By
Mujiburrahman
Al-Markazy
1. Kisah gajah mati kebakaran
Dalam satu pertunjukan
sirkus. Terkumpul beberapa hewan-hewan langka ketika beratraksi. Ada harimau,
Gajah, pinguin dan lainnya. Dalam pertunjukan yang spektakuler itu semua
penonton bersorak sorai. Acara ditutup dengan meriah.
Pada tengah malam, ada
kejadian yang luar biasa. Tempat pertunjukan itu kebakaran, entah apa
penyebabnya. Setiap orang berusaha menyelematkan diri masing-masing. Tanpa
terkecuali, setiap hewan juga berusaha meloloskan diri dari cengkraman maut
itu. Ketika api dapat dipadamkan. Terdapat satu pemandangan yang bisa dibilang
aneh. Gajah yang begitu gagah perkasa, mati terbakar di tempatnya. Bukan
matinya yang mengherankan. Tapi gajah itu hanya diikat dengan tali yang boleh
dibilang sebesar jari kelingking saja. Semua hewan yang sekandang dengan gajah
telah berhasil keluar dari sangkarnya, dalam keadaan aman.
Setelah ditanya kepada
pemilik sirkus tentang gajah itu. Apa kira-kira sehingga gajah itu tidak
meronta untuk melepaskan diri dengan berlari dengan paksa agar tali pengikatnya
menjadi putus. Sang pemilik sirkus mulai mengulang dan mencari file-file memori
dalam ingatannya. Ia berujar, “Oh mungkin ini. Dulu ketika gajah itu pertama
kali saya pelihara saat masih kecil. Saya ikat gajah itu dengan tali seukuran
itu. Ketika sang gajah kecil berusaha untuk melepaskan diri agar bisa kabur ke
hutan selalu saja gagal. Bekas ikatan gajah tersebut telah menyebabkan sang
gajah cilik telah luka.semenjak kejadian itu sang gajah tidak berusaha untuk
kabur lagi. Luka itu telah mengajarkan sesuatu kepadanya. Semakin dilawan tali
itu, semakin luka.”
Yah, ternyata gajah itu
hanya takut kepada bayangan masa lalu. Bercermin dari kisah tersebut kita dapat
mengambil hikmah Ilahiah tentang pelajaran hidup. Hari ini, banyak orang gagal
untuk tidak maju dan berubah hanya karena berpatokan pada ‘tali yang
menyebabkan memar itu’. Sehingga, mungkin saja seseorang itu mampu untuk
melepaskan diri dari masalah yang sebenarnya. Tapi, kerena ia sendiri tidak
bisa move on dari masalah lama,
sehingga masalah yang dihadapi sekarang terwarnai oleh kegagalan lama.
Banyak calon pengusaha,
yang berani gagal alias takut untuk melangkah berikutnya hanya karena
dibayang-bayangi oleh masalah lama. Gagal move
on. Begitupun banyak yang memlih hidup menyendiri tanpa ada yang menemani
dalam ikatan pernikahan yang suci, hanya karena asumsi seperti asumsi gajah
terhadap tali ikatan itu. Begitupun banyak orang yang meninggalkan jalan
hijrah, hanya karena masih ‘dihantui’ dengan ikatan tali lama. Ia tidak mau
mencobah dengan sekuat tenaga untukberhijrah secara kafah dan terus-menerus.
Padahal Allah swt,
memotivasi kita agar,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا
اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah
kepada Allah dengan segenap kemampuan kamu.” (QS.
At-Taghabun: 16). Allah perintahkan “Fattaqullaha
mastatha’ tum.” Bertakwalah dengan segenap kemampuan, Bukan diperintahkan, “Fattaqullaha maa syi’tum.” Bertakwalah sesuai kemauan kamu. Bukan sesuai kemauan, tapi sesuai kemampuan.
Ada orang yang pernah
hijrah, sekarang terjatuh dalam ikatan lama, kemaksiatan lagi. Maka, sekarang
bangkitlah. Sebagaimana anak yang baru belajar bersepeda, kalau jatuh, tidak
bersedih, terus bangun lagi dan mencoba lagi. Hem, masa kita mau kalah sama
anak-anak sih. Malulah.
2. Tantangan dalam Ibadah
Ketika mau bangun tidur
pagi itu, suara azan telah bersahut-sahutan, udara masih dingin. Halimun masih
menyelimuti pegunungan dan rumah-rumah. Kain selimut penghangat badan pagi itu
masih nikmat untuk ditarik kembali melanjutkan tidur. Ada dua perang
berlangsung, antara langsung berwudhu dan menuju masjid, bagi laki-laki
khususnya. Atau mau nyaman dengan ina bobo dari bisikan nafsu dan syaithan. Perang
berkecamuk. Kedua pertai koalisi, nafsu dan syaitan versus keimanan dan
malaikat. Hakim penentu atau dewan juri yang akan mengumumkan siapa pemenang
adalah hati. Siapa yang akan dimenangkan. Benarlah dalam sebuah mahfum hadits
Rasulullah saw, tentang dua jenis orang yang berangkat dipagi hari. “Barangsiapa
yang berangkat dipagi hari ke masjid sebelum ke aktivitas yang lain, maka hari
itu ia membawa panji-panji keimanan. Dan barangsiapa langsung pergi ke tempat
kerja tanpa berngkat sholat shubuh, maka di tangannya hari itu ada panji-panji
syaithan.
Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaiahi Wasallam, mengabarkan
tentang pentingnya kita menangkan diri kita dalam mengerjakan subuh sesuai cara
beliau, berjamaah. Beliau mengisyaratkan, “Siapa yang menjaga sholat shubuhnya
maka Allah menjadi penjaminnya hari itu. Ia berada dalam perlindungan yang
kokoh.” Ajib. Kita hanya disuruh menangkan diri kita atas nafsu syaitaniyah dan
nafsu hewaniyah kita di subuh hari. Setelah itu, lihatlah apa yang Allah buat
untuk kamu hari itu. Yang pertama, diberikan panji keimanan, alias kamu akan
diberi kekuatan untuk berlaku amanah dalam melakukan tugas di hari yang
melelahkan itu. Tidak culup sampai di situ, kamu akan diberikan reward kedua
adalah mendapatkan asuransi penjagaan dari Allah, bahwa hari itu kamu dalam
keadaan aman. Semua kekhawatiran diangkat, tinggal kamu yakin aja.
مَنْ صَلَّى صَلَاةَ
الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ
ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ
ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia
berada dalam jaminan (penjagaan) Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah
menuntut sesuatu kepada kalian dari (siapa yang telah) dijamin oleh Nya. Karena
siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti
akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka
jahannam.” (HR. Muslim no. 163)
Bonus-bonus yang lain,
yang sudah familiar orang tau adalah diberikan kekayaan yang luar biasa pagi
tiu. Yakni, diberikan pahala dengan aset kekayaan melebihi dunia dan segala
isinya pada setiap dua rakaat sunnah yang dikerjakan. Harta itu masih disimpan
di deposito akhirat. Bisa cair, kalau kamu sudah memasuki rumah transit di
kubur nanti, deposito akan cair sesuai kebutuhan anda di sana. Rumah hunian
idaman, disertai taman yang asri dilengkapi dengan fasilitas pasar dan
kendaraan yang bebes biaya. Dilayani dan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang
lux dan mewah, kecantikan dan kegantengan mereka melebuhi kecantikan wanita
tercantik dunia 70. 000 kali lipat. Itu baru pelayan dan dayang-dayangnya,
bukan permaisurinya. Permaisurinya siapa? Ya, istri kamu yang sholehah
pastinya, karena dia akan dihias 500 tahun sebelum kaum leleki masuk surga. Ia akan
dipermak sempurna, kecantikanan standarnya adalah 70. 000 kali lebih cantik
daripada semua pelayan-pelayan tercantik itu.
Allah swt, ibaratkan
dengan, “Kaamtsali lu’lu’il maknun.” Seperti mutiara-mutiara yang bertaburan.
وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ
وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا
“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap
muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang
bertaburan.” (QS. AL-Insan: 19)
Maka dalam memenej nafsu agar tidak salah arah. Sampaikan
pada dia, apakah dia rela kehilangan kesempatan emas hari itu dipagi hari? Reward
yang segitu banyak? Jika tidak, maka bergegaslah, tinggalakan selimut malasmu
dalam menggapai ridha ilahi. Tinggalkan selimut malasmu untuk berlaku ihsan
kepada sesama, tingglakan selimut malas mu dalam membaca Al-Qur’an.tinggalkan
selimut malasmu dalam meringankan beban orang lain, terkhusus, orang tua,
guru-guru kita kemudian orang terdekat kita dan orang yang dibawah tanggungan
kita.
3. Kehausan Terhadap Teburukan
Terkadang dalam sibuk
dan rutinitas kita, nampak ibadah sudah tidak lagi nikmat. Pemandangan akhirat
kadang jadi buram. Hedonisme dan cinta dunia mulai menguat seiring banyaknya
job dan tawaran kerja. Seakan arah kompas tak lagi ditengok, Allah di ujung
tujuan mulai terasa ‘kabur’. Kesibukan dunia mengikat. Sana-sini terlihat
sosok-sosok manuisia yang senantiasa telah tenggelam dengan nafsu angkara.
Terkadang mulai bisikan
itu mengalir. “Coba kamu lihat, hidup mereka hepi saja tuh, kenapa sekali-kali kamu tidak cobain seperti mereka.”
Sementara bisikan hati mulai sayu kedengaran. Lantaran sudah sunyinya telinga
dari mendengar nasehat dari ahli hikmah. Pergaulan yang keseharian terjebak
dalam hitungan angka-angka duniawi. Hati meronta meronta melihat kecenderungan
badan, tapiu ia lemah untuk mengontrol, mata, tangan, kaki, harta, tak mampu
lagi hati mengontrol, iman tak bisa lagi dipatuhi. Serasa jalan, telah melewati
trotoar ilahi.
Ketika kecondongan itu
kita perturutkan. Maka mulaila jala-jala syetan merapat, setahap menuju tahap
berikutnya. Terus-menerus digempur dengan keinginan dan kebahagiaan yang
fatamorgana. Hati semakin ingin, ketika dilakukan, kepuasan dan ketentraman itu
tak kesampaian. Nafsu semakin haus, tenaga semakin berkurang, harta semakin
habis, keseimabngan hidup makin terganggu, semua yang terdengar seoalah bahaya.
Ia hanya merasa nyaman dalam limpangan dosa itu. Selalu diintipi kesempatan
untuk lagi-lagi dan lagi dalam buaian dosa tapi setitik ketenangan yang ia
dambakan tak kunjung diraih, laksasna meneguk air asin, semakin diteguk, akan
semakin haus.
Wahai nafsu,
kembalilah. Kemerdekaanmu bukan pada pembiaran dirimu dituruti tanpa batas
ilahiyah. Kemerdekaanmu berada ketika kamu salurkan di atas rel ilahiyah. Kembalilah
wahai nafsu. Berapa banyak kerusakan dan kehancuran sudah engkau torehkan. Tanpa
engkau sadari mata yang pernah melihat engkau, telinga yang pernah mendengarmu
ikutan hancur bersama dengan kehancuran yang menimpamu. Diamlah wahai nafsu. Diamlah
dalam menyelami laautan ketaatan, teguklah sedikit demi sedikit jamu pahit
terapi kejiwaan. Kamu butuh kawan soleh mu, kamu buruh majelis ilmu dan
zikirmu, kamu butuh Allah mu. Kembalilah. Gunakan semua media yang bisa
mengantarmu kembali lagi menuju jalan Tuhan Yang begitu Pengasih, Penyayang,
Sabar menunggumu pulang kembali ke Jalan-Nya. Dia yang begitu tulus dan sabar
melihatmu dalam linangan dosa, tapi senantiasa mencukupkan rezeki kepadamu agar
kamu sadar dan mencari jalan pulang. “Innallaha
yuhibbu tawwabina wayuhibbul mutathohiriin.”
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“
Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan (jiwanya).” (QS. Albaqarah: 222).
Rabu, 5 September
2018, Pukul 08:05 WITA
Wanggudu,
Asera, Sulawesi Tenggara
Ditemani
nyanyian zikir kicauan burung di dhuha yang cerah.

No comments:
Post a Comment