By
Mujiburrahman
Al-Markazy
Pak
Amir telah menyelesaikan Sholat Subuh. Setelah zikir singkat ia kemudian
memanaskan mesin mobilnya sambil menyeruput kopi hangatnya yang disediakan oleh
Mak Ijah. “Sruput....ah”. terlihat dua pasangan muda-mudi yang baru keluar dari
kos-kosan putri di belakang rumahnya. Ia berfikir, “Loh itukan kos putri. Kenapa
bisa yang bermalam di situ adlah pasang-pasangan?”
Pikiran
yang lain menimpali, “Ah, sudahlah.itukan hak asasi anak muda. Untuk apa saya
mau urus mereka. Toh bukan urusan saya juga. Kan, mereka tidak mengganggu saya.
Yang penting kan saya bisa ibadah, ngapai urus mereka. Toh surga atau neraka,
biarkan mereka saja yang rasa. Toh diri mereka sendiri juga.yang penting saya
urus keluarga saya, pekerjaan saya.keadaan yang lain,terserahlah.”
Saudaraku
sekalian, perang batin yang dialami oleh kasus Pak Amir ini sering terjadi di
masyarakat. Pada satu sisi sifat fitrah, ingin
mengubah dan mengingatkan suatu kemungkaran yang terjadi di hadapannya. Tapi,pada
sisi yang lain dia terbentur dengan pola pikir yang ‘Individual-liberalis.’
Individual,
maksudnya adalah merasa bahwa urusan sosial kemasyarakatan biar saja setiap
individu urus sendiri masalahnya. Anggota masyarakat bersikap apatis dengan
kerusakan moral yang terjadi di sekelilingnya. Apapun yang terjadi biarlah
terjadi. Toh, selama tidak merugikan dirinya atau orang lain. Liberalis,
maksudnya membiarkan orang lain berbuat sesuai kehendak pribadinya, walaupun
bertentangan dengan norma dan aturan agama atau bertentangan dengan norma dan
aturan hukum. Inilah satu trend yang mulai tumbuh subur di kalangan masyarakat
seiring perkembangan arus globalisasi dan moderenisme.
Padahal
kalau kita berkaca pada Hadits Shohih Bukhari tentang, bagaimana kita bersikap
dalam bingkai sosial kemasyarakatan. ”Perumpamaan
orang yang tengah menjalakan hukum Allah Shubhanahu Wa Ta’ala dan orang yang
terjerumus didalamnya bagaikan suatu kaum yang mengundi tempat di atas perahu.
Sebagian mendapatkan tempat diatasnya dan sebagian lainnya dibawah. Yang di
bawah apabila membutuhkan air harus naik keatas, maka berkatalah orang-orang
yang di bagian bawah: ”Lebih baik, kita lubangi saja tempat kita ini supaya
tidak mengganggu orang-orang diatas!”. Apabila tindakan mereka dibiarkan oleh
orang-orang yang di atas pasti binasalah semua penumpang perahu itu, tetapi
jika tindakan itu dicegah, maka selamatlah semua penumpang perahu itu ” (HR
Bukhari NO. 2493 dan Ahmad IV/1269 dan 270 dengan sanad Shahih.).
Demikianlah
kehidupan bermasyarakat kita.tidaak ada istilah, “Inikan privasi saya. Saya mau
jalan dengan siapa. Saya mau nyuri uang siapa yang penting tidak rugikan kamu
kan?” Tidak. Selama itu bertentangan dengan norma agama. Bertentangan dengan
aturan ilahi. Itu suatu pelanggaran yang harus diingatkan. Jika tidak
diingatkan bukan hanya ada konsekuensi dunia, tapi juga ada konsekuensi
akhirat. Bukan hanya ada konsekuensi kerusakan akhirat, tapi kerusakan dan
bahaya itu telah dicicil di dunia. Kita laksana menumpang pada satu kapal yang
sama. Setiap penumpang kapal punya tanggung jawab yang sama agar bahtera yang
kita tumpangi tidak dirusak oleh orang yang mementingkan kesenangan sesaat, dan
membiarkan penderitaan berkepanjangan.
Itulah
tanggung jawab dakwah. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau
keburukan. Satu ketika Bunda Aisyah r.ha pernah bertanya, “Ya Rasulullah,
apakah kita akan diazab oleh Allah, walaupun ada orang-orang yang soleh
diantara kita? Rasulullah saw, menjawab, “Ya, jika kemaksiatan telah merajalela.”
Tidak
ada istilah, “Ah, yang penting saya sudah ibadah. Nggak usah ingatin yang lain.
Apapun keadaan mereka, terserah.” Tidak saudaraku. Ibadah yang dikerjakan
adalah suatu kebaikan. Itu perkara yang tidak bisa dipungkiri. Tapi, mencegah
kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan adalah sendi kebaikan tersendiri yang
mesti kita laksanakan demi tercipta kondusivitas masyarakat yang gemar beramal,
gemar berlaku adil dan memiliki kepedulian sosial.
Dewasa
ini, tontonan telah mengubah paradigma kita. Tontonan telah menjadi tuntunan. Kehidupan
‘bebas’ ala barat begitu masuk ke sendi kehidupan kita tanpa ada filter yang
jelas. Apa-apa yang berbau barat, langsung dicopy
tanpa dicek terlebih dahulu, sesuai tidak dengan tatanan budaya, sesuai tidak
dengan norma agama, sesuai tidak dengan kultur ketimuran. Semua dilibas. Apalagi
budaya selfi yang semakin menjamur. Kebaikan
hanya nampak dilayar ‘kaca’. Sebelum memberikan sedekah ke fakir miskin ‘selfi
dulu’. Sebelum tawaf di ka’bah ‘selfi dulu’. Apa-apa diselfi. Kebaikan makin
berkurang kualitas batiniahnya. Memang sesuai dengan Hadits Nabi saw, ketika
beliau saw, ditanya. “Ya Rasulullah, apakah yang pertama kali akan diangkat
dari dunia ini?” Beliau menjawab, “Kekhusyuan dalam sholat.”
Berbicara
kehusyuan.Tidak serta merta hanya khusyu itu, ketika sholat saja. Tapi, kehusyuan
itu berlaku dalam banyak hal, berdoa, berziarah kubur, berziarah kepada ulama,
ta’ziah, duduk di depan orang tua, bahkan duduk didepan suamibagi istri juga
harus membutuhkan kekhusyuan. Semua kekhusyuan itu, bermula dari sholat.
Allah
firmankan, “waaqimishalata li zikri”.
“Dirikanlah
Sholat untuk mengingat-Ku”. (QS. Thaha: 14)
Sehingga
pernah ada seorang pelayan atau khadim dari seorang ulama. Ketika ia sedang
membawakan chay, atau teh ala India. Ketika
ia hendak menurunkan teh dari tatanan teh tersebut.chay itu langsung tumpah. Syekh
itu hanya menasehatkan, “Perbaiki lagi kekhusyuan kamu dalam sholat.” Padahal kalau
kita melihat secara sepintas lalu. Apa hubungan antara teh yang tumpah dengan
kekhusyan.ternyata semua berbarengan. Ketika di hadapan Allah kita tidak
khusyu, maka dihadapan makhluk pikiran kita juga tidak akan khusyu alias fokus.
Kerjakan yang ini, tapi fokus pikiran kearah sana. Masih sama istri sendiri,
ingat lagi wanita di mall tadi. Kan, jadi kacau. Semua bermula dari tidak
khusyu di dalam sholat.
Terus
apa poin dari diskusi kita kali ini. Solusi jangka pendek adalah menjaga
kekhyuan sholat. Bukankah Allah sendiri telah berfirman.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya
sholat itu mencegah perbuatan keji (fakhsya) dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Jika sholat kita benar-benar khusyu, maka kemungkaran
dan kemaksiatan diri kita dan orang lain akan tercegah. Jika sholat kita belum
bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar berarti sholat kita yang belum
beres. Mesti dibetulkan, lagi dan lagi. Untuk membetulkan sholat, mesti kita
lihat pondasinya. Secara umum Islam dibagi menjadi 5 bagian, ini rukun Islam
yah. Sholat berkedudukan sebagai tiang. Terus pondasinya apa? Yah, iman. Jika kita
benerin nih imannya. Maka, insya Allah nanti akan berefek ke sholatnya secara bathiniah. Berapa banyak hari ini
kitatelah mendengar dan membaca tentang teori tauhid. Yang jadi pertanyaan
adalah adakah, amalan yang bisa mengupgrade rasa keimanan kita menjadi “ngejosh?” Pasti ada-lah. Dengar baik-baik
amalan untuk meningkatkan dan menumbuhkan ghairah amal paling cepat dan berefek
ganda adalah amalan amar ma’ruf nahi
mungkar, dengan kata lain dakwah. Mengajak orang lain kepada kebaikan dan
mencegah orang lain dan diri sendiri dari kemaksiatan.
Suatu ketika Nabi saw bersabda.
من رأى منكرًا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه
وذلك أضعف الإيمان
“Barangsiapa yang melihat
kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya. jika, tidak mampu, maka cegahlah
dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka cegahlah dengan hatinya. Mencegah dengan
hati itu, adalah selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Imam Muslim
dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a).
Demikianlah, kesempurnaan ibadah kita
berada pada akar keimanan di hati kita. Kekuatan iman kita bisa diukur dari
sejauh mana kemampuan kita dalam mencegah kemungkaran. Level high class
keimanan adalah dengan mencegah menggunakan tangan kita. Bahasa yang lebih
mudah dipahami adalah menggunakan semua aset kemampuan yang Allah berikan
kepada kita. Jika punya jabatan, gunakan jabatan itu untuk mencegah
kemungkaran. Jika punya harta, gunakan harta itu untuk mencegah kemungkaran,
jika punya wibawa, gunakan wibawa itu untuk mencegah kemungkaran. Intinya semua
perabot dan perlengkapan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, gunakanlah
untuk perbaikan sosial kemasyarakatan agar kemaksiatan bisa tercegah.
Ingat yah, hadits ini menyuruh untuk
mencegah kemaksiatan yang sifatnya kemungkaran. Nukan semata-mata al-fakhsya. Sebagaimana dalam Surat
Al-Ankabut diatas menyinggung tentang dua jenis kemaksiatan, yakni al-fakhsya dan al-munkar atau kemungkaran. Perbedaan faksya dan mungkar adalah
kalau fakhsa adalah perbuatan yang sifatnya bisa merugikan orang lain secara
langsung, membunuh, merampok, mencuri, korupsi dan sebagainya. Sedangkan,
kemungkaran adalah perbuatan dosa yang tidak merugikan orang lain secara langsung,
seprti, meninggalkan sholat dengan sengaja, zina, mabok, judi dan sebagainya.
Peintah haditsnya adalah jika kamu melihat
kemungkaran. Bukan, jika kamu melihat ke-fakhsya-an, tidak. Haditsnya adalah
jika kita melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangan kita. Kan, begitu.
Level berikutnya, jika kita tidak mampu karena lemah,
baik lemah ekonomi, kurang wibawa, tidak memiliki kekuasaan dan sebagainya. Maka,
kita mencegah dengan level selanjutnya, yaitu lidah. Tinggal “ngomong doang.”
Beritahu saja dia, “Wahai saudaraku dunia ini singkat.
Sebentar lagi kita akan menghadap Allah. Apa yang kita sudah siapkan untuk
akhirat kita. Masa-sih kita mau begini terus. Pasti kita akan butuh amal yang
banyak di akhirat nanti. Mari kita tinggalkan kelalalaian kita menuju Allah
swt. Kita belajar untuk memperbaiki diri wahai saudaraku”. Jika kita
memberitahu dengan cara yang santun, maka ia juga lebih mudah untuk menerima. Minimalnya,
kalau dia menolak, ia pun akan menolak dengan santun. Ini level kedua.
Pada level ketiga, ini udah kebangatan ini. Kalau masih
belum sanggup juga. Cukup tanamkan rasa benci di dalam hati, bahwa itu adalah
perbuatan yang jelek dan tidak senono. Eit, perlu diperhatikan disini adalah
bukan kita mencibir kepada pelakunya, tapi benci kepada perbuatannya saat itu. Benci
kepada perbuatan yang macam itu, saiapa pun pelakunya, dia, saya, kamu, mereka,
semua perbuatan itu baik, dilakukan oleh siapa saja mesti dibenci,
perbuatannya. Bukan hanya sekedar benci, tapi mengalir seuntaian doa kepadanya,
“Ya Allah, berikanlah dia, sahabatku, tetanggaku, bosku, atau siapapun dia
maafkan kesalahnnya dan bimbinglah dia ke jalan hidayah milik-Mu”.
Senantiasa kita hadirkan dalam diri kita cara untuk
mengingatkan dia. Agar diri kita naik pada level kedua dalam mencegah
kemungkaran, bahkan bisa naik pada high
level, first class atau kelas pertama, ranking pertama dalam mencegah
kemungkaran. Karena jika kita bisa naik pada level pertama dalam mencegah
kemungkaran, maka iman dan ibadah kita, kualitasnya senantiasa berada dalam jalur
yang stabil. Doa kita akan mudah menitikkan air mata, haru atas hidayah yang
Allah berikan kepda kita dan sedih kepada dosa saudara kita yang masih,
asyik-masyuk dalam kemaksiatan. Harta yang Allah berikan juga senantiasa mudah
dan ringan untuk kita belanjakan demi kemaslahatan umat, untuk menggapai ridha
Allah semata. Inilah ganerasi terbaik yang Allah firmankan.
“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS.
Al-Imran: 110).
Inilah maksud dari surat
Wal-Ashri. Agar tidak rugi, mesti beriman, setelah beriman. Mesti beramal
sholah.tidak cukup dengan beramal sholeh. Mesti juga kita harus tampilbuat
dakwah untuk mencegah kemaksiatan, terutama kemaksiatan diri sendiri yang lalai
dengn lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung
untuk langgeng dalam nuansa ketaatan. Mari berhijrah.
Setelah kita berhijrah menuju jalan yang
Allah ridha. Tanggung jawab yang paling besar adalah bagaimana kita bisa
bersabar dalam bingkai keridhaan Allah. Kita mesti memiliki komunitas hijrah. Jamaah
hijrah yang akan ingatkan kita jika kita lemah, jika kita keliru dan kita jiga
akan mengingatkan dan bersama-sama dengan komunitas kita, jamaah kita untuk
mengajak orang lain dalam menapaki jalan para nabi yaitu, berpegang teguh dalam
agama.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ
أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendakalah ada diantara kamu, segolongan (se-komunitas, satu jamaah)
umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang yang ma’ruf dan
mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104).
Inilah amanah dari surat Al-Ashr ayat 1-3. Mudah-mudahan
dapat kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang lain. Aammiin.
Wanggudu, Asera, 12 Agustus 2018,
10:51 wita
==================================================================


Subhanallah mengingatkan diri ini untyk terus belajar dan baeramal.. Jazakallahu khairan katsira atas pencerahannya
ReplyDeleteWaiyyaki ukhti. Semoga terus istiqomah dalam kebaikan. Aammiin.
Delete