Follower

Thursday, May 16, 2019

Khutbah Jum'at: Perbedaan adalah Kekuatan


Oleh:
Mujiburrahman Al-Markazy

Hadirin Sidang Jum'at Rahimakumullah

Syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada. Kemudian Dia pula yang menjadikan kita terlahir dari sebab pancaran dari sulbi kedua orang tua kita. 

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (QS. Al-Insan: 1)

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan: 2)

Dari sebab perbedaan antara ibu dan bapak kita, maka lahirlah kita. 

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah Saw, sang kekasih yang tidak pernah kering cintanya kepada ummat. Demi keselamatan dan kebahagiaan umatnya di hari kelak, ia rela menerima berbagai macam makian dan cemoohan. Merugilah kita jika tidak senantiasa bershalawat dan menapaki jalan hidup beliau. 

Sebagai khatib tidak lupa mengingatkan diri dan jamaah sekalian untuk meningkatkan takwa kepada Allah SWT., hanya dengan takwa saja, perbedaan jadi pilar kekuatan, dengan takwa susah berganti jadi bahagia, dengan kesenangan tetap terjaga dalam koridor kebaikan. 

Adapun judul khutbah kita pada kesempatan ini adalah, "Perbedaan adalah Kekuatan".

Hadirin sidang jum'at yang Allah banggakan. 

Jika kita merenung sejenak tentang keberadaan kita di dunia ini. Dapatlah kita mengambil hikmah Ilahiah, bahwa segala yang terhampar di seantero jagat ini dan nampak begitu indah, disebabkan oleh rangkaian perbedaan dari sekian elemen dan partikel. 

Masjid kita yang begitu megah ini tersusun dari partikel yang berbeda, ada batu, pasir, besi, air. Perbedaan itu menguatkan. 

Jika kita berjalan di taman, nampak warna-warni, ada merah, kuning, jingga, hijau, hijau muda, hijau tua, ada daun yang mulai kekuningan, semua itu berbeda. Perbedaan itu indah. 

Jika kita melihat setiap hewan, ada kucing jantan dan betina, sapi jantan dan betina, muda jantan dan betina, bahkan manusia ada lelaki dan perempuan. Itu semua rangkaian perbedaan. Jika tanpa perbedaan itu, kita akan punah. Ternyata perbedaan itu, melestarikan kehidupan.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Ditambah lagi firman lainnya. 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Hadirin Sidang Jum'at yang Allah SWT., cintai

Apa hikmah perbedaan-perbedaan dari ciptaan-Nya ini?

Poin pertama adalah agar kita, لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ menjadi orang yang senantiasa berdzikir, mengingat kehebatan Allah, padahal jika dia mau dia bisa menciptakan manusia seperti batu, yang sama semua, mudah bagi Allah, jika Dia berkehendak. 

Poin kedua, dari hikmah penciptaan adalah kita harus saling memahami dan mengenal. Ada suku Bugis, Tolaki, Buton, Muna, Jawa, Sunda, Papua, Maluku, Padang, Melayu. Sampai tingkat negara dunia, India, Arab, China, Amerika dan lain sebagainya. Untuk kita saling memahami dan saling kenal mengenal. Sebab, sejatinya, "Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya." Setiap daerah dan suku memiliki adat dan istiadat yang berbeda, mari kita hormati. 

Kalau kita jabarkan lagi kedalam perbedaan kepahaman dan ideologis. Ada pula dalam perbedaan mazhab, Ada Mazhab Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hambali. Semua memiliki kelebihan masing-masing, mari kita saling memahami dan menghormati.

Poin ketiga dari hikmah Ilahiah dalam perbedaan ciptaan Allah adalah yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa dan berbakti kepada-Nya. Bukan suku A, B, C dan seterusnya. Bukan pula mazhab A, B, C dan seterusnya. Siapa saja yang paling bertakwa, menunaikan ketaatan Ibadah vertikal langsung kepada Allah dengan memperbanyak amalan sunnah dan menjaga amalan fardhu. 

Selain itu, ia menjaga ibadah horizontal kemasyarakatan. Menunaikan hak orang tua, bos, bawahan, tetangga, mertua, menantu, melunasi hutang, tepati perjanjian, tidak mengurangi dan menghalangi orang dari haknya, semua ibadah horizontal dilaksanakan semata mencari keridhaan Allah. Itulah orang yang paling mulia.

Jamaah sidang jum'at yang berbahagia. 

Hari ini, kita melihat hiruk-pikuk yang belum terjadi sebelumnya. Perbedaan yang kelihatan sepele mau diasah dan diasuh supaya muncul konflik yang berkepanjangan. Padahal kita adalah orang yang sudah banyak makan asam garam mengenai perbedaan. Tidak tanggung-tanggung, moto negara kita pada Burung Garuda, "Bhineka tunggal Ika." Walaupun berbeda tapi satu jua. 

Memang benar gesekan budaya, ideologi dan lain sebagainya, itu ada dalam dialektika kehidupan bermasyarakat. Ada dua jenis gesekan, ada gesekan yang melahirkan kekuatan dan kelestarian. Adapula gesekan yang melahirkan perpecahan. 

Sejak zaman Baginda Rasulullah Saw, beliau telah meminimalisir gesekan negatif dalam masyarakat kala itu. Beliau membuat terobosan besar, selain membentuk kesatuan masyarakat yang kuat pun melahirkan kekuatan ekonomi ummat yang luar biasa. Beliau persaudarakan Suku Auz dan Khazraj, Muhajirin dan Anshar. Begitu rekatnya perbedaan mereka sampai mereka merasa bahwa persaudaraan se-ukhuwah itu bisa saling memberikan waris, jika meninggal nanti. 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-Imran: 103)

Jelaslah bahwa perselisihan akan membawa diri kita ke jurang-jurang neraka. Baik neraka di dunia dalam artian kita akan semakin lemah dan sulit, apalagi sampai dimasukkan ke neraka keabadian. نعوذ بالله
Hadirin sidang jum'at rahimakumullah

Untuk menjaga persatuan dalam keberagaman yang dengannya kita akan menjadi indah, kuat dan lestari. Maka kita harus memahami prinsip-prinsip persatuan itu sendiri. 

Jika dalam bertetangga kita berbenturan budaya, maka bijaksanalah dalam memandang dan memahami, sampaikan pada diri sendiri, "Ini adalah khazanah keindahan negara ku." Jika ada gesekan pandangan dalam madzhab, hormatilah dan sampaikan kepada diri sendiri, "Ini adalah kehebatan dari tingginya kepahaman ulama dalam Islam." Hargai pendapatnya dan cintai pengikutnya. Jika dalam kehidupan berbangsa kita terdapat perbedaan pilihan dan pandangan politik, dan diskusi tetap tidak menemukan titik temu, maka katakanlah pada diri sendiri, "itulah pilihan politik saudara saya, yang penting kita tidak berkonflik." 

Pada prinsipnya kunci persatuan dalam keberagaman adalah takwa. Ia akan melahirkan sikap bijaksana yang tiada tara. Semakin takwa ia akan semakin bijak. Orientasi pikirannya senantiasa melihat kebijaksanaan Allah dalam setiap keadaan. Allah saja yang menciptakan seluruh makhluk, tapi Allah tetap berlaku baik di dunia bagi makhluk ciptaannya, tetap diberikan rezeki, dijamin keamanannya, tetap diberikan keturunan. Walaupun Dia yang Maha Tahu, nanti si Fulan ini akan buat durhaka dan kerusakan. Ia tetap dengan bijaknya memberikan peringatan agar tidak berlaku zalim. Sebab hari pembalasan itu ada. 


وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا


"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (QS. Al-kahfi: 29)

Allah tidak peduli dia mau beriman atau mau kafir, terserah. Cuman, konsekuensi logisnya setiap pilihan ada efeknya, apakah positif atau negatif. Tugas orang yang beriman hanya sekedar mengingatkan, mengenai dia mau atau tidak itu tergantung hidayah dari Allah. Allah tidak paksakan kalau hatinya tidak mau, jika dia mau itulah hidayah. Jika tidak mau, biarkan saja tetap ingatkan dengan lembut serta doakan dia.

ﻭَﺫَﻛِّﺮْ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَﻯ ﺗَﻨْﻔَﻊُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ 

“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat: 55)

Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara
12 Ramadhan 1440 H
17 Mei 2019

No comments:

Post a Comment