Follower

Saturday, August 25, 2018

Pembentukan Karakter I




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Banyak sudah saya mendapatkan pertanyaan, bagaimana cara agar kita bisa konsisten dalam melakukan suatu kebaikan? Atau agar kita bisa terhindar dari adat dan tradisi buruk dari suatu masyarakat bagaimana caranya? Atau pertanyaan-pertanyaan yang memiliki maksud kuranag lebih sama. Berikut ini penulis akan menyampaikan cara yang lumayan jitu tapi simpel, insya Allah. Semoga Allah mudahkan.

Sebenarnya rumusan dalam bergaul telah dijelaskan dengan gamblang kepada kita dalam Islam. Setelah penulis melakukan beberapa perenungan dengan mengingat kembali nasehat dari tetua dalam perkara agama, dari para alim ulama. Nasehat-nasehat mereka laksana oase pada padang tandus nan kering kerontang. Adalah suatu anugerah besar mendengarkan nasehat para tetua agama itu. Ada satu ayat yang menarik perhatian penulis. Berikut ini penulis sertakan. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allâh, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”  (QS. At-Taubah: 119)

Perintah takwa, jelas. Cuman bagaimana agar takwa itu mudah kita raih, ternyata sudah disampaikan pula oleh Allah swt, pada ayat yang sama. Yah, wakunu ma’a shadiqiin, senantiasa bersama dengan orang-orang yang benar. Siapa orang-orang yang benar itu. Kata shodiqiin adalah kata yang menunujukan bentuk jamak dari shiddiq. Kita tau dalam Islam ada seorang pemuda yang menopang dakwah Nabi saw, dengan gigih, ketika masih banyak orang yang meragukan dakwahnya. Dia adalah Abu Bakar As-Shiddiq, alias Abu Bakar sang Pembenar.

Ketika peristiwa Isra’ dan mi’raj yang spektakuler. Abu Bakar ra, membenarkan tanpa mempertimbangkan logika. Ini sesuai logika atau tidak. Pagi itu, Abu Bakar ra, didatangi oleh Abu Jahal yang terkenal ahli logika dan seorang pembesar Quraisy. Ia tokoh terkenal, sebenarnya jenius, maksudnya pintar, ia dikenal dengan sapaan Abul Hakam, Bapak yang bijaksana. Ia datangi Abu Bakar ra pagi itu. Ia memiliki kesempatan emas dan jurus yang tepat untuk mengajak Abu Bakar ra untuk meninggalkan pemahaman Muhammad. Ia memulai langkahnya dengan membuka pembicaraan, “Hari ini masyarakat kota Makkah dihebohkan dengan pernyataan seorang pemuda Quraisy. Ia menyampaikan bahwa tadi malam ia dari Makkah, terus sampai di Palestina dan langsung ke langit yang ketujuh, kemudian kembali lagi ke Makkah sebelum subuh. Kamu percaya nggak?” Ia berharap Abu Bakar mengatakan tidak, sehingga konsekuensinya ia menjadi kafir alias ingkar kepada Muhammad.

Abu Bakar ra, adalah orang cerdik. Ia tidak langsung menjawab. Ya atau tidak, percaya atau ingkar. Ia bertanya “Siapa yang berucap seperti itu?” Abu Jahal dengan nada meremehkan ia mengatakan, “Hem, ia adalah sahabatmu Muhammad.” Maka Sayyidina Abu Bakar ra, berujar, “Seandainya Muhammad mengatakan dengan cerita yang lebih menakjubkan lagi dari itu. Pasti saya mempercayainya dengan mantap.” Dialah Abu bakar ra, tidak sedikitpun ada keraguan. Dialah, As-Shiddiq. Gelar yang ia perolehbuah dari keimanan dan Ilmu dan mata hati yang dalam dalam memahami sesuatu.

Allah perintahkan agar senantiasa bergaul dengan para shdiqiin, sahabat-sahabat yang memiliki pemahaman agama dan keimanan yang mantap. Ada satu nasehat Nabi Saw, tentang bagaimana kita selektif dalam memilih sahabat. Nabi saw, mengumpamakan sahabat yang baik itu seperti penjual minyak wangi. Walaupun belum tentu kita akan diberikan parfum tersebut, tapi minimal dengan berdekatan dengannya, kita akan memperoleh aroma kesegaran dari parfum jualannya. Ketika kita berjabat tangan, maka aroma parfum akan lengket pada tangan kita. Serta Nabi saw, mengumpamakan bersahabat dengan orang yang buruk akhlak dan perangainya adalah seperti bersahabat dengan pandai besi. Walaupun kita tidak mendapatkan percikan bunga api dari tumbukan besi yang dibakar tersebut, kita minimalnya akan mendapatkan asap dan uap panasnya.

Demikianlah bergaul akan memberikan efek yang tidak sedikit kepada sahabat lainnya. Suatu ketika Sayyidina Ali ra, pernah bertutur tentang bagaimana bersahabat, “Kalau kamu ingin melihat keadaaan agama seseorang, lihatlah siapa sahabat bergaulnya.” Seseorang itu akan nampak seperti sahabatnya.

Mulanya Cahyono, sahabat Almarhum Hi. Jojon adalah seorang kristen yang taat. Tapi, pengaruh pergaulannya dalam dunia kerja. Walaupun hanya melalui profesinya sebagai seorang pelawak yang tergabung dalam Jayakarta Grup, hidayah telah menyapa dalam hidupnya. Ia memiliki tiga sahabat yang taat dalam melaksanakan Islam, Alm. Jojon, Uu dan Ester. Jojon termasuk yang paling paham tentang islam karena ia adalah salah satu alumni Pesantren Wanaraja, Garut, Jawa Barat.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Ia memecat dan mengganti semua orang-orang yang dekat dengan Hajjaj bin Yusuf. Hajaj bin Yusuf adalah seorang menteri pertahanan di zaman Khalifah Malik bin Marwan pada dinasti Bani Umayah. Ia walaupun seorang pecinta Al-Qur’an, tapi jika dibandingkan dengan menteri-menteri di zamannya. Dia termasuk tipe pemimpin yang zalim.

Ketika khalifah memecat semua orang yang menjadi bawahan dekat Hajjaj bin Yusuf, ada seorang lelaki paruh baya datang untuk menghadap Khalifah Umar ra. Ia mengatakan sebagai bentuk pembelaan dirinya bahwa ia hanya menjabat singkat saja pada masa pemerintahan Hajjaj. Apa kata Sang Khalifah, “Cepat atau lama, satu harikah atau kurang dari sehari, itu sudah cukup bagiku untuk memecat engkau.” Ini bukan masalah ‘dendam politik’ sebagaimana kaum haters yang berkembang belakangan ini. Keputusan dari sang khalifah adalah apabila sesorang dengan mudahnya menjalankan kebijakan pembantaian yang dilakukan oleh Hajjaj kepada sekian banyak ulama adalah suatu kezaliman. Sebab sebagaimana sebuah kaidah menyebutkan, “Ridha dengan suatu dosa adalah dosa.” Dengan bergaul akrab dengan para pendosa jika di dalam hati tidak merasa risih dengan dosa yang dilakukan oleh sebagian sahabat kita akan mempengaruhi karakter dan kepribadian seseorang itu. Jika karakter telah berubah, sedikit banyak akan mempengaruhi tindak-tanduk dalam berbuat dan bekerja. Inilah alasan mengapa sang khalifah langsung memecat tanpa perlu ragu dalam bertindak. Untuk membentuk pemerintahan yang bersih dari virus-virus kezaliman kala itu. 

Penulis tidak bermaksud untuk menyampaikan bahwa, tinggalkan sahabat kita sekarang ini, apabila masih buruk, bukan. Yang penulis maksudkan adalah jangan terlalu rapat bergaul dengan mereka. Jadi sekedar teman, bolehlah. Tapi, untuk menjadi sahabat karib, sebaiknya jangan. Penyebabnya adalah apabila suatu waktu kita akan memiliki masalah yang membutuhkan pandangan, arahan dan nasehat. Yang namanya sahabat, kita akan curhat dan mintai pendapat, jika dia tidak memiliki ilmu, keimanan yang kokoh dan memiliki hikmah yang luas. Maka, ia akan menyarankan dan memberikan masukan kepada sebuah kerusakan dan malah membuat keadaan semakin buruk.

Dengan memiliki sahabat yang baik. Ketika kita sedang malas dalam ibadah, kita akan tertarik untuk semangat dan giat beribadah hanya dengan melihat sahabat kita yang begitu tenang dalam ‘berdua-duaan’ dengan Allah. Ketika ada sahabat kita dengan begitu amanah mengembalikan uang kembalian yang lebih ketika berbelanja. Maka, sifat jujurnya itu akan membuat kita menjadi suka dan jatuh cinta kepada kejujuran. Dengan cinta kepada kejujuran, kitapun akan mulai menerapkan kejujuran dan kebaikan dalam kehidupan kita. Dimulai dengan cinta kepada kebaikan sesorang itu bisa membuat kita bisa ikut menjadi baik. Begitu pula, dengan kita takjub kepada keburukan dan brutalnya seseorang dalam kehidupan maka sedikit banyak akan merubah cara hidup kita dalam menatap kehidupan. Nabi saw, pernah menggambarkan kasta atau level-level kebaiakan dalam masyarakat.

  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ
رواه بيهقى

 “Jadilah kamu orang alim (orang yang berilmu), atau orang yang sedang belajar (ilmu agama), atau jadilah orang yang senang mendengarkan ilmu, atau jadilah kamu orang yang mencintai (ketiga hal yang sudah disebut sebelumnya) dan janganlah kamu menjadi bagian dari kelompok kelima, nanti kamu menjadi orang yang celaka (maksudnya, menjadi kelompok pembenci 4 golongan yang sudah disebutkan).” (HR. Imam Baihaqi)

Nabi saw, menganjurkan minimalnya kita menjadi orang yang mencintai kebaikan sekecil apapun. Apalagi yang kita cintai adalah ulama, orang penuntut ilmu alias santri atau minimal mencintai jamaah yang senantiasa suka kumpul-kumpul duduk mendengarkan wejangan kebaikan-kebaikan. Jangan sekali-kali kita menjadi kelompok pembenci, Nabi saw, mewanti-wanti, nanti kita akan celaka.

Nabi saw, merekomendasikan bergaul dengan orang yang apabila kita melihat wajahnya mengingatkan kita kepada Allah. Mengapa bisa seperti itu, hanya dengan melihat wajahnya mengingatkan kita kepada Allah. Penyebabnya adalah dia telah memiliki hubungan khusus dengan Allah swt, kita mengenalnya dengan ciri khas itu. Seperti kita punya langganan apa begitu. Katakanlah kita memiliki langganan penjual bakso keliling, setiap hari dia akan mampir untuk menawarkan bakso kesukaan kita. Maka walaupun kita bertemu dia dalam keadaan tidak menjual bakso, dengan melihat wajahnya atau motor dagangannya atau apapun yang berhubungan dengan itu, maka  akan mengingatkan kita akan bakso yang gurih dan nikmat itu. “Dengan melihat wajahnya akan teringat bakso.”

Kemudia Nabi saw, melanjutkan ciri-ciri sahabat yang baik. Jika kamu mendengar pembicaraannya, ilmu kamu akan meningkat. Bayangkan, ini orang punya kebiasaan bercakap-dengan percakapan yang mendatangkan kedalaman pemahaman agama. Mendatangkan kedalaman tentang konsep bagaimana seharusnya melewati dunia yang fana. Pembicaraan yang mendatangkan hati menjadi jatuh cinta kepada Allah. Pembicaraan yang membuat hati semakin rindu dengan Rasulullah saw. Pembicaraan yang melahirkan adab dan peradaban yang tinggi. Subhanallah.

Nasehat nabi yang selanjutnya adalah, jika kamu melihat amalnya, maka kamu akan semakin rindu kepada kampung akhirat. Maka, semakin mengingatkan tentang akhirat. Begitu sibuk dan identiknya sahabat kita itu dengan warna akhirat, kita akan tertarik untuk terlibat dan terjun dalam amalan yang mendatangkan keridhaan Allah swt. Seperti Imam Syafi’i kecil, datang tengok ibunya, maksud hati ingin bermain. Ibunya sedang sibuk murajaah hafalan Qur’aannya, ke kamar depan maksud hati ingin bermain dengan paman. Eh, sang paman sibuk dengan muraja’ah kitab-kitab ulama salaf. Akhirnya, iapun mengambil Al-Qur’annya untuk dihafal. Demikianlah, Satu keteladanan lebih berarti daripada sekedar seribu syair dan pujian.



==================================================================
                                                                       

Punggolaka, Ahad, 26 Agustus
Kendari, Sulawesi Tenggara,
Di Masjid As-Salam 14: 36 WITA.
Ketika kawan sedang Istirahat Siang, selepas Musyawarah Dakwah Sultra.
  




No comments:

Post a Comment