Mujiburrahman Al-Markazy
Sebelum
matahari menyingsing Pak Tarsono harus segera merapikan baju dan buku-bukunya.
Baginya setiap hari adalah perjuangan. Ia harus keluar rumah sebelum jam 6 pagi
agar bisa mencapai sekolah tempat mengabdinya. Jarak sekolah tempat mengabdi
pak Tarsono berjarak kurang lebih 5 km di kampung sebelah. Pak Tarsono yang
sudah separuh baya itu mengeluarkan sepeda ontel andalannya. Diberi nama Juky.
Memang pak Tarsono suka memberi nama setiap benda kesayangannya.
Ini
bukan sesuatu yang lucu, Sang Baginda Nabipun telah mencontohkan demikian. Beliau saw, telah memberi nama Adnan untuk
busur panah kesayangannya, Zulfikar kepada pedang kesayangan beliau. Memang
kala itu orang memiliki pedang dan busur panah adalah hal biasa. Pada zaman itu
adalah peperangan senantiasa berkecamuk. Kaum muslimin ditindas bertahun-tahun
tapi tidak membalas. Memiliki pedang dan busur juga sangat membantu dalam
perjalanan. Perjalanan yang tidak menentu keamanannya, terkadang bertemu dengan
para perampok, kadang pula mengantisipasi serangan hewan buas, seperti serigala
gurun.
Pak
Tarsono mulai mengayuh sepedanya.
“Juky
kamu jangan rewel lagi di jalan yah. Hari ini anak-anak akan ulangan semester.
Jadi kamu harus suport saya dalam mengawal ulangan anak-anak yah. Kalau kamu
rewel lagi bisa-bisa terlambat saya.” Kata pak Tarsono sambil menengok ban
bagian ban belakang sepedanya.
“Jangan
kayak kemarin yah. Mesti bapak yang dorong kamu. Kamu tau bapak inikan sudah
tua. Kalau mau rewel nanti kalau sudah tiba di kampung sebelah dekat sekolahan.”
Kenang Pak Tarsono ketika sehari yang lalu ban belakang sepeda kumbangnya robek
kena paku di tengah hutan jalan setapak. Untuk mencapai kampung Katapang ia
harus melewati dua kampung dan dua hutan di balik tiap-tiap kampung itu.
Rumahnya berada di Dusun Hulung, Seram Bagian Barat, Maluku.
Fajar
masih malu-malu menampakan batang hidungnya dari balik pepohonan sagu di
belakang dusun Uhe, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Cahaya kekuningan
mulai menghias ufuk timur, memancar ke seluruh pelosok jagad. Perlahan sang
surya mulai menampakan diri dari balik Pulau Kasa bagian timur Pulau Seram.
Udara
sejuk menampar wajah tua Pak Tarsono. Ces, begitu segar dan damai. Kicauan
burung-burung menyemangati perjalanan Pak Tarsono. Itulah pemandangan
keseharian dari kehidupan lelaki berusia 62 tahun itu. Berbeda dengan orang
kebanyak di kota, pada usia seperti itu sudah banyak yang kontra produksi,
terbaring di rumah sakit atau minimalnya sudah stroke ringan dan hanya di rumah
saja. Sedangkan lelaki yang akrab di sapa dengan pak de itu melakukan
seabaliknya. Jihad pendidikan terus beliau geluti setelah lulus dari SR
(Sekolah Rakyat) awal kemerdekaan lalu.
Dengan
biaya hidup yang pas-pasan ia terus bergulat dalam dunia pendidikan. Materi
bukan menjadi obsesinya dalam mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan. Dalam
benak pak de mengajar adalah jihad terbesar yang bisa ia lakoni. Dengan honor
seratus lima puluh ribu rupiah selama sebulan ia telah mengahbiskan sehariannya
dalam mendidik. Itupun honor yang beliau terima selama 3 bulan sekali
berdasarkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Pak
de selain membiayai kehidupannya, pak de juga membiayai 3 cucunya. Anak semata
wayangnya telah pergi menyusul suaminya di Malaysia, bekerja sebagai TKW. Sudah
3 tahun kabar dari mereka tak kunjung tiba. Dengan ketabahan menahan kegetiran
hidup selalu menjadi nafas pak de. Ia senantiasa tulus dalam senyuman. Hanya
doa dan keluh kesah kepada Ilahi Rabi yang ia tunjukan. Ia walaupun serba
kekurangan tidak tampak pada raut wajah beliau gurat sedih dan ngedumel. Tenang, bijak dan dalam ketika
menatap suatu permasalahaan.
Tidak
terasa 45 menit mengayuh si Juky sampailah memasuki perkampungan tempat sekolah
beliau mengajar. Desa Katapang, Seram Bagian barat, Maluku. Di SD Negeri 1
Katapang itu beliau mengabdi. Belum sampai beliau di gerbang pagar sekolah ia
telah di sambut dengan riuhan anak-anak didiknya.
“Asalamu
Alaikum Pak de....!.”
“Waalaikum
salam Dul...” Jawab pak de kepada murid yang selalu mendapatkan rengking
pertama semenjak kelas satu SD itu. Abdullah namanya.sekarang sudah kelas 6,
tahun terakhir meninggalkan sekolah, jika lulus nanti.
Satu
demi satu siswa yang beliau lewati seakan mereka saling berlomba memberikan
salam. Beliaupun tidak mau kalah untuk memberikan salam terlebih dahulu kepada
yang lebih muda. Satu demi satu anak-anak itu telah mengurumuni pak de untuk
hanya sekedar memberi salam dan mencium tangan pak de. Pemandangan inilah yang
membuat capek, keluh kesah dan rasa sakit lenyap dari diri pak de. Senantiasa
merasa awet muda.
“Yusuf
kemarin kemana kok nggak kelihatan di sekolah. Kamu sakit yah?.”
“Tidak
Pak de, mama saya yang sakit. Saya harus bantu jagain adik-adik juga sekalian
membantu merawat mama kalau ada yang dibutuhkan.” Jawab si Yusuf sambil mencium
tangan pak de. Yusuf adalah salah satu murid yang paling besar di sekolah itu.
Selain sudah kelas 6, ia juga yang paling besar dan tinggi perawakannya. Maklum
ia sering tidak naik kelas, karena sering bolos saat ulanagan dan tidak
mengikuti pelajaran. Ia hanya tinggal bersama ibu asuhnya yang telah dianggap
seperti orang tuanya sendiri. Yusuf telahditinggal mati ibunya semenjak masih
bayi. Mak Ijah yang merawatnya. Selain Yusuf masih ada dua anak dari kampung
itu yang senasib dengan Yusuf. Mak Ijah sebelem ditinggal mati oleh suaminya
setahun yang lalu memang tidak memiliki anak. Hanya mengambil anak asuh dan
dijadikan anak beliau.
“Ya
Sudah sekarang siap-siap untuk ulangan semester yah. Jangan bolos lagi.”
“Iya
pak de.” Jawab Yusuf sambil berlalu.
*****
Lonceng
apel pulang telah berdentuman. Semua siswa mulai berbaris rapi, apel sebelum
pulang.
“Besok
adalah tanggal 2 Oktober. Tadi malam telah diumumkan oleh Pak SBY untuk mengenakan
batik seluruh instansi pemerintah. Termasuk seluruh sekolah negeri dan swasta. Jadi
besok itu semua siswa dan dewan guru sesuai dengan hasil musyawarah dewan guru
minggu lalu. Semua wajib menggunakan batik tanpa terkecuali. ” Tegas pak Kepsek
dalam memberikan pengarahan.
Beberapa
dewan guru menatap wajah Pak Tarsono. Seakan ingin melihat ekspresi wajah
beliau. Pak Tarsono hanya merunduk. Beliau sadar bahwa beliau tidak memiliki
uang yang cukup kalau harus membeli batik dengan gaji pas-pasan beliau. Sesaat
beliau mengangkat kepalanya dengan memperlihatkan senyum ketegaran. Beberapa
guru itu membalas senyuman beliau namun agak kecut karena prihatin kepada
keadaan pak de.
“Huh.....m”
desahan nafas semua dewan guru yang tidak sependapat dengan KS (Kepala Sekolah)
baru itu. Hampir semua tidak setuju dengan kewajiban memakai batik, pada hari
batik nasional di tahun kedua resmi menjadi hari batik Nasional itu. Semenjak
diputuskan oleh UNESCO, bahwa batik Indonesia merupakan warisan dunia untuk
kebudayaan, pada tanggal 2 Oktober 2009 tahun lalu.
“Setelah
ulangan selesai besok bapak ingin berfoto, kita selfi. Jadi usahakan semua
mentaati pengarahan ini. Saya ingin pajang dan pamerkan kepada teman-teman KS
jika rapat pada bulan depan nanti dengan kepala dinas pendidikan kabupaten.”
Semua
jadi kecut senyumnya. Antara ingin meronta kepada kebijakan KS yang tidak
berperasaan dan kasihan terhadap siswa dan khusus Pak Tarsono, guru senior yang
sudah mengabdi selama 20 tahun. Kasihan karena kondisi ekonomi beliau yang
tidak mendukung kewajiban tersebut. Bukan karena beliau tidak mau melakukan
kewajiban itu.
Padahal
dalam rapat dewan guru, mengenai kewajiban menggunakan batik pada hari kedua
batik nasional itu telah menjadi pembahasan alot sesama dewan guru. Semua tidak
setuju kecuali keponakan KS sendiri yang setuju dengan ide seolah memaksakan
itu. Menurut para dewan guru yang lain, bahwa sekolah ini kan berada di darah
pelosok yang terpencil, mengapa harus dipaksakan untuk semua agar mengenakan
batik. Kalau mungkin di pusat kabupaten, bisa jadi, tapi itupun harus
dikondisikan dengan keadaan guru dan siswa. Sanggup atau tidaknya untuk
memiliki batik itu.
Sang
KS ngotot, hanya karena ingin selfi dan pamerkan kesuksesan beliau dalam
menjalankan kebijakan pemerintah terhadap anjuran mengenakan batik pada hari
batik nasional itu.
“Pokoknya
tidak ada tapi. Semua harus mengenakan batik, bagaimanapun keadaannya.” Tegas
KS dalam menutup pembahasan mengenai keharusan mengenakan batik itu.
******
Hari
yang ditunggu telah tiba. Hari itu semua siswa dan dewan guru semua rapi,
serempak mengenakan batik.
“Bagus,
semua telah menggunakan batik di hari bersejarah bagi sekolah ini. Sebentar
selepas apel pulang kita akan berselfi bersama.” Pak KS mengarahkan.
Semua
dewan guru berdiri mendengarkan arahan sang KS. Semua menggunakan kemeja batik
kecuali Pak Tarsono yang menggunakan kemeja putih polosnya yang sudah nampak
kumal, tidak berwarna putih jernih lagi.
“Semua
sudah rapi, tapi saya melihat ada satu orang guru yang mencoba tidak menuruti
instruksi saya kemarin yah.” Beliau berbicara sambil mengarahkan matanya ke
dalam kantor dewan guru. Semua orang sudah memahami siapa yang dimaksud KS.
Pak
Tarsono hanya tertunduk kepalanya di dalam kantor. Ia merasa malu atas sindiran
dari KS itu. Ia telah berencana kalau begini terus keadannya mungkin beliau
tidak akan mengajar lagi, karena selalu akan berseberangan dengan pola
kebijakan KS yang doyan selfi dan pamer gambar itu. Disisi lain ia menyayangkan
dirinya yang harus meninggalkan sekolah yang dibangunnya dengan susah payah
dengan kepala sekolah pertama, semenjak 20 tahun lalu. Waktu itu beliau hanya
mengabdi murni tanpa ada kejelasan honor, yang penting mengabdi, itu saja.
Kadang kalau ada beliau diberi upah lima rupiah untuk satu bulan. Kadang juga
tidak sama sekali. Beliau yang hanya lulusan SR zaman pasca kemerdekaan itu, mana
bisa terangkat menjadi pegawai negeri sipil.
Pak
de berfikir keras, “Apakah sudah saatnya saya harus tinggalkan sekolah dan
hanya fokus mengurus pendidikan dan sekolah cucu-cucu saya?”
Para
guru yang lain meresakan gundah gulana pak de. Mereka hanya bisa saling
menatap. Dengan suara lirih mereka bertanya, “Pak de bagaimana kabarnya?”
beliau hanya mengangguk tanpa sepatah kata dengan senyuman yang agak bias.
Beliau
menarik nafas, “huuuuuhm.... mungkin sudah saatnya saya akan tinggalkan sekolah
ini. Memang sudah saatnya sekolah ini dipimpin oleh orang yang berpikiran maju
seperti KS kita. Orang seperti saya mungkin hanya akan memperlambat kemajuan
sekolah ini.” Ujar pak de sambil menatap ke arah jendela. Nampak satu-dua
burung gelatik sedang bercengkrama dari satu dahan mangga ke dahan lainnya.
“Kalau
bapak mau mengundurkan diri, itu hak bapak. Memang usia bapak sudah lanjut,
tapi jangan mengundurkan diri dalam kondisi seperti ini pak. KS kita terhitung
masih muda. Itu hanya ambisi semangat yang menggebu saja pak. Tolong jangan
bapak mengundurkan diri dalam keadaan sekarang ini.” Pinta Pak John Sopakua dalam
melerai keinginan pak de.
“Iya,
tapi orang seperti saya ini hanya bisa menghambat kemajuan dan citra sekolah
dihadapan sekolah dan guru yang lain. Sudah saatnya saya mundur.” Kata pak de
singkat.
Ruangan
guru tiba-tiba hening. Pak Rahmat hanya bisa memeluk Pak de.
“Maafkan
kami dan maafkan KS. Kami juga heran dengan cara berpikir beliau. Apakah hanya
karena ingin menunjukan kepada kepala sekolah lain, bahwa SD Negeri 1 Katapang
ini telah melaksanan program pemerintah dengan mengenakan batik, pada hari
batik nasional ini?”
“Sabar
pak de yah. Kamipun sudah berusaha untuk mencegah beliau mengintruksikan hal
seperti ini. Sekarang, yang kami khawatirkan sudah terjadi pak de.” Pelukan Pak
Rahmat semakin membuat ruangan jadi hening. Tak terasa bulir-bulir jernih telah
membasahi pipinya.
Pak
de pun memeluk erat, serasa ini adalah pelukan terakhir beliau ada di sekolah
ini. Beliau tidak ingin dipermalukan atau membuat guru yang lain bersiteru
dengan gaya kebijakan yang agak aneh memang kalau dipaksakan.
Ditengah
keheningan itu terdengarlah suara ketokan pintu dan salam.
“Tok...
tok... tok...”
“Assalamu
alaikum...” Rupanya Yusuf yang memberi salam ditemani oleh Abdullah.
“Waalaikum
salam. Kenapa Yusuf? Bukankah jam istirahat sebentar lagi?” tanya Pak Jhon.
“Iya
pak, kami Cuma datang untuk mengantarkan ini.” Sambil menyerahkan sesuatu
kepada Jhon.
“Kotak
doz apa ini Yusuf? ” ujar Pak Rahmat.
“Hadiah
Kado kami untuk Pak de di hari batik Nasional. Kami kelas 6 sudah lama menabung
untuk mengahdiahkan sesuatu untuk pak de, tapi kami tidak tau mau membelikan
hadiah apa. Ini idenya Abdullah dan kawan-kawan untuk menghadiahkan batik. Semoga
cocok dengan Pak de.” Ujar Yusuf menjelaskan.
Setelah
dibuka ternyata satu bingkisan batik dengan motif mega mendung.
“Iya
pak, ini batik khas Cirebon yang bermotif mega mendung dengan warna kebiruan
yang kontras. Kami memesan ini di Om saya yang di Cirebon semenjak sebulan yang
lalu. Setelah pak de mengajarkan kami pelajaran seni budaya. Salah satu
pelajaran yang beliau sampaikan adalah tentang motif batik dan makna
filosofisnya. Kami sengaja memesan motif ini karena sesuai dengan kepribadian
pak de, Sabar, berkepala dingin dalam menghadapi masalah dan tidaak mudah marah.”
Ujar Abdullah dalam menjelaskan isi hadiah yang telah dibuka oleh pak Rahmat
itu.
“Pak
de, ini hasil didikan pak de. Kami harap pak de jangan secepat ini untuk
meninggalkan kami di sini.” Pak Jhon menyodorkan batik dari pak Rahmat sambil
memeluk erat pak de. Mereka sambil berpelukan haru.
“Yah,
terimakasih nak. Bapak tidak akan meninggalkan kalian. Bapak sudah anggap
sekolah ini adalah rumah bapak dan kalian adalah anak dan keluarga bapak.
Sekali lagi terimakasih.” Mereka sambil berangkul peluk.
*****
Selesai.
Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober 2018


No comments:
Post a Comment