By
Mujiburrahman Al-Markazy
“Ini semua gara-gara TGB, mengatakan bahwa
jokowi adalah seperti Nabi Ayub”. Ini adalah secuil cibiran kepada TGB
(Tuan Guru Bajang) alias Zainul Majdi, Lc. MA. Semenjak TGB mengusung jargon
“Jokowi 2 Periode”. Bencana yang terjadi 2 kali berselang seminggu itu, telah
menyita banyak perhatian. Kenapa tidak? Pertama Lombok digoyang pada tanggal 29
Juli 2018 denga 6,4 SR. Setelah itu menyusul gempa susulan pada 5 Agustus
Petang dengan goncangan yang lebih besar dari sebelumnya, 7 SR
(Liputan6.com/6/8/18).
Menurut
berita yang dilansir pada 7 Agustus 2018 oleh Viva.co.id, bahwa korban yang
meninggal hingga saat ini telah mencapai 105 jiwa. Sesuai dengan penuturan
Kepala Pusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ketika ditemui di kantor BNPB,
Jakarta. Dari data tersebut wajar saja telah menjadi berita nasional dan
menjadi buah bibir bagi setiap kalangan.
Apakah
hal ini ada korelasi dengan ‘dosa’ satu orang? Mengingat dari data bencana yang
pernah bertandang ke Negeri Para Ulama itu. Dari data disebutkan, ada sekitar 9
kali goncangan sejak tahun 1956. Mungkin saja ini ada kaitan dengan dosa.
Siapakah makhluk yang tidak pernah
berdosa selain para Nabi. Tapi, menjudge suatu kelompok yang terkena musibah
adalah bukan sebuah akhlak yang terpuji. Coba kita cerna dengan baik apakah
dalam Islam ada korelasi antara dosa dengan musibah?
“Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan (sebagian besar) kesalahan-kesalahan
kamu.” (QS. As Syura: 30).
Terlepas
dari benar atau tidaknya perkataan dari seorang Zainul Majdi, sang gubernur NTB
(Nusa TenggaraBarat) atau yang akrab dipanggil TGB. Benar apa tidaknya
perkataan TGB tentang, “Jokowi seperti Nabi Ayub.” Yang jelas mengaca pada QS
As Syura ayat 30 di atas, pasti musibah terjadi karena adanya dosa. Entah itu
dosa TGB atau dosa masyarakat. Terus, apakah musibah atau ujian yang tidak
mengenakan seperti itu, menandakan bahwa Allah benci alias murka? Pastinya belum
tentu.
Apalagi
kejadian tersebut terjadi di daerah yang boleh dikata “Negeri Ulama”. Ini hanyalah
‘sentilan mesra’ dari Tuhan Yang Maha Rahman. Bukankah para
Nabi juga mendapatkan ‘sentilan mesra’seperti itu. Lihatlah, bagaimana Nabi
Yunus yang harus terpisah daari anak-anaknya. Terpisah dari istrinya dan dia sendiripun
harus dibuang ke dalam lautan yang ganas.
Setelah
diundi tiga kali, selalu namanya yang muncul. Ia siyakini sebagai orang sholeh
oleh penumpang dan anak buah kapal beserta nahkoda. Tapi, ketika diundi yang
ketiga kalinya, tetap namanya Yunus yang keluar. Keputusan bulat, Nabi Yunus
harus dilempar keluar geladak kapal. Tidak hanya sampai disitu, ditengah
ombang-ambing gelombang yang buas, munculah seekor makhluk dari dasar samudera.
Hitam, ganas, seperti sosok raksasa yang tengah kelaparan dan melihat seonggok
daging segar. Tanpa ba-bi-bu sang Nabi langsung dilahap tanpa dikunyah oleh
seekor ikan paus, atau ikan ‘Nun’ dalam istilah sejarah Arab. 40 siang, 40
malam diceritakan oleh ahli sejarah.
Ia
harus terkatung-katung hidupnya dengan nasib yang tidak jelas. Badannya jadi
bau, penuh dengan kotoran ikan yang ada di dalam gua berjalan itu. Ia hanya
pasrah dan berdoa kepada Allah, beristigfar mengingat segala kekurangan dan
dosa. Apakah dia seorang yang hina dalam pandangan Allah? Tidak. Bahkan dia
orang yang mulia.
Sampai
dalam Shohih Bukhari Nabi saw. Pernah menyamakan perjalanan Isra dan mi’raj
Kanjeng Nabi Muhammad saw. Seperti perjalanan Nabi Yunus dalam perut ikan. Sedangkan
kita ketahui dalam ayat pertama Surat Al-Isra, disebutkan maksud
Allahmemperjalnkan Nabi Muhammad Saw, adalah untuk “linuriyahu min ayaatina”, untuk memperlihatkan ayat (tanda-tanda)
kebesaran Kami. Begitupun, kehidupan orang-orang sholeh yang mendaptkan ujian
demi ujian adalah untuk meningkatkan taraf ketakwaan dan derajatnya disisi
Allah swt. Memang sih, teguran. Kenapa ditegur, karena orang itu masih berarti.
Nabi
Yunus as, ditegur setelah mengambil keputusan untuk memindahkan tempat
dakwahnya. Ketika kaum Ninawa tidak menerima dakwah Nabi Yunus, beliau
sepertinya tidak tahan. Bukan tidak berdakwah, tapi memindahkan areal kerja
dakwah. Padahal SK nabi Yunus oleh Allah tetap berdakwah di wilayah Ninawa itu.
Ketetapan Allah terjadi, setelah Nabi Yunus as, pindah. Allah ‘menyentil mesrah’
sang kekasih untuk kembali. Setelah ujian yang begitu berat diterima, beliau
kembali ke wilayah dakwahnya, ternyata semua suku Ninawa telah memperoleh
hidayah dari Allah swt. Memang segala sesuatu ada harganya. Begitupun untuk meninggikan
derajat seseorang adalah dengan pengorbanan dalam berjihad, berdakwah dan
beramal. Jika kadar pengorbanan kita belum sampai pada taraf tertentu yang
Allah Ta’ala inginkan untuk ditinggikan derajat kita, maka Allah swt,
memberikan bonus berupa ‘ujian’.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bersabda:
إِذَا سَبَقَتْ
لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ
اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ
أَوْ فِي وَلَدِهِ
ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ
“Jika
datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba, yang mana ia belum
mencapainya dengan amalannya. Maka, Allah akan memberinya musibah pada dirinya
atau hartanya atau anaknya. Lalu, Allah akan menyabarkannya (yakni, Allah
memberi taufiq kepadanya sehingga ia mampu bersabar) kemudian ia bersabar, hingga kesabaran tersebut menghantarkannya
kepada kedudukan yang diraihnya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat
dalam silsilah Al-ahaadits Ash-shahihah 2599).
Beralih ke kaasus Lombok. Apakah musibah yang
mereka aterima adalah kutukan? Tidak. Karena kebanyakan mereka adalah orang
yang mengamalkan dan memahami agama, insya Allah. Cuman, Allah ingin derajat
mereka ditinggikan dengan sebab kesabaran. “Innallaha ma’a Shabirin”. Allah
bersama dengan orang-orang sabar. Mungkin selama ini, ada sedikit ‘jarak’
antara Allah dengan saudara kita di sana, tapi sekarang. Seakan, jarak itu
sudah tiada. Hati mereka betul-betul terpaut langsung kepada Allah. Memohon ampunan
dan ridhonya. Sebagaimana merekapun ridho dengan ketetapan Allah yang berlaku
kepada mereka. Sudahlah. Berhentilah mengoceh. Bisa jadi, kedudukan mereka di
sisi Allah lebih baik dari pada yang mengoceh.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela
itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela
kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela
itu lebih baik (dari yang mencela). Dan janganlah suka mencela dirimu
sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan
barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “
(QS. Al Hujuraat :11).
Hentikanlah segala ocehan. Mari peduli, mari
mengulurkan tangan. Lahan amal ada di depan kita. Allah sengaja menggilirkan
harta pada sebagian yang lain, agar menguji yang kelebihan itu untuk, pertama bersyukur.
Yang kedua, untuk berbagi kepada yang lain. Marilah berbagi, karena nanti akan
tiba suatu masa, ketika orang ingin berbagi dengan yang lain. Ia sudah tidak
memiliki celah untuk berbagi. Why? Karena setiap orang telah sejahtera dan tidak
membutuhkan apa-apa lagi dari orang lain. Yang dibutuhkan hanyalah kasih sayang
dari Zat Yang Maha Penyayang. Mari sisihkan, satu-dua rupiah yang ada pada kita
untuk berbagi. “wamimma razaqnahum
yunfikun”, pada sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepadamu, infakanlah. Save
Lombok!
Penulis petikan beberapa ayat dan hadits tentang
pentingnya kita berbagi.
1.
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).
2. “Seorang
yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu
sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan
kanannya.”- ia akan mendapatkan Naungan
Pada Hari kiyamat. Hari itu, tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah- (HR. Bukhari).
3. Bisik-bisik
terbaik adalah bisik-bisik untuk sedekah. Apakah mau bisik-bisik ke tetangga,
keluarga, kawan atau yang lainnya.
"Tidak ada kebaikan
pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat
kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian
dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya
pahala yang amat besar." (QS. An-Nisa: 114).
4.
Setiap sedekah yang kita infakan, akan bernilai
dengan kelipatan pahala 700 kali dari modal infak kita. Wow, ini bisnis
amazing. Bisnis dengan Allah adalah bisnis yang pastinya tidak akan rugi,
tinggal kita ikhlas aja.
“Permisalan orang yang menginfakan hartanya dijalan Allah, seperti
sebuah bulir yang melahirkan tujuh tangkai. Setiap tangkai akan mengahasilkan
100 bulir lagi. Dan Allah akan melipat gandakan yang lebih besar lagi dari itu
bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 261).
Akhirnya, marilah kita menyisihkan harta yang
kita punyai demi kemaslahatan dan kebaiakan saudara-saudara kita yang sedang
mengalami musibah. Berhentilah berkata dengan perkataan yang tidak mengenakan. Allah
swt, menyindir kita.
“Perkataan yang baik dan pemberian
maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
(perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”(QS. Al-Baqarah: 263).
Jika tidak mau bantu, yah jangan mencibir. Toh,
Allah yang Maha Kaya, pasti banyak yang akan bantu mereka. Allah itu Maha
Penyantun (Al-Halim) sangat Maha Lembut. Jadi kita cukup doakan dengan doa
terbaik.
#Save_Lombok
#Pray_For_Lombok

No comments:
Post a Comment