidak. Perlu dipahami yang harus sholat dirumah itu perempuan. Di masjid tempatnya laki-laki. Hari ini, ummat telah kehilangan silsilah generasi sholeh. Kalau ada yang ke masjid paling dari SD sampai SMP kelas 2. Sisanya dimana, di jalan, di deker, bahkan Naudzubillah sampai pergaulan bebas, alkohol, narkoba dan sebagainya. Inilah problematika yang harus kita fikirkan bersama.
Seharusnya, generasi cemerlang itu bisa menghasilkan para hafidz Al-Qur'an dari rumah kita. Betapa bahagianya, jika didalam rumah kita muncul, lahir orang-orang yang menjaga Al-Qur'an, baik melalui hafalannya ataupun menjaga Al-Qur'an dengan kebijakan publik di pemerintahan. Rumah yang melahirkan pejuang umat untuk kemakmuran seluruh negeri. Nabi saw, menyampaikan:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَاسْتَظْهَرَهُ [أي: عَنْ ظَهْرِ قَلْبِيٍ] فَأَحَلَّ حَلاَلَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ أَدْخَلَهُ اللّهُ بِهِ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ. (حم جه دي ت 2830: حَدِيثٌ غَرِيبٌ … وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِصَحِيحٍ وَحَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ يُضَعَّفُ فِي الْحَدِيثِ. و أورده المنذري بلفظ: “رُوِيَ”. (ضعيف
Dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa membaca dan hafal Al-Qur’an lalu menghalalkan yang halal di dalamnya dan mengharamkan yang haram di dalamnya niscaya Alloh akan memasukkannya dengan sebab itu ke dalam jannah, dan menerima syafa’atnya untuk 10 orang dari keluarganya yang kesemuanya mesti masuk ke dalam neraka.” HR Turmudzi dll. Turmudzi berkomentar, “Hadits ini gharib, dan isnadnya tidak shahih. Hafsh bin Sulaiman dinilai dha’if dalam hadits.
Walaupun, hadist ini dhoif, tapi bersesuaian dengan penjelasan QS: Attahrim ayat 6 diatas. Maka, derajat haditsnya bukan lagi dhoif tapi naik tingkatkan menjadi hasan lighairihi, menjadi hasan selain darinya. Begitulah penjelasan dari para syaikhul hadist, para ahli hadits.
Hadirin yang dimuliakan Allah swt.
Disamping kita menjaga diri kita dengan menjaga sholat diawal waktu, membaca Al-Qur'an setiap hari, membina hubungan baik dengan sesama. Tapi, tidak kalah pentingnya kita mewujudkan para hafidz Al-Qur'an dari rumah kita dan masjid kita. Siapa yang menjamin kalau dirinya tidak berbuat dosa. Setiap kita pendosa. Mata, telinga, fikirkan, hati setiap hari mencetak dosa tanpa sadar. Jika kita memiliki asset hafidz quran di rumah kita. Maka kita punya modal besar untuk selamat di akhirat. Ahli Al-Qur'an men-syafaati 10 orang ahli keluarga kita yang divonis masuk neraka. Allahu Akbar!
Maka, untuk itulah kita bangun masyarakat kita. Pemerintah bergerak dibidangnya, masyarakat membangun sebisanya, suami, istri, semua bertanggungjawab atas terlaksananya masyarakat madani. Masyarakat seperti di zaman keemasan Islam.
Barokallahu lii walakum filqur'anil majid.
Wallahu alam bissawab.

No comments:
Post a Comment