Follower

Tuesday, October 2, 2018

Khutbah Jum’at Pekan Ini : "Berdamai Dengan Musibah"


By
Mujiburrahman Al-Markazy

Hadirin sidang Jumat yang dikasihi Allah.

Allah swt, satu-satunya zat yang menciptakan, selain-Nya tidak ada yang mencipta. Semua selain Dia adalah diciptakan. Allah satu-satunya zat yang Maha memelihara selain dia tidak ada yang memelihara. Semua dipelihara oleh-Nya. Dialah Allah satu-satunya zat yang Maha Memberikan rezeki. Selain Allah tidak ada yang memberi rezeki. Semua diberi rezeki dan dijamin rezekinya oleh Allah swt. Dia maha berkuasa mutlak, apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang Dia kehendaki tidak terjadi, tidak akan terjadi. Walaupun seluruh makhluk berkumpul jadi satu berusaha untuk memuliakan seseorang, jika Dia berkendak untuk menghinakan seorang itu. Maka, kehendak Allahlah yang terjadi. Sebaliknya, walaupun seluruh manusia berkumpul, bersatu padu untuk menghinakan seseorang, tapi jika Dia menghendaki untuk kemuliaan orang itu. Tetap, apa yang Allah kehendaki itulah yang terjadi. Kemuliaan akan menghampiri siapa yang Allah kehendaki.

Kita bersyukur kepada Allah, pada hari yang mulia ini. Sayyidul ayyam, penghulu dari semua hari, Hari Jumat ini. Kita dikumpulkan oleh Allah swt, ditempat yang paling mulia, yakni masjid ini. Guna melaksanakan ibadah yang paling mulia, yakni sholat Jum’at. Sholat adalah ibadah yang begitu agung, semua ibadah diterima oleh Rasulullah saw, di bumi, sedangkan sholat diterima oleh beliau saw, di langit, di Sidratul Muntaha berhadap langsung dengan Allah swt. Beliau saaw, diberikan undangan khusus, penjemputan khusus dan pengawalan khusus dari makhluk yang khusus, yakni Jibril as. Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita mentawajuhkan hati kita, menjernihkan fikiran kita, menenangkan gelora nafsu kita untuk bersimpuh kepada Dia yang Maha Mengetahui problematika kehidupan kita. Dosa dan amal kita diketahui dengan jelas.

Ibadallah, disamping kita bersyukur, marilah kita merenung sejenak mengintrospeksi diri tentang berbagai macam musibah yang datang laksana butiran tasbih yang terlebas dari untaiannya. Apakah sudah secepat ini dunia akan dikiamatkan oleh Allah? Ataukah ini cuman teguran dan sentilan ‘mesra’ untuk diri kita tentang jauhnnya diri kita dari rel-rel kehidupan yang telah dibuat oleh-Nya.

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia.

Shalwat serta salam senantiasa kita limpahlkan kepada Nabi terkasih, tauladan terbaik dan guru abadi sepanjang zaman, Baginda Rasulullah saw, yang dengan gigih dan teguh datang membawakan risalah suci agar menjalani kehidupan pada rel suci kemuliaan manusia. Beliau tidak peduli dengan cacian dan hinaan. Tidak peduli dengan bullian dan cercaan. Beliau tidak perduli dengan intimidasi, persekusi rencana eksekusi dirinya, yang beliau fikirkan adalah keselamatan umatnya bukan pada zaman itu saja. Melainkan sampai pada seluruh masa, tempat dan keadaan agar berkibar nilai kemanusiaan sejati, yakni Al-Islam. Marilah kita bersalawat kepada beliau. Semoga manfaat salawat kita kembali jua pada pangkuan kita berupa syafaat beliaun di yaumil mahsyar nanti.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah.

Tak lupa khatib mengajak diri khatib dan jamaah sekalian untuk senaantiasa meng-upgrade nilai ketakwaan kita kepada Allah swt, karena hanya dengan itulah semua persoalan bisa dilapangkan. Semua keruwetan bisa dilerai. Semua yang susah akan nampak mudah dan indah. Takwa merupakan kunci dan solusi dalam menapaki kehidupan.

Hamba-hamba Allah sekalian. Dalam kehidupan kita senantiasa ada dua keadaan. Ada keadaan yang kita sukai dan keadaan yang tidak kita sukai. Keadaan yang kita sukai itu biasa kita sebut nikmat atau karunia dan keadaan yang tidak mengenakan kita sebut musibah atau bencana. Baik karunia maupun bencana memiliki derajat dan level masing-masing, ada yang kecil dan ada yang besar. Ada yang secara perseorangan adapula yang menghampiri sekelompok orang atau masyarakat.

Padahal baik nikmat maupun musibah adalah ujian bagi orang yang beriman. Ketika Singgasana Ratu Balqis dipindahkan dalam sekejap mata oleh salah seorang ulama yang alim pada zaman Nabi Sulaiman As yang berjarak 2800 km dengan berat ratusan kg. Nabi Sulaiman ss, takjub seraya bertawadhu dan menyadari apa yang sedang terjadi.

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Ini adalah karunia dari sisi tuhanku untuk mengujiku. Apakan aku bersyukur atau menjadi kufur?” (QS. An Naml: 40). 

Begitupun sebaliknya, Allah swt, menceritakan tentang musibah-musibah yang datang baik kelaparan, hilangnya nyawa, harta, rasa ketakutan yang mencekam dan hilangnya sumber-sumber pencaharian, semua adalah ujian dari Allah swt.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.

Tidak setiap musibah yang datang dalam kehidupan kita bermakna ujian, bisa jadi bernilai, peringatan, dan azab, tergantung keadaan dari orang yang dikenai musibah. Bagi orang yang beiman itu adalah ujian, sebagaimana firman Allah swt.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?". (QS: al-'Ankabuut: 2).

Jadi, musibah adalah ujian keimanan. Apakah sudah teguh atau belum. Agar orang yang mengatakan dirinya telah beriman itu mengukur dan mengintrospeksi diri, sudah samapai dimana level keimanannya. Dari Al-Baqarah ayat 151 sebelumnya menyebutkan, “Wabasyiris Shoobiriin” = berikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Kata Imam Ibnu Abbas ra. “Sabar itu ada 3 jenis, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghindari dosa dan sabar dalam menghadapi musibah.”

Ibadullah. Jika kita korelasikan perkataan Imam Ibnu Abbas ra, tersebut dengan musibah gempa bumi yang silih berganti seakan menghujani bangsa dan negeri ini. Telah nampaklah siapa yang menjalankan perintah Allah, siapa yang melanggar hukum Allah dan siapa yang mengeluh dan berputus asa dari rahmat Allah.

Perintah bagi yang tidak terkena musibah untuk membantu saudara muslimnya.

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (HR Muslim: 2699).

Perintah bagi penguasa agar segera menggelontorkan bantuan. Khusus bagi yang terkena musibah mendapatkan tiga perintah sekaligus, three in one. Satu gempa bumi langsung mendapatkan tiga ‘mandat’ dari Allah perintah untuk tetap taat dalam menjalankan perintah Allah, kapan dan bagaimanapun keadaannya, sholat, baca Al-Qur’an dll. Perintah kedua agar tidak menjarah karena kelaparan apalagi mengambil yang tidak berhubungan dengan bahan makanan pokok dan perintah yang ketiga agar tetap bersabar dan mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah.

Hadirin sidang Jumat yang semoga senantiasa dimuliakan Allah

Musibah akan menjadi teguran kepada mereka yang pernah taat kemudian mulai kendor ketaatannya. Dulu sering tahajud sekarang sudah jauh. Dulu sering tilawah Al-qur’an, sekarang sudah jarang. Dulu sering menghadiri majelis ta’lim dan gemar bersedekah, sekarang sudah jarang. Dulunya semangat dakwahnya dan memperbaiki diri, sekarang sudah tidak lagi. Musibah bisa juga bermakna peringatan bagi orang yang lalai dalam menjalankan kewajiban, suka bolos dalam sholat, puasa belum genap 30 hari tanpa uzur yang dibenarka syariat, zakat mal masih sering ngeles untuk menghindari kewajiban.

Serta musibah bisa bermakna azab dan siksaan bagi mereka yang benar-benar durajana. Melanggar perintah dengan penuh kebanggan, bermaksiat dianggap sebagai trend. Semakin tinggi dan banyak level maksiat yang dia kerjakan semakin meningkatkan rasa bangganya. Bukan hanya itu, ia dan kelompoknya berusaha menggali dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Pendapat ulama yang dipelintir agar sesuai dengan syahwat duniawi mereka. Inilah kaum durjana. Dengan sebab musibah, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, lumpur yang menghanyutkan, meletusnya gunung merapi semua itu adalah azab yang disegerakan di dunia bagi mereka-mereka yang durjana sebelum mereka mendapatkan azab yang kekal diakhirat. Juga agar mereka segera kembali kepada Allah.

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan Sesungguhnya Kami jadikan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. As Sajadah: 21).
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Sebelum kita akhiri khutbah ini maarilah kita merenungkan sebuah hadits Nabi saw, di bawah ini.

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

"Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan maksiat sebagian mereka yang dilakukan secara tersembunyi. Sehingga mereka melihat kemungkaran itu telah nampak di tengah-tengah mereka. Mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika yang demikian itu mereka lakukan, maka Allah mengazab mereka secara merata." (HR Ahmad).

Sebagai contoh yang sudah terjadi di negara kita. Zina apapun bentuknya seperti pacaran anak muda maupun selingkuh kaum tua yang dipertontonkan dibanyak media, televisi, sosial media. Kasus kecurangan baik korupsi maupun riba telah demikian marak dan meraja lela. Wajar, jika bencana-bencana ini datang secara silih berganti, beruntun, laksana untuaian tasbih yang putus dari benangnya. Nabi saw, sabdakan.

 إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِ

"Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka." (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Marilah kita introspeksi dirikita sebelum penyesalan yang lebih besar nanti datang, ketika kita berdiri di mahkamah Allah mempertanggung jawabkan semua kewajiban yang mesti kita tunaikan dan kemaksiatan yang telah kita torehkan. Celakanya musibah demikian itu bukan hanya Allah swt, timpakan kepada kita diakhirat dengan azab yang pedih, tapi Allah akan segerakan di dunia sebelum kita mati.

Disamping kita memperbaiki diri kita. Jangan lupa, kita memiliki satu lewajiban, yakni amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagai apapun status kita, bendirilah untuk mengubah segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan. Nabi saw bersabda dalam sebuah mahfum hadits. “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah dirubah dengan tangannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan lisannya jika tidak mampu juga rubahlah dengan hati atau paling tidak membenci kemungkaran itu dengan hati dan mendoakannya agar diberikan hidayah oleh Allah.

Nabi memperumpamakan negeri kita ini seperti sebuah kapal. Jika ada yang melubangi kapal hanya untuk memperoleh air. Jika penduduk atau penumpang kapal itu mencegah perbuatan orang itu, maka semua akan selamat dan sampai ke tujuan. Namun, jika sebaliknya para penumpang kapal tidak berusaha mencegahnya, maka semua penumpang akan tenggelam dan karam di dasar laut. Seperti itu pula negara yang kita cintai ini. Jika sesama kita saling mengingatkan kekeliruan dan dosa disebagian kita maka semua akan selamat, tapi sebaliknya jika orang baik berdiam diri tidak mau mengingatkan kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian kita. Maka, semua kita akan celaka dan binasa. Musibah dan gempa bumi akan meluluh-lantahkan segalanya.

Maka dari itu jamaah Jumat rahimakumullah. Marilah kita bertaubat dan berbenah. Katakan kepada diri kita masing-masing.

“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”
“Taubatlah wahai nafsu!”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Asera, Rabu, 3 Oktober 2018, Pukul 11: 12 WITA

Sulawesi Tenggara. 

Thursday, September 27, 2018

Agar Wajahmu Senantiasa Cerah 1



By
Mujiburrahman Al-Markazy


Setiap manusia memiliki kesibukan yang seabrek setiap hari. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi. Waktu yang diberikan oleh Allah seakan tidak mencukupi untuk memenuhi sekian banyak jadwal kesibukan. Sehingga, ada yang berandai-andai untuk memiliki 36 jam dalam sehari semalam. Harapan itu hanya disebabkan oleh pola hidup yang serba instan dan pengharapan duniawi yang begitu tinggi, sehingga melupakan sisi-sisi kemanusiaan sejati, yakni sisi sosial dan spiritual.

Begitu banyak jadwal, begitu banyak angan-angan yang hendak dicapai, sehingga melahirkan tekanan hidup disebabkan oleh pola hidup yang tidak tertata lagi. Sisi kemanusian yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Dampak dari sekian banyak tekanan dalam kehidupan, sampai seseorang itu lupa untuk apa dia bekerja. Seakan hanya untuk memenuhi keinginan bos atau memenuhi keinginan klien. Tendensi ambisius yang begitu menggelora akan melahirkan pribadi kamuflase. Pribadi yang menampilkan kebaikan, jika ia mendapatkan kebaikan feed back. Kebaikan yang hanya diukur secara materi, bukan secara moriil apalagi spirituil.

Hati diliputi dengan tingginya angan-angan. Posisi, capaian prestasi, tendensi ingin memiliki barang mewah dan gaya hidup serba wah, telah mewarnai pola hidup. Bahkan untuk sekedar memberikan senyuman kepada tetangga, anak-anak, istri, apalagi teman sebangku pada kereta atau pesawat telah terlupa. Hidup dipenuhi dengan hitungan matematika materi, “kalau saya senyum kepada dia, saya dapat apa?

Bukan hanya itu, apabila disaksikan orang lain berbuat kebaikan kepada orang lain. Ia akan bergumam, “Alah, paling juga ada maunya.” Kehidupan kita telah terkikis dengan pola hidup robotik yang entah dari mana awalnya, mengalir begitu saja merasuk kedalam pola kehidupan ketimuran kita. Kehidupan yang mendorong orang untuk berbuat lebih demi target materi yang disodorkan. Bahkan sekedar untuk tersenyum dan berdamai dengan diri sendiri dan menularkan kebaikan ilahiyah kepada orang disekeliling kita telah kosong dan hampa. Hidup kosong melompong dari sisi humanisme keagamaan.

Berikut ini penulis mencoba untuk menjabarkan beberapa cara dan tips agar setidaknya membuat hidup kita lebih tentram dan nyaman dalam menjalani aktifitas kehidupan kita. Agar nilai-nilai kemanuisaan kita tidak pudar dan menjadi pribadi yang bermartabat tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba ilahi, makhluk sosial dan makhluk yang memiliki kesenangan dan cita-cita.

1.      Senangkan Allah

Pagi hari kita terbangun dalam keadaan yang sehat, udara begitu fresh, segar alami. Untuk  stok makanan hari itu masih mencukupi. Harusnya itu adalah hari yang membahagiakan kita, tidak perlu bandingkan kehidupan kita dengan preside, umpamanya, atau pengusaha yang punya miliaran. Kitapun bisa menikamati kehidupan kita untuk hari itu. Sangat naif sekali jika hidup kita hanya terbayang-bayangi dengan kelamnya masa lalu dan terobsesi dengan kehidupan masa yang akan datang. Tanpa bisa menikmati waktu dan kehidupan detik ini, menit ini dan hari ini. Nabi Muhammad saw, mengajarkan kita bagaimana menyikapi hidup dan berbahagialah untuk hari ini. Berbahagialah sekaranag.  
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Jika kita melihat keadaan manusia pada umumnya, kebanyakan bangun di pagi hari, masih memiliki ketiga potensi itu. Pertama, bangun pagi dalam keadaan aman baik diri, keluarga dan masyarakata. Bukan hidup pada zaman perang atau kerusuhan, atau sedang dirundung gempa bumi, pokoknya hari itu aman. Potensi kedua adalah bangun pagi dalam keadaan bugar dan sehat. Potensi yang ketiga adalah memiliki rezeki yang cukup untuk hari itu. Nabi saw, mengkongkritkan dengan kata, tersedianya makanan pokok untuk hari itu. Coba lihat, Nabi menekankan untuk hari itu saja, bukan untuk sepuluh tahun lagi. Cukup persedian bahan makanan untuk hari itu. Maka, beliau saw, menyampaikan seakan-akan telah berkumpul seluruh kebaikan dunia pada dirinya.

Cuman, kebanyakan manusia hanya mengejar dan mencari sesuatu diluar dirinya. Padahal hari itu harusnya dia enjoy dalam menjalani kehidupan. Ia laksana seorang raja yang telah memiliki seluruh isi dunia. sayangnya ia tidak memaksimalkan potensi ketiga untuk beribadah dan mengabdi kepada sesama. Itulah cara terbaik menyenangkan Allah.

Bagaimana seseorang itu bisa hidup tenang, makan dari hasil bumi Allah, tinggal di atas bumi Allah, bernafas menggunakan udara ciptaan Allah, dirinya sendiri yang adakan adalah Allah, keluarganya, anak keturunannya, kerabatnya, negaranya, everything, semua milik Allah. Bagaimana ia bisa hidup tenang tapi tinggal numpang dirumah orang tapi bermasalah dengan pemiliknya. Kita tidak sadar dengan tidak mentaati Allah atau melanggar perintahnya itu sama saja kita mencari gara-gara dengan Allah. Kita seakan mau bertingkah dan menentang Allah. Inilah penyebab mengapa hidup selalu rumit padahal secara materi seluruhnya telah dimiliki.

Sekedar ilustrasi singkat. Ada orang yang kredit mobil atau motor, katanlah seperti itu. Ketika jatuh tempo, ia ditelpon dan ditagih oleh debt collector, sang penagih hutang. Bagaimana perasaannya. Gelisah akan hadir. Makan, mikirin hutang, tidur mikirin hutang, ke kantor mikirin hutang, apalagi ditelpon oleh nomor yang tidak dikenal, mau angkat saja, ragu. Jangan-jangan si penagih itu.

Walaupun, kita bisa memberikan alasan dan penundaan, tetap saja, kita akan ‘sedikit’ merasa gelisah. Ini baru bermasalah dengan yang punya pembiyaan motor atau mobil. Bagaimana kalau diri kita bermasalah dengan orang yang menguasai seluruh seluk beluk kita? Pantaas saja hidup terasa hampa, saat kita jauh dari-Nya.

Ketika kita mendekat kepada Allah swt, maka Allah akan ‘mendekap’ kita. Allah akan senang kepada kita. Dalam hadits qudsi Allah swt, berfirman.

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Bahkan tidak hanya itu, Allah begitu rapat dan akrabnya kepada orang yang pe de ka te dengan Dia. Hem, beruntungnya orang itu. “Tidak henti-hentinya hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah. Sehingga aku menajdi tangannya yang dengannya dia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang dengannya dia gunakan untuk melangkah. Aku menjadi matanya yang dengannya dia gunakan untuk melihat. Aku menjadi telinganya yang dengannya ia gunakan untuk mendengar.” (HR.Bukhari-Muslim).

Alangkah bahagianya hidup jika ‘yang punya dunia’, senantiasa bersama kita setiap saat. Menjadi orang yang Allah cintai dan ridhoi adalah suatau anugerah terbesar dalam hidup.dapat cinta dari manusia saja, bagitu indahnya. Apalagi dicintai dan diridhoi oleh Allah. Siapa sih, yang tidak mau? Hidup akan begitu nyaman jika diridhoi oleh pemilik dunia ini.

2.      Tahajud

Hidup di dunia ini adalah hidup dalam gelombang yang tidak pasti. Apa yang ada di depan kita hanyalah berupa prediksi. Bahkan, apa yang ada dalam genggaman kita belum pasti milik kita.

 لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Kepunyaan Allahlah, seluruh isi langit dan Bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284)

Ketika Rasulullah saw, akan melakukan dakwah. Ia telah lama bertafakur dan berkontemplasi tentang makna kehidupan di Gua Hira. Begitu intimnya beliau saw, dengan Allah. Senantiasa memohon petunjuk kepada Tuhan Pemilik Langit dan Bumi untuk memberikan petunjuk, tentang hiruk-pikuk, masyarakat lokal, tanah Hijaz dan global, seluruh dunia. Kerusakan diseluruh dunia pada saat itu telah merata, miras, judi, zina, yang kuat menindasa yang lemah. Kezaliman demi kezaliman terjadi. Beliau yang begitu lembut hatinya ingin merobah keadaan yang tidak elok itu. Untuk memulai misi merubah dunia yang begitu luas dan kompleksitas permasalah setiap daerah yang begitu mewabah. Beliau ‘galau’, risau,  memikirkan keadaan umat. Ini suatu permasalahan besar.

Nabi saw, telah menjadi pedagang kaya raya sebelumnya. Seluruh hiruk-pikuk dan hedonisme masyarakat global telah ia saw, saksikan. Berdagang sampai Persia dan Rumawi kala itu. Beliau saw, telah menyaksikan pemandangan yang tidak seharusnya. Yang kuat menzalimi yang lemah, perang antar suku yang tidak berkesudahan, penyembahan kepada sesuatu yang diciptakan sendiri. Suatu pemandangan yang ironi, jika dipandang dengan hati yang jernih tanpa tercampur virus-virus kerusakan. Ia bertafakur di dalam gua Hira, lima tahun lamanya, sejak usia 35 sampai 40 tahun. 

Tidak sampai di situ, setelah mendapatkan wahyu tentang Iqra, belum lagi ada perintah langsung untuk berdiri tegak, lantang dihadapan manusia untuk dakwah. Belum ada intruksi tegas untuk dakwah. Beliau baru sekedar konsultasi kepada orang-orang ahli dan orang dekatnya. Diberitahulah Istrinya, kemudian dibawalah beliau ke Waraqah bin Naufal untk konsultasi. Waraqah adalah seorang pendeta dan ahli seluruh kitab-kitab samawi. Waraqah, memperteguh keyakinannya, bahwa dialah saw, yang akan menjadi Nabi akhir zaman. Yang beliau dapat di gua hira adalah namuz, seperti para nabi yang lain dapatkan sebelum melakukan tugas suci.

Selepas itu, belum lagi selesai. Perintah berikutnya sebelum dakwah secara terbuka adalah tahajud. “Yaa ayyuhal muzammil. Qumil laili illa qaliilaa. Nisfahu awingkush minhu qoliila. Awzid ‘alaihi warattilil qur’aana tartiila. Inna tsanulqi ‘alaika qoulan tsaqiila.

“Wahai orang-orang yang berselimut. Bangun dan dirikanlah shalat walaupun sedikit (dua rakaat), atau kamu dirikanlah sholat sejak tengah malam, atau kamu tambah lagi seluruh malam dan bacalah Al-qur’an dengan tartil. (Karena) Kami akan karuniakan kepada kamu qaulan tsaqila, perkataan-perkataan yang berbobot.”(QS. Al-Muazammil: 1-4)

Setelah Nabi shallallahu Alaihi Wasallam, dikaruniai qaulan tsaqilah untuk dakwah, face to face, sosialisasi orang ke orang, bergerilya secara sembunyi-sembunyi barulah Nabi saw, dirusuh dakwah secara terang-terangan dengan diturunkan Surat Al-Mudatsir.

Intinya bahwa, dengan tahajud beban paling berat dalam hidup pun akan dimudahkan oleh Allah swt. Tahajud membuka kelapangan hati. Ketika orang sudah drop dalam menghadapi masalah , tapi bagi ahli tahajud, ia masih bisa menanggapi dengan berbagai macam jalan keluar. Kenapa demikian, karena dihatinya ada sejumlah ketakwaan yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak bertahajud. Janji Allah kepada orang yang takwa di awal surat At-Tholaq ayat 2. Tentang sebuah garansi, diberikan jalan keluar bukan satu, tapi sangat banyak.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, akan diberikan jalan keluar dari setiap masalahnya.” (QS. Ath Thalaq: 2)

Ulama tafsirkan makna “Makhraja” adalah berbagai macam jalan keluar. Bukan satu, tapi banyak. Ketakwaan yang sempurna bisa didapatkan dengan banyak menjaga qiyamul lail, tahajud. Orang yang menjaga tahajud akan diberikan maqomam mahmuda, satu derajat takwa yang terpuji lagi tinggi.

Bayangkan masalah yang begitu pelik dihadapi oleh Nabi saw, dengan tabah dan bisa berhasil sukses dengan gemilang membawa umat manusia dan menghapuskan perbudakan dengan sistem denda apabila melakukan pelanggaran dalam menunaikan amalan. Beliau sukses besar, the greatest successes. Kalau kita bandingkan dengan problematika kehidupan kita yang hanya seputar memperbaiki keluarga, organisasi, diri sendiri dan sebagian tatanan masyarakat, belum apa-apa dengan permasalahan pada awal perjuangan Islam. Begitu sulit dan sangat susah. Beliau bisa sukses dengan bermodalkan tahajud, mengapa kita tidak bisa meniru jalan tersebut. Mulailah dari sekarang dengan merutinkan bangun malam, tahajud, untuk mengkonsultasikan permasalah kita langsung kepada Dia yang memiliki seluruh isi dunia. Hanya dari Dialah masalah dunia dan akhirat kita bisa selesai.

3.      Membaca Al-Qur’an

Ketika pikiran sedang kalut, cobalah, berwudhu, menggenggam Al-qur’an menghadaplah ke kiblat. Bacalah Al-qur’an helai demi helai. Biarkan suasana hati terbawa dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Seiring dengan itu, hati akan terbawa kepada satu titik alfa, titik ketenangan. Perlahan suasan hati semakin teduh titik teta, sangat tenang. Jika terus dihayati dan dilantunkan kalam suci itu dengan suara merdu, suasana hati atau otak akan sampai ke puncak ketenangan yakni titik delta, pada titik ini tubuh akan memperbaiki jaringannya sampai ke tingkat sel secara perlahan. Level ketenangan otak dan hati ini pernah dikemukakan oleh beberapa ahli ternama. Salah satunya oleh David Cohen, seorang fisikawan asal Kanada yang mendalami biomagnetik.

Apabila hati masih belum sampai pada level ini bacalah terus, biarkan hati ‘curhat’ mengalir menuju Allah. Biarkan lisan terus melantunkan kalam suci-Nya. Ketika hati mulai pasrah dan berserah hanya kepada keinginan Ilahi. Saat itulah hati akan hinggap pada ‘dahan’ yang sejuk dan nyaman. Sesaat dirasakan kesejukan dan ketenangan batiniah. Ketika telah sampai pada level ini, maka permasalahan dunia akan sirna dan terbuka jalan untuk menemukan solusi terbaik dari permasalah yang dihadapi.
  
4.      Senangkan Orang lain

Ada sifat segelintir orang yang suka mencari kesenangan, dengan membuat orang lain menjadi susah. Bersaing dalam bisnis atau memperebutkan posisi kepemimpinan dalam sebuah organisasi, perusahan, atau dalam kehidupan bermasyarakat. Demi memperoleh posisi itu. Menjatuhkan saingan politik bukan lagi soal, semua ditempuh. Kesenangan seperti hanyalah sebuah ilusi dan tipuan nafsu belaka. Kelihatan seolah dinikmati, padahal tersimpan kegelisahan yang dalam. Takut kalau ada lagi saingan lain yang bisa menggoyahkan tampuk kepemimpinan.

Sedangkan ada satu jenis kesenangan yang bila dimiliki. Maka, kesenangan itu akan abadi dan orang pun tidak ingin ‘merampas’ kesenangan yang dimiliki itu. Yaitu, kesenangan yang diperoleh dengan membuat orang lain menjadi senang.

Cara membuat orang lain senanang bisa dengan berupa memberikan sesuatu yang disukai atau menjauhkan dari perkara yang dibenci. Bahkan, bisa saja hanya berupa doa yang dipanjatkan untuk kebaikan orang lain.

“Wahai saudaraku, semoga dihari yang indah ini, kamu dikaruniai rezeki yang berlimpah, istri dan keluarga kamu sehat wal afiat dan dijauhi mara bahaya.” Ini perkataan yang tidak memburuhkan banyak tenaga apalagi biaya. Modal yang sedikit, sesuai prinsip ekonomi, modal kecil untung gede. Tahukah, sejauh apa efeknya? Orang yang didoakan akan tersenyum. Dia akan senang dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Pada saat detik yang sama kita akan merasakan minimalnya merasakan seperti apa yang ia rasakan, bahkan bisa lebih lagi kebahagiaan itu mengalir di dalam hati kita. Minimalnya, ia akan mendoakan balik kepada kita.

Pantaslah, Nabi saw, menyampaikan, orang yang lebih dahulu dalam memberikan salam adalah lebih mulia daripada yang diberi salam. Seperti mahfum hadits yang lain, “Tangan di atas lebih baik dari tangan yang dibawah.” Maknanya, yang memberi lebih utama atau lebih mulia daripada yang diberi atau yang menerima. Yup, senangkan orang lain maka Allah akan senangkan kamu.

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 1930)

5.      Tidak Berhutang

Siapa yang tidak memiliki hutang? Mungkin sangat kecil atau sanagat sedikit. Yang kami maksud disini adalah, utang yang melebihi kapasitas dalam membayar. Tanpa disadari, jiwa konsumtif dan ingin bersaing dalam life style tanpa melihat daya dan kemampuan untuk menutupi hutang, telah menjangkit pada sebagian besar masyarakat modern kita.

Ada efek negatif lainnaya selain efek positif untuk memacu orang tersebut dalam berupaya lebih maksimal. Tapi tanpa disadari, ia telah terjatuh kepada usaha yang berlebihan, bahkan, tidak jarang, karena begitu banyak tuntutan hidup. Ia rela untuk korupsi, alias menggelapkan dana proyek. Dana proyek di kantor yang seharusnya cukup, ia ‘cukup-cukupkan’. Maksudnya ia press dananya, kemudian minta nota kosong dari tempat perbelanjaan dengan plus stempel. Ia membuat mark up dana bahan proyek tersebut. Kalau pihak toko tidak jeli, pihak toko bisa saja dianggap ikut terlibat dalam berkolaborasi mark up tersebut. Ini satu sisi.

Pada sisi yang lain, membuat hutang dengan gaya hidup serba jatuh tempo. Membuat orang lain menjadi tidak nyaman dalam menikmati hidup. Katakanlah, jatuh tempo pada akhir bulan. Begitu uang yang dia miliki pada awal bulan sudah terpakai pada keperluan mendesak lainnya. Maka, ketika jatuh tempo pada akhir bulan ia akan ‘ngumpet’ alias lari dari kenyataan.

Pasti orang yang hidup dengan pola dan gaya tuntutan jatuh tempo seperti ini, akan gelisah permanen pada waktunya. Penyebab utamanya adalah mengikuti gaya hidup yang tidak proporsional dengan kemampuan isi dompet. Sehingga, ada yang mengambil pelajaran dari rumus fisika, pada Hukum Pascal. “Tekanan didapat dari banyaknya gaya yang diberlakukan terhadap luas permukaan.” Artinya apa, jika semakain banyak gaya dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan kapasitas ‘diri’ dalam menampung efek dari gaya tersebut, maka ‘nilai’ tekanan hidup akan semakin meningkat. Dengan kata lain, semakin besar tekanan hidup adalah hasil bergaya yang melebihi kemampuan individu. Hindari banyak gaya, jika kapasitas hidup biasa saja. Hutang akan berbanding lurus dengan gaya hidup meningkat dan kemampuan atau kapasitas yang tidak meningkat alias sudah dipaksakan. Itu.

6.      Yakin Kepada Qadha dan Qadar

Dalam hidup dan kehidupan, ada banyak perkara yang telah kita usahakan untuk meminimalisir permasalahan yang terjadi atau yang akan terjadi. Kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisisr permasalah yang mungkin akan terjadi. Segala daya dan upaya telah dilakoni. Toh, pada saat dan posisi tertentu, yang dikahwatirkan itu malah terjadi, itu adalah takdir.

Dalam memahami hal ini, tidak bisa serta merta. Terkadang bagi sebagian orang ketika ditimpa keburukan, ia katakan ini takdir, tapi ketika ia ditimpa kebaiakan, atau kebaikan yang ia cita-citakan terwujud ia katakan, “Ini adalah hasil dari jerih payah saya.” Padahal ia pun harus mengatakan, “Memang saya sudah berusaha maksimal, tapi semua ini terjadi berkat pertolongan Allah semata.” Kenapa demikian, karena apa saja kebaikan yang kita usahakan adalah dari Allah swt. Allah taala ingatkan,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Tidaklah kamu berkehendak, kecuali ‘rencanamu itu’ telah dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Ketika seseorang lupa dengan posisinya. Maka ia akan kehilangan banyak hal. Ketika ia tidak berusaha, kemudian ada keburukan yang menimpanya, maka ia ‘mengkambing hitamkan’ takdir. Sungguh iatelah keliru dalam hal ini. Kebaikan yang harusnya bisa ia peroleh dengan berikhtiar ia tinggalkan karena tertipu dengan rasa malas dan keyakinan yangkeliru. Allah ingatkan, “Maa ashoba min hasanatin faminallah. Maa ashoba min sayyi’atin famin nafsik.” “Apa saja kebaikan yang menimpa kamu, itu adalah pertolongan dari Allah, tapi apa saja keburukan yang menimpa kamu, jangan kamu salahkan orang lain kecualai diri kamu sendiri.” (QS. An Nisa: 79)

Dengan memaksimalkan usaha, dan tetap memohon pertolongan Allah swt. Akan menghasilkan pribadi yang tidak lupa diri ketika sukses dan tidk berpustus asa ketika ‘gagal’. Ia akan menjadi pribadi yang visioner dan apa adanya ketika berhasil dan ‘gagal’. Karena dalam keyakinannya dibalik usaha maksimal dari seseorang telah ‘terhidang’ takdir ilahi yang pasti akan lebih baik dari yang ia kirakan sebelumnya.

Penutup

Sebelum kita akhiri diskusi ini. Penulis ingin menyampaikan sedikit rangkuman tentantang pembahasan kita kali ini, agar wajah kita senantiasa cerah, berwibawa, tidak galau dalam menyikapi kehidupan yang serba  bersaing. Ada beberapa langkah yang perlu kita lakoni.

Pertama, jaga dan taati setiap rambu-rambu kehidupan yang ditetapkan Allah dalam kitabullah dan sabda nabi-Nya. Kedua, buatlahah jalinan pendekatan khusus kepada Allah dengan tahajud, agar keakraban kepada Allah terbangun intim.

Ketiga, senantiasa warnai hidup kita dengan lantunan suci Al-Qur’an agar hidup kita tidak kosong dan hampa. Usahakan Al-Qur’an dibaca disela aktifitas kita atau diawal hari. Keempat, jadilah kita menjadi penolong sesama, karena Allah telah menjamin pertolongan kepada siapa yang suka menolong sesama.

Kelima, berhutanglah yang sewajarnya, kalau terpaksa berhutang. Sebisa mungkin hindari berhutang yang sifatnya konasumtif. Hutang yang sifatnya produktif juga jangan sampai melebihi kapasitas kita dalam membayar cicilan hutang. Sebisa mungkin cicilan dibawah atau maksimal 50 % dari income pendapatan kita. Yang terakhir atau keenam, terimalah takdir yang Allah swt, tetapkan, bisa jadi takdir itu yang membuat diri kita lebih belajar dan mawas diri untuk bisa bangkit dari keterpusurukan dan bisa mengatasi konflik yang lebih besar dikemudian hari, karena kita telah terlatih dalam menghadapi saat terburuk. Berprasangka baiklah kepada Allah, maka Allah akan menutupi kekurangan dan kesalahan kita. Aammiin.


Selesai diedit di
Asera-Sulawesi Tenggara, 4 Oktober 2018