By
Mujiburrahman
Al-Markazy
Dalam pertemuan di
Padang Arafah itu, telah berkumpul jutaan manusia. Berbagai latar belakang
telah menghiasi padang itu. Setiap tahunnya, tidak berkurang malah akan
melebihi kapasitas, jika tidak dibatasi dari tamu-tamu tiap negara itu. Himpunan
jutaan manusia itu, datang dengan satu tekad yang sama. Untuk menjaga dan
meneruskan misi Ilahi dari Sang Khalil Allah, Ibrahim as. Di lautan manusia itu
telah berkumpul berbagai tokoh bangsa-bangsa dunia. Ada politisi, juragan, ulama,
mantan preman alias preman insaf. Semua dengan satu titik heningan yang sama,
menghadap Ilahi Rabbi. Mengakui kelemahan sifat kemanusiaannya. Dalam pada itu,
hilanglah egoisme, merasa keakuan, merasa
hebat sendiri. Sirna saat itu.
Dengan pakaian ihram
yang serupa dengan warna putih yang menghampar jua. Membuat suasana hati
menjadi bercampur biru. “Ya Allah si makhluk hina dan durjana ini datang
bersimpuh kepada-Mu. Terlalu banyak dosa dan alpaku kepada-Mu. Telah menggunung
tinggi menjulang dosa hamba. Seandainya bukan Engkau tuhanku. Mungkin, tak
dapat dimaafkan dosa ku. Tapi, hamba yakin yang ku datangi adalah Zat Yang Maha
Pengampun. Yang mengampuni semua dosa. Maafkanlah hamba yang tak tau diri ini.
Tidak henti-hentinya hamba melakukan dosa, disaat yang sama kenikmatan dari-Mu
senantiasa hamba teguk. Mau cari dimana lagi pengampunan, kecuali hanya dari
sisi-Mu.”
Yang jadi pertanyaan,
mengapa begitu mudahnya seseorang hatinya tersentuh kepada Allah ketika
menjalani tawaf atau wukuf di Arafah kala itu. Tidak jarang, hati menjadi sunyi
ditengah lautan manusia. Sampailah pada puncak ma’rifah, pengenalan sejati dan
keakraban yang tidak terukur. Titik spiritual yang begitu tinggi. Antara hamba
dengan penciptanya tidaklagi dapat dipisah. Walaupun jasadnya berada tenggelam dalam
lautan manusia. Tapi jiwanya hanya bersama dan bersimpuh ‘di depan’ Allah. Penghambaan
diri yang sejati. Keakraban dan kemesraan hubungan hanya dia dengan Allah saja
yang tau. Isyarat-isyarat hati, hanya pencinta dan pemilik cinta yang mengetahui.
Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamdu.
Entah siapa saja, jika
hadir pada nuansa ketaatan cenderung akan membentuk pribadi manusia itu menjadi
takwa. Apalagi manusia yang berasal dari tanah. Allah Sampaikan khalaqahu min thurab, “Manusia
diciptakan dari tanah liat kering. Yang namanya sifat tanah, pasti dia akan
terkondisikan dengan keadaan yang berlaku. Apalagi tanah liat. Jika, diguyur
hujan, akan becek dan berlumpur. Jika dihantam panas akan kering dan berdebu. Itulah
tanah, senantiasa tersuasana dengan lingkungan sekitar. Begitulah sifat
manusia, akan berubah mengikuti keadaan suasana dan zaman dimana ia tinggal.
Buakan hanya itu, apa
saja yang tumbuh di atas tanah, kebanyakan akan tersuasana dengan keadaan dan
kondisi yang terjadi. Allah juga menceritakan tentang keadaan tanaman dengan
posisi yang strategis akan melahirkan hasil yang bagus. Walaupun ayat itu
menceritakan tentang perumpamaan Allah tentangorang yang berinfak di jalan
Allah selain akan mendatangkan keridhoan Allah juga, ia berniat untuk
memperkokoh jiwanya, membuat ia semakin yakin dengan janji dan jaminan Allah. Walaupun
ayat itu adalah kiasan dari sifat dan kebaiakan bagi pelaku infak tadi, tapi
ada satu sisi menarik tentang benda yang Allah jadikan sebagai bahan umpamaan. Dia
adalah posisi tanaman yang berada di atas dataran yang tinggi atau bukit atau
sejenisnya. Ayat tersebut menceritakan betapa posisi dan kondisi dari suatu
tanaman itu akan memanen hasil yang berlipat ganda daripada tidak diposisikan
seperti itu.
“Dan
perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan
buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis
(pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al-Baqarah: 256).
Kondisi dan suasana
membentuk keadaan pribadi dan jiwa seseorang. Orang yang tinggal dikalangan
perokok, maka dia akan tersuasana dengan lingkungan di sekitarnya. Jika dia
seorang perokok yang baru mau belajar untuk meninggalkan rokok, ia bisa saja
terbawa dalam suasana rokok. Bisa saja akan cenderung merokok lagi. Walaupun seumpama
ia tetap teguh tidak merokok, tapi ada satu perkara yang membuat ia harus
terkontaminasi dengan asap dan bau rokok tersebut. Bahkan sebagian dokter
mengatakan bahwa, lebih berbahaya seorang perokok pasif daripada perokok aktif
itu sendiri. Orang yang tidak merokok cenderung lebih rentan dari pada perokok
itu sendiri. Demikianlah suasana membentuk dan mempengaruhi keadaan fisik,
maupun psikologi.
Orang yang tidak pernah
kenal dunia pacaran, umpamanya. Ia bergaul dan hidup dalam dunia kawan-kawannya
pada pacaran. Walaupun ia belum langsung berpacaran maka, minimal ia akan lahir
dalam dirinya berandai-andai, “Mungkin bagus juga kalau saya pacaran?” Sejauh
hasil kontemplasi dari penulis. Bahwa, rasa-rasanya, anak-anak gadis dan remaja
masa kini, ibu-ibu atau bahkan sampai eyang-eyang sekalipun, tidak pernah
diseru untuk menggunakan pakaian ketat dan mengumbar aurat oleh para artis
barat atau pesinetron televisi kita. Tapi, saksikanlah dengan mata kepala
sendiri, bahwa seakan merata pakaian ketat yang mempertontonkan aurat dengan
bangganya hadir dari kota sampai ke pelosok, mulai dari bocah bau kencur
samapai oma yang hampir masuk kubur, semua merasa nyaman tanpa merasa risih
dengan apa yan mereka pakai. Naudzubillah.
Inilah efek dari suatu kondisi dan lingkungan.
Ini juga yang menjadi
rahasia dari jamaah yang bergerak dari lorong ke lorong, pintu ke pintu. Dari desa
ke desa, kota ke kota. Pulau ke pulau, samudra ke samudera dan dari negara ke
negara. Betapa banyak orang menjadi berubah pola kehidupannya, dari pembunuh,
peramapok, koruptor, sampai ke kejahatan yang tidak berperikamanusiaan dan
melanggar norma-norma adat, agama, amaupun masyarakat, telah berubah
kepribadiannya dalam kurun waktu yang singkat. Kadang walaupun cuman tiga hari,
dari karakter preman berubah menjadi berkarakter ustadz. Dari karakter kasar,
tidak jarang menjadi berkarakter santun dan lemah lembut. Bisa berubah dengan
persentase perkiraan 90 % berubah. Wow, amazing. Allahu Akbar!
Ada sebuah kisah pada
sebuah pertemuan yang akan digelar di Kakrail, Bangladesh. Pada pertemuan
tahunan yang berhimpun seluruh para pekerja dakwah di seluruh dunia, di wilayah
Tonggi, dekat sungai Biswa, Bangladesh. Pertemuan dakwah dengan jumlah
pendatang dari seluruh dunia yang menyaingi jumlah manusia yang wukuf di padang
Arafah itu telah banyak membawa cerita dan pelajaran tersendiri bagi orang yang
mau mengambil pelajaran. Dikisahkan oleh seorang Syaikh, bernama Syekh Maulana
Rabi’ul Haq, salah satu akabir atau
petinggi dalam tatanan syuro dunia bagi pergerakan Jamaah ini. Beliau bertutur,
ketika awal mula dulu dakwah, gerakan dakwah ini masih dicurigai dan
dimata-matai. Setelah berjalan puluhan tahun di Negara Bangladesh itu, ada
seorang intel yang dikemudian hari diketahui tinggal di salah satu hotel
bintang lima di dekat masjid markaz Kakrail.
Setelah diketahui
adanya sorang intel yang selalu memantau dengan teropongnya ke dalam masjid. Para
syuro kala itu bermusywarah agar ada yang jumpa dan bersilaturahim dengan orang
tersebut. Setelah dijumpa ternyata ia bukan seorang yang muslim. Dibujuk,
dirayu agar mau masuk ke dalam masjid markaz. Setelah ia masuk ke dalam markaz,
ia melihat suasana yang sejuk, ada orang yang sibuk sujud, sholat, ta’lim
saling memuliakan dan berkasih sayang, hatinya terenyuh, iapun larut. Kemudian menyatakan
dirinya untuk masuk Islam. Setelah ia masuk Islam ia menjadi seorang muslim
yang kuat dan menjadi seorang pekerja dakwah yang tangguh.
Seperti itu pula,
seorang Hindun di zaman Nabi saw, ia telah bersumpah, “Walaupun ia telah
bersumpah tidak akan masuk ke dalam Islam sampai seluruh Onta di tanah Arab
masuk Islam baru ia akan masuk Islam.” Ini suatu pernyataan kebencian yang
sangat. Dapat kita baca betapa besar kebencian dan amarahnya kepada Islam dan
orang-orang Islam, sampai ia sendiri yang memakan jantung dan hati dari paman
Nabi saw, sendiri mentah-mentah. Ia sendiri yang merobek dada dari Hamzah ra,
paman Nabi saw. Tapi, dengan bi’ah, suasana
ketaatan yang kental di Makkah dan Madinah, maka Sang Hindunpun memeluk Islam. Ketika
ditanyakan, “Wahai Hindun, bagaimana dengan sumpahmu, bahwa engkau tidak akan masuk
Islam sampai seluruh onta Arab masuk Islam?” Ia menjawab, “Bukan saya yang
masuk Islam, tapi islam yang masuk ke dalam sanubari saya.”
Demiianlah, kekuatan bi’ah, suasana ketaatan. Dengan bi’ah yang taat akan melahirkan manusia
dan generasi yang taat. Maka, pe er
kita adalah selain berusaha untuk membentuk ketaatan pada diri kita sendiri,
kita senantiasa teguh dan sosialisasikan ketaatan untuk orang lain. Dengan,
perkataan, perbuatan, mode dan sebagainya, sehingga tercipta bi’ah dan suasana ketaatan. Jika bi’ah dan suasana telah menjadi taat
maka orang munafik pun akan datang untk melakukan sholat berjamaah walaupun
dalam diri mereka menyimpan kekafiran dan penentangan yang sangat. Adapula dengan
bi’ah dan suasana ketaatan yang
kental bisa merubah musuh atau orang yang memusuhi Islam menjadi
pahlawan-pahlawan Islam. Seperti Umar bin Khattab ra, yang menerima hidayah, disebebkan
oleh suasana ta’lim di dalam rumah adek wanitanya. Semoga kita semua bisa
menjadi ageng pembaharu kebaikan dan lingkungan kebaikan bagi diri sendiri dan
menularkan kebaikan kepada lingkunan sekitar. Aammiin ya Rabbal ‘Alamin.
Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara.
Kamis,
30 Agustus 2018, Pukul 23.18 WITA
Dikeheningan
malam, bersama tasbih para jangkrik

Mantapppps org ambon
ReplyDeleteAlhamdulillah. Saudaraku, bapak pengacara yang terhormat.
Delete