By
Mujiburrahman Al-Markazy
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ سَبِيْلُ الفَلَاحِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
وَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ المُتَّقِيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمَ
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
وقال الله تعالى
وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّـهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Sidang Jamaah Jumat yang Allah Muliakan.
Allah swt, memilih diantara
hamba-hamba-Nya untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Alhamdulillah, Allah swt
menjadikan kita bagian dari hamba-hamba pilihan itu. Tiada keindahan sebanding
dengan keindahan mentaati Allah swt. Tiada kepatutan melebihi kepatuhan dari
sang hamba kepada Al-Khalik. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi
terkasih, Baginda Rasulullah saw atas jerih payah dan pengorbanan beliau
sehingga kita bisa mencicipi dan merasakan aroma semerbaknya dinul Islam
ini.
Sidang Jamaah Jumat yang
berbahagia.
Sudah menjadi ketetapan Allah
swt, bahwa kejayaan, kebahagiaan dan kesuksesan seluruh manusia di dunia dan
akhirat hanya pada mentaati Allah secara sempurna. Mengikuti cara hidup Baginda
Rasulullah saw. Tak lupa khatib mengingatkan diri khatib pribadi dan jamaah
sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Takwa
kepada Allah merupakan kunci kesuksesan di dunia dan akhirat.
Allah swt telah berfirman dalam
Al-Qur'an. Ada sebuah surat yang pendek namun sarat dengan makna. Allah
firmankan.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
Pertama, Allah swt
firmankan.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
"Sesungguhnya, telah
Kami berikan kepada kamu nikmat-nikmat yang banyak."(QS. Al-Kautsar: 1)
Nikmat apa yang Allah swt tidak
berikan kepada kita. Semua dikasih. Mulut dengan berbagai fungsinya. Gigi,
kadang kita baru satu saja yang sakit. Sudah begitu meresahkan padahal masih 31
gigi yang sehat. Mata dengan berbagai nikmat yang tidak bisa disebut. Telinga
dengan nikmat mendengarnya. Berapa banyak orang yang memiliki telinga tapi
tidak mendapatkan nikmat pendengaran. Kaki dengan kesanggupan melangkah. Tangan
dengan kekuatan menggenggamnya. Semua itu nikmat yang masih terjangkau oleh
panca indera. Belum lagi nikmat berkeluarga, nikmat merasakan kesegaran udara
di waktu pagi dan sebagainya. Semua nikmat dari Allah swt.
Lantas, apa yang mesti dilakukan
oleh seorang hamba ketika telah banyak nikmat yang dirasakan. Yah, bersyukur.
Bersyukur adalah cara terbaik untuk berterima kasih. Bagaimana cara bersyukur
yang seharusnya. Allah swt melanjutkan.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Dirikanlah sholat dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar: 2).
Allah swt, perintahkan kita untuk mewujudkan rasa syukur dengan dua
hal. Syukur pertama adalah syukur dengan anggota badan, yakni sholat. Dan syukur
level berikutnya adalah syukur dengan harta kita, berkurban. Atau dengan kata
lain, bersyukur dengan gratis alias tanpa bayaran dan bersyukur dengan
berbayar. Mungkin, untuk jenis syukur pertama, semua orang bisa. Tanpa terkecuali.
Sedangkan syukur pada level kedua, hanya bagi orang tertentu saja alias yang
mampu.
Sekarang ini yang menjadi permasalahan adalah kebanyakan orang mampu,
tapi merasa tidak mampu. Ini bukan tawadhu atau rendah hati. Ini sebenarnya
upaya untuk mengindari mentaati perintah dengan alasan agar bisa dimengerti. Kalau
kita ulang, berapa banyak nikmat yang sudah Allah beri. Pun syukur dengan
berkurban pahalanya juga akan samapai ke kita sendiri. Akan masuk ke saldo rekening
amal pribadi juga.
Seandainya kita menjadi Nabi Ibrahim as, yang harus mengorbankan putra
semata wayang. Putra pelanjut generasi. Putra yang cerdik, pandai nan rupawan.
13 tahun lamanya dipisahkan, rindu membara telah membuncah. Api cinta itu hadir
dan bersemi. Laksana kemarau yang merindukan hujan. Siraman cinta itu telah
mengalir bak derasnya banjir 7 hari 7 malam. Semua bersemi nan indah.
Tiba-tiba datang perintah langit yang menggemparkan.
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Berkata Ibrahim kepada putranya: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat
dalam mimpiku , bahwa aku (diperintahakan untuk) menyembalihmu. Maka,
pikirkanlah. Apa yang menjadi pendapatmu?” (QS. Ash Shaffat: 102)
Jamah Sidang Jumat yang Allah Banggakan.
Seandainya kita menjadi Ismail kecil. Apa yang
akan kita sampaikan ke Bapak kita? “Ah, bapak cari orang lain saja.” Atau kita
akan katakan, “kenapa harus saya, kan yang jadi Nabi bapak, yang sudah tua juga
bapak. Kenapa bukan bapak saja?” atau pernyataan yang lain demi menghindari eksekusi
maut tersebut. Semua jalur ditempuh, demi lolos dari perintah yang harus
mengorbankan nyawa satu-satunya tersebut. Tapi, bagaimana jawaban dari putra
yang sholeh, Ismail as.
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ
شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Berkata Ismail: “Wahai Bapakku, lakukanlah (janganlah ragu) apa yang telah diperintahkan (Allah) kepada mu. Niscaya engkau akan menjumpai saya dalam keadaan sabar (dalam menjalaninya) insya Allah.” (QS. Ash Shaffat: 102).
Inilah jawaban tulus dari seorang putra
sholeh. 13 tahun baru jumpa. Sekarang, harus berpisah untuk selama-lamanya. Yang
membuat miris adalah perpisahan yang mengharu-biru itu harus terjadi dengan cara
yang tragis. Dengan cara penyembelihan. Mungkin kita akan akali, “Bapak pergi
lagi dakwah, biar 5 tahun pergi. Pulang nanti, kalau perintah Allah sudah
berubah.” Atau macam cara akan kita fikirkan, agar tidak terjadi perintah yang
tragis itu. Atau bisa saja negosiasi ulang dengan Allah, “Ya Allah, perintah ini
terlalu berat, ganti dengan yang lain saja.” Tidak. Sama sekali tidak. Mereka adalah
orang yang Allah cintai, bukan isapan jempol belaka. Bukan karena mau-mau
mereka. Mereka dikasihi dan dicintai oleh Allah karena kesabaran dan ketabahan
mereka.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
“Tatkala
keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas
pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. Ash
Shaffat: 103).
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
“Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaffat: 104-106).
Demikaian sidang Jamaah Jumat yang Allah
kasihi.
Ternyata perintah itu hanya berupa ujian
belaka. Sendainya alasan-alasan telah dikemukakan tanpa berusah untuk
mengamalkan dahulu. Maka nyatalah orang tersebut ciri tidak patuh. Sementara kita
tidak mengetahui eksistensi dari perintah tersebut, padahal hanya sebuah ujian
belaka.
Setiap perintah Allah jangan kita beri
alasan terlebih dahulu sebelum kita berusaha untuk menjalankan perintah
tersebut. Jangankan perintah berkurban, perintah sholat saja. kebanyakan kaum
muslimin menganggapnya dengan begitu enteng, tanpa beban, jika dilanggar. Padahal
kalau perintah bos dikantor, walaupun baru tiba saja di rumah. Jika, dipanggil
dengan alasan penting, mungkin kita akan tinggalkan kesenangan kita bersama
anak-istri sejenak. Dengan alasan, “jika ada hasil tambahan, semua juga untuk
anak-istri.” Anak-istri selalu jadi kambing hitam untuk tameng. Tapi, pahamkah
kita, jika kita tidak siapkan syurga, ketakwaan untuk anak-istri kita. Mereka juga
akan menjadi musuh kita di akhirat.
“Hai orang-orang
mukmin, sesungguhnya diantara
isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
(QS. At Taghabun: 14)
Berapa banyak orang tidak sholat alasan
keluarga, anak-istri. Ia menghindari perintah. Ketika datang perintah jihad,
Allah inginmelihat respon dari hambanya apakah dia sungguh beriman atau hanya
munafik saja.
“Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang
yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Imran: 142).
Jadi,
jangan buat malu dirikita dihadapan Allah swt. Dengan alasan yang tidak-tidak. Berapa
banyak hari ini orang secara materi ia mampu untuk berkurban, tapi ia tidak
berkurban. Gonta-ganti android, bisa. Gonta=ganti pagar rumah, bisa. Gonta-ganti
motor, mobil,rumah, bisa. Kenapa untuk berkurban masih mikir seribu kali?
“Baltu’tsiruunal hayatad dun-ya”, kebanyakan dari kamu
hanya mencintai dunia semata. Kalau bukan cinta kepada dunia yang berlebihan
semestinya telah menjadi agenda pengeluaran tahunan kita. Tapi, siapa yang
membuat anggaran rencana seperti itu. Hanya sedikit diantara kita.
Yang lebih miris lagi, jamah jumat
Rahimani wa rahimakumullah adalah secara nafsu coba tanya kepada kawan
disamping anda. Pilih mana mau berkuraban atau poligamai? Kebanyakan kalau
menjawab poligami begitu antusias. Padahal secara kalkulasi kemampuan berkurban
lebih ringan daripada harus poligami. Untuk poligami, selain mensyaratkan
kemampuan secara materi, juga ada penekanan untuk bisa berlaku adil. Tapi,
peminat poligami lebih dominan daripada peminat berkurban yang hanya setahun
sekali perintahnya. Semoga Allah swt. Memberikan taufik kepada kita untuk
menjalankan kurban sebagaimana mestinya.
Barakallahu lii walakum bil Qur’anil Adzim wanafa’ni minal ayaati wazikril
hakim wataqabbalallahu minni waminkum tilaawatahu,innahu huwa sami’ul ‘Alim”.
Wanggudu,
10 Agustus 2018.
Dikesunyian
malam, saat semua terlelap 01:57 dini hari.
Asera,
Sulawesi Tenggara.

No comments:
Post a Comment