Follower

Friday, October 5, 2018

Batik Untuk Pak Guru (Sebuah Cerpen Faksi Dalam Rangka Mempringati Hari Batik Nasioanal)



By
Mujiburrahman Al-Markazy

Sebelum matahari menyingsing Pak Tarsono harus segera merapikan baju dan buku-bukunya. Baginya setiap hari adalah perjuangan. Ia harus keluar rumah sebelum jam 6 pagi agar bisa mencapai sekolah tempat mengabdinya. Jarak sekolah tempat mengabdi pak Tarsono berjarak kurang lebih 5 km di kampung sebelah. Pak Tarsono yang sudah separuh baya itu mengeluarkan sepeda ontel andalannya. Diberi nama Juky. Memang pak Tarsono suka memberi nama setiap benda kesayangannya.

Ini bukan sesuatu yang lucu, Sang Baginda Nabipun telah mencontohkan demikian.  Beliau saw, telah memberi nama Adnan untuk busur panah kesayangannya, Zulfikar kepada pedang kesayangan beliau. Memang kala itu orang memiliki pedang dan busur panah adalah hal biasa. Pada zaman itu adalah peperangan senantiasa berkecamuk. Kaum muslimin ditindas bertahun-tahun tapi tidak membalas. Memiliki pedang dan busur juga sangat membantu dalam perjalanan. Perjalanan yang tidak menentu keamanannya, terkadang bertemu dengan para perampok, kadang pula mengantisipasi serangan hewan buas, seperti serigala gurun.

Pak Tarsono mulai mengayuh sepedanya.

“Juky kamu jangan rewel lagi di jalan yah. Hari ini anak-anak akan ulangan semester. Jadi kamu harus suport saya dalam mengawal ulangan anak-anak yah. Kalau kamu rewel lagi bisa-bisa terlambat saya.” Kata pak Tarsono sambil menengok ban bagian ban belakang sepedanya.

“Jangan kayak kemarin yah. Mesti bapak yang dorong kamu. Kamu tau bapak inikan sudah tua. Kalau mau rewel nanti kalau sudah tiba di kampung sebelah dekat sekolahan.” Kenang Pak Tarsono ketika sehari yang lalu ban belakang sepeda kumbangnya robek kena paku di tengah hutan jalan setapak. Untuk mencapai kampung Katapang ia harus melewati dua kampung dan dua hutan di balik tiap-tiap kampung itu. Rumahnya berada di Dusun Hulung, Seram Bagian Barat, Maluku. 

Fajar masih malu-malu menampakan batang hidungnya dari balik pepohonan sagu di belakang dusun Uhe, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Cahaya kekuningan mulai menghias ufuk timur, memancar ke seluruh pelosok jagad. Perlahan sang surya mulai menampakan diri dari balik Pulau Kasa bagian timur Pulau Seram.

Udara sejuk menampar wajah tua Pak Tarsono. Ces, begitu segar dan damai. Kicauan burung-burung menyemangati perjalanan Pak Tarsono. Itulah pemandangan keseharian dari kehidupan lelaki berusia 62 tahun itu. Berbeda dengan orang kebanyak di kota, pada usia seperti itu sudah banyak yang kontra produksi, terbaring di rumah sakit atau minimalnya sudah stroke ringan dan hanya di rumah saja. Sedangkan lelaki yang akrab di sapa dengan pak de itu melakukan seabaliknya. Jihad pendidikan terus beliau geluti setelah lulus dari SR (Sekolah Rakyat) awal kemerdekaan lalu.

Dengan biaya hidup yang pas-pasan ia terus bergulat dalam dunia pendidikan. Materi bukan menjadi obsesinya dalam mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan. Dalam benak pak de mengajar adalah jihad terbesar yang bisa ia lakoni. Dengan honor seratus lima puluh ribu rupiah selama sebulan ia telah mengahbiskan sehariannya dalam mendidik. Itupun honor yang beliau terima selama 3 bulan sekali berdasarkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

Pak de selain membiayai kehidupannya, pak de juga membiayai 3 cucunya. Anak semata wayangnya telah pergi menyusul suaminya di Malaysia, bekerja sebagai TKW. Sudah 3 tahun kabar dari mereka tak kunjung tiba. Dengan ketabahan menahan kegetiran hidup selalu menjadi nafas pak de. Ia senantiasa tulus dalam senyuman. Hanya doa dan keluh kesah kepada Ilahi Rabi yang ia tunjukan. Ia walaupun serba kekurangan tidak tampak pada raut wajah beliau gurat sedih dan ngedumel. Tenang, bijak dan dalam ketika menatap suatu permasalahaan.

Tidak terasa 45 menit mengayuh si Juky sampailah memasuki perkampungan tempat sekolah beliau mengajar. Desa Katapang, Seram Bagian barat, Maluku. Di SD Negeri 1 Katapang itu beliau mengabdi. Belum sampai beliau di gerbang pagar sekolah ia telah di sambut dengan riuhan anak-anak didiknya.

“Asalamu Alaikum Pak de....!.”

“Waalaikum salam Dul...” Jawab pak de kepada murid yang selalu mendapatkan rengking pertama semenjak kelas satu SD itu. Abdullah namanya.sekarang sudah kelas 6, tahun terakhir meninggalkan sekolah, jika lulus nanti.

Satu demi satu siswa yang beliau lewati seakan mereka saling berlomba memberikan salam. Beliaupun tidak mau kalah untuk memberikan salam terlebih dahulu kepada yang lebih muda. Satu demi satu anak-anak itu telah mengurumuni pak de untuk hanya sekedar memberi salam dan mencium tangan pak de. Pemandangan inilah yang membuat capek, keluh kesah dan rasa sakit lenyap dari diri pak de. Senantiasa merasa awet muda.

“Yusuf kemarin kemana kok nggak kelihatan di sekolah. Kamu sakit yah?.”

“Tidak Pak de, mama saya yang sakit. Saya harus bantu jagain adik-adik juga sekalian membantu merawat mama kalau ada yang dibutuhkan.” Jawab si Yusuf sambil mencium tangan pak de. Yusuf adalah salah satu murid yang paling besar di sekolah itu. Selain sudah kelas 6, ia juga yang paling besar dan tinggi perawakannya. Maklum ia sering tidak naik kelas, karena sering bolos saat ulanagan dan tidak mengikuti pelajaran. Ia hanya tinggal bersama ibu asuhnya yang telah dianggap seperti orang tuanya sendiri. Yusuf telahditinggal mati ibunya semenjak masih bayi. Mak Ijah yang merawatnya. Selain Yusuf masih ada dua anak dari kampung itu yang senasib dengan Yusuf. Mak Ijah sebelem ditinggal mati oleh suaminya setahun yang lalu memang tidak memiliki anak. Hanya mengambil anak asuh dan dijadikan anak beliau. 

“Ya Sudah sekarang siap-siap untuk ulangan semester yah. Jangan bolos lagi.”

“Iya pak de.” Jawab Yusuf sambil berlalu.

*****

Lonceng apel pulang telah berdentuman. Semua siswa mulai berbaris rapi, apel sebelum pulang.

“Besok adalah tanggal 2 Oktober. Tadi malam telah diumumkan oleh Pak SBY untuk mengenakan batik seluruh instansi pemerintah. Termasuk seluruh sekolah negeri dan swasta. Jadi besok itu semua siswa dan dewan guru sesuai dengan hasil musyawarah dewan guru minggu lalu. Semua wajib menggunakan batik tanpa terkecuali. ” Tegas pak Kepsek dalam memberikan pengarahan.

Beberapa dewan guru menatap wajah Pak Tarsono. Seakan ingin melihat ekspresi wajah beliau. Pak Tarsono hanya merunduk. Beliau sadar bahwa beliau tidak memiliki uang yang cukup kalau harus membeli batik dengan gaji pas-pasan beliau. Sesaat beliau mengangkat kepalanya dengan memperlihatkan senyum ketegaran. Beberapa guru itu membalas senyuman beliau namun agak kecut karena prihatin kepada keadaan pak de.

“Huh.....m” desahan nafas semua dewan guru yang tidak sependapat dengan KS (Kepala Sekolah) baru itu. Hampir semua tidak setuju dengan kewajiban memakai batik, pada hari batik nasional di tahun kedua resmi menjadi hari batik Nasional itu. Semenjak diputuskan oleh UNESCO, bahwa batik Indonesia merupakan warisan dunia untuk kebudayaan, pada tanggal 2 Oktober 2009 tahun lalu.

“Setelah ulangan selesai besok bapak ingin berfoto, kita selfi. Jadi usahakan semua mentaati pengarahan ini. Saya ingin pajang dan pamerkan kepada teman-teman KS jika rapat pada bulan depan nanti dengan kepala dinas pendidikan kabupaten.”

Semua jadi kecut senyumnya. Antara ingin meronta kepada kebijakan KS yang tidak berperasaan dan kasihan terhadap siswa dan khusus Pak Tarsono, guru senior yang sudah mengabdi selama 20 tahun. Kasihan karena kondisi ekonomi beliau yang tidak mendukung kewajiban tersebut. Bukan karena beliau tidak mau melakukan kewajiban itu.

Padahal dalam rapat dewan guru, mengenai kewajiban menggunakan batik pada hari kedua batik nasional itu telah menjadi pembahasan alot sesama dewan guru. Semua tidak setuju kecuali keponakan KS sendiri yang setuju dengan ide seolah memaksakan itu. Menurut para dewan guru yang lain, bahwa sekolah ini kan berada di darah pelosok yang terpencil, mengapa harus dipaksakan untuk semua agar mengenakan batik. Kalau mungkin di pusat kabupaten, bisa jadi, tapi itupun harus dikondisikan dengan keadaan guru dan siswa. Sanggup atau tidaknya untuk memiliki batik itu.

Sang KS ngotot, hanya karena ingin selfi dan pamerkan kesuksesan beliau dalam menjalankan kebijakan pemerintah terhadap anjuran mengenakan batik pada hari batik nasional itu.

“Pokoknya tidak ada tapi. Semua harus mengenakan batik, bagaimanapun keadaannya.” Tegas KS dalam menutup pembahasan mengenai keharusan mengenakan batik itu.

******

Hari yang ditunggu telah tiba. Hari itu semua siswa dan dewan guru semua rapi, serempak mengenakan batik.

“Bagus, semua telah menggunakan batik di hari bersejarah bagi sekolah ini. Sebentar selepas apel pulang kita akan berselfi bersama.” Pak KS mengarahkan.

Semua dewan guru berdiri mendengarkan arahan sang KS. Semua menggunakan kemeja batik kecuali Pak Tarsono yang menggunakan kemeja putih polosnya yang sudah nampak kumal, tidak berwarna putih jernih lagi.

“Semua sudah rapi, tapi saya melihat ada satu orang guru yang mencoba tidak menuruti instruksi saya kemarin yah.” Beliau berbicara sambil mengarahkan matanya ke dalam kantor dewan guru. Semua orang sudah memahami siapa yang dimaksud KS.

Pak Tarsono hanya tertunduk kepalanya di dalam kantor. Ia merasa malu atas sindiran dari KS itu. Ia telah berencana kalau begini terus keadannya mungkin beliau tidak akan mengajar lagi, karena selalu akan berseberangan dengan pola kebijakan KS yang doyan selfi dan pamer gambar itu. Disisi lain ia menyayangkan dirinya yang harus meninggalkan sekolah yang dibangunnya dengan susah payah dengan kepala sekolah pertama, semenjak 20 tahun lalu. Waktu itu beliau hanya mengabdi murni tanpa ada kejelasan honor, yang penting mengabdi, itu saja. Kadang kalau ada beliau diberi upah lima rupiah untuk satu bulan. Kadang juga tidak sama sekali. Beliau yang hanya lulusan SR zaman pasca kemerdekaan itu, mana bisa terangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Pak de berfikir keras, “Apakah sudah saatnya saya harus tinggalkan sekolah dan hanya fokus mengurus pendidikan dan sekolah cucu-cucu saya?”

Para guru yang lain meresakan gundah gulana pak de. Mereka hanya bisa saling menatap. Dengan suara lirih mereka bertanya, “Pak de bagaimana kabarnya?” beliau hanya mengangguk tanpa sepatah kata dengan senyuman yang agak bias.

Beliau menarik nafas, “huuuuuhm.... mungkin sudah saatnya saya akan tinggalkan sekolah ini. Memang sudah saatnya sekolah ini dipimpin oleh orang yang berpikiran maju seperti KS kita. Orang seperti saya mungkin hanya akan memperlambat kemajuan sekolah ini.” Ujar pak de sambil menatap ke arah jendela. Nampak satu-dua burung gelatik sedang bercengkrama dari satu dahan mangga ke dahan lainnya.

“Kalau bapak mau mengundurkan diri, itu hak bapak. Memang usia bapak sudah lanjut, tapi jangan mengundurkan diri dalam kondisi seperti ini pak. KS kita terhitung masih muda. Itu hanya ambisi semangat yang menggebu saja pak. Tolong jangan bapak mengundurkan diri dalam keadaan sekarang ini.” Pinta Pak John Sopakua dalam melerai keinginan pak de.

“Iya, tapi orang seperti saya ini hanya bisa menghambat kemajuan dan citra sekolah dihadapan sekolah dan guru yang lain. Sudah saatnya saya mundur.” Kata pak de singkat.

Ruangan guru tiba-tiba hening. Pak Rahmat hanya bisa memeluk Pak de.

“Maafkan kami dan maafkan KS. Kami juga heran dengan cara berpikir beliau. Apakah hanya karena ingin menunjukan kepada kepala sekolah lain, bahwa SD Negeri 1 Katapang ini telah melaksanan program pemerintah dengan mengenakan batik, pada hari batik nasional ini?”

“Sabar pak de yah. Kamipun sudah berusaha untuk mencegah beliau mengintruksikan hal seperti ini. Sekarang, yang kami khawatirkan sudah terjadi pak de.” Pelukan Pak Rahmat semakin membuat ruangan jadi hening. Tak terasa bulir-bulir jernih telah membasahi pipinya.

Pak de pun memeluk erat, serasa ini adalah pelukan terakhir beliau ada di sekolah ini. Beliau tidak ingin dipermalukan atau membuat guru yang lain bersiteru dengan gaya kebijakan yang agak aneh memang kalau dipaksakan.

Ditengah keheningan itu terdengarlah suara ketokan pintu dan salam.

“Tok... tok... tok...”

“Assalamu alaikum...” Rupanya Yusuf yang memberi salam ditemani oleh Abdullah.

“Waalaikum salam. Kenapa Yusuf? Bukankah jam istirahat sebentar lagi?” tanya Pak Jhon.

“Iya pak, kami Cuma datang untuk mengantarkan ini.” Sambil menyerahkan sesuatu kepada Jhon.

“Kotak doz apa ini Yusuf? ” ujar Pak Rahmat.

“Hadiah Kado kami untuk Pak de di hari batik Nasional. Kami kelas 6 sudah lama menabung untuk mengahdiahkan sesuatu untuk pak de, tapi kami tidak tau mau membelikan hadiah apa. Ini idenya Abdullah dan kawan-kawan untuk menghadiahkan batik. Semoga cocok dengan Pak de.” Ujar Yusuf menjelaskan.

Setelah dibuka ternyata satu bingkisan batik dengan motif mega mendung.

“Iya pak, ini batik khas Cirebon yang bermotif mega mendung dengan warna kebiruan yang kontras. Kami memesan ini di Om saya yang di Cirebon semenjak sebulan yang lalu. Setelah pak de mengajarkan kami pelajaran seni budaya. Salah satu pelajaran yang beliau sampaikan adalah tentang motif batik dan makna filosofisnya. Kami sengaja memesan motif ini karena sesuai dengan kepribadian pak de, Sabar, berkepala dingin dalam menghadapi masalah dan tidaak mudah marah.” Ujar Abdullah dalam menjelaskan isi hadiah yang telah dibuka oleh pak Rahmat itu.
“Pak de, ini hasil didikan pak de. Kami harap pak de jangan secepat ini untuk meninggalkan kami di sini.” Pak Jhon menyodorkan batik dari pak Rahmat sambil memeluk erat pak de. Mereka sambil berpelukan haru.

“Yah, terimakasih nak. Bapak tidak akan meninggalkan kalian. Bapak sudah anggap sekolah ini adalah rumah bapak dan kalian adalah anak dan keluarga bapak. Sekali lagi terimakasih.” Mereka sambil berangkul peluk.

*****

Selesai.
Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober 2018
 *****
 
 Diposting di Rate-Rate, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara
di Teras Masjid Rate-Rate.
Pukul 19.59 
Dalam Safar menemani Jamaah Pakistan 

No comments:

Post a Comment