By
Mujiburrahman Al-Markazy
Banyak
sudah saya mendapatkan pertanyaan, bagaimana cara agar kita bisa konsisten
dalam melakukan suatu kebaikan? Atau agar kita bisa terhindar dari adat dan
tradisi buruk dari suatu masyarakat bagaimana caranya? Atau
pertanyaan-pertanyaan yang memiliki maksud kuranag lebih sama. Berikut ini
penulis akan menyampaikan cara yang lumayan jitu tapi simpel, insya Allah.
Semoga Allah mudahkan.
Sebenarnya
rumusan dalam bergaul telah dijelaskan dengan gamblang kepada kita dalam Islam.
Setelah penulis melakukan beberapa perenungan dengan mengingat kembali nasehat
dari tetua dalam perkara agama, dari para alim ulama. Nasehat-nasehat mereka
laksana oase pada padang tandus nan kering kerontang. Adalah suatu anugerah
besar mendengarkan nasehat para tetua agama itu. Ada satu ayat yang menarik
perhatian penulis. Berikut ini penulis sertakan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allâh, dan hendaklah kalian
bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah: 119)
Perintah takwa, jelas. Cuman bagaimana agar takwa itu mudah kita raih,
ternyata sudah disampaikan pula oleh Allah swt, pada ayat yang sama. Yah, wakunu ma’a shadiqiin, senantiasa
bersama dengan orang-orang yang benar. Siapa orang-orang yang benar itu. Kata shodiqiin adalah kata yang menunujukan
bentuk jamak dari shiddiq. Kita tau
dalam Islam ada seorang pemuda yang menopang dakwah Nabi saw, dengan gigih,
ketika masih banyak orang yang meragukan dakwahnya. Dia adalah Abu Bakar
As-Shiddiq, alias Abu Bakar sang Pembenar.
Ketika peristiwa Isra’ dan mi’raj yang spektakuler. Abu Bakar ra,
membenarkan tanpa mempertimbangkan logika. Ini sesuai logika atau tidak. Pagi
itu, Abu Bakar ra, didatangi oleh Abu Jahal yang terkenal ahli logika dan
seorang pembesar Quraisy. Ia tokoh terkenal, sebenarnya jenius, maksudnya
pintar, ia dikenal dengan sapaan Abul Hakam, Bapak yang bijaksana. Ia datangi
Abu Bakar ra pagi itu. Ia memiliki kesempatan emas dan jurus yang tepat untuk
mengajak Abu Bakar ra untuk meninggalkan pemahaman Muhammad. Ia memulai
langkahnya dengan membuka pembicaraan, “Hari ini masyarakat kota Makkah
dihebohkan dengan pernyataan seorang pemuda Quraisy. Ia menyampaikan bahwa tadi
malam ia dari Makkah, terus sampai di Palestina dan langsung ke langit yang
ketujuh, kemudian kembali lagi ke Makkah sebelum subuh. Kamu percaya nggak?” Ia
berharap Abu Bakar mengatakan tidak, sehingga konsekuensinya ia menjadi kafir
alias ingkar kepada Muhammad.
Abu Bakar ra, adalah orang cerdik. Ia tidak langsung menjawab. Ya atau
tidak, percaya atau ingkar. Ia bertanya “Siapa yang berucap seperti itu?” Abu
Jahal dengan nada meremehkan ia mengatakan, “Hem, ia adalah sahabatmu
Muhammad.” Maka Sayyidina Abu Bakar ra, berujar, “Seandainya Muhammad
mengatakan dengan cerita yang lebih menakjubkan lagi dari itu. Pasti saya mempercayainya
dengan mantap.” Dialah Abu bakar ra, tidak sedikitpun ada keraguan. Dialah, As-Shiddiq.
Gelar yang ia perolehbuah dari keimanan dan Ilmu dan mata hati yang dalam dalam
memahami sesuatu.
Allah perintahkan agar senantiasa bergaul dengan para shdiqiin, sahabat-sahabat yang memiliki pemahaman agama dan
keimanan yang mantap. Ada satu nasehat Nabi Saw, tentang bagaimana kita
selektif dalam memilih sahabat. Nabi saw, mengumpamakan sahabat yang baik itu
seperti penjual minyak wangi. Walaupun belum tentu kita akan diberikan parfum
tersebut, tapi minimal dengan berdekatan dengannya, kita akan memperoleh aroma
kesegaran dari parfum jualannya. Ketika kita berjabat tangan, maka aroma parfum
akan lengket pada tangan kita. Serta Nabi saw, mengumpamakan bersahabat dengan
orang yang buruk akhlak dan perangainya adalah seperti bersahabat dengan pandai
besi. Walaupun kita tidak mendapatkan percikan bunga api dari tumbukan besi
yang dibakar tersebut, kita minimalnya akan mendapatkan asap dan uap panasnya.
Demikianlah bergaul akan memberikan efek yang tidak sedikit kepada sahabat
lainnya. Suatu ketika Sayyidina Ali ra, pernah bertutur tentang bagaimana bersahabat,
“Kalau kamu ingin melihat keadaaan agama seseorang, lihatlah siapa sahabat
bergaulnya.” Seseorang itu akan nampak seperti sahabatnya.
Mulanya Cahyono, sahabat Almarhum Hi. Jojon adalah seorang kristen yang
taat. Tapi, pengaruh pergaulannya dalam dunia kerja. Walaupun hanya melalui
profesinya sebagai seorang pelawak yang tergabung dalam Jayakarta Grup, hidayah
telah menyapa dalam hidupnya. Ia memiliki tiga sahabat yang taat dalam
melaksanakan Islam, Alm. Jojon, Uu dan Ester. Jojon termasuk yang paling paham
tentang islam karena ia adalah salah satu alumni Pesantren Wanaraja, Garut,
Jawa Barat.
Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Ia memecat dan mengganti semua
orang-orang yang dekat dengan Hajjaj bin Yusuf. Hajaj bin Yusuf adalah seorang
menteri pertahanan di zaman Khalifah Malik bin Marwan pada dinasti Bani Umayah.
Ia walaupun seorang pecinta Al-Qur’an, tapi jika dibandingkan dengan
menteri-menteri di zamannya. Dia termasuk tipe pemimpin yang zalim.
Ketika khalifah memecat semua orang yang menjadi bawahan dekat Hajjaj bin
Yusuf, ada seorang lelaki paruh baya datang untuk menghadap Khalifah Umar ra.
Ia mengatakan sebagai bentuk pembelaan dirinya bahwa ia hanya menjabat singkat
saja pada masa pemerintahan Hajjaj. Apa kata Sang Khalifah, “Cepat atau lama,
satu harikah atau kurang dari sehari, itu sudah cukup bagiku untuk memecat
engkau.” Ini bukan masalah ‘dendam politik’ sebagaimana kaum haters yang berkembang belakangan ini.
Keputusan dari sang khalifah adalah apabila sesorang dengan mudahnya
menjalankan kebijakan pembantaian yang dilakukan oleh Hajjaj kepada sekian
banyak ulama adalah suatu kezaliman. Sebab sebagaimana sebuah kaidah menyebutkan,
“Ridha dengan suatu dosa adalah dosa.” Dengan bergaul akrab dengan para pendosa
jika di dalam hati tidak merasa risih dengan dosa yang dilakukan oleh sebagian
sahabat kita akan mempengaruhi karakter dan kepribadian seseorang itu. Jika
karakter telah berubah, sedikit banyak akan mempengaruhi tindak-tanduk dalam berbuat
dan bekerja. Inilah alasan mengapa sang khalifah langsung memecat tanpa perlu
ragu dalam bertindak. Untuk membentuk pemerintahan yang bersih dari virus-virus
kezaliman kala itu.
Penulis tidak bermaksud untuk menyampaikan bahwa, tinggalkan sahabat kita
sekarang ini, apabila masih buruk, bukan. Yang penulis maksudkan adalah jangan
terlalu rapat bergaul dengan mereka. Jadi sekedar teman, bolehlah. Tapi, untuk
menjadi sahabat karib, sebaiknya jangan. Penyebabnya adalah apabila suatu waktu
kita akan memiliki masalah yang membutuhkan pandangan, arahan dan nasehat. Yang
namanya sahabat, kita akan curhat dan mintai pendapat, jika dia tidak memiliki
ilmu, keimanan yang kokoh dan memiliki hikmah yang luas. Maka, ia akan
menyarankan dan memberikan masukan kepada sebuah kerusakan dan malah membuat
keadaan semakin buruk.
Dengan memiliki sahabat yang baik. Ketika kita sedang malas dalam ibadah,
kita akan tertarik untuk semangat dan giat beribadah hanya dengan melihat
sahabat kita yang begitu tenang dalam ‘berdua-duaan’ dengan Allah. Ketika ada
sahabat kita dengan begitu amanah mengembalikan uang kembalian yang lebih
ketika berbelanja. Maka, sifat jujurnya itu akan membuat kita menjadi suka dan
jatuh cinta kepada kejujuran. Dengan cinta kepada kejujuran, kitapun akan mulai
menerapkan kejujuran dan kebaikan dalam kehidupan kita. Dimulai dengan cinta
kepada kebaikan sesorang itu bisa membuat kita bisa ikut menjadi baik. Begitu
pula, dengan kita takjub kepada keburukan dan brutalnya seseorang dalam
kehidupan maka sedikit banyak akan merubah cara hidup kita dalam menatap
kehidupan. Nabi saw, pernah menggambarkan kasta atau level-level kebaiakan
dalam masyarakat.
قَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ
مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ
رواه بيهقى
“Jadilah kamu orang alim (orang yang
berilmu), atau orang yang sedang belajar (ilmu agama), atau jadilah orang yang
senang mendengarkan ilmu, atau jadilah kamu orang yang mencintai (ketiga hal
yang sudah disebut sebelumnya) dan janganlah kamu menjadi bagian dari kelompok
kelima, nanti kamu menjadi orang yang celaka (maksudnya, menjadi kelompok
pembenci 4 golongan yang sudah disebutkan).” (HR. Imam Baihaqi)
Nabi saw,
menganjurkan minimalnya kita menjadi orang yang mencintai kebaikan sekecil
apapun. Apalagi yang kita cintai adalah ulama, orang penuntut ilmu alias santri
atau minimal mencintai jamaah yang senantiasa suka kumpul-kumpul duduk mendengarkan
wejangan kebaikan-kebaikan. Jangan sekali-kali kita menjadi kelompok pembenci,
Nabi saw, mewanti-wanti, nanti kita akan celaka.
Nabi saw,
merekomendasikan bergaul dengan orang yang apabila kita melihat wajahnya
mengingatkan kita kepada Allah. Mengapa bisa seperti itu, hanya dengan melihat
wajahnya mengingatkan kita kepada Allah. Penyebabnya adalah dia telah memiliki
hubungan khusus dengan Allah swt, kita mengenalnya dengan ciri khas itu.
Seperti kita punya langganan apa begitu. Katakanlah kita memiliki langganan
penjual bakso keliling, setiap hari dia akan mampir untuk menawarkan bakso
kesukaan kita. Maka walaupun kita bertemu dia dalam keadaan tidak menjual
bakso, dengan melihat wajahnya atau motor dagangannya atau apapun yang
berhubungan dengan itu, maka akan
mengingatkan kita akan bakso yang gurih dan nikmat itu. “Dengan melihat
wajahnya akan teringat bakso.”
Kemudia Nabi
saw, melanjutkan ciri-ciri sahabat yang baik. Jika kamu mendengar
pembicaraannya, ilmu kamu akan meningkat. Bayangkan, ini orang punya kebiasaan
bercakap-dengan percakapan yang mendatangkan kedalaman pemahaman agama.
Mendatangkan kedalaman tentang konsep bagaimana seharusnya melewati dunia yang
fana. Pembicaraan yang mendatangkan hati menjadi jatuh cinta kepada Allah.
Pembicaraan yang membuat hati semakin rindu dengan Rasulullah saw. Pembicaraan
yang melahirkan adab dan peradaban yang tinggi. Subhanallah.
Nasehat nabi
yang selanjutnya adalah, jika kamu melihat amalnya, maka kamu akan semakin
rindu kepada kampung akhirat. Maka, semakin mengingatkan tentang akhirat.
Begitu sibuk dan identiknya sahabat kita itu dengan warna akhirat, kita akan
tertarik untuk terlibat dan terjun dalam amalan yang mendatangkan keridhaan
Allah swt. Seperti Imam Syafi’i kecil, datang tengok ibunya, maksud hati ingin
bermain. Ibunya sedang sibuk murajaah hafalan Qur’aannya, ke kamar depan maksud
hati ingin bermain dengan paman. Eh, sang paman sibuk dengan muraja’ah
kitab-kitab ulama salaf. Akhirnya, iapun mengambil Al-Qur’annya untuk dihafal.
Demikianlah, Satu keteladanan lebih
berarti daripada sekedar seribu syair dan pujian.
==================================================================
Punggolaka, Ahad, 26 Agustus
Kendari, Sulawesi Tenggara,
Di Masjid As-Salam 14: 36 WITA.
Ketika kawan sedang Istirahat Siang, selepas Musyawarah Dakwah Sultra.

No comments:
Post a Comment