Follower

Tuesday, September 4, 2018

Perang Terhadap Keburukan Diri Sendiri (Pembentukan Karakter III)




By

Mujiburrahman Al-Markazy

1. Kisah gajah mati kebakaran 

Dalam satu pertunjukan sirkus. Terkumpul beberapa hewan-hewan langka ketika beratraksi. Ada harimau, Gajah, pinguin dan lainnya. Dalam pertunjukan yang spektakuler itu semua penonton bersorak sorai. Acara ditutup dengan meriah. 

Pada tengah malam, ada kejadian yang luar biasa. Tempat pertunjukan itu kebakaran, entah apa penyebabnya. Setiap orang berusaha menyelematkan diri masing-masing. Tanpa terkecuali, setiap hewan juga berusaha meloloskan diri dari cengkraman maut itu. Ketika api dapat dipadamkan. Terdapat satu pemandangan yang bisa dibilang aneh. Gajah yang begitu gagah perkasa, mati terbakar di tempatnya. Bukan matinya yang mengherankan. Tapi gajah itu hanya diikat dengan tali yang boleh dibilang sebesar jari kelingking saja. Semua hewan yang sekandang dengan gajah telah berhasil keluar dari sangkarnya, dalam keadaan aman. 

Setelah ditanya kepada pemilik sirkus tentang gajah itu. Apa kira-kira sehingga gajah itu tidak meronta untuk melepaskan diri dengan berlari dengan paksa agar tali pengikatnya menjadi putus. Sang pemilik sirkus mulai mengulang dan mencari file-file memori dalam ingatannya. Ia berujar, “Oh mungkin ini. Dulu ketika gajah itu pertama kali saya pelihara saat masih kecil. Saya ikat gajah itu dengan tali seukuran itu. Ketika sang gajah kecil berusaha untuk melepaskan diri agar bisa kabur ke hutan selalu saja gagal. Bekas ikatan gajah tersebut telah menyebabkan sang gajah cilik telah luka.semenjak kejadian itu sang gajah tidak berusaha untuk kabur lagi. Luka itu telah mengajarkan sesuatu kepadanya. Semakin dilawan tali itu, semakin luka.”

Yah, ternyata gajah itu hanya takut kepada bayangan masa lalu. Bercermin dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah Ilahiah tentang pelajaran hidup. Hari ini, banyak orang gagal untuk tidak maju dan berubah hanya karena berpatokan pada ‘tali yang menyebabkan memar itu’. Sehingga, mungkin saja seseorang itu mampu untuk melepaskan diri dari masalah yang sebenarnya. Tapi, kerena ia sendiri tidak bisa move on dari masalah lama, sehingga masalah yang dihadapi sekarang terwarnai oleh kegagalan lama. 

Banyak calon pengusaha, yang berani gagal alias takut untuk melangkah berikutnya hanya karena dibayang-bayangi oleh masalah lama. Gagal move on. Begitupun banyak yang memlih hidup menyendiri tanpa ada yang menemani dalam ikatan pernikahan yang suci, hanya karena asumsi seperti asumsi gajah terhadap tali ikatan itu. Begitupun banyak orang yang meninggalkan jalan hijrah, hanya karena masih ‘dihantui’ dengan ikatan tali lama. Ia tidak mau mencobah dengan sekuat tenaga untukberhijrah secara kafah dan terus-menerus.
Padahal Allah swt, memotivasi kita agar,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dengan segenap kemampuan kamu.” (QS. At-Taghabun: 16). Allah perintahkan “Fattaqullaha mastatha’ tum.” Bertakwalah dengan segenap kemampuan,  Bukan diperintahkan, “Fattaqullaha maa syi’tum.” Bertakwalah sesuai kemauan kamu. Bukan sesuai kemauan, tapi sesuai kemampuan

Ada orang yang pernah hijrah, sekarang terjatuh dalam ikatan lama, kemaksiatan lagi. Maka, sekarang bangkitlah. Sebagaimana anak yang baru belajar bersepeda, kalau jatuh, tidak bersedih, terus bangun lagi dan mencoba lagi. Hem, masa kita mau kalah sama anak-anak sih. Malulah.

2. Tantangan dalam Ibadah

Ketika mau bangun tidur pagi itu, suara azan telah bersahut-sahutan, udara masih dingin. Halimun masih menyelimuti pegunungan dan rumah-rumah. Kain selimut penghangat badan pagi itu masih nikmat untuk ditarik kembali melanjutkan tidur. Ada dua perang berlangsung, antara langsung berwudhu dan menuju masjid, bagi laki-laki khususnya. Atau mau nyaman dengan ina bobo dari bisikan nafsu dan syaithan. Perang berkecamuk. Kedua pertai koalisi, nafsu dan syaitan versus keimanan dan malaikat. Hakim penentu atau dewan juri yang akan mengumumkan siapa pemenang adalah hati. Siapa yang akan dimenangkan. Benarlah dalam sebuah mahfum hadits Rasulullah saw, tentang dua jenis orang yang berangkat dipagi hari. “Barangsiapa yang berangkat dipagi hari ke masjid sebelum ke aktivitas yang lain, maka hari itu ia membawa panji-panji keimanan. Dan barangsiapa langsung pergi ke tempat kerja tanpa berngkat sholat shubuh, maka di tangannya hari itu ada panji-panji syaithan. 

Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaiahi Wasallam, mengabarkan tentang pentingnya kita menangkan diri kita dalam mengerjakan subuh sesuai cara beliau, berjamaah. Beliau mengisyaratkan, “Siapa yang menjaga sholat shubuhnya maka Allah menjadi penjaminnya hari itu. Ia berada dalam perlindungan yang kokoh.” Ajib. Kita hanya disuruh menangkan diri kita atas nafsu syaitaniyah dan nafsu hewaniyah kita di subuh hari. Setelah itu, lihatlah apa yang Allah buat untuk kamu hari itu. Yang pertama, diberikan panji keimanan, alias kamu akan diberi kekuatan untuk berlaku amanah dalam melakukan tugas di hari yang melelahkan itu. Tidak culup sampai di situ, kamu akan diberikan reward kedua adalah mendapatkan asuransi penjagaan dari Allah, bahwa hari itu kamu dalam keadaan aman. Semua kekhawatiran diangkat, tinggal kamu yakin aja.

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan (penjagaan) Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari (siapa yang telah) dijamin oleh Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163) 

Bonus-bonus yang lain, yang sudah familiar orang tau adalah diberikan kekayaan yang luar biasa pagi tiu. Yakni, diberikan pahala dengan aset kekayaan melebihi dunia dan segala isinya pada setiap dua rakaat sunnah yang dikerjakan. Harta itu masih disimpan di deposito akhirat. Bisa cair, kalau kamu sudah memasuki rumah transit di kubur nanti, deposito akan cair sesuai kebutuhan anda di sana. Rumah hunian idaman, disertai taman yang asri dilengkapi dengan fasilitas pasar dan kendaraan yang bebes biaya. Dilayani dan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang lux dan mewah, kecantikan dan kegantengan mereka melebuhi kecantikan wanita tercantik dunia 70. 000 kali lipat. Itu baru pelayan dan dayang-dayangnya, bukan permaisurinya. Permaisurinya siapa? Ya, istri kamu yang sholehah pastinya, karena dia akan dihias 500 tahun sebelum kaum leleki masuk surga. Ia akan dipermak sempurna, kecantikanan standarnya adalah 70. 000 kali lebih cantik daripada semua pelayan-pelayan tercantik itu. 

Allah swt, ibaratkan dengan, “Kaamtsali lu’lu’il maknun.” Seperti mutiara-mutiara yang bertaburan. 

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.” (QS. AL-Insan: 19)

Maka dalam memenej nafsu agar tidak salah arah. Sampaikan pada dia, apakah dia rela kehilangan kesempatan emas hari itu dipagi hari? Reward yang segitu banyak? Jika tidak, maka bergegaslah, tinggalakan selimut malasmu dalam menggapai ridha ilahi. Tinggalkan selimut malasmu untuk berlaku ihsan kepada sesama, tingglakan selimut malas mu dalam membaca Al-Qur’an.tinggalkan selimut malasmu dalam meringankan beban orang lain, terkhusus, orang tua, guru-guru kita kemudian orang terdekat kita dan orang yang dibawah tanggungan kita. 

3. Kehausan Terhadap Teburukan

Terkadang dalam sibuk dan rutinitas kita, nampak ibadah sudah tidak lagi nikmat. Pemandangan akhirat kadang jadi buram. Hedonisme dan cinta dunia mulai menguat seiring banyaknya job dan tawaran kerja. Seakan arah kompas tak lagi ditengok, Allah di ujung tujuan mulai terasa ‘kabur’. Kesibukan dunia mengikat. Sana-sini terlihat sosok-sosok manuisia yang senantiasa telah tenggelam dengan nafsu angkara. 

Terkadang mulai bisikan itu mengalir. “Coba kamu lihat, hidup mereka hepi saja tuh, kenapa sekali-kali kamu tidak cobain seperti mereka.” Sementara bisikan hati mulai sayu kedengaran. Lantaran sudah sunyinya telinga dari mendengar nasehat dari ahli hikmah. Pergaulan yang keseharian terjebak dalam hitungan angka-angka duniawi. Hati meronta meronta melihat kecenderungan badan, tapiu ia lemah untuk mengontrol, mata, tangan, kaki, harta, tak mampu lagi hati mengontrol, iman tak bisa lagi dipatuhi. Serasa jalan, telah melewati trotoar ilahi. 

Ketika kecondongan itu kita perturutkan. Maka mulaila jala-jala syetan merapat, setahap menuju tahap berikutnya. Terus-menerus digempur dengan keinginan dan kebahagiaan yang fatamorgana. Hati semakin ingin, ketika dilakukan, kepuasan dan ketentraman itu tak kesampaian. Nafsu semakin haus, tenaga semakin berkurang, harta semakin habis, keseimabngan hidup makin terganggu, semua yang terdengar seoalah bahaya. Ia hanya merasa nyaman dalam limpangan dosa itu. Selalu diintipi kesempatan untuk lagi-lagi dan lagi dalam buaian dosa tapi setitik ketenangan yang ia dambakan tak kunjung diraih, laksasna meneguk air asin, semakin diteguk, akan semakin haus.

Wahai nafsu, kembalilah. Kemerdekaanmu bukan pada pembiaran dirimu dituruti tanpa batas ilahiyah. Kemerdekaanmu berada ketika kamu salurkan di atas rel ilahiyah. Kembalilah wahai nafsu. Berapa banyak kerusakan dan kehancuran sudah engkau torehkan. Tanpa engkau sadari mata yang pernah melihat engkau, telinga yang pernah mendengarmu ikutan hancur bersama dengan kehancuran yang menimpamu. Diamlah wahai nafsu. Diamlah dalam menyelami laautan ketaatan, teguklah sedikit demi sedikit jamu pahit terapi kejiwaan. Kamu butuh kawan soleh mu, kamu buruh majelis ilmu dan zikirmu, kamu butuh Allah mu. Kembalilah. Gunakan semua media yang bisa mengantarmu kembali lagi menuju jalan Tuhan Yang begitu Pengasih, Penyayang, Sabar menunggumu pulang kembali ke Jalan-Nya. Dia yang begitu tulus dan sabar melihatmu dalam linangan dosa, tapi senantiasa mencukupkan rezeki kepadamu agar kamu sadar dan mencari jalan pulang. “Innallaha yuhibbu tawwabina wayuhibbul mutathohiriin.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
 Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan (jiwanya).” (QS. Albaqarah: 222).



                                                            Rabu, 5 September 2018, Pukul 08:05 WITA
                                                            Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara
                                                Ditemani nyanyian zikir kicauan burung di dhuha yang cerah.

No comments:

Post a Comment