Follower

Tuesday, October 23, 2018

Membangun Masyarakat Berbasis Masjid 1


by 
Mujiburrahman Al-Markazy

Masjid adalah rumah Allah dan rumah seluruh kaum muslimin. Seluruh aktivitas jika dilakukan melalui masjid maka bobot pahala dan nilainya meningkat. Perhatikan saja, jika sholat yang dilakukan di rumah berpahala satu, tapi bila dilaksanakan berjamaah di masjid maka akan bernilai 27 kali lipat. Penyebabnya adalah karena langkah kaki, pengorbanan waktu silaturahim yang semua memiliki pahala tersendiri dan menghasilkan pahala berjamaah.

Masjid selain berfungsi sebagai pusat ibadah juga berperan sebagai fungsi sosial. Dengan sering berjamaah di masjid dapat diketahui keadaan sosial kemasyarakatan. Ada yang meninggal dunia, ada yang sakit, ada kerja bakti, naiknya harga barang, kasus sosial lainnya, semua bisa menjadi bahan temu rembuk dan dicarikan solusinya melalui masjid.

Masjid juga sebagai basis informasi dari masyarakat antar jamaah masjid. Di sela menunggu waktu sholat terjadi perbincangan dan keakraban yang sudah terjalin. Ini termasuk satu potensi umat yang perlu diperhatikan untuk membangun peradaban umat. Masjid juga merupakan sarana komunikasi dan silaturahim yang potensial, berjabat tangan dan berbincang selepas sholat adalah hal biasa dan tidak tabuh. Di situlah wahana komunikasi dan silaturahim terjalin, sehingga permaslahan masyarakat dapat dikerahui dan bisa dicarikan jalan keluar.

Pada sisi lainnya, masjid bisa menjadi pusat bisnis dan membangun perekonomian umat. Jika kita melihat cara Rasulullah saw., dalam membangun dan mensiasati perekonomian kaum muhajirin dan anshar. Ketika awal mula membangun peradaban dan kenegaraan di Madinah, Nabi saw., memulai program pemberdayaan umat melalui manajemen dan tata-kelola potensi masjid. Setelah Rasulullah saw, berhasil membangun pola tauhid, keimanan dan semangat peribadatan ummat. Rasulullah saw, memulai program pengentasan kelemahan perekonomian umat lewat persaudaraan muhajirin dan anshor yang dikelola dengan sistematis ketakwaan.  

Manajemen membangun perekonomian umat dimulai dengan semangat persaudaraan karena dorongan cinta karena Allah. Rasulullah saw., memulai dengan mempersaudarakan antara orang Anshar dan muhajirin, yang kaya dipersaudarakan dengan yang miskin, sehingga semangat saling tolong menolong yang diamanatkan Oleh Allah swt dalam Al-Qur’an bisa terealisasi dengan baik.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa. Dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Begitu antusias semangat persaudaraan yang dibangun, maka sampai ada seorang sahabat anshar yang rela menginfakan separuh hartanya kepada saudara muhajirinnya. Ada yang mau membagi dari jumlah tanah pertanian yang telah dikelolanya agar digunakan oleh sahabat muhajirinnya. Ada malah yang lebih ekstrim, meminta agar memilih dari sekian istri cantik yang dimiliki untuk dia ceraikan dan kemudian akan dinikahi oleh sahabat muhajirinnya, selepas masa iddah mantan isterinya. Demikianlah pola perekonomian dan ketahanan social kemasyarakatan yang dibangun dengan landasan ketakwaan oleh Rasulullah saw.

Berkaca pada potret sahabat nabi terdahulu, maka kami bermaksud untuk mengusulkan program peningkatan iman dan takwah jamaah masjid sekaligus meningkatkan rasa empati dan peduli sesama yang diharapkan dapat membangun peradaban madinah terdahulu. Agar tercipta masyarakat yang beriman, bertakwa, bersaudara dan kuat perekonomian serta sosial kemasyarkatannya. Metode yang akan digunakan adalah metode dakwah yang dibangun dengan basis data yang kompleks agar bisa mendata kaum duafa dan pengangguran di sekeliling masjid. Menumbuh-kembangkan semenagat berinfak jamaah masjid, Memaksimalkan fungsi infak jamaah, tidak lagi pada pembangunan fisik masjid, tapi juga menyentuh masalah kemasyrakatan, baik yang bersifat santunan sosial dan membangun perekonomian umat.

Program yang akan dikembangkan antara lain:

1.      Mendata kekuatan dan kelemahan jamaah dan masyarakat di sekeliling masjid dari seluruh aspek. Baik dari aspek, intensivitas berjamaah 5 waktu dan jum’atan di masjid, data kemampuan berinfak di masjid selama ini. Mendata yang berhubungan dengan sudah haji atau umroh. Ketika Iedul-Qurban sudah berqurban atau belum, ada kemampuan atau tidak. Mendata yang berhubungan dengan pekerjaaan dan pengangguran jamaah dan masyarakat.  

2.      Benar-benar menjadikan masjid sebagai sentra pembinaan umat baik pembinaan yang berhubungan dengan keimanan, peribadatan, keilmuan dan sosial kemasyarakatan.

3.      Mensosialisasikan kepada masyarakat dan jamaah masjid, bahwa masjid di samping untuk membangun semangat keimanan dan ketakwaan, masjid juga dijadikan pilar untuk saling berbagi dan peningkatan taraf dan perekonomian jamaah dan masyarakat.

4.      Meningkatkan semangat dan nilai infak jamaah pada setiap hari, pekan, bulan dan tahun.

5.      Mengadakan program beasiswa kepada jamaah dan masyarakat yang dianggap layak dibantu dan memiliki potensi.

6.      Membuat kajian harian di masjid, setiap ba’da magrib dan subuh untuk memancing peningkatan jamaah sholat.

7.      Membuat program silaturohim sekaligus temu, sapa, data keadaan masyarakat dan jamaah masjid maupun yang masih diluar masjid.

8.      Mengoptimlkan sentra pendidikian di masjid baik pada level, anak-anak, remaja, ibu-ibu dan para suami atau kepala keluarga.

9.      Memberikan pinjaman dan modal usaha kepada warga yang layak di bantu dengan menjadikan infak sebagai fungsi memonitoring perkembangan usaha dimaksud dengan jangka waktu tertentu.

10.  Membangun training kader masjid yang berhubungan dengan, keimanan, penyelenggraaan jenazah, khutbah, dan ibadah lainnya. 

Alhasil, usaha apapun yang kita bangun tanpa pertolongan Allah dan kerja sama dari kalangan kaum muslimin untuk memajukan dan menumbuh kembangkan potensi masjid dan jamaah masjid, maka semua usaha hanya akan mencapai titik perhentian di terminal yang tidak diketahui keberadaanya. Harapan dari penulis dan semua pihak agar mari kita bergandeng tangan untuk mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlakul karimah dan peduli kepada sesama. Diharaapkan lagi bisa menularkan semangat tersebut untuk membangun masyarakat madani seperti di zaman Rasulullah saw.
Semoga tulisan pengatar ini bisa bermanfaat untuk kita sekalian dan  menjadi amal sholeh dan amal jariah dari penulis kepada kebangkitan umat.
                                                                             
                                                                  Asera, Sulawesi Tenggara, 24 Oktober 2018

No comments:

Post a Comment