Follower

Thursday, August 30, 2018

Khutbah Jum’at Hari Ini: Mengentaskan Badai Perbedaan




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, senantiasa kita penjatkan kehadirat Allah swt, yang telah mencurahkan segala nikmat dan karunia untuk kita. Sehingga pada kesempatan yang mulia ini kita tetap diberikan taufik dan kesempatan emas untuk bersama orang-orang yang ruku dan sujud kepada-Nya. Sebagaimana perintah-Nya, “warka’u ma’a raki-in.
وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku.” (QS. Al-baqarah: 43). Ini suatau nikmat besar. Tiada nikmat yang lebih indah daripada nikmat mentaati Allah, dan tiada musibah yang lebih hebat daripada sibuk dalam kedurhakaan kepada Allah.

Shalwat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kekasih kita Rasulullah saw. Teladan dan pengorbanan yang ditorehkan tidak akan bisa dibalas, sehingga Dia sendiri yang membalasnya. Bahkan tidak ada pujian yang bisa melebihi pujian Allah kepada engkau ya Rasulullah. Allah sendiri bershalawat dan memerintahkan kita untuk bershalawat kepada beliau. “Innallaha wamalaa ikatahu yushalluna ‘alan Nabi. Yaa ayyuhal ladzina aamanu shallu ‘alaihi wasallimu tasliima.” 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya bershalawat kepadanya. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu dan berkirim salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa’ala aali sayyidina Muhammad.

Sebagai khatib, senantiasa mengingatkan diri pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkat iman dan takwa kepada Allah swt. Hanya dengan itu saja, seseorang akan mencapai derajat kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujrat: 13).

Hadirin sidang jamaah Jumat yang berbahagia. 

Dewasa ini, kita dihadapkan dengan berbagai hantaman dan pergolakan.terkadang satu perkara remeh, perbedaan siapa yang diususng atau di jagokan baik dalam pilpres, pileg, pilgub dan pilbub naanti. Banyak yang telah melakukan perkara yang telah keluar dari jalur yang sharusnya. Saling caci, saling hina, merasa benar sendiri,yang lain mutlak salah adalah telah menjadi pemandangan keseharian kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan berdemokrasi.
Tidak hanya sampai di situ, persekusi orang yang menjadi lawan politik. Menjatuhkan, mengancam dan berbagai macam upaya yang tidak seharusnya ditampilkan oleh seorang yang beragama dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan yang telah tertuang dalam dasar-dasar negara kita.
Jauh sebelumnya, belum lagi kering luka lama, perbedaan pandangan dan mazhab dalam mengamalkan hukum-hukum agama. Perbedaan jalur periwayatan dan tafsir, perbedaan ulama siapa yang dijadikan rujukan, juga telah mengambil warna tersendiri dalam kehidupan beragama kita. Padahal jika ada perbedaan dalam hal amal, kita telah memiliki panduan jelas.Allah mengingatkan, “Lanaa i’maluna walakum a’maalukum.
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
“Bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan mu.” (QS. As Syura: 15) Sehingga jelas, ini bukan perkara yang perlu dipertentangkan lagi. 

Sifat belum dewasa yang dipertontonkan dewasa ini menandakan bahwa kita sebagai masyarakat beragama, kita sebagai bangsa telah berada di persimpangan jalan. Jika kita tidak memenej dan menata dengan baik,potensi-potensi konflik yang ada dalam masyarakat kita, bukan tidak mungkin kita akan saling membunuh dan menghancurkan sesama umat Islam atau setidaknya sesama anak bangsa. Miris. Kita, yang dalam sanubari dan darah daging kita telah mengalir darah toleransi yang begitu besar. Para tokoh kita baik pembawa dan pemuka agama maupun para peletak pondasi negara ini telah menjadi contoh yang nyata. Bagaimana perjanjian hudaibiyah yang dibuat oleh Nabi saw, demi merangkul semua, walaupun dalam butir-butir perjanjian seolah kaum muslimin dalam keadaan terzalimi. Jika diperhitunghkan dengan matematika perang, tahun ke-7 hijriyah kala itu, umat Islam bisa menang. Kenapa Nabi saw, memilih jalur damai yang seolah merugikan pergerakan umat Islam sendiri. 

Nabi saw, punya keluasan hati dan kedalam budi serta ahli strategi yang jitu. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun mengalah, telah tampaklah bukti kemenangan dengan fathul Makkah secara damai. Pembukaan kota Makkah secara elegan. Kaum muslimin menang tanpa ada yang kalah. 

إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِى دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An Nashr: 1-3)

Allah menjelaskan dengan gamblang, bahwa ketika kemenangan telah dibukakan, nampaklah orang masuk ke dalam Islam dengan damai, berbondong-bondong. Ini akibat dari pengorbanan yang besar bukan hanya dari Nabi saw, tapi juga dari para sahabat yang menahan hati untuk tetap tunduk kepada isi perjanjian Hudaibiyah yang berat sebelah itu. Buah dari kesabaran dan menahan hawa nafsu agar tidak bertikai adalah perkara yang lebih berat dari sekedar berperang dengan perang fisik. Karena yang kita hadapi bukan orang lain, akan tetapi gemuruh yang meronta di dalam jiwa, ditahan dan dikendalikan. Bukan hanya pada satu waktu saja, tapi kapan saja bisa terjadi.inilah perang melawan hawa nafsu sendiri. 

Sekarang jika, kita sebagai anak negeri saling beradu jotos, maka yang menang adalah kaum penjajah. Jangan salah, bahwa dengan ketidak pekaan kita masalah persatuan akan memudahkan para musuh-musuh bangsa untuk memporak-porandakan kita. Ketika kita ribut dan bertikai dia akan datang membawa bensin untuk disramkan pada bara amarah yang sedang membara. Ketika pertikaian dan pertumpahan darah terjadi akan nampak yang kalah. Yang menangpun akan nampak sempoyongan barulah dia datangkan agresi untuk membersihkan kita semua.jadilah bangsa yang terjajah kembali. Lihat saja, bagaiamana pertikaian sesama anak bangsa di Mesir, Syiria dan beberapa negara Arab sebelumnya. Sekarang yang ada tinggalah pemimpin boneka, dengan gaya memukul menggunakan tangan orang lain inilah yang akan diterapkan pada semua negeri oleh para penjajah. Baik penjajah yang yang berasal dari barat yang dimotori oleh ideologi liberal barat maupun penajajah dari timur dengan ideologi komunis. Bukankah kedua ideologi ini yang memiliki hak veto pada Persyarikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Wahai saudara muslim sekalian, berhentilah ribut sesama kawan sendiri, sesama tetangga, sendiri, carilah jalan tengah dan berdialog dengan santun untuk membangun pilar-pilar demokrasi dan membangun kesatuan umat yang kokoh. Kepada orang yang beda agama saja, Allah perintahkan untuk ajak mereka diskusi dengan mencari poin-poin persamaan bukan memperlebar jurang perbedaan. 

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Al-Imran: 64). 

Dialog untuk mencari persamaan. Persamaan diantaranya, bahwa kita sepakat tidak ada tuhan yang penciptakan kami dan kalian, langit dan bumi. Dialah tuhan yang satu, Allah. Kita tidak akan menyembah tuhan yang lain selain tuhan yang satu itu. Jika dalam diskusi tidak didapati satu kesepakatan. Ada rambu-rambu lain yang harus kita tempuh dalam beragama kita. 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

“Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Jamaah Jumat Rahimakmullah.

Toleransi kita jelas kita beri kesempatan yang seluas-luasnya kepada orang lain sesuai keyakinan dan agama mereka masing-masing. Sebagaimana dalam Al-Baqarah, ayat 226, setelah ayat kursi. Menyebutkan. “Laa ikraha fid diin.” Tidak ada paksaan dalam mengamalkan agama. Setiap orang kita beri ruang dan waktu dalam menjalankan ibadahnya masing-masing, tapi kita tidak perlu kebablasan dengan harus ikut-ikutan menyembah tuhan lain atau mengikuti dan turut serta dalam ibdah orang lain. Stressing dan penekanannya jelas. Silahkan kalian lakukan sesuai dengan ibdah kamu masing-masing, tapi kami tidak berpartisipasi. Sebagaimana, kalian juga tidak akan berpartisipasi dalam menyembah bersama kami. 

Semoga dengan khutbah Jumat yanag singkat ini. Agar senantiasa teralin semangat persatuan dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Sebagaimana Dia sendiri mensyaratkan hanya dengan persatuan dan tidak bercerai berai dalam bingkai ukhuwah Islamiah kita akan terjaga keimanan dan ketakwaan kepada Allah. 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran:103).


                                                                                    Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara
                                                                                    Jumat, 31 Agustus, 2018, pukul 11:55

No comments:

Post a Comment