Follower

Tuesday, October 2, 2018

Khutbah Jum’at Pekan Ini : "Berdamai Dengan Musibah"


By
Mujiburrahman Al-Markazy

Hadirin sidang Jumat yang dikasihi Allah.

Allah swt, satu-satunya zat yang menciptakan, selain-Nya tidak ada yang mencipta. Semua selain Dia adalah diciptakan. Allah satu-satunya zat yang Maha memelihara selain dia tidak ada yang memelihara. Semua dipelihara oleh-Nya. Dialah Allah satu-satunya zat yang Maha Memberikan rezeki. Selain Allah tidak ada yang memberi rezeki. Semua diberi rezeki dan dijamin rezekinya oleh Allah swt. Dia maha berkuasa mutlak, apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang Dia kehendaki tidak terjadi, tidak akan terjadi. Walaupun seluruh makhluk berkumpul jadi satu berusaha untuk memuliakan seseorang, jika Dia berkendak untuk menghinakan seorang itu. Maka, kehendak Allahlah yang terjadi. Sebaliknya, walaupun seluruh manusia berkumpul, bersatu padu untuk menghinakan seseorang, tapi jika Dia menghendaki untuk kemuliaan orang itu. Tetap, apa yang Allah kehendaki itulah yang terjadi. Kemuliaan akan menghampiri siapa yang Allah kehendaki.

Kita bersyukur kepada Allah, pada hari yang mulia ini. Sayyidul ayyam, penghulu dari semua hari, Hari Jumat ini. Kita dikumpulkan oleh Allah swt, ditempat yang paling mulia, yakni masjid ini. Guna melaksanakan ibadah yang paling mulia, yakni sholat Jum’at. Sholat adalah ibadah yang begitu agung, semua ibadah diterima oleh Rasulullah saw, di bumi, sedangkan sholat diterima oleh beliau saw, di langit, di Sidratul Muntaha berhadap langsung dengan Allah swt. Beliau saaw, diberikan undangan khusus, penjemputan khusus dan pengawalan khusus dari makhluk yang khusus, yakni Jibril as. Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita mentawajuhkan hati kita, menjernihkan fikiran kita, menenangkan gelora nafsu kita untuk bersimpuh kepada Dia yang Maha Mengetahui problematika kehidupan kita. Dosa dan amal kita diketahui dengan jelas.

Ibadallah, disamping kita bersyukur, marilah kita merenung sejenak mengintrospeksi diri tentang berbagai macam musibah yang datang laksana butiran tasbih yang terlebas dari untaiannya. Apakah sudah secepat ini dunia akan dikiamatkan oleh Allah? Ataukah ini cuman teguran dan sentilan ‘mesra’ untuk diri kita tentang jauhnnya diri kita dari rel-rel kehidupan yang telah dibuat oleh-Nya.

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia.

Shalwat serta salam senantiasa kita limpahlkan kepada Nabi terkasih, tauladan terbaik dan guru abadi sepanjang zaman, Baginda Rasulullah saw, yang dengan gigih dan teguh datang membawakan risalah suci agar menjalani kehidupan pada rel suci kemuliaan manusia. Beliau tidak peduli dengan cacian dan hinaan. Tidak peduli dengan bullian dan cercaan. Beliau tidak perduli dengan intimidasi, persekusi rencana eksekusi dirinya, yang beliau fikirkan adalah keselamatan umatnya bukan pada zaman itu saja. Melainkan sampai pada seluruh masa, tempat dan keadaan agar berkibar nilai kemanusiaan sejati, yakni Al-Islam. Marilah kita bersalawat kepada beliau. Semoga manfaat salawat kita kembali jua pada pangkuan kita berupa syafaat beliaun di yaumil mahsyar nanti.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah.

Tak lupa khatib mengajak diri khatib dan jamaah sekalian untuk senaantiasa meng-upgrade nilai ketakwaan kita kepada Allah swt, karena hanya dengan itulah semua persoalan bisa dilapangkan. Semua keruwetan bisa dilerai. Semua yang susah akan nampak mudah dan indah. Takwa merupakan kunci dan solusi dalam menapaki kehidupan.

Hamba-hamba Allah sekalian. Dalam kehidupan kita senantiasa ada dua keadaan. Ada keadaan yang kita sukai dan keadaan yang tidak kita sukai. Keadaan yang kita sukai itu biasa kita sebut nikmat atau karunia dan keadaan yang tidak mengenakan kita sebut musibah atau bencana. Baik karunia maupun bencana memiliki derajat dan level masing-masing, ada yang kecil dan ada yang besar. Ada yang secara perseorangan adapula yang menghampiri sekelompok orang atau masyarakat.

Padahal baik nikmat maupun musibah adalah ujian bagi orang yang beriman. Ketika Singgasana Ratu Balqis dipindahkan dalam sekejap mata oleh salah seorang ulama yang alim pada zaman Nabi Sulaiman As yang berjarak 2800 km dengan berat ratusan kg. Nabi Sulaiman ss, takjub seraya bertawadhu dan menyadari apa yang sedang terjadi.

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Ini adalah karunia dari sisi tuhanku untuk mengujiku. Apakan aku bersyukur atau menjadi kufur?” (QS. An Naml: 40). 

Begitupun sebaliknya, Allah swt, menceritakan tentang musibah-musibah yang datang baik kelaparan, hilangnya nyawa, harta, rasa ketakutan yang mencekam dan hilangnya sumber-sumber pencaharian, semua adalah ujian dari Allah swt.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.

Tidak setiap musibah yang datang dalam kehidupan kita bermakna ujian, bisa jadi bernilai, peringatan, dan azab, tergantung keadaan dari orang yang dikenai musibah. Bagi orang yang beiman itu adalah ujian, sebagaimana firman Allah swt.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?". (QS: al-'Ankabuut: 2).

Jadi, musibah adalah ujian keimanan. Apakah sudah teguh atau belum. Agar orang yang mengatakan dirinya telah beriman itu mengukur dan mengintrospeksi diri, sudah samapai dimana level keimanannya. Dari Al-Baqarah ayat 151 sebelumnya menyebutkan, “Wabasyiris Shoobiriin” = berikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Kata Imam Ibnu Abbas ra. “Sabar itu ada 3 jenis, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghindari dosa dan sabar dalam menghadapi musibah.”

Ibadullah. Jika kita korelasikan perkataan Imam Ibnu Abbas ra, tersebut dengan musibah gempa bumi yang silih berganti seakan menghujani bangsa dan negeri ini. Telah nampaklah siapa yang menjalankan perintah Allah, siapa yang melanggar hukum Allah dan siapa yang mengeluh dan berputus asa dari rahmat Allah.

Perintah bagi yang tidak terkena musibah untuk membantu saudara muslimnya.

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (HR Muslim: 2699).

Perintah bagi penguasa agar segera menggelontorkan bantuan. Khusus bagi yang terkena musibah mendapatkan tiga perintah sekaligus, three in one. Satu gempa bumi langsung mendapatkan tiga ‘mandat’ dari Allah perintah untuk tetap taat dalam menjalankan perintah Allah, kapan dan bagaimanapun keadaannya, sholat, baca Al-Qur’an dll. Perintah kedua agar tidak menjarah karena kelaparan apalagi mengambil yang tidak berhubungan dengan bahan makanan pokok dan perintah yang ketiga agar tetap bersabar dan mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah.

Hadirin sidang Jumat yang semoga senantiasa dimuliakan Allah

Musibah akan menjadi teguran kepada mereka yang pernah taat kemudian mulai kendor ketaatannya. Dulu sering tahajud sekarang sudah jauh. Dulu sering tilawah Al-qur’an, sekarang sudah jarang. Dulu sering menghadiri majelis ta’lim dan gemar bersedekah, sekarang sudah jarang. Dulunya semangat dakwahnya dan memperbaiki diri, sekarang sudah tidak lagi. Musibah bisa juga bermakna peringatan bagi orang yang lalai dalam menjalankan kewajiban, suka bolos dalam sholat, puasa belum genap 30 hari tanpa uzur yang dibenarka syariat, zakat mal masih sering ngeles untuk menghindari kewajiban.

Serta musibah bisa bermakna azab dan siksaan bagi mereka yang benar-benar durajana. Melanggar perintah dengan penuh kebanggan, bermaksiat dianggap sebagai trend. Semakin tinggi dan banyak level maksiat yang dia kerjakan semakin meningkatkan rasa bangganya. Bukan hanya itu, ia dan kelompoknya berusaha menggali dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Pendapat ulama yang dipelintir agar sesuai dengan syahwat duniawi mereka. Inilah kaum durjana. Dengan sebab musibah, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, lumpur yang menghanyutkan, meletusnya gunung merapi semua itu adalah azab yang disegerakan di dunia bagi mereka-mereka yang durjana sebelum mereka mendapatkan azab yang kekal diakhirat. Juga agar mereka segera kembali kepada Allah.

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan Sesungguhnya Kami jadikan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. As Sajadah: 21).
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Sebelum kita akhiri khutbah ini maarilah kita merenungkan sebuah hadits Nabi saw, di bawah ini.

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

"Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan maksiat sebagian mereka yang dilakukan secara tersembunyi. Sehingga mereka melihat kemungkaran itu telah nampak di tengah-tengah mereka. Mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika yang demikian itu mereka lakukan, maka Allah mengazab mereka secara merata." (HR Ahmad).

Sebagai contoh yang sudah terjadi di negara kita. Zina apapun bentuknya seperti pacaran anak muda maupun selingkuh kaum tua yang dipertontonkan dibanyak media, televisi, sosial media. Kasus kecurangan baik korupsi maupun riba telah demikian marak dan meraja lela. Wajar, jika bencana-bencana ini datang secara silih berganti, beruntun, laksana untuaian tasbih yang putus dari benangnya. Nabi saw, sabdakan.

 إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِ

"Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka." (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Marilah kita introspeksi dirikita sebelum penyesalan yang lebih besar nanti datang, ketika kita berdiri di mahkamah Allah mempertanggung jawabkan semua kewajiban yang mesti kita tunaikan dan kemaksiatan yang telah kita torehkan. Celakanya musibah demikian itu bukan hanya Allah swt, timpakan kepada kita diakhirat dengan azab yang pedih, tapi Allah akan segerakan di dunia sebelum kita mati.

Disamping kita memperbaiki diri kita. Jangan lupa, kita memiliki satu lewajiban, yakni amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagai apapun status kita, bendirilah untuk mengubah segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan. Nabi saw bersabda dalam sebuah mahfum hadits. “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah dirubah dengan tangannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan lisannya jika tidak mampu juga rubahlah dengan hati atau paling tidak membenci kemungkaran itu dengan hati dan mendoakannya agar diberikan hidayah oleh Allah.

Nabi memperumpamakan negeri kita ini seperti sebuah kapal. Jika ada yang melubangi kapal hanya untuk memperoleh air. Jika penduduk atau penumpang kapal itu mencegah perbuatan orang itu, maka semua akan selamat dan sampai ke tujuan. Namun, jika sebaliknya para penumpang kapal tidak berusaha mencegahnya, maka semua penumpang akan tenggelam dan karam di dasar laut. Seperti itu pula negara yang kita cintai ini. Jika sesama kita saling mengingatkan kekeliruan dan dosa disebagian kita maka semua akan selamat, tapi sebaliknya jika orang baik berdiam diri tidak mau mengingatkan kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian kita. Maka, semua kita akan celaka dan binasa. Musibah dan gempa bumi akan meluluh-lantahkan segalanya.

Maka dari itu jamaah Jumat rahimakumullah. Marilah kita bertaubat dan berbenah. Katakan kepada diri kita masing-masing.

“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Asera, Rabu, 3 Oktober 2018, Pukul 11: 12 WITA

Sulawesi Tenggara. 

No comments:

Post a Comment