Follower

Thursday, August 9, 2018

Bencana Lombok: Kesalahan Dalam Bersikap.




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Ini semua gara-gara TGB, mengatakan bahwa jokowi adalah seperti Nabi Ayub”. Ini adalah secuil cibiran kepada TGB (Tuan Guru Bajang) alias Zainul Majdi, Lc. MA. Semenjak TGB mengusung jargon “Jokowi 2 Periode”. Bencana yang terjadi 2 kali berselang seminggu itu, telah menyita banyak perhatian. Kenapa tidak? Pertama Lombok digoyang pada tanggal 29 Juli 2018 denga 6,4 SR. Setelah itu menyusul gempa susulan pada 5 Agustus Petang dengan goncangan yang lebih besar dari sebelumnya, 7 SR (Liputan6.com/6/8/18). 

Menurut berita yang dilansir pada 7 Agustus 2018 oleh Viva.co.id, bahwa korban yang meninggal hingga saat ini telah mencapai 105 jiwa. Sesuai dengan penuturan Kepala Pusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ketika ditemui di kantor BNPB, Jakarta. Dari data tersebut wajar saja telah menjadi berita nasional dan menjadi buah bibir bagi setiap kalangan. 

Apakah hal ini ada korelasi dengan ‘dosa’ satu orang? Mengingat dari data bencana yang pernah bertandang ke Negeri Para Ulama itu. Dari data disebutkan, ada sekitar 9 kali goncangan sejak tahun 1956. Mungkin saja ini ada kaitan dengan dosa. Siapakah makhluk  yang tidak pernah berdosa selain para Nabi. Tapi, menjudge suatu kelompok yang terkena musibah adalah bukan sebuah akhlak yang terpuji. Coba kita cerna dengan baik apakah dalam Islam ada korelasi antara dosa dengan musibah?

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan (sebagian besar) kesalahan-kesalahan kamu.” (QS. As Syura: 30).

Terlepas dari benar atau tidaknya perkataan dari seorang Zainul Majdi, sang gubernur NTB (Nusa TenggaraBarat) atau yang akrab dipanggil TGB. Benar apa tidaknya perkataan TGB tentang, “Jokowi seperti Nabi Ayub.” Yang jelas mengaca pada QS As Syura ayat 30 di atas, pasti musibah terjadi karena adanya dosa. Entah itu dosa TGB atau dosa masyarakat. Terus, apakah musibah atau ujian yang tidak mengenakan seperti itu, menandakan bahwa Allah benci alias murka? Pastinya belum tentu. 

Apalagi kejadian tersebut terjadi di daerah yang boleh dikata “Negeri Ulama”. Ini hanyalah  ‘sentilan mesra’  dari Tuhan Yang Maha Rahman. Bukankah para Nabi juga mendapatkan ‘sentilan mesra’seperti itu. Lihatlah, bagaimana Nabi Yunus yang harus terpisah daari anak-anaknya. Terpisah dari istrinya dan dia sendiripun harus dibuang ke dalam lautan yang ganas. 

Setelah diundi tiga kali, selalu namanya yang muncul. Ia siyakini sebagai orang sholeh oleh penumpang dan anak buah kapal beserta nahkoda. Tapi, ketika diundi yang ketiga kalinya, tetap namanya Yunus yang keluar. Keputusan bulat, Nabi Yunus harus dilempar keluar geladak kapal. Tidak hanya sampai disitu, ditengah ombang-ambing gelombang yang buas, munculah seekor makhluk dari dasar samudera. Hitam, ganas, seperti sosok raksasa yang tengah kelaparan dan melihat seonggok daging segar. Tanpa ba-bi-bu sang Nabi langsung dilahap tanpa dikunyah oleh seekor ikan paus, atau ikan ‘Nun’ dalam istilah sejarah Arab. 40 siang, 40 malam diceritakan oleh ahli sejarah. 

Ia harus terkatung-katung hidupnya dengan nasib yang tidak jelas. Badannya jadi bau, penuh dengan kotoran ikan yang ada di dalam gua berjalan itu. Ia hanya pasrah dan berdoa kepada Allah, beristigfar mengingat segala kekurangan dan dosa. Apakah dia seorang yang hina dalam pandangan Allah? Tidak. Bahkan dia orang yang mulia.

Sampai dalam Shohih Bukhari Nabi saw. Pernah menyamakan perjalanan Isra dan mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw. Seperti perjalanan Nabi Yunus dalam perut ikan. Sedangkan kita ketahui dalam ayat pertama Surat Al-Isra, disebutkan maksud Allahmemperjalnkan Nabi Muhammad Saw, adalah untuk “linuriyahu min ayaatina”, untuk memperlihatkan ayat (tanda-tanda) kebesaran Kami. Begitupun, kehidupan orang-orang sholeh yang mendaptkan ujian demi ujian adalah untuk meningkatkan taraf ketakwaan dan derajatnya disisi Allah swt. Memang sih, teguran. Kenapa ditegur, karena orang itu masih berarti. 

Nabi Yunus as, ditegur setelah mengambil keputusan untuk memindahkan tempat dakwahnya. Ketika kaum Ninawa tidak menerima dakwah Nabi Yunus, beliau sepertinya tidak tahan. Bukan tidak berdakwah, tapi memindahkan areal kerja dakwah. Padahal SK nabi Yunus oleh Allah tetap berdakwah di wilayah Ninawa itu. Ketetapan Allah terjadi, setelah Nabi Yunus as, pindah. Allah ‘menyentil mesrah’ sang kekasih untuk kembali. Setelah ujian yang begitu berat diterima, beliau kembali ke wilayah dakwahnya, ternyata semua suku Ninawa telah memperoleh hidayah dari Allah swt. Memang segala sesuatu ada harganya. Begitupun untuk meninggikan derajat seseorang adalah dengan pengorbanan dalam berjihad, berdakwah dan beramal. Jika kadar pengorbanan kita belum sampai pada taraf tertentu yang Allah Ta’ala inginkan untuk ditinggikan derajat kita, maka Allah swt, memberikan bonus berupa ‘ujian’. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ
أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ

“Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba, yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya. Maka, Allah akan memberinya musibah pada dirinya atau hartanya atau anaknya. Lalu, Allah akan menyabarkannya (yakni, Allah memberi taufiq kepadanya sehingga ia mampu bersabar) kemudian ia bersabar, hingga kesabaran tersebut menghantarkannya kepada kedudukan yang diraihnya. (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-ahaadits Ash-shahihah 2599).

Beralih ke kaasus Lombok. Apakah musibah yang mereka aterima adalah kutukan? Tidak. Karena kebanyakan mereka adalah orang yang mengamalkan dan memahami agama, insya Allah. Cuman, Allah ingin derajat mereka ditinggikan dengan sebab kesabaran. “Innallaha ma’a Shabirin”. Allah bersama dengan orang-orang sabar. Mungkin selama ini, ada sedikit ‘jarak’ antara Allah dengan saudara kita di sana, tapi sekarang. Seakan, jarak itu sudah tiada. Hati mereka betul-betul terpaut langsung kepada Allah. Memohon ampunan dan ridhonya. Sebagaimana merekapun ridho dengan ketetapan Allah yang berlaku kepada mereka. Sudahlah. Berhentilah mengoceh. Bisa jadi, kedudukan mereka di sisi Allah lebih baik dari pada yang mengoceh. 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik (dari yang mencela). Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11). 

Hentikanlah segala ocehan. Mari peduli, mari mengulurkan tangan. Lahan amal ada di depan kita. Allah sengaja menggilirkan harta pada sebagian yang lain, agar menguji yang kelebihan itu untuk, pertama bersyukur. Yang kedua, untuk berbagi kepada yang lain. Marilah berbagi, karena nanti akan tiba suatu masa, ketika orang ingin berbagi dengan yang lain. Ia sudah tidak memiliki celah untuk berbagi. Why? Karena setiap orang telah sejahtera dan tidak membutuhkan apa-apa lagi dari orang lain. Yang dibutuhkan hanyalah kasih sayang dari Zat Yang Maha Penyayang. Mari sisihkan, satu-dua rupiah yang ada pada kita untuk berbagi. “wamimma razaqnahum yunfikun”, pada sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepadamu, infakanlah. Save Lombok!

Penulis petikan beberapa ayat dan hadits tentang pentingnya kita berbagi.

1.      “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).

2.      “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”- ia akan mendapatkan Naungan Pada Hari kiyamat. Hari itu, tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah- (HR. Bukhari).

3.      Bisik-bisik terbaik adalah bisik-bisik untuk sedekah. Apakah mau bisik-bisik ke tetangga, keluarga, kawan atau yang lainnya. 

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar." (QS. An-Nisa: 114).

4.      Setiap sedekah yang kita infakan, akan bernilai dengan kelipatan pahala 700 kali dari modal infak kita. Wow, ini bisnis amazing. Bisnis dengan Allah adalah bisnis yang pastinya tidak akan rugi, tinggal kita ikhlas aja.

“Permisalan orang yang menginfakan hartanya dijalan Allah, seperti sebuah bulir yang melahirkan tujuh tangkai. Setiap tangkai akan mengahasilkan 100 bulir lagi. Dan Allah akan melipat gandakan yang lebih besar lagi dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 261). 

Akhirnya, marilah kita menyisihkan harta yang kita punyai demi kemaslahatan dan kebaiakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah. Berhentilah berkata dengan perkataan yang tidak mengenakan. Allah swt, menyindir kita. 

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”(QS. Al-Baqarah: 263). 

Jika tidak mau bantu, yah jangan mencibir. Toh, Allah yang Maha Kaya, pasti banyak yang akan bantu mereka. Allah itu Maha Penyantun (Al-Halim) sangat Maha Lembut. Jadi kita cukup doakan dengan doa terbaik. 

#Save_Lombok
#Pray_For_Lombok


No comments:

Post a Comment