By
Mujiburrahman Al-Markazy
Segala
puji bagi Allah tuhan seru sekalian alam. Dialah satu-satunya Zat yang telah
menciptakan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Dia tidak merasa berat
sedikitpun dalam memelihara keduanya dan memelihara makhluk-makhluk yang
mendiami langit dan bumi tersebut. Dialah Zat yang telah memelihara seluruh
ciptaan-Nya dan dipersembahkan untuk manusia. Sebuah hadits qudsi menyebutkan.
“Addun-ya khuliqat
lakum, wa antum khuliqtu lil-aakhirah.”
“Dunia ini telah Ku
ciptakan untuk kamu (manusia) sekalian dan kalian Aku ciptakan untuk mempersiapkan
(kedatangan ke) negeri akhirat.”
Shalawat
beriring salam kita haturkan kepada junjungan teladan kita, qudwah kita Baginda Muhammad saw. Yang terkasih.
Dengan kerelaan dan jerih payah yang tidak dapat dibayangkan. Bersedia
mengorbankan, waktu, harta, harga diri, bahkan nyawanya demi keselamatan dan
kebahagiaan umatnya. Dia saw, rela dicaci, dihina, dimaki, asalkan umat manusia
menemukan jalan yang lurus demi meraih cinta dan bimbingan dari Ilahi rabbi. Marilah
senantiasa kita dawamkan untuk senantiasa
bershalawat kepada beliau, moga diakhirat kita termasuk orang yang memperoleh
syafaatnya. Aammiin.
Hadirin
sidang jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah.
Tidak
ada nikmat yang lebih agung daripada kenikmatan menjadi orang yang dikasihi dan
dibimbing oleh Allah swt. Dan tidak ada musibah yang lebih besar melebihi orang
yang mendapatkan kemurkaan Allah. Sungguh, kejayaan, kebahagian dan kesuksesan
hanya dalam mengikuti cara hidup orang yang telah diridhoi dan dicintai
oleh-Nya. Dengan mengikuti pola hidup baginda nabi saw, kita akan menjalani
kehidupan dengan ketenangan dan ketentraman. Berapa banyak orang yang berusaha mencari kesenangan dengan menghambur-hamburkan
uangnya di diskotik, bar, judi, zina, musik, dan lainnya. Yang ia dapat
bukanlah kesenangan secara hakiki, tapi kesenangan majasi. Seolah-olah senang,
tapi hidupnya tidak tenang. Ia hidup hanya dalam bayang-bayang fatamorgana. Padahal
hakekakatnya kebahagiaan adalah ketenangan. Ketenangan atau sakinah hanya akan diperoleh dengan
jalan para kekasih Allah. Diluar daripada itu, adalah fatamorgana yang dihias
dengan elok yang akan menipu setiap orang yang buta dan bodoh mata hatinya.
Allah swt, telah mewanti-wanti.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya (al ghuruur).” (Qs. Al
Imran: 185)
Berapa banyak orang telah terpedaya dengan rayuan gombal dunia. Semua terlena,
sehingga jatuh ke dalam jurang nestapa. Kehidupan di dunia ini ibaratnya kita
sedang berlayar menuju pulau impian yang bernama kebahagian dan ketentraman
alias ketenangan. Kompas simpelnya jelas, adalah dengan mengikuti orang yang
telah sampai kepadanya.jalur yang ditempuh oleh mereka, yakni Para nabi ‘alaihi shalatu wa salam.
Seorang kekasih Allah yang besar adalah Nabi Ibrahim as. Ia memperoleh
gelar langsung dari Allah dengan sebutan khalilullah,
kekasih Allah.
“Ittabi’u
millata ibrahima haniifah. Wamaa kaana minal musyrikin ”
"Ikutilah
agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang
yang mempersekutukan Tuhan. (QS. An Nahal: 123). Ini adalah garansi dari Allah
swt.
Hadirin sidang Jum’at
yang berbahagia.
Pengorbanan Ibrahim
as, dalam menjalani kehidupan bukanlah perkara yang mudah. Ia harus mendapatkan
siksaan dalam kobaran api selam 40 siang 40 malam, ia harus berhadapan dengan
raja yang zalim Namrud laknatullah alaih
(la). Ia hidup bersama istrinya sarah dalam waktu yang lama tanpa momongan
anak, sehingga ia berusia lanjut. Setelah memiliki seorang anakyang sangat ia
cintai dan kasihi. Anak itu harus ditinggalkan di lembah yang tandus dan tidak
ada tanda-tanda kehidupan di lembah Batha, sekarang Makkah yang dimuliakan. Ia tinggalkan
istrinya dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, hanya dengan sekeranjang kurma
dan satu kantong air selama lebih kurang 13 tahun. Suatu pengorbanan yang tidak
sedikit. Setelah kembali dari medan dakwah yang begitu melelahkan tanpa pernah
melihat sang buah hati yang dirindu. Begitu dahaga kerinduan belum dilepas,
sudah harus disemebelih lagi demi pengorbanan kepada Allah. Sungguh satu gelar
yang diperoleh dengan harga yang tidak sedikit. Bukan seperti gelar yang
diberikan oleh manusia, jenderal, dokter, profesor atau gelar lainnya. Tapi ini
gelar dari pemilik langit dan bumi Allah swt.
Hadirin sidang Jumat semoga dikasihi dan dicintai oleh Allah.
Tidak ada lagi kurban sehebat pengirabanan Nabi Ibrahim as. Berkurban dengan
menyembelih anak yang begitu ganteng, shaleh lagi berbudi luhur. Allah
menggelar Ismail kecil dengan ghulamin
halim, pemuda yang ganteng, gagah, bersih, ceria, pandai, bertanggung
jawab, lemah lembut dan berbudi luhur. Semua kebaikan yang diharapkan dari
orang tua kepada anaknya. Dia harus dikorbankan, yang terbaik itu. Mungkin kalau
ada anak kita ketika disuruh kurbankan seperti Nabi Ibrahim walaupun
sebandel-bandelnya anak kita, belum tentu kita mau untuk dikurbankan. Mungkin anak
itu sekian lama menjengkelkan hati orang tuanya. Tapi, ketika sang anak berada
di bawah pedang penjagalan untuk disembelih pasti nuga akan ada rasa iba. Semua
kenangan manis akan mengalir dan terpampang. Wajahnya yang begitu menggemaskan
ketika masih bayi, walaupun nakal, suka menangis di tengah malam adalah satu
warna kebahagiaan tersendiri.
Apalagi yang mau dikorbankan ini adalah anak semata wayang. Sekian lama
dinanti, dirindui dalam panjangnya doa tahajud. Setelah sekian lama berpisah,
13 tahun. Keinginan hati yang dalam ingin dimanja dan diberikan perhatian
khusus untuk membayar ketertinggalan selama 13 tahun itu. Tapi datang perintah
Allah yang begitu menakjubkan. “Sembelihlah ia.” Bahkan bukan hanya itu. Allah
telah mengilustrasikan kepada Ibrahim as, dalam mimpinya, sang anak disembelih.
Kita pernah mimpi sedih, sehingga air mata menetes. Dari alam mimpi terhubung
ke alam nyata. Kesedihan yang amat dalam telah dirasa oleh Ibrahim as. Sehingga,
untuk menyembelih Ismail kecil as, ia sempat bertanya kepada anaknya, karena
begitu cintanya.
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا
تَرَى
“Wahai anak kesayangan ku. Aku melihat engkau dalam mimpiku, bahwa aku telah menyebelihmu, apa pendapatmu nak?” (QS. As Shaffat: 102)
Yang paling menakjubkan adalah jawaban dari anaknya, yang paling membuatnya
begitu sedih. Masih dalam satu rangkaian ayat yang sama.
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ
“Wahai bapak tercintaku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu (janganlah ragu), insya Allah wahai bapak, engkau akan mendapatiku dalam keadaan shabar.”
Ketika mendapatkan jawaban dari anak semata wayang seperti ini. Mungkin kita
akan peluk dia dengan tangisan yang begitu mengharu-biru. “Belum kering
kerinduan ini dari dada wahai Ismail ku sayang, sekarang kita akan berpisah
lagi untuk selama-lamanya.”
Entah siapa yang paling rindu, sang bapak yang begitu rindu kepada sang
buah hati kecil yang sudah sekian lama ditunggu kah, atau sang anak yang sudah
tiga belas tahun merindukan pelukan dan belaian dari sosok serang ayah. Kita tidak
tahu, siapa yang paling rindu. Hanya Allah saja yang mengetahui keadaan hati
dan pertalian batin dan cinta diantara mereka.
Keputusan hati sudah bulat. Keduanya berserah dan pasrah. Yang lebih
menakjubkan lagi adalah saran dari sang ismail kecil agar bapaknya melepaskan
jubah yang dikenakannya, agar ibunya tidak melihat tetesan bekas darah pada jubah
yang ia tinggalkan nanti. Khawatir kalau sang ibu akan terus merindukannya dan
membayangkan keadaan anak semata wayangnya ketika akan disembelih. Anak yang
telah menemani dan hidup bersamanya selama 13 tahun. Dari tanah yang begitu
gersang, sehingga menjadi negeri yang telah banyak penduduknya. Belum lagi,
nanti apa kata tetangga mengenai sikap Ibrahim, kala itu.
Jamaah jum’at yang semoga Allah swt cintai.
Semoga kita bisa meneladani kehidupan Ibrahim dan keluarganya yang begitu
mencintai Allah. Sehingga, tidak mengherankan Allah telah menjadikan kehidupan
mereka sebagai filososfi dalam membangun syiar haji. Ibdaha yang begitu tinggi
dan agung. Kepada kita yang belum berkurban tahun ini, hendaknya kita malu
kepada Allah. Kita ini oleh Allah tidak disuruh untuk menyembelih anak kita. Kita
hanya disuruh beli atau pelihara hewan yang akan kita kurbankan nanti. Sekarang
masih ada masa, masih ada waktu selam hari tasyrik ini marilah kita yang masih
memiliki kelebuhan rezeki yang belum sempat berkurban hari ini untuk berkurban
atas nama Allah. Bukan anak yang kita sembelih,hanya seekor sapi atau seekor kambing kibas. Semoga Allah
swt menerima pengorbanan kita dan suluruh amal-amal kita. Semoga Allah
golongkan kita dalam daftar orang yang Allah swt, cintai dan bimbing.
إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ
هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat
yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al
Kautsar: 1-3).
Barakallahu lii walakum
fil qur’anil adzim, wanafa’ni waiyyakum bimaa ayati waqur’anil hakim. Wataqabbalallahu
minni wa mingkum tilaawatahu innahu huwa sami’ul ‘aliim
Kendari,
Jumat 24 Agustus 2018. Pukul 08: 40 WITA

No comments:
Post a Comment