Follower

Thursday, August 30, 2018

Pembentukan Karakter II (Lingkungan)




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Dalam pertemuan di Padang Arafah itu, telah berkumpul jutaan manusia. Berbagai latar belakang telah menghiasi padang itu. Setiap tahunnya, tidak berkurang malah akan melebihi kapasitas, jika tidak dibatasi dari tamu-tamu tiap negara itu. Himpunan jutaan manusia itu, datang dengan satu tekad yang sama. Untuk menjaga dan meneruskan misi Ilahi dari Sang Khalil Allah, Ibrahim as. Di lautan manusia itu telah berkumpul berbagai tokoh bangsa-bangsa dunia. Ada politisi, juragan, ulama, mantan preman alias preman insaf. Semua dengan satu titik heningan yang sama, menghadap Ilahi Rabbi. Mengakui kelemahan sifat kemanusiaannya. Dalam pada itu, hilanglah egoisme, merasa keakuan, merasa hebat sendiri. Sirna saat itu. 

Dengan pakaian ihram yang serupa dengan warna putih yang menghampar jua. Membuat suasana hati menjadi bercampur biru. “Ya Allah si makhluk hina dan durjana ini datang bersimpuh kepada-Mu. Terlalu banyak dosa dan alpaku kepada-Mu. Telah menggunung tinggi menjulang dosa hamba. Seandainya bukan Engkau tuhanku. Mungkin, tak dapat dimaafkan dosa ku. Tapi, hamba yakin yang ku datangi adalah Zat Yang Maha Pengampun. Yang mengampuni semua dosa. Maafkanlah hamba yang tak tau diri ini. Tidak henti-hentinya hamba melakukan dosa, disaat yang sama kenikmatan dari-Mu senantiasa hamba teguk. Mau cari dimana lagi pengampunan, kecuali hanya dari sisi-Mu.”

Yang jadi pertanyaan, mengapa begitu mudahnya seseorang hatinya tersentuh kepada Allah ketika menjalani tawaf atau wukuf di Arafah kala itu. Tidak jarang, hati menjadi sunyi ditengah lautan manusia. Sampailah pada puncak ma’rifah, pengenalan sejati dan keakraban yang tidak terukur. Titik spiritual yang begitu tinggi. Antara hamba dengan penciptanya tidaklagi dapat dipisah. Walaupun jasadnya berada tenggelam dalam lautan manusia. Tapi jiwanya hanya bersama dan bersimpuh ‘di depan’ Allah. Penghambaan diri yang sejati. Keakraban dan kemesraan hubungan hanya dia dengan Allah saja yang tau. Isyarat-isyarat hati, hanya pencinta dan pemilik cinta yang mengetahui. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamdu. 

Entah siapa saja, jika hadir pada nuansa ketaatan cenderung akan membentuk pribadi manusia itu menjadi takwa. Apalagi manusia yang berasal dari tanah. Allah Sampaikan khalaqahu min thurab, “Manusia diciptakan dari tanah liat kering. Yang namanya sifat tanah, pasti dia akan terkondisikan dengan keadaan yang berlaku. Apalagi tanah liat. Jika, diguyur hujan, akan becek dan berlumpur. Jika dihantam panas akan kering dan berdebu. Itulah tanah, senantiasa tersuasana dengan lingkungan sekitar. Begitulah sifat manusia, akan berubah mengikuti keadaan suasana dan zaman dimana ia tinggal. 

Buakan hanya itu, apa saja yang tumbuh di atas tanah, kebanyakan akan tersuasana dengan keadaan dan kondisi yang terjadi. Allah juga menceritakan tentang keadaan tanaman dengan posisi yang strategis akan melahirkan hasil yang bagus. Walaupun ayat itu menceritakan tentang perumpamaan Allah tentangorang yang berinfak di jalan Allah selain akan mendatangkan keridhoan Allah juga, ia berniat untuk memperkokoh jiwanya, membuat ia semakin yakin dengan janji dan jaminan Allah. Walaupun ayat itu adalah kiasan dari sifat dan kebaiakan bagi pelaku infak tadi, tapi ada satu sisi menarik tentang benda yang Allah jadikan sebagai bahan umpamaan. Dia adalah posisi tanaman yang berada di atas dataran yang tinggi atau bukit atau sejenisnya. Ayat tersebut menceritakan betapa posisi dan kondisi dari suatu tanaman itu akan memanen hasil yang berlipat ganda daripada tidak diposisikan seperti itu. 

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 256). 

Kondisi dan suasana membentuk keadaan pribadi dan jiwa seseorang. Orang yang tinggal dikalangan perokok, maka dia akan tersuasana dengan lingkungan di sekitarnya. Jika dia seorang perokok yang baru mau belajar untuk meninggalkan rokok, ia bisa saja terbawa dalam suasana rokok. Bisa saja akan cenderung merokok lagi. Walaupun seumpama ia tetap teguh tidak merokok, tapi ada satu perkara yang membuat ia harus terkontaminasi dengan asap dan bau rokok tersebut. Bahkan sebagian dokter mengatakan bahwa, lebih berbahaya seorang perokok pasif daripada perokok aktif itu sendiri. Orang yang tidak merokok cenderung lebih rentan dari pada perokok itu sendiri. Demikianlah suasana membentuk dan mempengaruhi keadaan fisik, maupun psikologi. 

Orang yang tidak pernah kenal dunia pacaran, umpamanya. Ia bergaul dan hidup dalam dunia kawan-kawannya pada pacaran. Walaupun ia belum langsung berpacaran maka, minimal ia akan lahir dalam dirinya berandai-andai, “Mungkin bagus juga kalau saya pacaran?” Sejauh hasil kontemplasi dari penulis. Bahwa, rasa-rasanya, anak-anak gadis dan remaja masa kini, ibu-ibu atau bahkan sampai eyang-eyang sekalipun, tidak pernah diseru untuk menggunakan pakaian ketat dan mengumbar aurat oleh para artis barat atau pesinetron televisi kita. Tapi, saksikanlah dengan mata kepala sendiri, bahwa seakan merata pakaian ketat yang mempertontonkan aurat dengan bangganya hadir dari kota sampai ke pelosok, mulai dari bocah bau kencur samapai oma yang hampir masuk kubur, semua merasa nyaman tanpa merasa risih dengan apa yan mereka pakai. Naudzubillah. Inilah efek dari suatu kondisi dan lingkungan. 

Ini juga yang menjadi rahasia dari jamaah yang bergerak dari lorong ke lorong, pintu ke pintu. Dari desa ke desa, kota ke kota. Pulau ke pulau, samudra ke samudera dan dari negara ke negara. Betapa banyak orang menjadi berubah pola kehidupannya, dari pembunuh, peramapok, koruptor, sampai ke kejahatan yang tidak berperikamanusiaan dan melanggar norma-norma adat, agama, amaupun masyarakat, telah berubah kepribadiannya dalam kurun waktu yang singkat. Kadang walaupun cuman tiga hari, dari karakter preman berubah menjadi berkarakter ustadz. Dari karakter kasar, tidak jarang menjadi berkarakter santun dan lemah lembut. Bisa berubah dengan persentase perkiraan 90 % berubah. Wow, amazing. Allahu Akbar!

Ada sebuah kisah pada sebuah pertemuan yang akan digelar di Kakrail, Bangladesh. Pada pertemuan tahunan yang berhimpun seluruh para pekerja dakwah di seluruh dunia, di wilayah Tonggi, dekat sungai Biswa, Bangladesh. Pertemuan dakwah dengan jumlah pendatang dari seluruh dunia yang menyaingi jumlah manusia yang wukuf di padang Arafah itu telah banyak membawa cerita dan pelajaran tersendiri bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Dikisahkan oleh seorang Syaikh, bernama Syekh Maulana Rabi’ul Haq, salah satu akabir atau petinggi dalam tatanan syuro dunia bagi pergerakan Jamaah ini. Beliau bertutur, ketika awal mula dulu dakwah, gerakan dakwah ini masih dicurigai dan dimata-matai. Setelah berjalan puluhan tahun di Negara Bangladesh itu, ada seorang intel yang dikemudian hari diketahui tinggal di salah satu hotel bintang lima di dekat masjid markaz Kakrail. 

Setelah diketahui adanya sorang intel yang selalu memantau dengan teropongnya ke dalam masjid. Para syuro kala itu bermusywarah agar ada yang jumpa dan bersilaturahim dengan orang tersebut. Setelah dijumpa ternyata ia bukan seorang yang muslim. Dibujuk, dirayu agar mau masuk ke dalam masjid markaz. Setelah ia masuk ke dalam markaz, ia melihat suasana yang sejuk, ada orang yang sibuk sujud, sholat, ta’lim saling memuliakan dan berkasih sayang, hatinya terenyuh, iapun larut. Kemudian menyatakan dirinya untuk masuk Islam. Setelah ia masuk Islam ia menjadi seorang muslim yang kuat dan menjadi seorang pekerja dakwah yang tangguh. 

Seperti itu pula, seorang Hindun di zaman Nabi saw, ia telah bersumpah, “Walaupun ia telah bersumpah tidak akan masuk ke dalam Islam sampai seluruh Onta di tanah Arab masuk Islam baru ia akan masuk Islam.” Ini suatu pernyataan kebencian yang sangat. Dapat kita baca betapa besar kebencian dan amarahnya kepada Islam dan orang-orang Islam, sampai ia sendiri yang memakan jantung dan hati dari paman Nabi saw, sendiri mentah-mentah. Ia sendiri yang merobek dada dari Hamzah ra, paman Nabi saw. Tapi, dengan bi’ah, suasana ketaatan yang kental di Makkah dan Madinah, maka Sang Hindunpun memeluk Islam. Ketika ditanyakan, “Wahai Hindun, bagaimana dengan sumpahmu, bahwa engkau tidak akan masuk Islam sampai seluruh onta Arab masuk Islam?” Ia menjawab, “Bukan saya yang masuk Islam, tapi islam yang masuk ke dalam sanubari saya.”

Demiianlah, kekuatan bi’ah, suasana ketaatan. Dengan bi’ah yang taat akan melahirkan manusia dan generasi yang taat. Maka, pe er kita adalah selain berusaha untuk membentuk ketaatan pada diri kita sendiri, kita senantiasa teguh dan sosialisasikan ketaatan untuk orang lain. Dengan, perkataan, perbuatan, mode dan sebagainya, sehingga tercipta bi’ah dan suasana ketaatan. Jika bi’ah dan suasana telah menjadi taat maka orang munafik pun akan datang untk melakukan sholat berjamaah walaupun dalam diri mereka menyimpan kekafiran dan penentangan yang sangat. Adapula dengan bi’ah dan suasana ketaatan yang kental bisa merubah musuh atau orang yang memusuhi Islam menjadi pahlawan-pahlawan Islam. Seperti Umar bin Khattab ra, yang menerima hidayah, disebebkan oleh suasana ta’lim di dalam rumah adek wanitanya. Semoga kita semua bisa menjadi ageng pembaharu kebaikan dan lingkungan kebaikan bagi diri sendiri dan menularkan kebaikan kepada lingkunan sekitar. Aammiin ya Rabbal ‘Alamin. 


                                                                          
                                                                            Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara.
                                                                            Kamis, 30 Agustus 2018, Pukul 23.18 WITA
                                                                            Dikeheningan malam, bersama tasbih para jangkrik
                                                           


2 comments: