Follower

Saturday, August 11, 2018

"Saya Telah Masuk Syurga" Seri Wal-Ashri II

By
Mujiburrahman Al-Markazy
Pak Amir telah menyelesaikan Sholat Subuh. Setelah zikir singkat ia kemudian memanaskan mesin mobilnya sambil menyeruput kopi hangatnya yang disediakan oleh Mak Ijah. “Sruput....ah”. terlihat dua pasangan muda-mudi yang baru keluar dari kos-kosan putri di belakang rumahnya. Ia berfikir, “Loh itukan kos putri. Kenapa bisa yang bermalam di situ adlah pasang-pasangan?” 

Pikiran yang lain menimpali, “Ah, sudahlah.itukan hak asasi anak muda. Untuk apa saya mau urus mereka. Toh bukan urusan saya juga. Kan, mereka tidak mengganggu saya. Yang penting kan saya bisa ibadah, ngapai urus mereka. Toh surga atau neraka, biarkan mereka saja yang rasa. Toh diri mereka sendiri juga.yang penting saya urus keluarga saya, pekerjaan saya.keadaan yang lain,terserahlah.” 

Saudaraku sekalian, perang batin yang dialami oleh kasus Pak Amir ini sering terjadi di masyarakat. Pada satu sisi sifat fitrah, ingin mengubah dan mengingatkan suatu kemungkaran yang terjadi di hadapannya. Tapi,pada sisi yang lain dia terbentur dengan pola pikir yang ‘Individual-liberalis.’ 

Individual, maksudnya adalah merasa bahwa urusan sosial kemasyarakatan biar saja setiap individu urus sendiri masalahnya. Anggota masyarakat bersikap apatis dengan kerusakan moral yang terjadi di sekelilingnya. Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Toh, selama tidak merugikan dirinya atau orang lain. Liberalis, maksudnya membiarkan orang lain berbuat sesuai kehendak pribadinya, walaupun bertentangan dengan norma dan aturan agama atau bertentangan dengan norma dan aturan hukum. Inilah satu trend yang mulai tumbuh subur di kalangan masyarakat seiring perkembangan arus globalisasi dan moderenisme.

Padahal kalau kita berkaca pada Hadits Shohih Bukhari tentang, bagaimana kita bersikap dalam bingkai sosial kemasyarakatan. ”Perumpamaan orang yang tengah menjalakan hukum Allah Shubhanahu Wa Ta’ala dan orang yang terjerumus didalamnya bagaikan suatu kaum yang mengundi tempat di atas perahu. Sebagian mendapatkan tempat diatasnya dan sebagian lainnya dibawah. Yang di bawah apabila membutuhkan air harus naik keatas, maka berkatalah orang-orang yang di bagian bawah: ”Lebih baik, kita lubangi saja tempat kita ini supaya tidak mengganggu orang-orang diatas!”. Apabila tindakan mereka dibiarkan oleh orang-orang yang di atas pasti binasalah semua penumpang perahu itu, tetapi jika tindakan itu dicegah, maka selamatlah semua penumpang perahu itu ” (HR Bukhari NO. 2493 dan Ahmad IV/1269 dan 270 dengan sanad Shahih.).

Demikianlah kehidupan bermasyarakat kita.tidaak ada istilah, “Inikan privasi saya. Saya mau jalan dengan siapa. Saya mau nyuri uang siapa yang penting tidak rugikan kamu kan?” Tidak. Selama itu bertentangan dengan norma agama. Bertentangan dengan aturan ilahi. Itu suatu pelanggaran yang harus diingatkan. Jika tidak diingatkan bukan hanya ada konsekuensi dunia, tapi juga ada konsekuensi akhirat. Bukan hanya ada konsekuensi kerusakan akhirat, tapi kerusakan dan bahaya itu telah dicicil di dunia. Kita laksana menumpang pada satu kapal yang sama. Setiap penumpang kapal punya tanggung jawab yang sama agar bahtera yang kita tumpangi tidak dirusak oleh orang yang mementingkan kesenangan sesaat, dan membiarkan penderitaan berkepanjangan.

Itulah tanggung jawab dakwah. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau keburukan. Satu ketika Bunda Aisyah r.ha pernah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan diazab oleh Allah, walaupun ada orang-orang yang soleh diantara kita? Rasulullah saw, menjawab, “Ya, jika kemaksiatan telah merajalela.”

Tidak ada istilah, “Ah, yang penting saya sudah ibadah. Nggak usah ingatin yang lain. Apapun keadaan mereka, terserah.” Tidak saudaraku. Ibadah yang dikerjakan adalah suatu kebaikan. Itu perkara yang tidak bisa dipungkiri. Tapi, mencegah kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan adalah sendi kebaikan tersendiri yang mesti kita laksanakan demi tercipta kondusivitas masyarakat yang gemar beramal, gemar berlaku adil dan memiliki kepedulian sosial.

Dewasa ini, tontonan telah mengubah paradigma kita. Tontonan telah menjadi tuntunan. Kehidupan ‘bebas’ ala barat begitu masuk ke sendi kehidupan kita tanpa ada filter yang jelas. Apa-apa yang berbau barat, langsung dicopy tanpa dicek terlebih dahulu, sesuai tidak dengan tatanan budaya, sesuai tidak dengan norma agama, sesuai tidak dengan kultur ketimuran. Semua dilibas. Apalagi budaya selfi yang semakin menjamur. Kebaikan hanya nampak dilayar ‘kaca’. Sebelum memberikan sedekah ke fakir miskin ‘selfi dulu’. Sebelum tawaf di ka’bah ‘selfi dulu’. Apa-apa diselfi. Kebaikan makin berkurang kualitas batiniahnya. Memang sesuai dengan Hadits Nabi saw, ketika beliau saw, ditanya. “Ya Rasulullah, apakah yang pertama kali akan diangkat dari dunia ini?” Beliau menjawab, “Kekhusyuan dalam sholat.”  

Berbicara kehusyuan.Tidak serta merta hanya khusyu itu, ketika sholat saja. Tapi, kehusyuan itu berlaku dalam banyak hal, berdoa, berziarah kubur, berziarah kepada ulama, ta’ziah, duduk di depan orang tua, bahkan duduk didepan suamibagi istri juga harus membutuhkan kekhusyuan. Semua kekhusyuan itu, bermula dari sholat.

Allah firmankan, “waaqimishalata li zikri”.
“Dirikanlah Sholat untuk mengingat-Ku”. (QS. Thaha: 14)

Sehingga pernah ada seorang pelayan atau khadim dari seorang ulama. Ketika ia sedang membawakan chay, atau teh ala India. Ketika ia hendak menurunkan teh dari tatanan teh tersebut.chay itu langsung tumpah. Syekh itu hanya menasehatkan, “Perbaiki lagi kekhusyuan kamu dalam sholat.” Padahal kalau kita melihat secara sepintas lalu. Apa hubungan antara teh yang tumpah dengan kekhusyan.ternyata semua berbarengan. Ketika di hadapan Allah kita tidak khusyu, maka dihadapan makhluk pikiran kita juga tidak akan khusyu alias fokus. Kerjakan yang ini, tapi fokus pikiran kearah sana. Masih sama istri sendiri, ingat lagi wanita di mall tadi. Kan, jadi kacau. Semua bermula dari tidak khusyu di dalam sholat.

Terus apa poin dari diskusi kita kali ini. Solusi jangka pendek adalah menjaga kekhyuan sholat. Bukankah Allah sendiri telah berfirman.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji (fakhsya) dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Jika sholat kita benar-benar khusyu, maka kemungkaran dan kemaksiatan diri kita dan orang lain akan tercegah. Jika sholat kita belum bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar berarti sholat kita yang belum beres. Mesti dibetulkan, lagi dan lagi. Untuk membetulkan sholat, mesti kita lihat pondasinya. Secara umum Islam dibagi menjadi 5 bagian, ini rukun Islam yah. Sholat berkedudukan sebagai tiang. Terus pondasinya apa? Yah, iman. Jika kita benerin nih imannya. Maka, insya Allah nanti akan berefek ke sholatnya secara bathiniah. Berapa banyak hari ini kitatelah mendengar dan membaca tentang teori tauhid. Yang jadi pertanyaan adalah adakah, amalan yang bisa mengupgrade rasa keimanan kita menjadi “ngejosh?” Pasti ada-lah. Dengar baik-baik amalan untuk meningkatkan dan menumbuhkan ghairah amal paling cepat dan berefek ganda adalah amalan amar ma’ruf nahi mungkar, dengan kata lain dakwah. Mengajak orang lain kepada kebaikan dan mencegah orang lain dan diri sendiri dari kemaksiatan.

Suatu ketika Nabi saw bersabda.

من رأى منكرًا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya. jika, tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka cegahlah dengan hatinya. Mencegah dengan hati itu, adalah selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a). 

Demikianlah, kesempurnaan ibadah kita berada pada akar keimanan di hati kita. Kekuatan iman kita bisa diukur dari sejauh mana kemampuan kita dalam mencegah kemungkaran. Level high class keimanan adalah dengan mencegah menggunakan tangan kita. Bahasa yang lebih mudah dipahami adalah menggunakan semua aset kemampuan yang Allah berikan kepada kita. Jika punya jabatan, gunakan jabatan itu untuk mencegah kemungkaran. Jika punya harta, gunakan harta itu untuk mencegah kemungkaran, jika punya wibawa, gunakan wibawa itu untuk mencegah kemungkaran. Intinya semua perabot dan perlengkapan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, gunakanlah untuk perbaikan sosial kemasyarakatan agar kemaksiatan bisa tercegah.

Ingat yah, hadits ini menyuruh untuk mencegah kemaksiatan yang sifatnya kemungkaran. Nukan semata-mata al-fakhsya. Sebagaimana dalam Surat Al-Ankabut diatas menyinggung tentang dua jenis kemaksiatan, yakni al-fakhsya dan al-munkar atau kemungkaran. Perbedaan faksya dan mungkar adalah kalau fakhsa adalah perbuatan yang sifatnya bisa merugikan orang lain secara langsung, membunuh, merampok, mencuri, korupsi dan sebagainya. Sedangkan, kemungkaran adalah perbuatan dosa yang tidak merugikan orang lain secara langsung, seprti, meninggalkan sholat dengan sengaja, zina, mabok, judi dan sebagainya.

Peintah haditsnya adalah jika kamu melihat kemungkaran. Bukan, jika kamu melihat ke-fakhsya-an, tidak. Haditsnya adalah jika kita melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangan kita. Kan, begitu.

Level berikutnya, jika kita tidak mampu karena lemah, baik lemah ekonomi, kurang wibawa, tidak memiliki kekuasaan dan sebagainya. Maka, kita mencegah dengan level selanjutnya, yaitu lidah. Tinggal “ngomong doang.”

Beritahu saja dia, “Wahai saudaraku dunia ini singkat. Sebentar lagi kita akan menghadap Allah. Apa yang kita sudah siapkan untuk akhirat kita. Masa-sih kita mau begini terus. Pasti kita akan butuh amal yang banyak di akhirat nanti. Mari kita tinggalkan kelalalaian kita menuju Allah swt. Kita belajar untuk memperbaiki diri wahai saudaraku”. Jika kita memberitahu dengan cara yang santun, maka ia juga lebih mudah untuk menerima. Minimalnya, kalau dia menolak, ia pun akan menolak dengan santun. Ini level kedua.

Pada level ketiga, ini udah kebangatan ini. Kalau masih belum sanggup juga. Cukup tanamkan rasa benci di dalam hati, bahwa itu adalah perbuatan yang jelek dan tidak senono. Eit, perlu diperhatikan disini adalah bukan kita mencibir kepada pelakunya, tapi benci kepada perbuatannya saat itu. Benci kepada perbuatan yang macam itu, saiapa pun pelakunya, dia, saya, kamu, mereka, semua perbuatan itu baik, dilakukan oleh siapa saja mesti dibenci, perbuatannya. Bukan hanya sekedar benci, tapi mengalir seuntaian doa kepadanya, “Ya Allah, berikanlah dia, sahabatku, tetanggaku, bosku, atau siapapun dia maafkan kesalahnnya dan bimbinglah dia ke jalan hidayah milik-Mu”.

Senantiasa kita hadirkan dalam diri kita cara untuk mengingatkan dia. Agar diri kita naik pada level kedua dalam mencegah kemungkaran, bahkan bisa naik pada high level, first class atau kelas pertama, ranking pertama dalam mencegah kemungkaran. Karena jika kita bisa naik pada level pertama dalam mencegah kemungkaran, maka iman dan ibadah kita, kualitasnya senantiasa berada dalam jalur yang stabil. Doa kita akan mudah menitikkan air mata, haru atas hidayah yang Allah berikan kepda kita dan sedih kepada dosa saudara kita yang masih, asyik-masyuk dalam kemaksiatan. Harta yang Allah berikan juga senantiasa mudah dan ringan untuk kita belanjakan demi kemaslahatan umat, untuk menggapai ridha Allah semata. Inilah ganerasi terbaik yang Allah firmankan.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran: 110).

Inilah maksud dari surat Wal-Ashri. Agar tidak rugi, mesti beriman, setelah beriman. Mesti beramal sholah.tidak cukup dengan beramal sholeh. Mesti juga kita harus tampilbuat dakwah untuk mencegah kemaksiatan, terutama kemaksiatan diri sendiri yang lalai dengn lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang tidak mendukung untuk langgeng dalam nuansa ketaatan. Mari berhijrah. 

Setelah kita berhijrah menuju jalan yang Allah ridha. Tanggung jawab yang paling besar adalah bagaimana kita bisa bersabar dalam bingkai keridhaan Allah. Kita mesti memiliki komunitas hijrah. Jamaah hijrah yang akan ingatkan kita jika kita lemah, jika kita keliru dan kita jiga akan mengingatkan dan bersama-sama dengan komunitas kita, jamaah kita untuk mengajak orang lain dalam menapaki jalan para nabi yaitu, berpegang teguh dalam agama.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ
 هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendakalah ada diantara kamu, segolongan (se-komunitas, satu jamaah) umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104).

Inilah amanah dari surat Al-Ashr ayat 1-3. Mudah-mudahan dapat kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang lain. Aammiin.

                                                                        Wanggudu, Asera, 12 Agustus 2018, 10:51 wita
 ==================================================================

2 comments:

  1. Subhanallah mengingatkan diri ini untyk terus belajar dan baeramal.. Jazakallahu khairan katsira atas pencerahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waiyyaki ukhti. Semoga terus istiqomah dalam kebaikan. Aammiin.

      Delete