Follower

Thursday, August 23, 2018

Khutbah Jumat Pekan Ini: Pelajaran Dari Pengorbanan Ibrahim As.




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Segala puji bagi Allah tuhan seru sekalian alam. Dialah satu-satunya Zat yang telah menciptakan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Dia tidak merasa berat sedikitpun dalam memelihara keduanya dan memelihara makhluk-makhluk yang mendiami langit dan bumi tersebut. Dialah Zat yang telah memelihara seluruh ciptaan-Nya dan dipersembahkan untuk manusia. Sebuah hadits qudsi menyebutkan. 

“Addun-ya khuliqat lakum, wa antum khuliqtu lil-aakhirah.”
“Dunia ini telah Ku ciptakan untuk kamu (manusia) sekalian dan kalian Aku ciptakan untuk mempersiapkan (kedatangan ke) negeri akhirat.” 

Shalawat beriring salam kita haturkan kepada junjungan teladan kita, qudwah kita Baginda Muhammad saw. Yang terkasih. Dengan kerelaan dan jerih payah yang tidak dapat dibayangkan. Bersedia mengorbankan, waktu, harta, harga diri, bahkan nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan umatnya. Dia saw, rela dicaci, dihina, dimaki, asalkan umat manusia menemukan jalan yang lurus demi meraih cinta dan bimbingan dari Ilahi rabbi. Marilah senantiasa kita dawamkan untuk senantiasa bershalawat kepada beliau, moga diakhirat kita termasuk orang yang memperoleh syafaatnya. Aammiin. 

Hadirin sidang jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah.

Tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kenikmatan menjadi orang yang dikasihi dan dibimbing oleh Allah swt. Dan tidak ada musibah yang lebih besar melebihi orang yang mendapatkan kemurkaan Allah. Sungguh, kejayaan, kebahagian dan kesuksesan hanya dalam mengikuti cara hidup orang yang telah diridhoi dan dicintai oleh-Nya. Dengan mengikuti pola hidup baginda nabi saw, kita akan menjalani kehidupan dengan ketenangan dan ketentraman. Berapa banyak orang yang  berusaha mencari kesenangan dengan menghambur-hamburkan uangnya di diskotik, bar, judi, zina, musik, dan lainnya. Yang ia dapat bukanlah kesenangan secara hakiki, tapi kesenangan majasi. Seolah-olah senang, tapi hidupnya tidak tenang. Ia hidup hanya dalam bayang-bayang fatamorgana. Padahal hakekakatnya kebahagiaan adalah ketenangan. Ketenangan atau sakinah hanya akan diperoleh dengan jalan para kekasih Allah. Diluar daripada itu, adalah fatamorgana yang dihias dengan elok yang akan menipu setiap orang yang buta dan bodoh mata hatinya. Allah swt, telah mewanti-wanti. 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan  yang memperdaya (al ghuruur).” (Qs. Al Imran: 185)

Berapa banyak orang telah terpedaya dengan rayuan gombal dunia. Semua terlena, sehingga jatuh ke dalam jurang nestapa. Kehidupan di dunia ini ibaratnya kita sedang berlayar menuju pulau impian yang bernama kebahagian dan ketentraman alias ketenangan. Kompas simpelnya jelas, adalah dengan mengikuti orang yang telah sampai kepadanya.jalur yang ditempuh oleh mereka, yakni Para nabi ‘alaihi shalatu wa salam. 

Seorang kekasih Allah yang besar adalah Nabi Ibrahim as. Ia memperoleh gelar langsung dari Allah dengan sebutan khalilullah, kekasih Allah. 

“Ittabi’u millata ibrahima haniifah. Wamaa kaana minal musyrikin ”

"Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. An Nahal: 123). Ini adalah garansi dari Allah swt. 

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.

Pengorbanan Ibrahim as, dalam menjalani kehidupan bukanlah perkara yang mudah. Ia harus mendapatkan siksaan dalam kobaran api selam 40 siang 40 malam, ia harus berhadapan dengan raja yang zalim Namrud laknatullah alaih (la). Ia hidup bersama istrinya sarah dalam waktu yang lama tanpa momongan anak, sehingga ia berusia lanjut. Setelah memiliki seorang anakyang sangat ia cintai dan kasihi. Anak itu harus ditinggalkan di lembah yang tandus dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di lembah Batha, sekarang Makkah yang dimuliakan. Ia tinggalkan istrinya dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, hanya dengan sekeranjang kurma dan satu kantong air selama lebih kurang 13 tahun. Suatu pengorbanan yang tidak sedikit. Setelah kembali dari medan dakwah yang begitu melelahkan tanpa pernah melihat sang buah hati yang dirindu. Begitu dahaga kerinduan belum dilepas, sudah harus disemebelih lagi demi pengorbanan kepada Allah. Sungguh satu gelar yang diperoleh dengan harga yang tidak sedikit. Bukan seperti gelar yang diberikan oleh manusia, jenderal, dokter, profesor atau gelar lainnya. Tapi ini gelar dari pemilik langit dan bumi Allah swt.

Hadirin sidang Jumat semoga dikasihi dan dicintai oleh Allah.

Tidak ada lagi kurban sehebat pengirabanan Nabi Ibrahim as. Berkurban dengan menyembelih anak yang begitu ganteng, shaleh lagi berbudi luhur. Allah menggelar Ismail kecil dengan ghulamin halim, pemuda yang ganteng, gagah, bersih, ceria, pandai, bertanggung jawab, lemah lembut dan berbudi luhur. Semua kebaikan yang diharapkan dari orang tua kepada anaknya. Dia harus dikorbankan, yang terbaik itu. Mungkin kalau ada anak kita ketika disuruh kurbankan seperti Nabi Ibrahim walaupun sebandel-bandelnya anak kita, belum tentu kita mau untuk dikurbankan. Mungkin anak itu sekian lama menjengkelkan hati orang tuanya. Tapi, ketika sang anak berada di bawah pedang penjagalan untuk disembelih pasti nuga akan ada rasa iba. Semua kenangan manis akan mengalir dan terpampang. Wajahnya yang begitu menggemaskan ketika masih bayi, walaupun nakal, suka menangis di tengah malam adalah satu warna kebahagiaan tersendiri.

Apalagi yang mau dikorbankan ini adalah anak semata wayang. Sekian lama dinanti, dirindui dalam panjangnya doa tahajud. Setelah sekian lama berpisah, 13 tahun. Keinginan hati yang dalam ingin dimanja dan diberikan perhatian khusus untuk membayar ketertinggalan selama 13 tahun itu. Tapi datang perintah Allah yang begitu menakjubkan. “Sembelihlah ia.” Bahkan bukan hanya itu. Allah telah mengilustrasikan kepada Ibrahim as, dalam mimpinya, sang anak disembelih. Kita pernah mimpi sedih, sehingga air mata menetes. Dari alam mimpi terhubung ke alam nyata. Kesedihan yang amat dalam telah dirasa oleh Ibrahim as. Sehingga, untuk menyembelih Ismail kecil as, ia sempat bertanya kepada anaknya, karena begitu cintanya.

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

“Wahai anak kesayangan ku. Aku melihat engkau dalam mimpiku, bahwa aku telah menyebelihmu, apa pendapatmu nak?” (QS. As Shaffat: 102)

Yang paling menakjubkan adalah jawaban dari anaknya, yang paling membuatnya begitu sedih. Masih dalam satu rangkaian ayat yang sama.

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai bapak tercintaku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu (janganlah ragu), insya Allah wahai bapak, engkau akan mendapatiku dalam keadaan shabar.”

Ketika mendapatkan jawaban dari anak semata wayang seperti ini. Mungkin kita akan peluk dia dengan tangisan yang begitu mengharu-biru. “Belum kering kerinduan ini dari dada wahai Ismail ku sayang, sekarang kita akan berpisah lagi untuk selama-lamanya.”

Entah siapa yang paling rindu, sang bapak yang begitu rindu kepada sang buah hati kecil yang sudah sekian lama ditunggu kah, atau sang anak yang sudah tiga belas tahun merindukan pelukan dan belaian dari sosok serang ayah. Kita tidak tahu, siapa yang paling rindu. Hanya Allah saja yang mengetahui keadaan hati dan pertalian batin dan cinta diantara mereka.

Keputusan hati sudah bulat. Keduanya berserah dan pasrah. Yang lebih menakjubkan lagi adalah saran dari sang ismail kecil agar bapaknya melepaskan jubah yang dikenakannya, agar ibunya tidak melihat tetesan bekas darah pada jubah yang ia tinggalkan nanti. Khawatir kalau sang ibu akan terus merindukannya dan membayangkan keadaan anak semata wayangnya ketika akan disembelih. Anak yang telah menemani dan hidup bersamanya selama 13 tahun. Dari tanah yang begitu gersang, sehingga menjadi negeri yang telah banyak penduduknya. Belum lagi, nanti apa kata tetangga mengenai sikap Ibrahim, kala itu.

Jamaah jum’at yang semoga Allah swt cintai.

Semoga kita bisa meneladani kehidupan Ibrahim dan keluarganya yang begitu mencintai Allah. Sehingga, tidak mengherankan Allah telah menjadikan kehidupan mereka sebagai filososfi dalam membangun syiar haji. Ibdaha yang begitu tinggi dan agung. Kepada kita yang belum berkurban tahun ini, hendaknya kita malu kepada Allah. Kita ini oleh Allah tidak disuruh untuk menyembelih anak kita. Kita hanya disuruh beli atau pelihara hewan yang akan kita kurbankan nanti. Sekarang masih ada masa, masih ada waktu selam hari tasyrik ini marilah kita yang masih memiliki kelebuhan rezeki yang belum sempat berkurban hari ini untuk berkurban atas nama Allah. Bukan anak yang kita sembelih,hanya seekor sapi atau seekor kambing kibas. Semoga Allah swt menerima pengorbanan kita dan suluruh amal-amal kita. Semoga Allah golongkan kita dalam daftar orang yang Allah swt, cintai dan bimbing.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Barakallahu lii walakum fil qur’anil adzim, wanafa’ni waiyyakum bimaa ayati waqur’anil hakim. Wataqabbalallahu minni wa mingkum tilaawatahu innahu huwa sami’ul ‘aliim




                                                            Kendari, Jumat 24 Agustus 2018. Pukul 08: 40 WITA

No comments:

Post a Comment