By
Mujiburrahman Al-Markazy
Mata nanar perempuan tua itu tiba-tiba berubah tajam. Ia menarik Cut
Gambang yang tengah dirundung sedih itu dan menamparnya – plak!: “Dengar!”
Bentaknya, “Sebagai perempuan Aceh, jangan meneteskan air mata atas orang yang
syahid!” Namun setelah itu Cut Nya segera merangkul sang putri (iloveaceh.com).
Itulah motivasi dari seorang Cut Nyak
Dien kepada kepada putri semata wayangnya, ketika wafat sang ayah yang begitu
gagah perkasa, Teuku Umar. Ditengah kepungan dari Belanda itu, rasa takut dari
sang wonder woman itu, tidak gentar sama sekali. Sisa-sisa pasukan masih ada,
melihat teguhnya pendirian dan pejuang dari Sang Cut Nyak. Pelanjutan untuk
menemukan sisa pasukan terus dilakukan. Sementara disisi lain, Belanda dengan
kekuatan armada penuhnya terus mengejar para ‘teroris’ itu. Bagi para penjajah
teroris adalah orang yang mengacaukan rencana mereka meraup keuntungan di
negeri jajahan.
Beberapa motivasi ‘super’ dari wanita paruh baya itu telah
menggelorakan dan menggetarkan pihak kawan maupun lawan. Gelora semangat yang
terus lahir dari elemen cinta kepada Ilahi Rabbi, semangat Jihad. Kata jihad
yang telah lama diselewengkan dari makna sebenarnya. Dalam rubrik “Hati ke
Hati” di Majalah “Panji Masyarakat”, Buya Hamka
pernah menyampaikan beberapa makana jihad. Salah satu diantaranya adalah
mempertahankan milik sendiri, ketika diambil oleh orang lain dengan jalur yang
salah, adalah suatu tindakan jihad. Diantar motivasi yang menggemparkan persada
kala itu adalah, “Cuma sedikit orang yang relamenjadi kecil agar dipakai oleh
Allah sebagai (tameng) agar bisa melewati dan menghindarkan ujian-uijian
‘kecil’.” Dia pun pernah berujar, “Pada saat kita khawatir (terhadap sesuatu),
terkadang kita lebih percaya dengan maslah daripada percaya kepada (begitu
dekatnya) pertolongan Allah.” Wanita yang telah menggelorakan semangat jihad
selama 25 tahun itu, telah membuat kocar-kacir dan kerugian baik secara materi,
amunisi dan korban jiwa para kolonel kesayangan Belanda. Wanita yang begitu
tangguh, bukan hanya pada zaman itu, tapi akan terus dikenang hingga yaumil qiyamah.
Sang Cut Nyak Dien bukan hanya menampar anaknya, agar tegar dalam
menghadapi tantangan hidup. Akan tetapi, telah menampar jiwa kita sebagai
bangsa, jiwa kita sebagai penerus bangsa. Apakah kita mampu melahirkan ‘Cut
Nyak Dien- Cut Nyak Dien’ zaman now.
Bukan hanya anaknya yang menjadi tegar, tetapi pasukan yang ia pimpin
mendampingi mendiang sang suami. Semanagat dan gelora itu telah melahirkan
militansi hingga bermunculan pahlawan demi pahlawan hingga merdekalah bangsa
ini.
Sekarang tantangan globalisasi begitu nyata. Jika tanpa didukung oleh
militansi dari kaum wanita masa kini dalam menggelorakan semangat ‘jihad’.
Bukan sekedar jihad fisik, tapi jihad pemikiran, jihad kebudayaan, jihad
mempertahankan kemuliaan berumah tangga dan jihad untuk menciptakan generasi
yang cinta kepada bangsa, generasi yang rela berkorban apapun demi
memperjuangkan nilai-nilai humanisme keislaman. Bukankah dalam Islam dikenal
dengan istiah, “Almar’atu imadul bilad”,
wanita adalah tiang negara. Yah, wanita adalah penyokong terbaik dalam suatu
negara.
Perhatikanlah, tidak ada lelaki sukses tanpa dimulai dengan wanita yang
berjiwa ‘hero’, wanita yang berjiwa besar. Bagaimana Imam Bukhari yang
menghafal 200 ribu hadits dengan ditemani oleh seorang Ibu yang begitu tangguh.
Walaupun sang Ibu yang buta matanya, begitu renta, membesarkan seorang diri
serta menemani sang Imam untuk mensearching
ilmu ‘talaqi’, dari guru ke guru. Setiap satu guru memakan waktu berbulan-bulan
perjalanan. Baik dengan berjalan kaki, numpang pada kendaraan orang lain atau
menggunakan keledai. Tidak langsung dengar hadits dari sang guru, tapi meneliti
keseharian sang ‘calon guru’. Jika ia amanah, tidak suka bergurau, selalu
menjalankan sunnah, maka hadits yang ia dengar dari sang guru akan dihukumi shohih. Jika tidak, hukumnya bisa jadi dho’if alias lemah.
Seorang Bung Karno pernah memberi syarat kepada pemerintahan Unisoviet,
kala itu, sekarang Rusia. Beliau pernah mensyaratkan jika ingin kerja sama
bilateral dengan Indonesia, supaya bisa menemukan dan memperbaiki makam dari
Imam Bukhari. Walaupun persyaratan yang begitu aneh, tapi sang negara super
power kala itu pun, menyetujuinya. Perhatikanlah, bagaimana efek pendidikan dan
ketulusan seorang ibu, seorang wanita yang tidak lekang dimakan zaman.
Sebenarnya, jika para wanita kita bisa menjawab tantangan zaman, arus
globalisasi yang begitu deras pada zaman now. Bisa jadi, wanita kita akan
melebihi patriotisme wanita-wanita yang telah berjaya pada zaman itu. Bagaimana
tidak, wanita pada zaman apa dan kapanpun saja. Memiliki beberapa kelebihan
diatas lelaki pada umumnya.
1.
Kelembutan hati.
Berapa banyak lelaki yang tumbang oleh wanita yang gemulai dan lembut
itu. Bagaimana Fir’aun yang tunduk di bawah kendali istrinya. Ketika, sang Musa
kecil hendak dibunuh, dengan alasan bahwa dia akan membunuh dan menumbangkan
kekuasaan Fir’aun dikemudian hari.
Jika wanita zaman now ini, menggunakan potensinya untuk ‘merayu’,
membimbing suaminya agar tidak membawa hasil haram ke dalam rumah tangganya. “Wahai
suamiku, aku akan bersabar dalam kelaparan dan kesusahan dunia, tetapi aku
tidak akan sabar dan tahan dalam menghadapi siksa di akhirat, Neraka yang
membakar. Tolong jangan kamu beri makan aku dan anakku barang dari sumber yang
haram. Tolong wahai suamiku.” Maka, berapa banyak korupsi bisa ‘direm’. Dan insyaallah
tidak akan muncul koruptor-koruptor baru dalam menjalankan amanah kenegaraan
saat ini.
2.
Air mata.
Air mata adalah jalan tengah bagi wanita dalam melerai duka dihatinya.
Dengan menumpahkan gundah-gulananya dengan menangis, maka hatinya akan menjadi
begitu plong. Sebenarnya, ini potensi besar, tangisan bukan mencari kasihan
dari makhlik yang juga sebenarnya memiliki masalah. Tapi, menangis yang cerdas,
menangis memohon dengan ketulusan hati kepada Dia Pemilik Seluruh Hati, Allah
swt. Seorang ulama mengatakan, “Saya dapat mengetahui, doaku yang manakah yang
dikabulkan oleh Allah”. Seseorang bertanya, “Bagaimana anda dapat
mengetahuinya?”. Ia menjawab, “Ketika bulu romaku berdiri, hati bergetar, dan
air mata berderai, saat itulah ku ketahui doa saya telah dikabulkan”. Inilah
potensi wanita yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki kebanyakan atau bahkan
dirinya sendiri.
Jika potensi yang satu inidigunakan oleh kaum wanita dalam berdoa. Bukan
hanya mendoakan suami agar tetap taat dan istiqomah. Bukan hanya mendoakan agar
dagangan dan pekerjaanya terselesaikan. Tapi, ia juga peduli dengan keadaan
bangsa yang morat-marit, senantiasa bersujud dan memohon agar segala
permasalahan bangsa dapat diselesaikan dengan mudah, baik oleh para eksukutif,
yudikatif, legislatif, kepolisian, pengusaha dan sebagainya. Ia bangun di akhir
malam mendoakan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Inilah pahlawan zaman
now dibalik tirai.
3.
Sifat tarbiyah alias pendidikannya.
Dari seorang wanita muncul pemimpin hebat. Sejarah menyaksikan, seorang
wanita yang hidup di padang sahara, lembah Batha, Makkah Al-Mukaramah. Ketika itu,
ia hanya tinggal seorang diri bersama anak semata wayangnya Sang Ismail kecil. Bunda
Hajar ra. Telah mengubah kesendirian menjadi kota gemerlapan. Bukan hanya
gemerlap dari segi duniawi, tapi juga gemerlap darisegi ukhrawi. Negeri Makkah
Al-Mukaramah telah melahirkan pemuda Sholeh yang dari keturunannya lahirlah
Sang Pencerah ke seluruh Alam, Muhammad saw.
Bercermin dari pendidikan yang diberikan Bunda Hajar r.ha. kepada
putranya Ismail. Terlihat jelas, bagaimana kepatuhan ananda Ismail, ketika
ditanya oleh Sang Ayah yang telah lama berpisah. Tentang nubuwah akan
disembelihnya dirinya. Sang Imail kecil hanya menjawab. Bukan hanya sekedar
memberi jawaban yang kosong, tapi jawaban yang sekaligus meneguhkan dan
menentramkan sang ayah untuk bertindak. “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan (oleh Allah) kepadamu. Niscaya, engkau akan dapati saya dalam
keadaan bersabar, insya Allah.” (QS. As Shaffat: 102).
Sifat murabi, pendidik yang dimiliki oleh Bunda Hajar haruslah
mengilhami wanita di zaman sekarang ini. Disamping ia memiliki profesi di luar
rumahnaya. Ia tetap tidak terlepas dari tanggung jawab mendidik seperti yang
dicontohkan oleh Bunda Hajar. 13 tahun menurut sebagian ahli sejarah, Bunda
Hajar menjadi single parent bagi
Ismail kecil. Kamupun bisa menjadi wanita ‘hero’itu.
4.
Multi Talenta
Tidak ada wanita kecuali dia multi talenta. Bagaimana
bisa? Lihat saja dalam satu waktu dia bisa menyelesaikan beberapa persoalan. Ketika
sedang membersihkan rumah, ia memasak untuk keperluan suami ke kantor dan
anak-anak sebelum ke sekolah. Sementara menyapu, terdengar yang bungsu menangis
di ayunan. Segera ia berlari. Disamping itu, ingtannya harus tetap pada masakan
agar tidak gosong. Terkadang ia lakukan sambil mencuci pakaian di mesin,
ingatannya pun harus dikontrol. Suami setelah mandi masih juga menanyakan
dimana pakaian kerja yang mesti dia kenakan, setelah dicuci kemarin. Tidak jarang,
ia akan meninggalkan makannya untuk memenuhi itu, sedikit menyetrika atau
lainnya. Bagaimana bisa seorang wanita tidak ditempatkan mulia dalam islam? Tidak
ada surga dibawah telapak kaki suami, atau lelaki. Tapi, surga berada di bawah
telapak kaki ibu, atau wanita. Itulah pahlawan wanita zaman now. Kalau dia bisa
mengakumulasikan semua potensinya, bukan untuk sekedar diri dan keluarga. Tapi,
ia menjadi patron perubahan besar bagi suatu negara, bahkan dunia.
#Selamat_Hari_Dharma_Wanita
#KMO_Alineaku
Wanggudu, Asera, di Kamar Sepi,
13.45. 8 Agustus, Sulawesi Tenggara.
=========================================================================
Bahan Bacaan:
Al-Kandahlawy,
Zakariyah. 2009. Himpunan Fadhilah Amal.
Bandung. Pustaka Ramadhan.
Departemen Agama
RI. 2013. Al-qur’an Dan Terjemah. Jakarta. Suara Agung.
Hamka. 2016. Dari Hati Ke Hati. Jakarta. Gema Insani
Press.
Iloveaceh.com.
diakses 08/08/18 jam 11.30.

manta (https://dwigrup.com/category/motivasi-dan-pengembangan-diri/)
ReplyDeleteinsya Allah, saudaraku.
Delete