By
Mujiburrahman Al-Markazy
Pernah
sempat terhenti tulisanku beberapa lama. Sebenarnya, kalau menjadikan alasan
kesibukan, tidak pas juga, sebenarnya. celah-celah waktu, pasti ada jika mau dan sungguh-sungguh. Setelah saya cermati lebih dalam, penyebabnya adalah
‘marah’. Ternyata marah memiliki efek yang besar. Bukan marah seperti apa.
Ketika itu saya sudah menulis tentang satu tulisan yang saya rasa bagus. Judulnya,
“Agar Ilmu Hikamah Menyapa”. Masya Allah sudah komplit dengan dalil dan hikmah
agar Allah karuniakan kepada kita ilmu hikmah. Butuh kontemplasi dan perenungan
mendalam. Entah apa dan mengapa ada satu tuts
HP yang saya pencet, terhapus semua tulisanku dari A sampai Z. Dari awal hingga
akhir tulisan, terhapus. Saya kaget. Saya usaha kembalikan, mengklik tanda
panah kembali pada ‘icon bar’ bagian atas pada blog, tapi nihil. Tulisan yang
sudah diolah dari kemarin sore raib, entah kemana. Akhirnya, Galau menerpa.
“Ya
Allah, gimana nih.”
Upaya
tidak ku hentikan. Merestar HP, kemudian buka lagi blog pribadiku. Entah kenapa,
hasilnya sama saja, nihil. Aku mulai marah dengan diriku yang begitu ‘bodoh’.
Kenapa tulisan itu, tidak di share sejak tadi malam saja. Kan, masih bisa
diedit lagi kalau dirasa ada yang perlu diperbaiki. Berbagai alasan mengalir
untuk menyalahkan diri. Energi jadi terkuras pada menyalahkan diri. Begitu
lama, hampir 2 pekan tidak ada satu tulisan yang bisa dihasilkan karena
‘kemarahan’ itu.
Saudaraku
sekalian, marilah kita jadikan ini satu pelajaran menarik. Penulis rasa
pengalaman yang sama pasti juga pernah menghampiri para pembaca sekalian. Entah
apa sebabnya, pastinya berbeda dengan kasus yang dialami penulis di atas. Mari
kita diskusikan, kita ambil hikmahnya dan kita berusaha untuk menemukan solusi
terbaik dalam menangani dan melalui masalah seperti ini.
1. 1. Hilang potensi positif
Pasti.
Ketika seseorang marah, maka potensi yang seharusnya bisa dilakukan untuk
berkarya akan tersedot menjadi satu gumpalan kemarahan. Kalau dia bos, pasti
anak buah alias karyawan yang jadi sasaran. Kalau dia suami terkadang istri
atau benda kesayangan menjadi sasaran. Kayaknya, kalau perempuan seperti itu
juga. He he. Marah membuat suasaan syurgawi menjadi seperti neraka kecil yang
kita ciptakan sendiri. Mau apa-apa,
tidak enak. Semua terwarnai dengan yang namanya kemarahan. Pantas saja, ketika
seorang arab badui datang kepada Nabi Saw, untuk meminta nasehat. Rasulullah
saw, hanya berpesan dengan pesan yang singkat.
“Laa tagh-dhob walakal jannah”.
“Jangan
kamu marah, maka, bagimu syurga.”
Nasehat
yang begitu ringan, tapi efeknya yang begitu dalam. Menembus sampai ke relung
hati yang paling dalam. Jangan kamu marah, syurga buat kamu. Itu hadits shohih,
nggak usah tanya. Itu, riwayat Muslim, riwayat Bukhari juga ada.
Minimalnya,
kalau kita tidak dapat syurga di akhirat, karena memang diri kita belum dapat
jaminan langsung. Tapi, setelah mengalami proses pengadilan yang
seadil-adilnya. Minimalnya, kita langsung mendapatkan hawa, aura syurga ketika di dunia. Jangan kamu marah, bagi kamu
syurga. Memang marah, membawa efek negatif. Tiba-tiba terasa mendung dengan
diliputi kabut yang begitu tebal. Padahal sebelumnya mentari menyapa dengan
ramahnya. Burung-burung bernyanyi riang. Kupu-kupu terbang dari satu kembang ke
kembang lain untuk mengambil madu dan membantu penyerbukan, pembuahan bagi
tanaman. Semua terasa indah. Tetapi begitu marah. Semua padam. Kebahagiaan
bertukar nestapa. Riang jadi murung. Senyum jadi cemberut. Apa-apa disalahkan.
Lampu mati, salah. Hujan turun, salah. Matahari bersinar, salah. Semua jadi
salah. Syurga berubah menjadi neraka kecil. Neraka yang kita ciptakan sendiri.
Apalagi mau berkarya, jangan ditanya. Walaupun itu marah kepadadiri sendiri,
jangan.
Dengan
pertanyaaan aneh. “kenapa saya begini. Kenapa begitu.” Ini pertanyaan reserse kepada tersangka di kantor kepolisian. Jangan kamu jadi reserse untuk dirimu sendiri. Cukup
jadilah satpam yang menjaga dan mengontrol hati kamu.
Kisah
dan pengalaman indah pernah dituturkan oleh Sayyidina Anas bin Malik ra. Ia
adalah seorang anak kala itu yang berkhidmat,
melayani dan menemani keperluan Nabi Saw. Ia berkhidmat kepada Nabi Saw,
selama 10 tahun, sejak ia masih kanak-kanak. Begitu cintanya dirinya kepada
Rasulullah saw, sekaligus ingin mengambil berkah dengan berdekatan dengan Nabi
saw. Ibunya telah menitipkan Anas kecil kepada Rasulullah saw, sejak ia masih
berumur 10 tahun.
Ia bercerita, “Aku adalah seorang anak yang
kala itu, tidak semua yang diperintahkan Nabi langsung aku kerjakan sebagaimana
kemauan beliau saw. Tapi, beliau tidak pernah bertanya kepada saya, “Wahai
Anas, mengapa kamu lakukan ini, kenapa kamu tidak lakukan begitu?”’ Anas ra.
Melanjutkan ceritanya, “ketika aku disuruh untuk memanggil Bilal bin Rabbah ra,
akupun pergi. Ketika di jalan aku melihat banyak anak-anak yang bermain, aku
tertarik. Aku lupa dengan tugas yang Rasulullah saw, perintahkan. Aku bermain
dengan kawan-kawan yang lain begitu asyik. Tidak sadarkan diri. Seketika aku
merasa, ada sesosok orang dibelakang saya. Aku tidak melihat ada bayangannya
–Memang, Rasulullah saw, tidak ada bayangannya, karena beliau lebih bercahaya
dari sinar matahari. Bayangan akan ada, jika ada cahaya yang lebih rendah dari
kadar cahaya yang satu. Coba saja nyalakan lillin di samping lampu mercusuar,
bayangan lilin akan tampak, tapi bayangan lampu mercusuar tidak akan tampak di
belakang lilin- aku merasa, ada sesosok orang di belakang saya. Tiba-tiba orang
itu memegang kerah baju saya dengan lembut, terdengrlah suara, “Ya Unais,”-
panggilan sayang kepada Anas- “Ya Unais, apakah kamu sudah melakukan yang saya
sampaikan tadi?” sayyidina Anas kecil kaget dan bersegera menunaikan perintah
Rasulullah saw yang tertunda itu. Ia berlari dengan sekencang-kencangnya.
Subhanallah.
Rasulullah
saw. Tidak memanggil dengan lantang dari arah kejauhan. Beliau mendekat dan
berbisik. “Ya Unais.” Memanggil dengan sapaan mesra, meski sudah salah. Rasulullah
saw, tidak bertanya dengan gaya interogasi, “Mceh, kenapa kamu tidak pergi
panggil Bilal wahai Anas?” ini namanya pertanyaan menghakimi, seolah dia belum
melakukan apa-apa. Nabi saw, bertanya dengan pertanyaan yang mengandung
konfirmasi dan penuh kemesraan, “Ya Unais, apakah kamu sudah lakukan apa yang
saya samapaikan?” Seandainya, kalau Rasulullah saw, membentak Anas kecil ketika
itu, mungkin psikologinya akan terganggu. Kenapa? Karena yang marah adalah
Rasulullah saw, orang yang sangat ia elu-elukan dan sangat ia takjupi. Ia
begitu mencintai Rasulullah saw. Bagaimana perasaan kita ketika kita dimarahi
oleh orang yang begitu kita cintai dan kita hormati. Pasti kita akan sangat
merasa bersalah, dan frustasi. Kita akan marah ulang kepada diri kita sendiri.
“Oh, kenapa saya jadi pelupa begini. Kenapa saya begitu lalai sehingga untuk
masalah yang sepenting ini, saya harus terbengkai dengan hal-hal sepele seperti
itu?” Tidak. Nabi saw, begitu pecinta dan sokoh Guru bagi umat ini. Bagaimana seharusnya
bertutur dan menjaga psikologi anak dan orang yang di bawah kita. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad wa
‘ala aali Sayyidina Muhammad.
“Laa
tagh-dhob walakal jannah”.
“Jangan
kamu marah, maka, bagimu syurga.”
2 2. Muncul potensi Negatif
Di
alam ini. Allah swt, menyandingkan sesuatu itu berpasaang-pasangan. Jika
potensi positif hilang, maka outomaticly,
secara otomatis maka akan berubah menjadi potensi negatif, setidaknya penulis
menyampaikan 5 potensi negatif yang muncul ketika marah.
· *
Hafal Nama-nama
hewan
Ada orang yang ketika marah, maka semua nama hewan
di kebun binatang akan di sebut. “Dasar Kampret. Dasar Cebong. Anjing, Babi,
Lintah, Musang, Kadal, Keledai.” Semua hewan yang ia tau akan ia keluarkan. Itu
satu potensi negatif. Ia akan mudah ingat dan sebut bukan nama-nama ikan, tapi
ia akan sebut nama hewan darat. Kadang buaya yang hewan rawa di bawa ke darat,
jadi, “Dasar Buaya Darat.”
· *Membuat Piring
Terbang.
Ini bukan kejadian perang dingin antara Uni Soviet
lawan Amerika dengan perang teknologi, dengan menciptakan piring terbang.
Walaupun isu yang beredar adalah UVO. Ada orang yang marah, benda-benda
disekelilingnya akan berterbangan. Ia seperti memiliki energi mistis. Begitu
marah, jika piring yangb dipegang, akan jadi piring terbang. Jika sendok yang
di pegang akan jadi sendok terbang. Ini potensi negatif yang bisa membahyakan
lawan bicara. Saran penulis ketika menghadapi kemarahan tipe jenis ini.
Sebaiknya telah disiapkan helem dan tameng dari polisi pasukan anti huru-hara.
Ini cuman saran.
· *Kemampuan
berkarya jadi ‘mati’
Potensi negatif berikutnya adalah, terputusnya ide.
Mungkin sekedar ide, ada. Tapi, untuk mau dikembangkan ide tersebut, telah
lumpuh. Kekuatan berkarya telah pudar, kalaupun dipaksakan, hanya akan menjadi
beban tambahan. Pernah Allah swt. Menyindir kaum Yahudi yang marah karena Nabi
terakhir bukan dari kalangan mereka.
“Qul muutu
bighai-zikum”
“Matilah dengan kemarahan kalian.” (QS. Al-Imran:
119)
Walaupun ayat ini menyinggung tentang orang yahudi.
Tapi firman Allah itu qoulul jami’, perkataaan
sedikit tapi maknanya luas dan mendalam. Inipun dapat kita jadikan perenungan,
bahwa ketika seseorang itu marah, maka ia seolah mati. Karya dan kebaikan yang
harusnya mengalir laksana banjir bandang telah terhenti dan berubah menjadi api
nestapa. Tetangganya yang beli kipas angin, malah ia yang kepanasan. Begitulah
kemaran yang dihasilkan dari kedengkian.
·
*Kehilangan fokus
Suatu ketika, Imam Abu Hanifah dalam satu riwayat,
ia mendengar kabar, bahwa kapal yang memuat barang dagangan beliau telah
tenggelam. Beliau hanya terdiam sejenak, lantas beliau berucap,
“Alhamdulillah.” Beliau melanjutkan pelajaran. Ketika itu, beliau sedang mengajar,
puluhan ribu santri beliau. Tidak berselang lama, muncul lagi seseorang yang
memberitahu, “Mohon maaf tuan guru, informasi yang kami terima ternyata salah,
kapal tuan tetap selamat. Yang celaka adalah kapal yang lain, tapi ada
kemiripan saja dengan kapal bapak.” Beliau terdiam sejenak, kemudia berujar,
“Alhamdulillah.”
Setelah pengajian usai, ada salah satu murid beliau
yang bertanya, “Wahai guru, kenapa setelah mendengar berita kecelakaan kapal
tuan guru. Tuan guru hanya berucap alhamdulillah. Tapi, ketika mendengar kapal
tuan guru selamat, juga tuan guru berucap alahmadulillah. Apa sebabnya?”
Beliau menyampaikan, “Dalam setiap keadaan saya,
senantiasa mengecek keadaan hati saya. Ketika saya ketahui dengan berita
musibah yang menimpa saya itu, hati saya biasa saja, hatiku mengatakan, “Itu
sudah takdir. Tidak ada yang bisa mengubah ketetapan Allah.” Hatiku jadi
gembira, bahwa iman saya masih terjaga, saya berucap Alahamdulillah. Ketika
saya dengar kembali, bahwa kapal saya dalam keadaan aman dan terhindar dari
musibah, saya kembali mengecek keadaan hati saya. Hati saya mengatakan, “Itu
sudah ketetapan Allah, apa yang Allah jaga, tidak ada yang bisa untuk
mencelakakannya.” Hatiku jadi gembira, saya ucapkan, alhamdulillah.” Muridnya
termangut-mangut.
Sekarang ini, banyak orang yang marah, tanpa ia
sadari ia telah lupa dengan keadaan sekitar. Ia lupa terhadap apa yang harus ia
selesaikan. Memang, marah membuat kebnyakan orang jadi tidak fokus terhadapa
apa yang harus ia selesaikan.
· *Ngambek
Ngambek terjadi karena seseorang tidak menerima
kenyataan. Ia berharap keadaan lain yang terjadi. Benar-benar diluar dugaan.
Sakit hati, semua jadi disalahkan. Dipanggil makan, ‘ah, malas’. Disuruh
istirahat, ‘ah, malas.’ Apa-apa, malas. Ngambek terjadi karena akumulasi
masalah yanag tidak bisa tercurahkan lewat lisan. Ingin menyampaikan, takut
yang lain tersakiti. Ingin berterus terang, tapi ada pertimbangan lain yang
memaksa untuk diam. Biarkan saja si ngambek tetap ngambek, beri cerita yang
membangun kepercyaan diri. Jangan ungkit masalah itu, nanti dia akan reda. Jika
dia ingin menyendiri, biarkan saja, nanti ia akan berdamai dengan keadaan.
3. 3. Mawas Diri
Solusi
untuk menangani ini adalah, senantiasa mawas diri. Introspeksi diri. “Emang
kita ini siapa?” apa-apa, maunya sekehendak kita. Nabi bukan, Allah apalagi.
Padahal semua ini terjadi adalah dengan sekehendak Allah saja. Jika tanpa
kehendak Allah, semua akan terjadi. Setiap keadan yang terjadi adalah ujian.
Kita kurang pintar, uijan. Agar kita giat belajar. Kita kurang kaya, belajar.
Belajar menabung, belajar berhemat, belajar beroa lebih sungguh-sungguh. Yang
paling penting belajar berbagi walaupun kita masih berkekurangan. Bandingkan
sesuatu dengan yang lebih rendah dari kita. Jika hanya punya Rp 50. 000,- lihatlah
kepada yang hanya punya Rp 1.000,-
Jika
kita hanya punya motor, lihatlah kepada yang hanya bisa jalan kaki. Ketika kita
hanya bisa jalan kaki, lihatlah kepada yang lagi terbaring di rumah sakit.
Belajarlah untuk menjadi mentor, pembimbing bagi diri sendiri. Belajarlah untuk
mengobati lukamu agar kamu bisa mengobati luka orang lain dengan caraa yang
kamu sukai. Belajarlah menjadi besar walaupun kamu masih kecil. Latihlah kakimu
yang masih sakit walaupun kamu masih menopang pada tongkat, agar suatu waktu
kamubisa menjadi penopang dan sandaran bagi orang lain.
4. 4. Mengumpulkan Serpihan Potensi Yang Hilang
Setelah
kita menterapi luka pada diri kita. Cobalah untuk melihat kembali apa yang ada
pada diri kita. Benahi apa yang perlu dibenahi. Seperti orang yang dari
bepergian lama, meninggalkan rumanya dalam keadaan kosong. Ia harus
memperhatikan segala sesuatu yang ada. Apa yang masih bagus, apa yang harus
diperbaiki. Apa yang harus di cuci. Apa yang harus dirapikan. Apa yang harus
dicat. Semua diformat dan diperbaiki ulang. Bukan rusak total, ada secerca
harapan untuk merajut kembali.
5. 5. Kontrol Dalam Berkarya
Setelah
barang dikemas rapi. Semua tertata seperti sedia kala. Perhatikanlah, celah
dimana kamu akan jatuh. Perhatikanlah celah dimana kelemahan diri berada. Kata
Sayyidina Ali ra. “Siapa yang mengetahui kelemahan dirinya maka dia akan
kelihatan kuat.”
Amati
setiap kekurangan. Tambal dan tutupi. Perbaiki terus-menerus. Karya jangan
ditinggal. Cukup perhatikan jalan kamu, jangan sampai sudah mendekati lubang
yang sama, kamu tidak ada ancang-ancang untuk menghindari jebakan syetan. Setan
memang berupaya untuk menjebak kita. Syetan juga punya catatan mengenai
kelemahan kita. Justru track record
hitam kita lebih detil, dalam data yang dimiliki oleh syaitan. Dalam berkarya,
jaga hubungan denga kawan-kawan kita, tapi jangan lupa memperhatikan gerakan
musuh-musuh kita. Belajarlah lebih banyak dari musuh daripada belajar dari
kawan. Karena seorang pelatih yang baik senantiasa mengambil pelajaran berharga
untuk diri kita, dari kelemahan pribadi kita, dan mengambil pelajaran dari
musuh kita agar kita semakin kuatdalam menghadapi serangan musuh. Terimakasih
saudaraku. Jazakallahu khairan katsira.
*Catatan:
musuh yang kami maksud adalah syaitan dan hawa nafsu.
Wanggudu, Asera,
Sulawesi Tenggara,
13 Agustus 2018, 10:53 wita.

No comments:
Post a Comment