Follower

Friday, August 10, 2018

THE LOVE STORY OF AMBON RIOT {KISAH CINTA PADA KERUSUHAN AMBON} Sebuah Cerber




BY
MUJIBURRAHMAN AL-MARKAZY

1.      *Terjebak

Malam yang begitu dingin. Rembulan pun malu menampakan jati dirinya. Sayup-sayup tangisan seorang ibu masih terdengar. Aku seperti baru tersadarkan dari tidur. Bingung apa yang harus aku kerjakan. Suasana kota yang begitu manis, sebagaimana namanya, Ambon Manise. Malam ini telah berubah, menjadi ambon lautan api, begitu mencekam. Aku melihat seorang lelaki paruh baya yang berjalan sambil membungkuk. Memang dalam kondisi seperti ini, tidak boleh berdiri dengan menegakan punggung secara maksimal. Kita tidak tau, sewaktu-waktu ada peluru tembakan, sniper dari balik gedung yang tinggi itu. Entah siapa. Pasti ini adalah tokoh-tokoh provokator yang berusaha untuk menciptakan Ambon menjadi tidak kondusif.

Ada upaya untuk menjadikan Ambon, tepatnya Maluku sebagai, ladang perang. Ketika pemerintah tidak mampu untuk menagkal kerusuhan yang terjadi, sebagaian orang akan ada yang kalah dan tertindas. Mereka akan meminta perlindungan kepada pemerintah dunia, PBB. Tahukan, kalau PBB yang ambil alih keamanan. Seperti menjaga tapi mengatur dan mendikte. Menjajah gaya baru. Berapa banyak negara yang sekarang menjadi boneka Amaerika, dikuasai ladang minyak, awalnya bermula dari bantuan keamanan. Ini adalah skandal Internasiaonal. 

Seorang bocah sedang mengambil balon mainannya. Berlari mengejar balon yang di tiup oleh kakak sepupunya. Ia berlari, mengejar, memeluk dan merangkul satu-satunya mainan yang ia punya pada suasana genting ini. Ia menoleh ke kakak sepupu yang sepertisaudara kandungnya.”Hore... hore.. hore... kakak balonku bagus”. Senyum simpul yang ditampilkan oleh bocah berbaju pink itu sungguh manis. 

“Sini dek jangan ke situ.” Pinta sepupunya.

“he he he.” Ia hanya menjawab dengan sebuah seyum dan tawa

 “Darrrrrrrr.” Suara ledakan terdengar.

Suara sayup-sayup dari bibir mungilnya, “Kakak! Ade kena”. Ia langsung tumbang. Peluru sniper itu kembali menggila. Dadaku berdegup kencang, nafasku memburu. “Biadab. Bocah sekecil itu harus menjadi korban demi memuluskan misi provokasi mereka. Biadab...!” Aku berteriak sekuat tenaga. “Ya Allah,angkat musibah yang menimpa kami ini. Dosa apa sehingga kami yang harus jadi korban ya Allah.” Bibinya sekonyong-konyong mengamuk untuk mengangkat sang jenazah cilik. “Aisyah namanya. Bocah cantik, mungil yang senantiasa senyum. Tangannya masih merangkul balon itu. Balon hujau muda. Pelipisnya pecah telah dirobek dengan peluru jahannam itu. Bibirnya masih mengalirkan darah segar. “Oh Aisyah malang, harus berpelukan dengan nestapa. selamat jalan ‘malaikat kecil’. Para Malaikat dan bidadari akan segera menyambut dirimu. Selamat jalan syuhada.”

Terlihat beberapa mujahidin yang memegang bibi Aisyah dengan kuat.”Sebentar bu. Kalau Ibu memaksakan untuk ambil jenazah itu, maka malam ini akan bertambah korban berikutnya. Ini hanya pancingan untuk membunuh jiwa kita satu demi satu. Sabar bu. Istigfar.” Upaya dari seorang mujahidah, pejuang wanita yang juga belum lama ditinggal mati oleh bapaknya. Bibi Aisyah mulai tersadarkan, ia mulai bisa mengendalikan emosinya untuk tidak  segera mendekap Aisyah.

Sementara sepasukan gerilya mujahidin yang mengenakan kostum serba hitam dengan dibalut kain hijau di kepalanya, berusaha untuk mengepumg gedung yang digunakan para sniper gelap untuk mencari korban. Sejurus kemudian muncul kode, “gerakan senter membulat di udara”. Menandakan jalur evakuasi telah steril. Jenazah Aisyah cantik segera dibopong. Para perawaat kesehatan dengan peralatan ala kadarnya mengambil kain untuk membalut jenazah. Malam itu juga harus dimakamkan. Tidak ada tempat pemakaman yang aman. Ke pemakaman umum masih di wilayah konflik. Mau ditunda, khawatir nanti akan ada korban lagi berjatuhan. Jadi, bingung. Di belakang rumah penduduk di Waihaong ini ada tanah kosong. “Bagaimana kalau di belakang itu saja pak RT”. Seorang warga mengusulkan. Sementara pikiran saya masih kalut, bingung apa yang harus aku perbuat. Tanganku masih gemetaran, entah karena lapar atau menahan emosi bercampur haru melihat jenazah mungil Aisyah yang mulai kaku. 

“Atagfirullah, sudah jam 9 malam.” Saya lupa untuk sholat Isya. Tepatnya belum sempat. Saya harus berjalan agak membungkuk. 

“Pak RT, beta bisa berwudhu di mana ini. Samape jam begini beta belum sholat Isya”. Bisikku. 

Pak RT hanya memberikan isyarat dengan tangannya. Sepintas tangannya menunjuk ke arah belakang rumah dan tangannya membundar. “Ke belakang rumah papan itu, terus ada tong. Pake saja air itu sudah halal untuk di pakai. Beta yang tanggung jawab”. Sambil memberi penjelasan singkat dengan berbisik.

“Oke Pak RT, beta mengerti”. Ku segerakan langkahku.

Sambil terus membungkuk, berlari kecil. Menengok kiri dan kanan. Melihat posisi yang aman untuk berwudhu dan melangsungkan sholat. Baru sejenak aku berwudhu.

“Dhum.....”. suara ledakan besar terdengar entah apa. Sesaat suara tapak kaki berlarian mencari tahu. Mungkin pom bensin atau bom yang meledak. Entahlah. Sasya harus fokus untuk segera sholat apapun keadannya. jika aku tidak segera sholat, akan muncul kondisi yang lebih tidak pasti lagi. 

“Ya Allah, kalaupun nyawa ini harus berpisah dari raga, yang penting perintah-Mu tidak ku lalaikan”. Pasrahku.

(Bersambung.....)

No comments:

Post a Comment