Follower

Wednesday, May 15, 2019

Ramadhan Yang Sama; Ada Yang Dapat Rahmat dan Ada Yang Dilaknat


Oleh:
Mujiburrahman Al-Markazy

Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi dengan keberkahan. Sejak awal starting memasuki bulan ini, kita telah disuguhkan dengan berbagai kenikmatan dari Allah SWT. Para alim ulama punya kebiasaan berdoa kepada Allah agar disampaikan oleh Allah untuk memasuki bulan yang mubarak ini. Bagaimana tidak, Rasulullah Saw., seorang teladan terbaik pun mencontohkan hal yang sama. Beliau telah berdoa dua bulan sebelum memasuki Ramadhan,  yakni pada Bulan Rajab dengan doa.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab ini dan Bulan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke Bulan Ramadan.” (HR. Ahmad)

Keberkahan bulan berjalan mulai detik pertama hingga detik terakhir yang disempurnakan dengan menunaikan Shalat Ied, yang dengannya kita keluar dari Ramadhan menjadi pribadi yang takwa dan diampunkan dosa-dosa kita. Sebagaimana telah kita maklumi bersama bahwa bulan ini mempunyai tiga babak. Babak pertama adalah babak rahmat, babak kedua adalah maghfirah dan yang terakhir adalah itqum minannar, pembebasan dari api neraka.

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

"Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah dan penutupannya adalah pembebasan dari api neraka." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Sahihnya, walaupun sebagian ulama mendha'ifkannya)

Terlepas dari sahih tidaknya hadits tersebut, intinya tidak bertentangan esensinya dengan kandungan Ramadhan itu sendiri jika dibandingkan dengan hadits sahih yang lain. Hadits ini tidak bermakna pembatasan, hanya menjelaskan keadaan dalam bulan yang mubarak ini. 

1. Sebab Orang Dirahmati, Diampuni bahkan dibebaskan dari Siksa Neraka

Jika kita bercermin dengan sekian banyak hadits dan ayat tentang keutamaan Ramadhan. Dapat kita pahami bahwa, Ramadhan itu diberkahi bukan sekedar karena waktunya yang berkah tapi ada ritual amalan yang jika kita lakukan dengan tertib dan benar barulah menghasilkan keberkahan maksimal dari bulan yang ditunggu oleh semua orang shaleh itu.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, mengharapkan pahala dan janji Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)

Jelas, asasnya adalah berpuasa disertai perasaan ihtisab. Ihtisab berasal dari kata hisab, yang artinya menghitung, atau mengharapkan sesuatu yang sudah dia duga sebelumnya. Ihtisab bisa dua sisi, pertama menghitung jumlah dosa yang pernah ia lakukan sembari beristighfar kepada Allah azza wajalla. Sisi kedua adalah menghitung dengan perkiraan mungkin dia akan mendapatkan pahala sekian dan sekian, seperti pekerja yang selama bekerja giat dan termotivasi karena mengharapkan imbalan yang telah ia ketahui sebelumnya sembari mengharapkan bonus yang lainya jika bosnyab menyukai pekerjaannya. Kontan saja, aktivitas puasa sembari ihtisab seperti ini akan menggenggam kemampuan dari Sang Maha Raja. 

Adapula penjelasan ulama tentang fase Ramadhan tersebut adalah gambaran tiga tingkatan manusia dalam Islam. Ada orang yang selalu taat dan tidak pernah maksiat, ada yang walaupun taat tapi masih juga maksiat dan ada tipe ketiga, jarang taat tapi selalu bermaksiat dan melakukan disa-dosa besar.

Bagi orang kelompok pertama mulai dari detik pertama di hari yang mubarak itu ia telah dirahmati full selama sebulan. Makanya dirahmati adalah disayangi, dan dicintai oleh Allah sejak awal bulan yang penuh berkah ini. Manusia jenis kedua adalah dengan keberkahan puasa yang ia rutinkan ditambah dengan amaliah sunnah yang ia istiqomahkan sejak awal puasa maka, ia layak untuk diberikan keampunan atas dosa-dosanya di pertengahan puasa itu. Sedangkan orang jenis ketiga adalah pendosa besar, semenjak awal puasa ia telah memulai rangakaian puasa dengan ihtisab dan menjalankan ibadah Nafilah lainnya, sehingga fase yang ia lalui selama 20 hari itu menunjukkan taubatnya yang sempurna, maka ia layak mendapatkan pembebasan dari api neraka.

Ada penjelasan lain lagi yang menyebutkan bahwa Allah membebaskan orang dari neraka sepanjang siang dan malam di bulan Ramadhan.

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam” (HR. Tirmidzi no. 682 dengan sanad yang sahih)

Juga hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ للهِ في كلِّ يومٍ وليلةٍ عُتَقاءَ مِنَ النَّارِ في شهرِ رمضانَ وإنَّ لكلِّ مسلمٍ دَعوةً يدعو بها فيُسْتجابُ له

“sesungguhnya di setiap hari dan malam bulan Ramadhan dari Allah ada pembebasan dari api neraka. dan bagi setiap Muslim ada doa yang jika ia berdoa dengannya maka akan diijabah” (HR. Ahmad 2/254, Al Bazzar 3142, Al Haitsami berkata: “semua perawinya tsiqah”).

Kalau kita perhatikan hadits tersebut tetap menganjurkan supaya pelaku kebaikan semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikannya. Para ahli maksiat disuruh taubat dan semuanya agar memperbanyak doa karena akan diijabah dengan garansi khusus.

2. Ada juga orang yang didoakan celaka oleh Nabi Saw., dan Malaikat Jibril as.

Dalam riwayat Imam Hakim, dan beliau menshahihkan sanadnya, beliau mengutip sebuah hadits, "Ketika Rasulullah Saw, menaiki tangga mimbar untuk berkhotbah Malaikat Jibril as, mendoakan, "Celakalah orang yang mendapati Bulan Ramadhan tapi ia tidak mendapatkan ampunan, Celakalah orang yang mendengar nama mu disebut tapi ia tidak bershalawat kepada mu, yang ketiga, celakalah orang yang menjumpai ibu-bapaknya yang sudah tua atau salah satu dari keduanya, tapi ia tidak bisa masuk syurga dengan sebab mereka."
Ketiga doa ini diaminkan oleh Baginda Rasulullah Saw. Ini hanyalah mahfum hadits bukan terjemah harfiahnya.

Dalam riwayat yang lainnya bahwa beliau saw, diperintahkan untuk mengaminkan doa tersebut. Begitu keras dan keramatnya doa tersebut.

Mari kita pelajari dari paling akhirnya. Poin ketiga adalah doa kecelakaan kepada anak yang durhaka kepada ibu-bapaknya atau salah satu dari keduanya. Jelas ini pelanggaran besar dan banyak ayat yang menjelaskan tentang itu.

Poin kedua adalah orang yang tidak bershalawat kepada Rasulullah Saw ketika nama beliau disebut. Apakah bershalawat setiap mendengar nama brlibe adalah wajib? Para ulama ikhtilaf, ada perbedaan pendapat, tapi tidak ada yang ragukan alias sepakat bahwa, bershalawat kepada beliau Saw, seumur hidup sekali adalah kewajiban. Tidak ada satu ulama pun yang menentang pendapat ini.

Poin pertama yang di doakan kecelakaan oleh Sang Jibril as, sebagai malaikat yang paling dekat dengan Allah SWT pun serta dilegitimasi dengan aminnya Rasulullah Saw, maka sudah jelas kebinasaan bagi orang tersebut. Siapakah mereka?

3. Ciri-cirinya
a. Suka berkata dusta, adu domba dan perbuatan keji

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan qaulaz zuur, perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Imam Suyuthi rah.a mengatakan bahwa qaulaz zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

b. Suka bicara sia-sia dan melakukan perkara yang menaikan syahwat

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim dengan sanad yang sahih)

Laghwu adalah perkataan dan ucapan yang sia-sia sedangkan rofats adalah perbuatan atau perkataan yang condong kepada meningkatkan ghaira syahwat. Ini sebagaimana penjelasan dari kitab Fathul Bari.

Coba perhatikan, puasanya jadi tidak bernilai padahal ia tidak melakukan dosa besar. Bagaimana jika puasa sambil melakukan dosa besar, seperti Meninggalkan Sholat fardhu dengan sengaja, membuka aurat dengan bangga, mengambil hak orang lain tanpa cara yang syar'i. Bagaimana mungkin Allah SWT mau pandang dengan rahmat kepada kita. Semoga kita terhindar dari dosa-dosa tersebut. Tidak mengherankan jika Rasulullah Saw, sabdakan,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dengan sanad yang hasan)

11 Ramadhan 1440 H/
16 Mei 2019
Wanggudu, Asera, Sulawesi Tenggara

No comments:

Post a Comment