BY
MUJIBURRAHMAN AL-MARKAZY
1. *Terjebak
Malam yang begitu dingin. Rembulan pun malu
menampakan jati dirinya. Sayup-sayup tangisan seorang ibu masih terdengar. Aku
seperti baru tersadarkan dari tidur. Bingung apa yang harus aku kerjakan.
Suasana kota yang begitu manis, sebagaimana namanya, Ambon Manise. Malam ini
telah berubah, menjadi ambon lautan api, begitu mencekam. Aku melihat seorang
lelaki paruh baya yang berjalan sambil membungkuk. Memang dalam kondisi seperti
ini, tidak boleh berdiri dengan menegakan punggung secara maksimal. Kita tidak
tau, sewaktu-waktu ada peluru tembakan, sniper dari balik gedung yang tinggi
itu. Entah siapa. Pasti ini adalah tokoh-tokoh provokator yang berusaha untuk
menciptakan Ambon menjadi tidak kondusif.
Ada upaya untuk menjadikan Ambon, tepatnya Maluku
sebagai, ladang perang. Ketika pemerintah tidak mampu untuk menagkal kerusuhan
yang terjadi, sebagaian orang akan ada yang kalah dan tertindas. Mereka akan meminta
perlindungan kepada pemerintah dunia, PBB. Tahukan, kalau PBB yang ambil alih
keamanan. Seperti menjaga tapi mengatur dan mendikte. Menjajah gaya baru.
Berapa banyak negara yang sekarang menjadi boneka Amaerika, dikuasai ladang
minyak, awalnya bermula dari bantuan keamanan. Ini adalah skandal
Internasiaonal.
Seorang bocah sedang mengambil balon mainannya.
Berlari mengejar balon yang di tiup oleh kakak sepupunya. Ia berlari, mengejar,
memeluk dan merangkul satu-satunya mainan yang ia punya pada suasana genting
ini. Ia menoleh ke kakak sepupu yang sepertisaudara kandungnya.”Hore... hore..
hore... kakak balonku bagus”. Senyum simpul yang ditampilkan oleh bocah berbaju
pink itu sungguh manis.
“Sini dek jangan ke situ.” Pinta sepupunya.
“he he he.” Ia hanya menjawab dengan sebuah seyum
dan tawa
“Darrrrrrrr.”
Suara ledakan terdengar.
Suara sayup-sayup dari bibir mungilnya, “Kakak! Ade
kena”. Ia langsung tumbang. Peluru sniper itu kembali menggila. Dadaku berdegup
kencang, nafasku memburu. “Biadab. Bocah sekecil itu harus menjadi korban demi
memuluskan misi provokasi mereka. Biadab...!” Aku berteriak sekuat tenaga. “Ya
Allah,angkat musibah yang menimpa kami ini. Dosa apa sehingga kami yang harus
jadi korban ya Allah.” Bibinya sekonyong-konyong mengamuk untuk mengangkat sang
jenazah cilik. “Aisyah namanya. Bocah cantik, mungil yang senantiasa senyum.
Tangannya masih merangkul balon itu. Balon hujau muda. Pelipisnya pecah telah
dirobek dengan peluru jahannam itu. Bibirnya masih mengalirkan darah segar. “Oh
Aisyah malang, harus berpelukan dengan nestapa. selamat jalan ‘malaikat kecil’.
Para Malaikat dan bidadari akan segera menyambut dirimu. Selamat jalan
syuhada.”
Terlihat beberapa mujahidin yang memegang bibi
Aisyah dengan kuat.”Sebentar bu. Kalau Ibu memaksakan untuk ambil jenazah itu,
maka malam ini akan bertambah korban berikutnya. Ini hanya pancingan untuk
membunuh jiwa kita satu demi satu. Sabar bu. Istigfar.” Upaya dari seorang
mujahidah, pejuang wanita yang juga belum lama ditinggal mati oleh bapaknya.
Bibi Aisyah mulai tersadarkan, ia mulai bisa mengendalikan emosinya untuk tidak
segera mendekap Aisyah.
Sementara sepasukan gerilya mujahidin yang
mengenakan kostum serba hitam dengan dibalut kain hijau di kepalanya, berusaha
untuk mengepumg gedung yang digunakan para sniper gelap untuk mencari korban.
Sejurus kemudian muncul kode, “gerakan senter membulat di udara”. Menandakan
jalur evakuasi telah steril. Jenazah Aisyah cantik segera dibopong. Para
perawaat kesehatan dengan peralatan ala kadarnya mengambil kain untuk membalut
jenazah. Malam itu juga harus dimakamkan. Tidak ada tempat pemakaman yang aman.
Ke pemakaman umum masih di wilayah konflik. Mau ditunda, khawatir nanti akan
ada korban lagi berjatuhan. Jadi, bingung. Di belakang rumah penduduk di
Waihaong ini ada tanah kosong. “Bagaimana kalau di belakang itu saja pak RT”. Seorang
warga mengusulkan. Sementara pikiran saya masih kalut, bingung apa yang harus
aku perbuat. Tanganku masih gemetaran, entah karena lapar atau menahan emosi
bercampur haru melihat jenazah mungil Aisyah yang mulai kaku.
“Atagfirullah, sudah jam 9 malam.” Saya lupa untuk
sholat Isya. Tepatnya belum sempat. Saya harus berjalan agak membungkuk.
“Pak RT, beta bisa berwudhu di mana ini. Samape jam
begini beta belum sholat Isya”. Bisikku.
Pak RT hanya memberikan isyarat dengan tangannya. Sepintas
tangannya menunjuk ke arah belakang rumah dan tangannya membundar. “Ke belakang
rumah papan itu, terus ada tong. Pake saja air itu sudah halal untuk di pakai. Beta
yang tanggung jawab”. Sambil memberi penjelasan singkat dengan berbisik.
“Oke Pak RT, beta mengerti”. Ku segerakan langkahku.
Sambil terus membungkuk, berlari kecil. Menengok kiri
dan kanan. Melihat posisi yang aman untuk berwudhu dan melangsungkan sholat. Baru
sejenak aku berwudhu.
“Dhum.....”. suara ledakan besar terdengar entah
apa. Sesaat suara tapak kaki berlarian mencari tahu. Mungkin pom bensin atau
bom yang meledak. Entahlah. Sasya harus fokus untuk segera sholat apapun
keadannya. jika aku tidak segera sholat, akan muncul kondisi yang lebih tidak
pasti lagi.
“Ya Allah, kalaupun nyawa ini harus berpisah dari
raga, yang penting perintah-Mu tidak ku lalaikan”. Pasrahku.
(Bersambung.....)

No comments:
Post a Comment