Follower

Tuesday, July 10, 2018

Otobiografi

OTOBIOGRAFI


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Aku bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Aku dilahirkan kurang lebih 31 tahun yang lalu, tepatnya 1 Mei 1987 di sebuah kepulauan timur Indonesia, Wakatobi. Wilayah Wakatobi adalah salah satu wilayah dari Kepulauan Buton. Dulu di wilayah Kerajaan Buton. Hem, sebenarnya wilayah itu layak diberikan Otsus alias otonomi khusus. Why? Hem, ini bukan ngomong soal politik dan kebijakan pemerintah. Hanya saya ingin menyampaikan bahwa Kerajaan Buton adalah satu-satunya wilayah yang tidak dijajah oleh Belanda dan sekutunya. Kerajaan Buton dengan semangat persatuannya bergabung dalam barisan Sang Saka Merah Putih sebelum kemerdekaan Indonesia. Ah, sudahlah nanti lagi saya ceritakan.

Saya tidak dibesarkan di negeri para Ode itu. Setelah potong tali pusat, ah atau apalah dalam istilah ilmu kedokteran, 40 hari setelahnya, aku dihijrahkan orang tua bersama ke ambon. Itu sih cerita yang saya dapat. Waktu itu, mana tau saya, hehehe. Kami sekeluarga berhijrah ke Negeri Para Raja yang dalam manuskrip Ibnu Batutah menyebutkan sebagai Negeri Al-Mulk, yang sekarang dikenal dengan sebutan Maluku.

Yah, negeri yang sejam lebih cepat waktunya dari negeri tempat kelahiran ku, Sulawesi Tenggara. Walaupun, kami numpang tinggal di Maluku- iya numpang tinggal, memang hidup di dunia ini cuman numpang tinggal- yang beribukota Ambon itu, tapi tidak menjadi bagian dari penduduk Ambon. Hem, terus? Kami tinggalnya di Pulau Seram. Di pulau seram alias Nusa Ina itu saya dibesarkan. Negeri Nusa Ina adalah negeri tersubur dari semua kepulauan negeri para Raja itu. Hampir semua hasil pertanian Maluku berasal dari negeri itu. Yah, sebagian besar. Pantaslah, negeri itu disebut Nusa Ina yang bermakna "Pulau Ibu". Memang sih, kalau kita lihat dari segi makna hanya seorang ibu yang bisa melahirkan. Hem, dari Nusa Inalah, banyak hasil bumi yang ditelorkan.

Saya menyelesaikan SD dan tsanawiyah di Desaku, Desa Katapang, Kecamatan Seram Bagian Barat. Dulu masih kecamatan, sekarang sih, sudah berdiri menjadi satu kabupaten tersendiri. Dibesarkan dari keluarga sederhana dari Ibu, Wa Jae dan Ayah La Mo'a. Keduanya berasal dari satu suku yang sama, satu kampung, eh, satu tetangga. Hem, maksudnya bersampingan rumah. Mungkin bagi anak muda sekarang istilahnya cinlok yah...? hehehe

Sebenarnya tidak. Karena, Bapak saya merantau berlayar sebagai pelaut sejak lulus SD. Di negeri para pelancong, Buton kala itu, pendidikan tinggi bukanlah hal yang penting- mungkin karena lemah perekonomian- bagi mereka yang penting sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, kalau lelaki langsung melancong mengikuti saudagar dan juragan kapal layar kala itu, menggunakan perahu pinisi. Sedangkan, bagi perempuan selain perdalam ilmu agama pada guru ngaji di kampung akan belajar ketrampilan menenun, menjahit, masak dan selainnya.

Yah, takdir berkata lain, walaupun ke ujung dunia melancong, eh jodoh malah tetangga, "tetanggaku idola ku". Hem. Itulah singkat mengenai siapa dan bagaimana orang tua ku.

Eit, ada lagi yang saya mau tambahin Wakatobi adalah sebuah akronim dari 4 pulau yang mendiaminya. Wa, ka, to, dan bi adalah singkatan dari (pulau) Wanci, (pulau) Kaledupa, (pulau) Tomia dan (pulau) Binongko. Pada pulau yang berawalan To saya dan keluarga saya berasal. Yah, Pulau Tomia.

Dari 6 bersaudara, saya yang terakhir di lahirkan di Pulau Tomia, walaupun saya anak ke-2 dari 6 bersaudara. Yah, setelah potong tali plasenta yang bersejarah itu, keluarga kecil saya telah berhijrah total menjadi penduduk Nusa Ina.

Alhamdulillah, dengan pendidikan karakter yang cukup "keras" dari orang tua. Saya selalu mendapatkan ranking pertama semenjak kelas satu SD sampai lulus Madrasah Tsanawiyah di kampung Katapang tersebut. Satu moto pendidikan orang tua adalah "cukup sayangi anak mu pada makan, minum dan pakaiannya, jangan manjakan mereka pada bagaimana bekerja". Alhamdulillah, dengan moto pendidikan dari orang tua yang telah turun-temurun itulah kami tiga orang anak lelaki semua memiliki parang untuk memangkas rumput di kebun cengkeh. Kami telah diajarkan bagaimana menikmati kesusahan dalam perjuangan hidup. Sehingga, ketika saya harus menceritakan apa itu susah dan mengeluh, mungkin saya tidak tahu. Baik bapak atau ibu adalah orang yang humoris. Hem, terlihat kan dari gaya tulis saya. Hehehe. Ceria dan "tersenyum" adalah lauk istimewa kami dalam memandang hidup.

Kenangan yang tidak pernah terhapus dari benak ku adalah ketika perdana mendaki ke kebun cengkeh yang tingginya 500 kaki dari permukaan laut. Ketika sudah capek dalam mendaki bapak ku menaikan saya pada pundaknya  walaupun di pundaknya ada juga beban pikulan beliau. Dengan senang dan ikhlasnya bapak menambahkan saya sebagai beban pikulan tambahannya. Ibu saya juga tidak lepas dari banyaknya barang yang di angkutnya. Di kepalanya ada wadah bundar tempat nasi dan lauk pauk, baskom besar itu dijunjungnya di atas kepala sembari melihat kiri-kanan jalanan yang serba miring itu. Sementara tangan kanannya memegang kendali baskom yang dijunjungnya tangan kirinya memegang satu cerek air minum.

Empat puluh lima derajat kemiringan. Pemandangan hijau di sebelah gunung yang kami daki terhampar di sebelah nan hijau dan cantik. Burung Kakak Tua putih berkejar-kejaran di angkasa bernyanyi menyambut kedatangan kami dengan lengkikan alunan zikirnya yang lembu, terpaan angin laut yang membelah pegunungan itu. Sendu, sejuk nan damai.

Saya menengok ke arah wajah bapak,  peluhnya yang berjatuhan laksana rintik-rintik hujan yang menyirami bumi. Hem, disitu saya melihat ada cinta, ketulusan dan pengorbanan. Sesekali berdiri istirahat, menghela nafas, tenang dan damai. "Heeeeep.... heeeeem". Nafas diatur dengan teratur, pulihkan energi secara perlahan. "Heeeeeep..... heeeeeem". dihela dan dilepaskan dengan lembut. Walaupun, sekarang beliau sudah uzur dan jarang mendaki ke gunung Lidah Anjing itu.

Ups, "Lidah Anjing", memang harus saya sebut karena itulah namanya. Hem, kenapa dinamakan dengan nama tersebut, sampai sekarang masih misteri. Tapi, satu yang pasti bahwa siapa saja yang mendaki gunung tersebut maka dia akan sangat kecapaian. Hem, sehingga orang sering menceritakan, "saya daki gunung ini sampai lidah saya menjulur laksana seekor doggy yang kelelahan." Hem, maaf ya kalau tidak berkenan, masalahnya ada kisahku tentang gunung "Lidah Anjing", jadi yang mau gimana lagi, pasti aku sebutin ceritanya.

Hem, ada yang penasaran siapa namaku kan...? Saya dikenal dengan nama Mujiburrahman Al-Markazy, tapi nama pemberian dari orang tua adalah Mujiono. Nama yang khas kejawaan. Walaupun, saya bukan wong jowo. Hem, inilah pengaruh persentuhan bapak ku dengan masyarakat Jawa di wilayah pelayarannya. Ia sedari dulu, bersama perahu pinisi dari Buton membawa hasil rempah-rempah, cengkeh, pala, ikan Laut yang telah kering menuju dari timur Indonesia menuju barat Indonesia,tepatnya di Pulau Jawa. Begitupun, ketika balik dari Jawa membeli barang pecah belah, perkakas dapur untuk dijual kembali di daerah timur Indonesia. Disebabkan oleh persentuhan dengan wilayah Jawa itulah, terilhamilah bapak ku. Maka, jadilah nama saya Mujiono, asli Buton. Padahal kalau nama asli ciri khas Buton, kalau lelaki di awali dengan 2 huruf La dan perempuan di awali dengan 2 huruf Wa. Coba lihat bagaimana nama Ibu dan bapak saya. Hem.

Saya melanjutkan SMA, di SMANSA Namlea, Pulau Buru. Masih se-provinsi dengan tempat saya dibesarkan, Maluku. Saya telah mengalami masa pahit, sejak akhir meninggalkan SD di kampung tempat aku dibesarkan. "Ambon berdarah". Itulah, istilah yang tidak akan hilang dibenak kami warga Maluku. Semua negeri kena dampaknya.

Seingat saya, ketika akhir SD, tepatnya kami sedang pengayaan dari kepala sekolah kami,- persiapan ujian akhir nasional- walaupun beliau beragama kristen, tapi kami hidup sangat rukun dan damai. Beliau walaupun nasrani juga tidak pernah mengajarkan kekerasan kepada kami. Hem, entah takdir atau kutukan. Kerusuhan itu, meluluh-lantakan semuanya. Semua harapan dan kenangan. Setelah saya dewasa, barulah saya pahami itu adalah ulah para politikus pengkhianat Bangsa yang mencoba untuk membuat adu domba di kalangan masyarakat yang diikat dengan persaudaraan pela-gandong. Inilah, kutukan akibat politikus pengkhianat bangsa.

Pela-Gandong adalah persaudaraan yang mengikat 2 belah negeri walaupun lintas agama, suku, daerah dan budaya, "tradisi tidak boleh saling nikah", karena telah menjadi sumpah leluhur terdahulu untuk saling menjaga laksana saudara kandung walaupun beda agama. Semua luluh-lantah.

Ketika di Namlea saya tinggal bersama paman, adik dari Ibu. Di sana, awalnya saya mendapatkan ranking ke-2 pada semester pertama, tapi alhamdulillah pada semester selanjutnya sampai lulus meninggalkan SMANSA Namlea, masih di atas angin di dalam bumi di bawah langit. Masih ranking pertama maksudnya, cuman tidak enak menyebut di atas angin. Hem, takutnya lupa diri. Emangnya Gatut Koco...?
Hem, diatas angin, di dalam bumi, di bawah langit, Hemmmm.

Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan tapi nanti sajalah. Hem. Hehehe. Setelah selesai dari SMANSA Namlea tahun 2006 saya melanjutkan studi ke Unpatti   (Universitas Pattimura) Ambon. Di kampus itu saya tidak berjalan mulus karena kerusuhan pun terjadi walau tidak seperti kejadian pertama tahun 99. Yah, tepatnya 19 Januari 1999, yang dikenal dengan istilah "Idul Fitri berdarah". Ah, karena malas "mengurus" atau terjebak dalam kerusuhan itu akhirnya saya meninggalkan kampus.

Beberapa tahun setelahnya, saya hijrah ke provinsi asal kelahiran saya, Sulawesi Tenggara. Saya memulai kuliah baru dari nol pada Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK). Di kampus baru ini, saya mengambil jurusan keguruan pada program studi Bahasa Inggris. Sebelumnya, ketika di Ambon mengambil Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan. Hem, karena saya ingin berdakwah keliling dunia, saya putuskan untuk rubah haluan kapal ke Bahasa Inggris.

Di kendari, Sulawesi Tenggara saya belajar tentang dunia dan akhirat. Maksudnya, di samping saya aktif di kampus saya juga tinggal di Pesantren Alternatif Mahasiswa dan Hafidz. Alhamdulillah, kuliah saya rampung, hafalan Al-Qur'an saya tinggal dikit lagi selesai insya Allah. Dicelah kesibukan dakwah, mengajar dan kerja "bisnis herbal", saya berusaha untuk menyelesaikan hafalan saya yang tinggal beberapa juz lagi selesai. Insya Allah.

6 Sawal 1439 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 21 Juni, saya ditugaskan oleh Kiyai dari pesantren Shohibul Qur'an Kendari untuk mengisi tugas sebagai imam di Masjid Raya Assalam, Wanggudu, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Memang, demi misi suci untuk membangun umat dan dakwah itu saya berdomisili di sini. Wanggudu, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Daerah yang baru i mekarkan sebagai kabupaten sekitar 11 tahun yang lalu.

Walaupun, sudah satu dasawarsa kabupaten ini masih dihitung terpencil baik dari segi duniawi dan ukhrawi. 116 km dari Ibu kota provinsi, Kendari. Tapi, jika ditengok sarana dan prasarana, ah, sudahlah tidak proporsional. Jalanan begitu rusak parah. Harusnya jarak segitu bisa hanya di tempuh dalam waktu 3 jam. Tapi, disebabkan begitu rusaknya jalanan poros lintasan 2 provinsi Sulawesi Tenggara - Sulawesi Tengah itu bisa dicapai hingga 5-6 jam, molor 2-3 jam. Apa penyebabnya...? Tidak usah saya ceritakan detail, takutnya nanti malah membahas aib. Aib si ini, aib komunitas itu. Ah, sudahlah.

Di Negeri Wanggudu yang saya tempati ini, adalah bagian dari misi dan obsesi ku sejak kecil, bukan karena negerinya yang menjadi obsesi ku tapi misi dakwah dan membangun Pondok Pesantren, itulah misi terpendam ku sejak SMA. "Ku ingin membangun pesantren se-antero jagad". Mungkin, dari negeri yang mungil ini saya meniti. "Hem, aroma keberhasilan itu semakin dekat". Optimis ku.

Hem, biar bagaimanapun di dalam darah saya mengalir dua persenyawaan kepemimpinan dari mendiang 2 kakek ku, baik bapak dari ibu ataupun bapak dari bapak. Dari cerita yang saya dapat dari temannya kakek, bahwa 2 kakek ku itu pernah menahkodai 2 kapal, maksudnya perahu pinisi zaman itu. Seorang menahkodai 2 perahu dalam satu waktu. Kebayang tidak, memimpin 2 perahu pinisi besar dengan muatan puluhan ton tanpa menggunakan komunikasi WA, android, telepon, atau sekedar handy talky. Wow, amazing, memimpin 2 perahu pinisi dalam satu waktu yang berlainan kondisi perahunya. Beda orang yang mendiaminya, beda permasalahan yang kadang rutin terjadi di atas laut.

Sedangkan, kala itu berlayar hanya bermodalkan kecepatan angin dan pengaturan layar dan pengendalian kemudi yang baik. Untuk bisa mencapai tanah Jawa bisa menghabiskan masa sekitar 2 bulan terkatung-katung di atas laut. Padahal, sekarang hanya bisa ditempuh dengan 3 jam menggunakan burung besi, pesawat dan 3 hari 3 malam menggunakan kapal Pelni. Hem, alhamdulillah Allah besarkan saya dari 2 kepemimpinan besar. Semoga, saya bisa menapaki jejak pendahulu saya dari segi kepemimpinan. Aammiin. 

Sampai sekarang saya masih mencari tulang rusuk yang kurang. Wakwaw. Hehehe. Banyak orang yang berceloteh, "Ustadz, kapan nikah...?"-walaupun sebenarnya saya bukan ustadz hanya pembantu ustadz, kadang saya tidak nyaman juga dipanggil dengan istilah ini hem-, saya hanya bisa menjawab. "Insya Allah tidak lama lagi". Demikian, yang bisa saya sampaikan. Bravo kelas alinea ku.
Salam literasi. #Alineaku.

==============

Sunday, July 8, 2018

Energi Wal Ashri Dalam Membangun 'Bisnis'


By
Mujiburrahman Al-Markazy

Sebenarnya, ini permintaan sudah lama oleh orang yang saya tuakan dalam dakwah. Memang, beliau orang tua. Beliau setelah menyimak tulisan saya. Beliau mereques untuk saya menulis artikel tentang wal Ashri. Hem, Alhamdulillah baru bisa direalisasikan penulisannya pak, mohon maaf sudah lama menunggu.  Beliau bernama Haji Mukhlis, dulu pernah bersama ketika mengarungi lautan dan deruhan ombak dakwah di negeri manise, Ambon. Yah, Ambon tapi sekarang beliau telah bermukim di Purwakarta, Jawa Tengah. Walaupun saya bermukim di Negeri Bumi Anoa, Kendari, Sulawesi Tenggara. 

Alhamdulillah, sudah lama out line mengenai tulisan ini tersimpan rapi di Blog ku tanpa ada sentuhan yang berarti. Subhanallah, setelah sentuhan demi sentuhan dilaksanakan terhamparlah mutiara hikmah dari wal Ashri itu sendiri. Lahaula walaa quwwata illa billah. Sesuai dengan untaian mutiara dari Imam Besar, Imam Syafii ra., beliau pernah mengungkapkan, "Seandainya Allah swt., tidak menurunkan Al-Qur'an selain Satu surat yang pendek ini, maka niscaya itu telah mencukupi mereka." Allahu Akbar! Setelah kita dalami Surat Cinta dari Allah itu. Memang, wal Ashri benar-benar telah membuat kita terpukau. Betapa sempurnanya firman Allah swt. Shadaqallah. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Waktu adalah perkara yang paling mahal dari apapun. Ini adalah modal terbesar bagi siapapun. Pengusaha untuk memajukan usahanya butuh waktu. Politikus ingin meraih jabatan butuh waktu. Seorang santri atau pelajar demi menuntaskan pelajarannya butuh waktu. Seorang yang ingin memasuki surga butuh waktu. Semua membutuhkan waktu. Sehingga, tidak mengherankan jika Allah swt., bersumpah menggunakan lafaz waktu.
وَالْعَصْرِ = "Demi Masa".(QS:Al-Ashar: 1)

Telah banyak ungkapan dan peribahasa yang membahas tentang waktu. Bagi bisnisman, "time is money", waktu adalah uang. Pagi seorang patriot seperti Sayyidina Ali ra., mengibaratkan waktu sebagai pedang, "Alwaktu kashaif". Singkatnya waktu begitu bernilai ditinjau dalam perspektif apa saja, waktu memang berharga. Allah swt., setelah bersumpah menggunakan waktu. Dia melanjutkan satu statement tentang konsekuensi penggunaan waktu. 
 إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ = "Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian". (QS:Al-Ashar: 2)

Allah swt., bersumpah bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, tanpa terkecuali. Semua orang, siapa saja yang salah dalam menggunakan waktunya. Ia rugi. Baik petani, pedagang, nelayan, pegawai, konglomerat, ulama, santri dan sebagainya. Intinya, siapapun, kapanpun dan dimanapun, rugi jika tidak menggunakan waktu dengan baik. Lantas, bagaimanakah penggunaan waktu yang baik...? Allah swt., menyampaikan kriteria penggunaan waktu yang baik pada ayat sesudahnya. 
إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling nasehat-menasehati dalam perkara yang Haq dan saling nasehat-menasehati supaya menepati kesabaran". (QS Al-Ashar:3)

Ada 4 komponen pokok dalam kriteria sebagai orang yang tidak rugi dalam mengisi waktu, ketika menjalani kehidupan di muka bumi ini. Pertama keimanan, dengan amal shaleh, tetap menjalankan dakwah dan sabar dalam menjalani ke-3 aspek itu. 

Yah, iman. Hanya dengan berlandaskan keimanan segala sesuatu itu bisa bernilai dan bertahan. Iman, artinya ada sesuatu yang diyakini. Percayalah, jika kita melakukan sesuatu aktifitas tanpa memiliki patokan yang jelas alias cuman ikut-ikutan, lambat laun pasti ia akan jenuh kemudian berakhir. Yah, dengan modal keimanan seseorang bisa survive dalam berbagai penderitaan. Sebelum kita memasuki inti keimanan cobalah kita merenung sedikit mengenai makna global keimanan.


Iman secara bahasa artinya percaya. Seorang petani tidak akan berkorban untuk mengolah sawah. Mulai dari membersihkan, membajak sawah, mencari benih yang unggul, menyiapkan tenaga atau biaya untuk merawat tanaman, padinya. Sang Petani pun harus menyediakan dana untuk memproteksi tanamannya dari segala hama dan penyakit. Hem, terakhir ia harus bersedia menyediakan tenaga dan waktu untuk memanen hasil pertaniannya.


Bayangkan, jika sang petani dari awal tidak memiliki keyakinan untuk memanen, apakah dia bersedia untuk membayar sekian 'pengorbanan' itu semua. Hem, rasa-rasanya sulit. 


Begitupun, hal ini berlaku kepada pegawai yang harus menamatkan jenjang demi jenjang pendidikan, kemudian dengan pengorbanan dalam mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil. Setelah lulus ia juga harus rela membayar 'biaya' bukan materi tapi disiplin, terkadang dimarahi oleh atasan. Itu semua dijalani dengan tabah karena bermodal keyakinan. Dalam konteks apapun, semua kesuksesan bermula dari satu keyakinan yang tidak sederhana. 


Padahal Allah swt bermaksud menciptakan manusia bukan untuk tujuan kesuksesan duniawi semata. Seandainya kalau tujuan penciptaan diri kita untuk tujuan duniawi. Maka, coba bandingkan sejenak. Saya ingin bertanya, seandainya begitu lahir saudara sekalian langsung diberikan duit sebanyak 1 trilyun, seumpama selama hidup kita nanti bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, dengan konsekuensi lahir cacat tanpa mata. 


Saudara tidak akan pernah melihat indahnya matahari ketika terbit. Saudara tidak akan pernah melihat istri dan anak. Saudara tidak akan pernah melihat cucu saudara. Apakah saudara siap begitu lahir tanpa mata dan tidak bisa dioperasi menggunakan alat apapun? Atau saudara dilahirkan dalam keadaan tuli permanen tanpa bisa mendengar candaan dari istri, tawa dan tangis dari buah hati. Semua suara dan bunyi yang merdu tidak akan pernah didengar dan dinikmati. Apakah kita bersedia...? 


Mungkin, kita akan berfikir jutaan kali untuk menerima tawaran itu. Jadi, apa sebenarnya harganya duniawi yang kita kejar mati-matian padahal mahalnya pendengaran dan penglihatan bisa mengalahkan 'hasil' capaian keduniaan yang akan kita raih. Hem, alangkah ruginya kita jika duniawi kita kedepankan tanpa nilai ukhrawi. 


Hem, untuk mencapai keduniaan dibutuhkan sekian 'pengorbanan' apalagi untuk mencapai nilai tertinggi suatu prestasi ukhrawi.  Pasti sangat dibutuhkan nilai keimanan untuk membentuk 'watak pengorbanan' yang hakiki.  


أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ 
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu sekalian hanyalah untuk bermain-main dan bersenda gurau belaka. Apakah kamu tidak akan dikembalikan untuk ditanyakan (mengenai semua nikmat yang pernah diberi)". (QS al-Mukminun 115).
Apakah itu permainan dan senda gurau...? Allah sendiri menjawabnya. 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
"Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan hanyalah permainan dan senda gurau belaka." (QS Al-An'am : 32). 

Hem, jika kita hanya mengejar dan mencari keduniaan, seserius apapun usaha kita. Hem, mohon maaf, Allah tetap menyebut usaha kita adalah permainan belaka. Kasihan jika semua kebaikan duniawi kita hanya laksana debu yang menempel di batu licin, kemudian diguyur hujan. Habislah nilai keduniaan kita di hadapan Allah.

فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ 
"Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan." (QS Al-Baqarah: 264). 

Ada sebuah pertanyaan menggelitik, mengapa usaha duniawi seperti apapun bentuknya adalah permainan saja walaupun sudah di manage sedemikian rupa. Hem, jawabannya singkat, karena duniawi sifatnya sementara seperti sifat dari permainan itu sendiri.

Allah sudah mensifati dunia dengan permainan karena sisi kesementaraannya. Hem, adakah permainan yang abadi. Permainan yang tidak ada istirahat, tidak ada batas...? Pasti tidak ada. Seperti itupun dunia, jika hanya itu yang jadi tujuan maka rugilah kita. Rugi karena yang kita kumpulkan tidak akan sampai di akhirat. Hanya sebatas dunia, tok. Begitu keranda menjemput kita menuju liang kubur. Hem, semua kehebatan, gelar akademik, relasi yang banyak, sanjungan dan pujian yang pernah kita raih sewaktu hidup, berakhir sudah. Tinggalah penyesalan dan penyesalan. 

Ini poin pertama, iman. Hendaklah kita bangun keduniaan kita, aktifitas kita, kesibukan kita dengan nilai-nilai keimanan. Aturan bos dengan bawahan karena nilai keimanan. Memberikan gaji karyawan dengan nuansa keimanan, interaksi antara karyawan dengan bos, bos dengan mitra, karyawan dengan pelanggan semua dilandasi dengan spirit keimanan kepada kampung akhirat. 

Hadirkan perasaan dilihat oleh Allah, diatur dalam tatanan Hukum Allah, akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Inilah mesin terbaik dalam menggerakan roda perusahaan, mendobrak bed mood

Poin ke dua kunci kesuksesan menjalani kehidupan adalah amal shaleh. Apa itu amal shaleh...? Secara singkat amal shaleh adalah amal yang diridhoi dan dicintai oleh Allah. Kita peruncing lagi. Apa itu amal yang dicintai oleh Allah...? Allah sendiri yang menjawabnya. 


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Al-Imron: 31). 
Semua kesibukan kita, hadirkan sunnah Nabi di dalamnya. Dalam bisnis kita mulai dengan sunnah Nabi. Hadirkan nawaitu, niat yang benar, semata-mata menjalankan ibadah kepada Allah, semata-mata agar Allah ridha. Tidak menjual yang haram. Mentertibkan pegawai dengan tertib Islam. 
Konsultasi kepada Kiyai dan ulama tentang akad dalam transaksi. Sebab, rusaknya muamalah di dalam menjalankan bisnis sumber awalnya adalah dari rusaknya akad dalam transaksi. Baik itu akad jual beli, akad hutang piutang, akad perjanjian gaji, akad bagi hasil. Semua akad-akad itu dikonsultasikan sehingga sesuai dengan timbangan syar'i. 
Sebelum kita melangkah pada pembahasan watawa shaubil haq. Kami ingin sampaikan bahwa dalam praktek kerja biasanya shalat adalah perkara yang di anggap remeh, alias dibelakangkan. Padahal Allah swt menjadikan shalat adalah kewajiban ke-2 setelah keimanan. 
Hem, kalau kita berbicara amal shaleh tanpa membahas shalat ini rupanya ada yang hilang, karena sholat adalah induknya amal shaleh. Setelah seseorang berani meninggalkan shalat, berarti ia akan berani dan lancang dalam melanggar aturan Allah yang lain. Selain kita ketatkan aturan berseragam syar'i, jam kantor disiplin tanpa berdisiplin dalam menjaga waktu sholat terkhusus yang fardhu, maka kita telah merawat anak atau cabang amalan dan pokoknya atau induknya amalan telah kita campakan. 
Poin ke tiga adalah watawa shaubil haq. Saling berpesan dalam hal ketakwaan. Sudah lumrah dimanapun, siapapun, kapanpun terkadang orang bisa saja tergelincir dalam satu kekeliruan. Bisa salah. Baik itu dalam pengambilan kebijakan, dalam melaksanakan tugas, dalam beretika bisnis. Bisa saja salah dan khilaf terjadi. 
Jika tidak saling tegur dan ingatkan maka kerusakan akan semakin menganga. Setiap ada pembiaran terhadap satu kesalahan tanpa ditegur atau diingatkan maka kerusakan akan akan semakin membesar bahkan akan menular kepada yang lain. Inilah mengapa Allah mengharuskan kita supaya saling watawa shaubil haq. 
Hanya dengan upaya take and give dalam menjaga nilai-nilai kebenaran yang telah disepakati barulah upaya mencegah keburukan yang akan masuk kedalam sistem bisnis atau sistem organisasi atau sistem dalam tatanan masyarakat kita bisa dihindari. Insya Allah. 
Sebelum kita tutup poin ke tiga ini. Kami ingin menyampaikan bahwa tugas watawa shaubil haq ini mulanya adalah tugas para Nabi. Maka, sangat tidak benar kalau pembahasan ini kita lalui tanpa membahas tugas mulia tersebut. Semua para Nabi dan Rasul dakwah. 
Dakwah secara literliek artinya mengajak. Bukan sekedar mengajak kepada keduniaan tapi mengajak kepada kampung akhirat. Bukan hanya mengajak kepada 'makhluk' tapi mengajak kepada Allah. Bukan hanya mengajak agar cinta dan tertarik kepada dunia tapi harus mengajak kepada cinta for kampung akhirat, cinta kepada syurga dan sebagainya. Inilah kerja seluruh Nabi dan Rasul, dakwah. 
Disamping tugas kita sebagai karyawan, sebagai bos, sebagai istri, sebagai anak, sebagai pemuda, sebagai siswa atau santri tapi ada tugas lain yang lebih mulia, yakni tugas dakwah. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kerusakan atau kemungkaran. 
Jika kita tidak menjalankan dakwah tapi sudah ibadah berarti kita belum utuh masuk kedalam lingkaran orang yang tidak rugi. Ini ayat utuh, jangan dipisah. Dalam kondisi apapun dan bagaimanapun dakwah tetap kita lakoni. Tidak ada alasan, "Oh, maaf saya sibuk dagang."
"Oh, maaf saya sibuk di kantor."
"Oh, maaf saya sibuk di masjid." 
Tidak ada alasan, semua mesti dakwah. 

Poin terakhir agar tidak dikategorikan sebagai orang merugi adalah watawa shaubi shabri. Saling berpesan dalam hal kesabaran. Memang, sabar adalah kunci dari setiap kesuksesan. Sekeras apapun usaha kita, setekun apapun diri kita, sedisiplin apapun jika tanpa dilengkapi dengan kesabaran, maka semua upaya kita sirna. Bukan hanya sekedar sabar tapi 'mensabarkan' orang lain, watawa shaubi shabri . Iman butuh kesabaran, amal shaleh butuh kesabaran dan dakwah butuh kesabaran. Jika tanpa usaha sabar dan mensabarkan orang lain. Maka, dunia ini cepat binasa yang dipenuhi dengan manusia-manusia rugi dan merugikan orang lain.
=========

Bahan Bacaan:

Al-Kandahlawi, Zakariyah. 2007. Himpunan Fadhilah Amal. Bandung. Pustaka Ramadhan

Syafii, Shahab Muhammad dkk. 2008. Etika Bisnis Dalam Mencari Nafkah Yang Halal Menurut Syariat Islam. Bandung. Pustaka Ramadhan

Hamka. 2015. Keadilan Sosial Dalam Islam. Jakarta. Gema Insani Press


Friday, July 6, 2018

3 Jamu Pahit bagi para da'i (Seri Lanjutan)




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Sebenarnya, muzakaroh atau diskursus kita kali ini adalah masih sehubungan dengan materi sebelumnya yang telah kami posting pada akhir Juni kemarin. Kami telah memberikan judul "5 Menu Untuk Para Da'i Ketika Terpuruk". Kemudian di rubah menjadi "2 Menu untuk kebahagiaan Da'i".
Kenapa kami harus memecah tulisan ini jadi 2 bagian...? Hemmmm, jawaban sederhananya karena tidak tega. Iya, tidak tega. 

Dalam pembahasan "2 Menu Untuk kebahagiaan da'i"., dengan plus-minusnya sedikit banyak telah membuat para da'i begitu berbunga-bunga dan on fire untuk menjalankan dakwah. Ditambah dengan "3 Jamu Pahit untuk Para Da'i", yang sedikit banyak akan sedikit menyentil apa dan bagaimana tanggung jawab dakwah ini bisa lestari. 


Itulah, sedikit alasan kami sengaja memecah menjadi 2 kali tampilan.  Hemmmm, sangat tidak nyaman kalau sudah di suap dengan yang manis kemudian ditutup dengan 3 Jamu Pahit. Ah, kurang menyenangkan. Mudah-mudahan, kita bisa membahasnya secara proporsional, insya Allah.  Alasan lain kenapa dibagi menjadi 2 kali pembahasan adalah untuk mencegah kejenuhan dari para pembaca sekalian yang budiman. Hemmmm, semoga tidak jenuh. 

Selain 2 poin di atas, ada 1 poin tambahan yang perlu saya sampaikan disini adalah 3 poin nanti yang akan saya sampaikan pada pembahasan ini. Maksudnya, "3 Jamu Pahit untuk Para Da'i," adalah menu khusus yang kami sajikan kepada para pekerja dakwah dan tabligh. Nanti, kami akan gunakan istilah orang lama. Kalimat itu, merujuk kepada mereka. Artinya, ini sebenarnya materi khusus tapi berkaitan erat dengan pembahasan sebelumnya, "2 Menu Untuk Kebahagiaan Da'i ketika terpuruk". Kami bagi, agar tidak terlalu memusingkan kepala bagi yang baru. Hemmmm, maaf yah. 

Para pembaca sekalian, ketika pertemuan di Pakistan tahun 2009. Pada kesempatan itu, telah hadir ribuan audiens dari berbagai penjuru dunia. Tidak kurang, telah hadir sekitar 150 negara di dunia. Setiap negara ada yang menghadiri sebanyak 10-an orang, 100-an orang, bahkan ada juga hanya mewakili 1 orang untuk negara asalnya. 

Ini adalah pertemuan tahunan, terkhusus orang lama dalam dakwah. Dakwah yang kami maksud disini adalah dakwah wa tabligh yang telah merambah ke seluruh jagad raya. 

Pergerakan dakwah ini, bahkan telah sampai ke kutub utara yang didiami oleh suku Eskimo. Suku yang tidak pernah merasakan hawa panas. Bagi mereka hawa panas matahari hanyalah sebuah ilusi dan isapan jempol semata.


Yah, inilah pergerakan dakwah yang masif. Tidak pernah terikat dengan harga Dollar. Tidak terikat dengan embargo ekonomi dan juga tidak terikat dengan siapa pemimpin negaranya. Tidak peduli, sang Presiden suka atau tidak. Membenci atau tidak. Diboikot, diintimidasi, dihina, dicaci maki, tetap mereka hadapi dengan senyuman. Dakwah tetap berlanjut, bahkan di daerah komunis atau negara atheis seperti China, Korea, Jepangpun dakwah tetap eksis dan bercokol di sana. Walaupun, tidak semudah pergerakan dakwah di wilayah mayoritas muslim. 

Semua ujian dan hambatan itu dianggap seperti bumbu penyedap dalam masakan. Hemmmm, memang seperti itulah para Nabi dalam berdakwah. Tidak terkesan dengan kondisi pro-kontra dalam menjalankan misi suci itu. Mereka ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Allah swt di dalam QS: Attaubah: 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

Ada 5 komponen kelebihan pada para lelaki yang biasa memakmurkan rumah-rumah Allah dipermukaan bumi yang dikupas pada ayat tersebut. Yang pertama, karena beriman kepada Allah. Kedua, juga dilandasi keimanan akan adanya hari berbangkit, akhirat. Ketiga, orang yang mendirikan shalat. Keempat, mereka juga menunaikan zakat dan kelima adalah mereka bukan tipe orang cengeng dan Cengengesan. Tapi, mereka orang yang tampil di depan dalam membela agama Allah. Tidak pernah takut kepada celaan kaum pencela. Inilah, ciri-ciri pemuda masjid itu. 

Pada pertemuan yang dihadiri ribuan peserta itu. Tampilah seorang tokoh tua dalam kerja dakwah nubuwwah ini. Nama beliau Haji Ahmad Anshori Bhawalphur Dab., Dalam tausiah, muzakaroh, nasehat indah beliau adalah, "Kalian tahu, Allah jadikan kalian orang lama dalam kerja Nubuwwah ini, karena perubahan-perubahan dunia baik atau buruk itu tergantung kamu. Kehidupan kamu adalah cermin bagi masyarakat. Keadaan politik, keadaan iklim, cuaca, hujan dan panas Allah yang rubah sesuai dengan keadaan amalan-amalan kamu." Allahu Akbar!.

Betapa pentingnya orang lama disisi Allah swt. Para awalun alias orang lama ini adalah orang yang berada di shaf awal kerja dakwah ini. Jika shaf awal itu lurus. Maka, shaf kedua, ketiga dan seterusnya semua akan lurus. Tapi, sebaliknya jika shaf pada generasi awal saja hancur-hancuran. Maka, jangan ditanya bagaimana nasib shaf kedua, ketiga, seterusnya ke shaf akhir pasti makin ke belakang makin hancur susunan shafnya. 

Ketika satu jamaah dari Pakistan sedang bergerak di wilayah Afrika. Mereka telah melalui wilayah yang sulit. Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah hutan yang "ditakuti" oleh sebagian orang. Hutan yang konon, banyak hewan buas, manusia kanibal, lumpur hidup yang menyedot orang yang lewat di atasnya. Hemmmm, sejuta informasi yang menceritakan tentang angkernya Amazon. Sebelum memasuki hutan tersebut, para jamaah akan transit di sebuah desa. Mungkin, dari desa itu mereka bisa menyiapkan segala sesuatunya yang mereka butuhkan sebelum memasuki hutan. 


Begitu sibuknya jamaah. Sehingga, untuk mencuci pakaian mereka saja tidak sempat. Maklum, daerah yang mereka lewati bukan masjid elit yang indah seperti di perkotaan yang telah hidup suasana agamanya. 


Kalau di kota yang antusiasme masyarakat terhadap agama mulai tumbuh. Subhanallah, apa-apa serba tombol. Mau masak, khidmat, ada dapur yang disiapkan terpisah. Ada rice cooker tinggal colok. Mau mandi atau wudhu, tinggal putar keran air. 


Semua serba mudah, tapi ketika di wilayah yang miskin masyarakatnya. Kalau di rumah warga ada toilet di dalam rumahnya, itu sudah dihitung elit dan mapan. Semua serba alam. Buang hajat langsung meluncur ke hutan yang kita tidak tau pada waktu malam yang gelap bahwa di belakang kita ada ular atau apa. Serba tidak pasti. Belum lagi mau istinja, jauh dari mata air. Kalaupun, kita buang hajat di daerah sungai, sangat rentan terhadap serangan buaya sewaktu-waktu. Hem, itulah sedikit gambaran tentang keadaan alam masyarakat miskin Afrika. Jadi, wajar kalau ada wilayah yang mereka sedikit kesulitan untuk hanya sekedar mencuci pakaian. 

Hari itu, mereka bergegas pindah ke perkampungan paling ujung sebelum terobos ke dalam amazon. Didalam pikiran telah mengharu-biru memikirkan pakaian yang serba kotor. 

Ketika mereka akan memasuki kampung yang di tuju terlihatlah sekumpulan anak desa yang menyambut berlarian saling kejar satu sama lain. Diantara riuhnya anak-anak itu. Terdengar yel yel. "Oh tukang cuci lewat... oh tukang cuci lewat". 

Amir atau ketua rombongan berfikir keras, "Kenapa anak-anak ini meneriaki mereka dengan panggilan tukang cuci". Setelah mereka tiba di kampung yang dituju. Amirnya bertanya, "Mungkin diantara kita ada yang berfikir untuk mencuci pakaian di sini...?" Kebanyakan dari anggota jamaah mengaku kalau memang mereka sudah sudah ada dalam benak masing-masing untuk mencuci setelah tiba di masjid atau kampung yang dituju.

Amirnya berucap, "Astagfirullah al-Adzim. Seharusnya yang kita fikir adalah bagaimana orang di kampung yang dituju itu mendapatkan hidayah dari Allah. Bukan mengedepankan kepentingan pribadi. Allah...! Semoga Allah maafkan kita semua." Semua jamaah tertunduk kepalanya, sembari beristigfar kepada Allah atas kekeliruan yang mereka perbuat. Hem, demikianlah efek dan pengaruh dari fikir seorang da'i. Menembus batas, sampai ke relung hati yang paling dalam. 

Coba kita perhatikan, bagaimana fikirnya seorang Rasulullah saw., dulu beliau biasa menyendiri di gua hira di atas Jabal Nur atau Bukit Cahaya. Beliau sedih menengok ke arah Makkah pada malam hari sibuk dengan judi, miras, zina, penyembahan kepada berhala, bahkan disiang haripun seperti itu. 

Disebabkan fikir, risau dan kesedihannya itulah turunlah wahyu Ilahi. Mulailah usaha untuk membawa orang ke jalan yang diliputi cahaya syurgawi. Itulah efek fikir, dunia bisa berubah dengan sebab fikirnya orang-orang lama.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kita terpacu untuk tetap bertahan, maju terus untuk melaksanakan dakwah selain 2 menu yang telah kami sajikan akhir Juni lalu. Kami merangkumnya dalam "3 jamu pahit untuk sang da'i". 

1. Memahami Kerugian dakwah jika ditinggalkan


Dewasa ini, orang begitu paham. Kerugian apa yang didapat ketika para petani tidak lagi turun ke sawah. Para nelayan tidak lagi ke laut. Para pegawai tidak lagi ke kantor. Para buruh tidak lagi bekerja. Para siswa tidak lagi ke sekolah. Semua pasti tau bahwa yang terjadi adalah ketidak stabilan dalam segala segi. 

Produksi macet, harga ikan meroket, birokrasi macet, kebodohan merajalela. Hem, padahal ini baru usaha zahir saja, begitu berdampak buruk. Apalagi, kalau yang terhenti adalah "Perusahaan Hidayah". Pasti lebih banyak keburukan akan muncul dimana-mana. Walaupun kantor aktif, tanpa hidayah korupsi merajalela, pembunuhan, kriminalitas, kebodohan merajalela. Para nelayan, petani, buruh, pedagang menetapkan harga sesuka hatinya tanpa perikemanusiaan. Hem, lebih parahnya bukan hanya ketimpangan duniawi tapi lebih terancam adalah ketimpangan dan musibah di akhirat. Allah...! Lebih membinasakan.

Maraknya, keburukan demi keburukan terjadi di abad ini, penyebabnya adalah para da'i sudah tidak lagi berdakwah. Ada sebuah ungkapan orang-orang lama yang mesti kita cermati, "Lebih baik suatu negeri yang banyak ahli maksiatnya tapi ada satu dua da'i yang eksis setiap hari gencar melakukan dakwah. Semua orang didatangi, buat dakwah. Setiap hari diajak, dibujuk, dirayu supaya kembali ke jalan yang benar, ke jalan hidayah." Daripada "Suatu negeri yang banyak ahli taat dan sholeh tapi sisi sensitivitas dan peduli kepada pudarnya agama, dan amal agama telah sirna. Tidak lama lagi, akan lahir di negeri tersebut generasi yang ahli maksiat, pertumpahan darah, kerusakan di mana-mana. Bahkan, mereka akan bangga kepada dirinya yang berketurunan dari orang sholeh". 

Subhanallah, lihatlah bagaimana dulu Jazirah Arab yang begitu terkenal dengan kerusakan masa jahiliyahnya tapi ada da'i, ada kanjeng Nabi saw dibantu oleh satu dua sahabatnya. Allahu Akbar! Dunia langsung berubah. 

Sekarang, coba tengok orang-orang Bani Israel yang notabene adalah keturunan para Nabi tapi tidak lagi dakwah, masing-masing mengurus individu saja tanpa ada rasa kepedulian terhadap sesama, hilangnya kepedulian kepada pudarnya agama dan amal agama. Hem, sekarang telah berganti dengan generasi yang culas, tidak berperikemanusiaan, Biadab, bar-bar tanpa belas kasih membunuh jiwa yang tidak berdosa. Mereka melakukan penzaliman itu dengan penuh kebanggaan bahwa mereka manusia terbaik, keturunan para Nabi." Hem, miris. Itulah efek ketika usaha hidayah ditinggalkan.


4. Membuat dan mencari suasana

Dalam mazhab atau pendekatan dakwah ada 2 cara yang biasa dilaksanakan. Pertama adalah mazhab dakwah para Nabi, lebih aktif dalam mendatangi dan membentuk suasana ketaatan.



وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (QS Yunus: 47). Ini adalah mazhab dakwah para Nabi dan Rasul. 
Kedua adalah mazhab dakwah ashabul kahfi. Mungkin anda pernah mendengar mengenai kisah tentang ashabul kahfi. Mereka rela meninggalkan kesenangannya demi menjaga iman mereka. Mereka mengasingkan diri di dalam gua yang dalam, sampai datang pertolongan dari Allah kepada mereka. Mungkin, metode ini nanti yang akan dipakai ketika kemunculan Almasih Ad Dajjal. Semua orang akan berlari, bersembunyi demi menjaga keimanan yang bercokol di dalam dada. 
Sebelum masa itu tiba. Marilah kita membuat suasana ketaatan yang masif, sehingga akan mempengaruhi masyarakat sekitar untuk ikutan menjadi taat. Langkahnya gimana...? Buatlah diri kita senyaman mungkin dalam ketaatan, sibukan diri kita dalam taat, sampai kita begitu menikmati setiap detik ketaatan kita, kemudian kita bawa kenalan kita, handaitaulan kita, keluarga kita dalam suasana ketaatan tersebut. 
5. Mahabbah dan introspeksi diri

Kunci agar dakwah yang kita buat diterima oleh masyarakat adalah rasa mahabbah, cinta, kasih dan sayang kepada umat. Nabi saw adalah Nabi yang begitu pengasih ayatnya telah kami sampaikan sebelumnya pada QS Attaubah: 128 edisi lalu. Tentang 2 Menu Untuk Kebahagiaan Da'i ketika terpuruk.


Dalam ayat yang lain Allah swt menjelaskan dengan redaksi yang berbeda. 
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159).
Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa akhlak Rasulullah saw adalah akhlak paling agung. Sempat kami singgung sedikit dalam pembahasan "Menjadi Kekasih Allah", pada pembahasan yang lalu. 


"Dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) memiliki akhlak yang agung/ Adzim." (QS Al-Qalam : 4). 

Baginda Rasulullah saw., yang sudah begitu sempurna, bahkan mendapatkan predikat Al-Azim yang maknanya adalah begitu agung dan luhur. Padahal gelar adzim adalah salah satu dari Nama dan Sifat Allah swt. Untuk manusia yang super agung akhlaknya itu masih diingatkan lagi oleh Allah swt., "Sekiranya kamu berlaku kasar dan bengis hati. Maka, orang-orang jahiliyah itu akan berlari pergi meninggalkan mu."

Yah, itulah keajaiban akhlak. Dengan akhlak yang luhur dan agung orang yang hati sebebal apapun, tetap suatu waktu akan luluh hatinya dan berubah menjadi cinta kepada kita. Menjadi cinta kepada agama Allah. Semua tahu tentang penentangnya Umar bin Khattab ra., sebelum memeluk Islam dan bagaimana kehebatannya dalam mencintai dan menegakan agama Allah setelah hidayah menyapa hidupnya.


Sebelum kita tutup muzakaroh dan diskusi kita ada satu poin yang ingin kami sampaikan, yakni tawadhu. Berapa banyak orang yang telah melalui jalan dakwah ini, tanpa ia mengontrol dirinya dengan kontrol yang ketat maka dia telah berbangga diri. Hem, merasa paling keren karena telah dakwah. Memang, mensyukuri nikmat sebagai da'i adalah satu sisi tapi bukan berarti kita terlena dengan anggapan, "saya da'i, saya hebat." 

Wahai saudaraku, ketika Baginda Rasulullah saw, berhasil menaklukan kota Makkah dengan damai tanpa perang. Padahal kita mengetahui bahwa bagaimana permusuhan kaum kafir Quraisy kepada Islam dan kaum Muslimin. Dengan prestasi yang gemilang itu, turunlah sebuah surat. 

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat. (QS an-Nasr/110 : 1-3)

Apa yang terjadi pada diri Nabi saw., ketika berbondong-bondong orang masuk ke dalam Islam. Nabi saw., mengendarai untanya dengan menundukkan kepala. Tidak mendongakan kepala. Beliau masuk dengan menangis. Sampai diriwayatkan, begitu rendahnya kepala Nabi saw., ditundukan sehingga lebih tinggi punuk unta Baginda Nabi saw daripada kepala beliau yang mulia. Subhanallah. 

Bukan hanya itu, Allah perintahkan diakhir surat An Nashr itu, Wastagfir, Mohon ampunlah dan bertaubat kepada-Nya. Kalau kita lihat, Rasulullah adalah manusia paling sempurna, tidak ada dosa, selalu dalam penjagaan Allah dari segala lupa dan kesalahan. Beliau yang paling mujahadah dan penuh pengorbanan untuk melaksanakan tugas suci dakwah ini. Tapi, ketika dakwahnya berhasil, bukan menari untuk merayakan, tidak, beliau menangis bertawadhu kepada Allah. Mengakui kelemahan diri, "Ya Allah, kalau bukan tanpa rahmat dan pertolongan Mu aku ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa."

===========
Bahan Bacaan:
Al-Kandahlawi, Zakariyah. 2004. Hikayat Para Sahabat. Bandung. Pustaka Ramadhan

Al-Kandahlawi, Yusuf. 2000. Perikehidupan Para Sahabat r.hum. Bandung. Pustaka Ramadhan

Al-Kandahlawi, Zakariyah. 2004. Himpunan Fadhilah Amal. Bandung. Pustaka Ramadhan. 

Thursday, July 5, 2018

Khutbah Jumat Pekan ini: Sepenting itukah Sholat...?


By
Mujiburrahman Al-Markazy


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ سَبِيْلُ الفَلَاحِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
وَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ المُتَّقِيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمَ
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
وقال الله تعالى
وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ‌ فَإِنَّ اللَّـهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Hadirin Sidang Jumat yang semoga diberkahi dan dirahmati Allah...!

Tiada kata seindah zikir, memuji kemahasucian Allah. Berkat karunia dan rahmat-Nya Alhamdulillah kita diberikan kelonggaran, taufik, kesehatan untuk melaksanakan kewajiban utama dari Allah swt., yakni shalat jumat secara berjamaah. Sesibuk apapun kita, ketika datang perintah Allah maka semua pekerjaan dan aktifitas kita, dihentikan demi menunaikan kewajiban Shalat. Allahu swt., perintahkan secara khusus untuk meninggalkan semua pekerjaan kita demi menunaikan shalat jumat. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Jumu`ah : 9)

Alim-ulama menyampaikan walaupun disini yang disebut adalah "Bersegeralah mengingat Allah." Maksudnya, bersegeralah mengerjakan sholat jumat. Bahkan ayat ini walaupun secara khusus menyebutkan sholat jumat tapi maknanya semua sholat. Sebab, sholat adalah cara terbaik untuk mengingat Allah swt. Allah swt telah mensinyalir. 
 وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ
"Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Ku." (QS Thoha: 14). 

Maka, sesibuk apapun pekerjaan kita, Allah menggunakan lafaz "jual-beli" bukan hanya berkonotasi kepada jual beli semata, tapi lebih luas daripada itu adalah semua aktifitas yang kita lakoni. Tinggalkan. Demi memenuhi perintah Allah yang agung ini, yakni shalat. Alhamdulillah, diantara orang yang menjalankan amanah ini adalah kita. Suatu kesyukuran yang besar. "Mengingat Allah itu sangat besar nilainya disisi Allah". (Qs: Al-Ankabut: 45).

Shalawat beriring salam senantiasa tercurahkan kepada kekasih tercinta, pengayom dan pembimbing terbaik, Baginda Rasulullah saw., beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya yang telah gigih memperjuangkan Islam sampai ke haribaan kita. Semoga, kita menjadi bagian dari generasi estafet perjuangan leluhur kita yang mulia itu. Aammiin. 

Sidang Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Tidak lupa khatib mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah swt. Dialah pemilik kemuliaan dan keagungan yang dikaruniakan kepada orang yang bertakwa. 
وَِللهِِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ ~

Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun: 8).

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Setiap orang ingin mulia, tapi berapa banyak orang yang salah dalam menempuh jalur mencari kemuliaan itu. Ada yang mencari kemuliaan lewat pangkat. Apapun diusahakan yang penting pangkat didapat. Rumus 3 HS dipakai (Halalkah Haramkah Hantam Saja). Begitupun, ada yang mencari kemuliaan lewat jalur harta, semua dibenarkan yang penting kaya. Ada yang mencari kemuliaan lewat jalur jabatan, wanita, maju pertanian dan ekonomi tanpa mempedulikan sumber kebahagiaan hakiki. Tanpa memperhatikan agama dan amal agama. Hemmmm, pasti kebinasaan dan kehancuran yang didapat. Wallahi, pasti hancur. 

Hari ini, orang begitu cueknya dengan agama dan amal agama, sehingga sholat yang merupakan ibadah paling utama dari semua perintah ia tinggalkan tanpa merasa bersalah. Hemmmm, hanya alasan materi ia tinggalkan sholat. Si miskin mengatakan bagaimana saya mau sholat saya inikan miskin. Si kaya mengatakan, bagaimana saya mau sholat sedangkan saya ini sibuk. Mengurus harta ini juga amanah. Si pejabat mengatakan bahwa bagaimana saya mau sholat saya inikan pejabat yang mengurus urusan banyak orang. Ini juga perintah Allah. Ia tidak sadar bahwa ketika datang perintah Allah yang namanya sholat, maka semua perintah yang lain gugur, demi hukum. 

Nanti, setelah selesai sholat baru melekat lagi perintah Allah yang lain sesuai dengan kesibukan dan profesi kita masing-masing.
 
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumuah: 10). 

Yah, demikianlah Allah swt telah memberikan proporsional waktu bagaimana menajemen yang tepat. Semua perintah Allah, penting. Tapi, ketika datang perintah Allah yang bernama sholat. Semua kesibukan ditinggalkan. 

Sidang Jamaah Jumat Rahimakumullah. 

Pernahkah kita membayangkan, jika ada ditengah malam, derasnya hujan, sekira jam 1 dinihari. Suara petir bergemuruh diselingi dengan kilat menyambar. Terdengarlah, suara orang tua yang mengetok pintu kita mencari bantuan. Setelah dibuka ternyata orang tersebut puntung tangannya ia minta makan sekedar untuk mengganjal perut kemudian pergi. Apa yang akan kita perbuat...? Pasti dengan iba akan kita tolong. Bagaimana, yang cacat adalah 2 kakinya...? Tetap kita akan tolong. Bibirnya sumbing...? Pasti juga kita tolong. Tapi, bagaimana perasaan kita jika yang ketok rumah kita itu manusia yang tanpa kepala. Ia memohon, "tolong bukakan saya pintu, beri saya sedikit nasi."
Apa yang muncul di benak kita...? Pasti satu malam kita tidak bisa nyenyak tidak tidur. Seluruh apa saja yang bisa kita baca, akan kita baca demi meredam rasa takut kita. 

Jamaah Rahimakumullah.

Padahal, Nabi saw telah mengisyaratkan bahwa, Kedudukan sholat dalam Islam laksana kedudukan kepala pada badan."

قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد
(Hadits yang dikutip dari Kitab Kanzul Ummal jilid 7, hadits no.18972). Hari ini, kadang kita hanya sibuk mengurus satu amalan, padahal mungkin kedudukannya seperti kaki, ada yang kedudukannya seperti tangan, ada yang seperti mata dsb. Tapi, kita tidak memperhatikan sholat dengan sungguh-sungguh. Padahal, sholat disisi Allah sangat besar laksana kedudukan kepala pada badan. Dalam artian seseorang yang tidak mengerjakan sholat atau sholat hanya asal-asalan dan tidak tertib adalah tidak akan dianggap dia telah berbuat kebaikan. Dengan kata lain, semua amalnya ditolak alias tidak diterima oleh Allah swt. Seperti kita memandang orang yang bertamu tanpa kepala tadi. Walaupun ia merengek semalaman di depan pintu rumah kita ataupun ia mengetok-ngetok jendela kamar kita. Tetap kita tidak akan menganggap dia sebagai manusia. Malah kita akan jijik bertemu dengan sosok manusia tanpa kepala tersebut. 

Demikianlah dengan sholat jika kita tidak menjaga sholat kita. Semua asset amal yang pernah kita bangun hanya dianggap pencitraan dan kamuflase belaka. Nabi saw bersabda, 

 إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا
Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Betapa pentingnya nilai sholat disisi Allah. Maka, marilah kita jaga sholat kita sendiri disamping kita menganjurkan orang lain untuk menjaga sholatnya. "Perintahkanlah ahli keluarga mu untuk sholat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepada mu, tapi Kamilah yang menjamin rezeki buat kamu. Dan akibat yang baik itu akan dialami oleh orang yang bertakwa." (QS Thoha: 132)

Sidang Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Hari ini, orang asal-asalan dalam mengerjakan sholat dengan anggapan, "Ah, yang penting saya sudah sholat". Ini anggapan yang keliru. Ini anggapan yang penting sudah sholat tanpa memperhatikan bagaimana cara sholat yang seharusnya. 

Hadirin sekalian.

Seharusnya, kita harus malu kepada orang munafik yang hidup se-zaman dengan Rasulullah saw. Di zaman itu, banyak orang munafik yang sholat. Orang munafik adalah orang yang murni kafir hatinya tapi berpura-pura seperti Islam dengan bersyahadat dan mengerjakan sholat. Cuman, di zaman Baginda Nabi tidak ada lampu pada malam hari. Jadi, orang munafik beranggapan bahwa, "Kalau waktu Isya dan Subuh suasana masih gelap. Jadi, Nabi dan kaum muslimin tidak akan lihat kalau saya tidak muncul di masjid untuk sholat." Sehingga, Nabi tercinta Muhammad saw., bersabda: 
لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً
Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).J
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Mari kita koreksi diri kita. Tengok hati kita masing-masing. Tanya kepada diri sendiri, "saya ini, munafik atau tidak...?" Orang munafik saja sholat berjamaah di masjid walaupun cuman 3 waktu, Zuhur atau Jumat, Sholat Ashar dsn sholat Maghrib 3 waktu. Ya Allah...! Kita ini mengaku paling beriman. Membanggakan keturunan dan nenek moyangnya sebagai ahli agama. Sementara, kita jangankan 3 waktu sholat seperti orang munafik di zaman Nabi. Hemmmm, kadang satu waktupun kita tidak laksanakan sholat secara berjamaah di masjid. Allah...! Yang lebih parahnya lagi, ada orang mengaku Islam tapi jangan mau melaksanakan satu waktu sholat berjamaah di masjid. Satu waktu sholat di rumah saja tidak. Hemmmm, tapi itu bukan orang yang hadir di sini. Kami yakin dan percaya bahwa semua orang yang hadir pada jumat ini adalah orang-orang yang ahli sholat berjamaah 5 waktu di Masjid. Hemmmm, Subhanallah. Semoga Allah istiqomahkan kita sebagaimana Nabi Ibrahim as, yang berdoa kepada Allah agar dirinya dan seluruh keturunannya adalah orang yang menjaga sholat dengan sungguh-sungguh. Menjaga sholat sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mengerjakannya. Aammiin. 
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
•Ya Rabb, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS Ibrahim: 40) 
=============