Follower

Tuesday, August 7, 2018

Wanita Hero Zaman Now




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Mata nanar perempuan tua itu tiba-tiba berubah tajam. Ia menarik Cut Gambang yang tengah dirundung sedih itu dan menamparnya – plak!: “Dengar!” Bentaknya, “Sebagai perempuan Aceh, jangan meneteskan air mata atas orang yang syahid!” Namun setelah itu Cut Nya segera merangkul sang putri (iloveaceh.com). Itulah  motivasi dari seorang Cut Nyak Dien kepada kepada putri semata wayangnya, ketika wafat sang ayah yang begitu gagah perkasa, Teuku Umar. Ditengah kepungan dari Belanda itu, rasa takut dari sang wonder woman itu, tidak gentar sama sekali. Sisa-sisa pasukan masih ada, melihat teguhnya pendirian dan pejuang dari Sang Cut Nyak. Pelanjutan untuk menemukan sisa pasukan terus dilakukan. Sementara disisi lain, Belanda dengan kekuatan armada penuhnya terus mengejar para ‘teroris’ itu. Bagi para penjajah teroris adalah orang yang mengacaukan rencana mereka meraup keuntungan di negeri jajahan. 

Beberapa motivasi ‘super’ dari wanita paruh baya itu telah menggelorakan dan menggetarkan pihak kawan maupun lawan. Gelora semangat yang terus lahir dari elemen cinta kepada Ilahi Rabbi, semangat Jihad. Kata jihad yang telah lama diselewengkan dari makna sebenarnya. Dalam rubrik “Hati ke Hati” di Majalah “Panji Masyarakat”, Buya Hamka  pernah menyampaikan beberapa makana jihad. Salah satu diantaranya adalah mempertahankan milik sendiri, ketika diambil oleh orang lain dengan jalur yang salah, adalah suatu tindakan jihad. Diantar motivasi yang menggemparkan persada kala itu adalah, “Cuma sedikit orang yang relamenjadi kecil agar dipakai oleh Allah sebagai (tameng) agar bisa melewati dan menghindarkan ujian-uijian ‘kecil’.” Dia pun pernah berujar, “Pada saat kita khawatir (terhadap sesuatu), terkadang kita lebih percaya dengan maslah daripada percaya kepada (begitu dekatnya) pertolongan Allah.” Wanita yang telah menggelorakan semangat jihad selama 25 tahun itu, telah membuat kocar-kacir dan kerugian baik secara materi, amunisi dan korban jiwa para kolonel kesayangan Belanda. Wanita yang begitu tangguh, bukan hanya pada zaman itu, tapi akan terus dikenang hingga yaumil qiyamah.
 
Sang Cut Nyak Dien bukan hanya menampar anaknya, agar tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Akan tetapi, telah menampar jiwa kita sebagai bangsa, jiwa kita sebagai penerus bangsa. Apakah kita mampu melahirkan ‘Cut Nyak Dien- Cut Nyak Dien’ zaman now. Bukan hanya anaknya yang menjadi tegar, tetapi pasukan yang ia pimpin mendampingi mendiang sang suami. Semanagat dan gelora itu telah melahirkan militansi hingga bermunculan pahlawan demi pahlawan hingga merdekalah bangsa ini. 

Sekarang tantangan globalisasi begitu nyata. Jika tanpa didukung oleh militansi dari kaum wanita masa kini dalam menggelorakan semangat ‘jihad’. Bukan sekedar jihad fisik, tapi jihad pemikiran, jihad kebudayaan, jihad mempertahankan kemuliaan berumah tangga dan jihad untuk menciptakan generasi yang cinta kepada bangsa, generasi yang rela berkorban apapun demi memperjuangkan nilai-nilai humanisme keislaman. Bukankah dalam Islam dikenal dengan istiah, “Almar’atu imadul bilad”, wanita adalah tiang negara. Yah, wanita adalah penyokong terbaik dalam suatu negara. 

Perhatikanlah, tidak ada lelaki sukses tanpa dimulai dengan wanita yang berjiwa ‘hero’, wanita yang berjiwa besar. Bagaimana Imam Bukhari yang menghafal 200 ribu hadits dengan ditemani oleh seorang Ibu yang begitu tangguh. Walaupun sang Ibu yang buta matanya, begitu renta, membesarkan seorang diri serta menemani sang Imam untuk mensearching ilmu ‘talaqi’, dari guru ke guru. Setiap satu guru memakan waktu berbulan-bulan perjalanan. Baik dengan berjalan kaki, numpang pada kendaraan orang lain atau menggunakan keledai. Tidak langsung dengar hadits dari sang guru, tapi meneliti keseharian sang ‘calon guru’. Jika ia amanah, tidak suka bergurau, selalu menjalankan sunnah, maka hadits yang ia dengar dari sang guru akan dihukumi shohih. Jika tidak, hukumnya bisa jadi dho’if alias lemah.

Seorang Bung Karno pernah memberi syarat kepada pemerintahan Unisoviet, kala itu, sekarang Rusia. Beliau pernah mensyaratkan jika ingin kerja sama bilateral dengan Indonesia, supaya bisa menemukan dan memperbaiki makam dari Imam Bukhari. Walaupun persyaratan yang begitu aneh, tapi sang negara super power kala itu pun, menyetujuinya. Perhatikanlah, bagaimana efek pendidikan dan ketulusan seorang ibu, seorang wanita yang tidak lekang dimakan zaman. 
Sebenarnya, jika para wanita kita bisa menjawab tantangan zaman, arus globalisasi yang begitu deras pada zaman now. Bisa jadi, wanita kita akan melebihi patriotisme wanita-wanita yang telah berjaya pada zaman itu. Bagaimana tidak, wanita pada zaman apa dan kapanpun saja. Memiliki beberapa kelebihan diatas lelaki pada umumnya. 

1.      Kelembutan hati.

Berapa banyak lelaki yang tumbang oleh wanita yang gemulai dan lembut itu. Bagaimana Fir’aun yang tunduk di bawah kendali istrinya. Ketika, sang Musa kecil hendak dibunuh, dengan alasan bahwa dia akan membunuh dan menumbangkan kekuasaan Fir’aun dikemudian hari. 

Jika wanita zaman now ini, menggunakan potensinya untuk ‘merayu’, membimbing suaminya agar tidak membawa hasil haram ke dalam rumah tangganya. “Wahai suamiku, aku akan bersabar dalam kelaparan dan kesusahan dunia, tetapi aku tidak akan sabar dan tahan dalam menghadapi siksa di akhirat, Neraka yang membakar. Tolong jangan kamu beri makan aku dan anakku barang dari sumber yang haram. Tolong wahai suamiku.” Maka, berapa banyak korupsi bisa ‘direm’. Dan insyaallah tidak akan muncul koruptor-koruptor baru dalam menjalankan amanah kenegaraan saat ini.

2.      Air mata.

Air mata adalah jalan tengah bagi wanita dalam melerai duka dihatinya. Dengan menumpahkan gundah-gulananya dengan menangis, maka hatinya akan menjadi begitu plong. Sebenarnya, ini potensi besar, tangisan bukan mencari kasihan dari makhlik yang juga sebenarnya memiliki masalah. Tapi, menangis yang cerdas, menangis memohon dengan ketulusan hati kepada Dia Pemilik Seluruh Hati, Allah swt. Seorang ulama mengatakan, “Saya dapat mengetahui, doaku yang manakah yang dikabulkan oleh Allah”. Seseorang bertanya, “Bagaimana anda dapat mengetahuinya?”. Ia menjawab, “Ketika bulu romaku berdiri, hati bergetar, dan air mata berderai, saat itulah ku ketahui doa saya telah dikabulkan”. Inilah potensi wanita yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki kebanyakan atau bahkan dirinya sendiri.  
Jika potensi yang satu inidigunakan oleh kaum wanita dalam berdoa. Bukan hanya mendoakan suami agar tetap taat dan istiqomah. Bukan hanya mendoakan agar dagangan dan pekerjaanya terselesaikan. Tapi, ia juga peduli dengan keadaan bangsa yang morat-marit, senantiasa bersujud dan memohon agar segala permasalahan bangsa dapat diselesaikan dengan mudah, baik oleh para eksukutif, yudikatif, legislatif, kepolisian, pengusaha dan sebagainya. Ia bangun di akhir malam mendoakan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Inilah pahlawan zaman now dibalik tirai. 

3.      Sifat tarbiyah alias pendidikannya.

Dari seorang wanita muncul pemimpin hebat. Sejarah menyaksikan, seorang wanita yang hidup di padang sahara, lembah Batha, Makkah Al-Mukaramah. Ketika itu, ia hanya tinggal seorang diri bersama anak semata wayangnya Sang Ismail kecil. Bunda Hajar ra. Telah mengubah kesendirian menjadi kota gemerlapan. Bukan hanya gemerlap dari segi duniawi, tapi juga gemerlap darisegi ukhrawi. Negeri Makkah Al-Mukaramah telah melahirkan pemuda Sholeh yang dari keturunannya lahirlah Sang Pencerah ke seluruh Alam, Muhammad saw.
Bercermin dari pendidikan yang diberikan Bunda Hajar r.ha. kepada putranya Ismail. Terlihat jelas, bagaimana kepatuhan ananda Ismail, ketika ditanya oleh Sang Ayah yang telah lama berpisah. Tentang nubuwah akan disembelihnya dirinya. Sang Imail kecil hanya menjawab. Bukan hanya sekedar memberi jawaban yang kosong, tapi jawaban yang sekaligus meneguhkan dan menentramkan sang ayah untuk bertindak. “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu. Niscaya, engkau akan dapati saya dalam keadaan bersabar, insya Allah.” (QS. As Shaffat: 102).
Sifat murabi, pendidik yang dimiliki oleh Bunda Hajar haruslah mengilhami wanita di zaman sekarang ini. Disamping ia memiliki profesi di luar rumahnaya. Ia tetap tidak terlepas dari tanggung jawab mendidik seperti yang dicontohkan oleh Bunda Hajar. 13 tahun menurut sebagian ahli sejarah, Bunda Hajar menjadi single parent bagi Ismail kecil. Kamupun bisa menjadi wanita ‘hero’itu. 

4.      Multi Talenta 

Tidak ada wanita kecuali dia multi talenta. Bagaimana bisa? Lihat saja dalam satu waktu dia bisa menyelesaikan beberapa persoalan. Ketika sedang membersihkan rumah, ia memasak untuk keperluan suami ke kantor dan anak-anak sebelum ke sekolah. Sementara menyapu, terdengar yang bungsu menangis di ayunan. Segera ia berlari. Disamping itu, ingtannya harus tetap pada masakan agar tidak gosong. Terkadang ia lakukan sambil mencuci pakaian di mesin, ingatannya pun harus dikontrol. Suami setelah mandi masih juga menanyakan dimana pakaian kerja yang mesti dia kenakan, setelah dicuci kemarin. Tidak jarang, ia akan meninggalkan makannya untuk memenuhi itu, sedikit menyetrika atau lainnya. Bagaimana bisa seorang wanita tidak ditempatkan mulia dalam islam? Tidak ada surga dibawah telapak kaki suami, atau lelaki. Tapi, surga berada di bawah telapak kaki ibu, atau wanita. Itulah pahlawan wanita zaman now. Kalau dia bisa mengakumulasikan semua potensinya, bukan untuk sekedar diri dan keluarga. Tapi, ia menjadi patron perubahan besar bagi suatu negara, bahkan dunia.

#Selamat_Hari_Dharma_Wanita
#KMO_Alineaku

                                                                                   
Wanggudu, Asera, di Kamar Sepi, 13.45. 8 Agustus, Sulawesi Tenggara.


=========================================================================



Bahan Bacaan:
Al-Kandahlawy, Zakariyah. 2009. Himpunan Fadhilah Amal. Bandung. Pustaka Ramadhan.
Departemen Agama RI. 2013.  Al-qur’an Dan Terjemah. Jakarta. Suara Agung.
Hamka. 2016. Dari Hati Ke Hati. Jakarta. Gema Insani Press.
Iloveaceh.com. diakses 08/08/18 jam 11.30.

2 comments: