By
Mujiburrahman Al-Markazy
Hadirin
sidang Jumat yang dikasihi Allah.
Allah
swt, satu-satunya zat yang menciptakan, selain-Nya tidak ada yang mencipta. Semua
selain Dia adalah diciptakan. Allah satu-satunya zat yang Maha memelihara
selain dia tidak ada yang memelihara. Semua dipelihara oleh-Nya. Dialah Allah
satu-satunya zat yang Maha Memberikan rezeki. Selain Allah tidak ada yang
memberi rezeki. Semua diberi rezeki dan dijamin rezekinya oleh Allah swt. Dia maha
berkuasa mutlak, apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang Dia kehendaki
tidak terjadi, tidak akan terjadi. Walaupun seluruh makhluk berkumpul jadi satu
berusaha untuk memuliakan seseorang, jika Dia berkendak untuk menghinakan
seorang itu. Maka, kehendak Allahlah yang terjadi. Sebaliknya, walaupun seluruh
manusia berkumpul, bersatu padu untuk menghinakan seseorang, tapi jika Dia
menghendaki untuk kemuliaan orang itu. Tetap, apa yang Allah kehendaki itulah yang
terjadi. Kemuliaan akan menghampiri siapa yang Allah kehendaki.
Kita
bersyukur kepada Allah, pada hari yang mulia ini. Sayyidul ayyam, penghulu dari semua hari, Hari Jumat ini. Kita dikumpulkan
oleh Allah swt, ditempat yang paling mulia, yakni masjid ini. Guna melaksanakan
ibadah yang paling mulia, yakni sholat Jum’at. Sholat adalah ibadah yang begitu
agung, semua ibadah diterima oleh Rasulullah saw, di bumi, sedangkan sholat
diterima oleh beliau saw, di langit, di Sidratul Muntaha berhadap langsung
dengan Allah swt. Beliau saaw, diberikan undangan khusus, penjemputan khusus
dan pengawalan khusus dari makhluk yang khusus, yakni Jibril as. Pada kesempatan
yang mulia ini marilah kita mentawajuhkan hati kita, menjernihkan fikiran kita,
menenangkan gelora nafsu kita untuk bersimpuh kepada Dia yang Maha Mengetahui
problematika kehidupan kita. Dosa dan amal kita diketahui dengan jelas.
Ibadallah,
disamping kita bersyukur, marilah kita merenung sejenak mengintrospeksi diri
tentang berbagai macam musibah yang datang laksana butiran tasbih yang terlebas
dari untaiannya. Apakah sudah secepat ini dunia akan dikiamatkan oleh Allah? Ataukah
ini cuman teguran dan sentilan ‘mesra’ untuk diri kita tentang jauhnnya diri
kita dari rel-rel kehidupan yang telah dibuat oleh-Nya.
Hadirin
Sidang Jumat yang berbahagia.
Shalwat
serta salam senantiasa kita limpahlkan kepada Nabi terkasih, tauladan terbaik
dan guru abadi sepanjang zaman, Baginda Rasulullah saw, yang dengan gigih dan
teguh datang membawakan risalah suci agar menjalani kehidupan pada rel suci
kemuliaan manusia. Beliau tidak peduli dengan cacian dan hinaan. Tidak peduli
dengan bullian dan cercaan. Beliau tidak perduli dengan intimidasi, persekusi
rencana eksekusi dirinya, yang beliau fikirkan adalah keselamatan umatnya bukan
pada zaman itu saja. Melainkan sampai pada seluruh masa, tempat dan keadaan
agar berkibar nilai kemanusiaan sejati, yakni Al-Islam. Marilah kita bersalawat
kepada beliau. Semoga manfaat salawat kita kembali jua pada pangkuan kita
berupa syafaat beliaun di yaumil mahsyar nanti.
Hadirin
sidang Jumat Rahimakumullah.
Tak
lupa khatib mengajak diri khatib dan jamaah sekalian untuk senaantiasa
meng-upgrade nilai ketakwaan kita kepada Allah swt, karena hanya dengan itulah
semua persoalan bisa dilapangkan. Semua keruwetan bisa dilerai. Semua yang
susah akan nampak mudah dan indah. Takwa merupakan kunci dan solusi dalam
menapaki kehidupan.
Hamba-hamba
Allah sekalian. Dalam kehidupan kita senantiasa ada dua keadaan. Ada keadaan
yang kita sukai dan keadaan yang tidak kita sukai. Keadaan yang kita sukai itu
biasa kita sebut nikmat atau karunia dan keadaan yang tidak mengenakan kita
sebut musibah atau bencana. Baik karunia maupun bencana memiliki derajat dan
level masing-masing, ada yang kecil dan ada yang besar. Ada yang secara
perseorangan adapula yang menghampiri sekelompok orang atau masyarakat.
Padahal
baik nikmat maupun musibah adalah ujian bagi orang yang beriman. Ketika
Singgasana Ratu Balqis dipindahkan dalam sekejap mata oleh salah seorang ulama
yang alim pada zaman Nabi Sulaiman As yang berjarak 2800 km dengan berat
ratusan kg. Nabi Sulaiman ss, takjub seraya bertawadhu dan menyadari apa yang
sedang terjadi.
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ
رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini adalah karunia dari sisi tuhanku untuk
mengujiku. Apakan aku bersyukur atau menjadi kufur?” (QS. An Naml: 40).
Begitupun
sebaliknya, Allah swt, menceritakan tentang musibah-musibah yang datang baik
kelaparan, hilangnya nyawa, harta, rasa ketakutan yang mencekam dan hilangnya sumber-sumber
pencaharian, semua adalah ujian dari Allah swt.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan
cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa,
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Tidak setiap musibah yang datang dalam kehidupan kita bermakna ujian, bisa
jadi bernilai, peringatan, dan azab, tergantung keadaan dari orang yang dikenai
musibah. Bagi orang yang beiman itu adalah ujian, sebagaimana firman Allah swt.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ
يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman",
sedang mereka tidak diuji lagi?". (QS:
al-'Ankabuut: 2).
Jadi, musibah adalah ujian keimanan. Apakah sudah
teguh atau belum. Agar orang yang mengatakan dirinya telah beriman itu mengukur
dan mengintrospeksi diri, sudah samapai dimana level keimanannya. Dari Al-Baqarah
ayat 151 sebelumnya menyebutkan, “Wabasyiris Shoobiriin” = berikan kabar
gembira bagi orang-orang yang bersabar. Kata Imam Ibnu Abbas ra. “Sabar itu ada
3 jenis, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghindari
dosa dan sabar dalam menghadapi musibah.”
Ibadullah. Jika kita korelasikan perkataan Imam Ibnu
Abbas ra, tersebut dengan musibah gempa bumi yang silih berganti seakan
menghujani bangsa dan negeri ini. Telah nampaklah siapa yang menjalankan
perintah Allah, siapa yang melanggar hukum Allah dan siapa yang mengeluh dan
berputus asa dari rahmat Allah.
Perintah bagi yang tidak terkena musibah untuk
membantu saudara muslimnya.
وَ اللهُ فىِ عَوْنِ
اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ
“Allah akan menolong
seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”.
(HR
Muslim: 2699).
Perintah bagi penguasa agar segera menggelontorkan
bantuan. Khusus bagi yang terkena musibah mendapatkan tiga perintah sekaligus,
three in one. Satu gempa bumi langsung mendapatkan tiga ‘mandat’ dari Allah
perintah untuk tetap taat dalam menjalankan perintah Allah, kapan dan
bagaimanapun keadaannya, sholat, baca Al-Qur’an dll. Perintah kedua agar tidak
menjarah karena kelaparan apalagi mengambil yang tidak berhubungan dengan bahan
makanan pokok dan perintah yang ketiga agar tetap bersabar dan mengharapkan
rahmat dan kasih sayang Allah.
Hadirin sidang Jumat yang semoga senantiasa dimuliakan
Allah
Musibah akan menjadi teguran kepada mereka yang
pernah taat kemudian mulai kendor ketaatannya. Dulu sering tahajud sekarang
sudah jauh. Dulu sering tilawah Al-qur’an, sekarang sudah jarang. Dulu sering
menghadiri majelis ta’lim dan gemar bersedekah, sekarang sudah jarang. Dulunya semangat
dakwahnya dan memperbaiki diri, sekarang sudah tidak lagi. Musibah bisa juga
bermakna peringatan bagi orang yang lalai dalam menjalankan kewajiban, suka
bolos dalam sholat, puasa belum genap 30 hari tanpa uzur yang dibenarka
syariat, zakat mal masih sering ngeles
untuk menghindari kewajiban.
Serta musibah bisa bermakna azab dan siksaan bagi
mereka yang benar-benar durajana. Melanggar perintah dengan penuh kebanggan,
bermaksiat dianggap sebagai trend. Semakin tinggi dan banyak level maksiat yang
dia kerjakan semakin meningkatkan rasa bangganya. Bukan hanya itu, ia dan
kelompoknya berusaha menggali dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Pendapat ulama yang
dipelintir agar sesuai dengan syahwat duniawi mereka. Inilah kaum durjana. Dengan
sebab musibah, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, lumpur yang menghanyutkan,
meletusnya gunung merapi semua itu adalah azab yang disegerakan di dunia bagi
mereka-mereka yang durjana sebelum mereka mendapatkan azab yang kekal
diakhirat. Juga agar mereka segera kembali kepada Allah.
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ
الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Dan Sesungguhnya Kami jadikan
kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar
(di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. As Sajadah: 21).
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Sebelum kita akhiri khutbah ini maarilah kita
merenungkan sebuah hadits Nabi saw, di bawah ini.
إِنَّ اللهَ عَزَّ
وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا
الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ
فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ
وَالْعَامَّةَ
"Sesungguhnya Allah tidak mengazab
manusia secara umum karena perbuatan maksiat sebagian mereka yang dilakukan
secara tersembunyi. Sehingga mereka melihat kemungkaran itu telah nampak di
tengah-tengah mereka. Mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak
mengingkarinya. Jika yang demikian itu mereka lakukan, maka Allah mengazab mereka
secara merata." (HR Ahmad).
Sebagai contoh yang sudah terjadi di negara kita. Zina apapun bentuknya seperti pacaran anak muda maupun selingkuh kaum tua yang dipertontonkan dibanyak media, televisi, sosial media. Kasus kecurangan baik korupsi maupun riba telah demikian marak dan meraja lela. Wajar, jika bencana-bencana ini datang secara silih berganti, beruntun, laksana untuaian tasbih yang putus dari benangnya. Nabi saw, sabdakan.
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ
أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
"Apabila zina dan riba telah tampak
di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi
mereka." (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Marilah kita introspeksi dirikita sebelum penyesalan
yang lebih besar nanti datang, ketika kita berdiri di mahkamah Allah
mempertanggung jawabkan semua kewajiban yang mesti kita tunaikan dan
kemaksiatan yang telah kita torehkan. Celakanya musibah demikian itu bukan
hanya Allah swt, timpakan kepada kita diakhirat dengan azab yang pedih, tapi
Allah akan segerakan di dunia sebelum kita mati.
Disamping kita memperbaiki diri kita. Jangan lupa,
kita memiliki satu lewajiban, yakni amar
ma’ruf nahi mungkar. Sebagai apapun status kita, bendirilah untuk mengubah
segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan. Nabi saw bersabda dalam sebuah mahfum
hadits. “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah dirubah dengan
tangannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan lisannya jika tidak mampu juga
rubahlah dengan hati atau paling tidak membenci kemungkaran itu dengan hati dan
mendoakannya agar diberikan hidayah oleh Allah.
Nabi memperumpamakan negeri kita ini seperti sebuah
kapal. Jika ada yang melubangi kapal hanya untuk memperoleh air. Jika penduduk
atau penumpang kapal itu mencegah perbuatan orang itu, maka semua akan selamat
dan sampai ke tujuan. Namun, jika sebaliknya para penumpang kapal tidak
berusaha mencegahnya, maka semua penumpang akan tenggelam dan karam di dasar
laut. Seperti itu pula negara yang kita cintai ini. Jika sesama kita saling
mengingatkan kekeliruan dan dosa disebagian kita maka semua akan selamat, tapi
sebaliknya jika orang baik berdiam diri tidak mau mengingatkan kemaksiatan yang
dilakukan oleh sebagian kita. Maka, semua kita akan celaka dan binasa. Musibah dan
gempa bumi akan meluluh-lantahkan segalanya.
Maka dari itu jamaah Jumat rahimakumullah. Marilah kita
bertaubat dan berbenah. Katakan kepada diri kita masing-masing.
“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”
بَارَكَ اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Asera, Rabu, 3 Oktober 2018, Pukul 11:
12 WITA
Sulawesi Tenggara.

No comments:
Post a Comment