Follower

Thursday, August 9, 2018

Khutbah Jumat Pekan Kemarin: Antara Qurban dan Poligami


By
Mujiburrahman Al-Markazy

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ سَبِيْلُ الفَلَاحِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
وَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ المُتَّقِيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمَ
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
وقال الله تعالى
وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ‌ فَإِنَّ اللَّـهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ


Sidang Jamaah Jumat yang Allah Muliakan.

Allah swt, memilih diantara hamba-hamba-Nya untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Alhamdulillah, Allah swt menjadikan kita bagian dari hamba-hamba pilihan itu. Tiada keindahan sebanding dengan keindahan mentaati Allah swt. Tiada kepatutan melebihi kepatuhan dari sang hamba kepada Al-Khalik. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terkasih, Baginda Rasulullah saw atas jerih payah dan pengorbanan beliau sehingga kita bisa mencicipi dan merasakan aroma semerbaknya dinul Islam ini. 

Sidang Jamaah Jumat yang berbahagia. 

Sudah menjadi ketetapan Allah swt, bahwa kejayaan, kebahagiaan dan kesuksesan seluruh manusia di dunia dan akhirat hanya pada mentaati Allah secara sempurna. Mengikuti cara hidup Baginda Rasulullah saw. Tak lupa khatib mengingatkan diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Takwa kepada Allah merupakan kunci kesuksesan di dunia dan akhirat. 

Allah swt telah berfirman dalam Al-Qur'an. Ada sebuah surat yang pendek namun sarat dengan makna. Allah firmankan. 
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١ 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ 
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
Pertama, Allah swt firmankan. 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

"Sesungguhnya, telah Kami berikan kepada kamu nikmat-nikmat yang banyak."(QS. Al-Kautsar: 1)

Nikmat apa yang Allah swt tidak berikan kepada kita. Semua dikasih. Mulut dengan berbagai fungsinya. Gigi, kadang kita baru satu saja yang sakit. Sudah begitu meresahkan padahal masih 31 gigi yang sehat. Mata dengan berbagai nikmat yang tidak bisa disebut. Telinga dengan nikmat mendengarnya. Berapa banyak orang yang memiliki telinga tapi tidak mendapatkan nikmat pendengaran. Kaki dengan kesanggupan melangkah. Tangan dengan kekuatan menggenggamnya. Semua itu nikmat yang masih terjangkau oleh panca indera. Belum lagi nikmat berkeluarga, nikmat merasakan kesegaran udara di waktu pagi dan sebagainya. Semua nikmat dari Allah swt. 

Lantas, apa yang mesti dilakukan oleh seorang hamba ketika telah banyak nikmat yang dirasakan. Yah, bersyukur. Bersyukur adalah cara terbaik untuk berterima kasih. Bagaimana cara bersyukur yang seharusnya. Allah swt melanjutkan. 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah sholat dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar: 2). 

Allah swt, perintahkan kita untuk mewujudkan rasa syukur dengan dua hal. Syukur pertama adalah syukur dengan anggota badan, yakni sholat. Dan syukur level berikutnya adalah syukur dengan harta kita, berkurban. Atau dengan kata lain, bersyukur dengan gratis alias tanpa bayaran dan bersyukur dengan berbayar. Mungkin, untuk jenis syukur pertama, semua orang bisa. Tanpa terkecuali. Sedangkan syukur pada level kedua, hanya bagi orang tertentu saja alias yang mampu. 

Sekarang ini yang menjadi permasalahan adalah kebanyakan orang mampu, tapi merasa tidak mampu. Ini bukan tawadhu atau rendah hati. Ini sebenarnya upaya untuk mengindari mentaati perintah dengan alasan agar bisa dimengerti. Kalau kita ulang, berapa banyak nikmat yang sudah Allah beri. Pun syukur dengan berkurban pahalanya juga akan samapai ke kita sendiri. Akan masuk ke saldo rekening amal pribadi juga.

Seandainya kita menjadi Nabi Ibrahim as, yang harus mengorbankan putra semata wayang. Putra pelanjut generasi. Putra yang cerdik, pandai nan rupawan. 13 tahun lamanya dipisahkan, rindu membara telah membuncah. Api cinta itu hadir dan bersemi. Laksana kemarau yang merindukan hujan. Siraman cinta itu telah mengalir bak derasnya banjir 7 hari 7 malam. Semua bersemi nan indah. 

Tiba-tiba datang perintah langit yang menggemparkan. 

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

“Berkata Ibrahim kepada putranya: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku , bahwa aku (diperintahakan untuk) menyembalihmu. Maka, pikirkanlah. Apa yang menjadi pendapatmu?” (QS. Ash Shaffat: 102)

Jamah Sidang Jumat yang Allah Banggakan.

Seandainya kita menjadi Ismail kecil. Apa yang akan kita sampaikan ke Bapak kita? “Ah, bapak cari orang lain saja.” Atau kita akan katakan, “kenapa harus saya, kan yang jadi Nabi bapak, yang sudah tua juga bapak. Kenapa bukan bapak saja?” atau pernyataan yang lain demi menghindari eksekusi maut tersebut. Semua jalur ditempuh, demi lolos dari perintah yang harus mengorbankan nyawa satu-satunya tersebut. Tapi, bagaimana jawaban dari putra yang sholeh, Ismail as.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Berkata Ismail: “Wahai Bapakku, lakukanlah (janganlah ragu) apa yang telah diperintahkan (Allah) kepada mu. Niscaya engkau akan menjumpai saya dalam keadaan sabar (dalam menjalaninya) insya Allah.” (QS. Ash Shaffat: 102).

Inilah jawaban tulus dari seorang putra sholeh. 13 tahun baru jumpa. Sekarang, harus berpisah untuk selama-lamanya. Yang membuat miris adalah perpisahan yang mengharu-biru itu harus terjadi dengan cara yang tragis. Dengan cara penyembelihan. Mungkin kita akan akali, “Bapak pergi lagi dakwah, biar 5 tahun pergi. Pulang nanti, kalau perintah Allah sudah berubah.” Atau macam cara akan kita fikirkan, agar tidak terjadi perintah yang tragis itu. Atau bisa saja negosiasi ulang dengan Allah, “Ya Allah, perintah ini terlalu berat, ganti dengan yang lain saja.” Tidak. Sama sekali tidak. Mereka adalah orang yang Allah cintai, bukan isapan jempol belaka. Bukan karena mau-mau mereka. Mereka dikasihi dan dicintai oleh Allah karena kesabaran dan ketabahan mereka. 

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ


“Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. Ash Shaffat: 103).

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaffat: 104-106).
Demikaian sidang Jamaah Jumat yang Allah kasihi.

Ternyata perintah itu hanya berupa ujian belaka. Sendainya alasan-alasan telah dikemukakan tanpa berusah untuk mengamalkan dahulu. Maka nyatalah orang tersebut ciri tidak patuh. Sementara kita tidak mengetahui eksistensi dari perintah tersebut, padahal hanya sebuah ujian belaka.

Setiap perintah Allah jangan kita beri alasan terlebih dahulu sebelum kita berusaha untuk menjalankan perintah tersebut. Jangankan perintah berkurban, perintah sholat saja. kebanyakan kaum muslimin menganggapnya dengan begitu enteng, tanpa beban, jika dilanggar. Padahal kalau perintah bos dikantor, walaupun baru tiba saja di rumah. Jika, dipanggil dengan alasan penting, mungkin kita akan tinggalkan kesenangan kita bersama anak-istri sejenak. Dengan alasan, “jika ada hasil tambahan, semua juga untuk anak-istri.” Anak-istri selalu jadi kambing hitam untuk tameng. Tapi, pahamkah kita, jika kita tidak siapkan syurga, ketakwaan untuk anak-istri kita. Mereka juga akan menjadi musuh kita di akhirat.

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS. At Taghabun: 14)

Berapa banyak orang tidak sholat alasan keluarga, anak-istri. Ia menghindari perintah. Ketika datang perintah jihad, Allah inginmelihat respon dari hambanya apakah dia sungguh beriman atau hanya munafik saja.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Imran: 142).

 Jadi, jangan buat malu dirikita dihadapan Allah swt. Dengan alasan yang tidak-tidak. Berapa banyak hari ini orang secara materi ia mampu untuk berkurban, tapi ia tidak berkurban. Gonta-ganti android, bisa. Gonta=ganti pagar rumah, bisa. Gonta-ganti motor, mobil,rumah, bisa. Kenapa untuk berkurban masih mikir seribu kali?

“Baltu’tsiruunal hayatad dun-ya”, kebanyakan dari kamu hanya mencintai dunia semata. Kalau bukan cinta kepada dunia yang berlebihan semestinya telah menjadi agenda pengeluaran tahunan kita. Tapi, siapa yang membuat anggaran rencana seperti itu. Hanya sedikit diantara kita.

Yang lebih miris lagi, jamah jumat Rahimani wa rahimakumullah adalah secara nafsu coba tanya kepada kawan disamping anda. Pilih mana mau berkuraban atau poligamai? Kebanyakan kalau menjawab poligami begitu antusias. Padahal secara kalkulasi kemampuan berkurban lebih ringan daripada harus poligami. Untuk poligami, selain mensyaratkan kemampuan secara materi, juga ada penekanan untuk bisa berlaku adil. Tapi, peminat poligami lebih dominan daripada peminat berkurban yang hanya setahun sekali perintahnya. Semoga Allah swt. Memberikan taufik kepada kita untuk menjalankan kurban sebagaimana mestinya.

Barakallahu lii walakum bil Qur’anil Adzim wanafa’ni minal ayaati wazikril hakim wataqabbalallahu minni waminkum tilaawatahu,innahu huwa sami’ul ‘Alim”.

                                                Wanggudu, 10 Agustus 2018.
                                                Dikesunyian malam, saat semua terlelap 01:57 dini hari.
                                                Asera, Sulawesi Tenggara.

Bencana Lombok: Kesalahan Dalam Bersikap.




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Ini semua gara-gara TGB, mengatakan bahwa jokowi adalah seperti Nabi Ayub”. Ini adalah secuil cibiran kepada TGB (Tuan Guru Bajang) alias Zainul Majdi, Lc. MA. Semenjak TGB mengusung jargon “Jokowi 2 Periode”. Bencana yang terjadi 2 kali berselang seminggu itu, telah menyita banyak perhatian. Kenapa tidak? Pertama Lombok digoyang pada tanggal 29 Juli 2018 denga 6,4 SR. Setelah itu menyusul gempa susulan pada 5 Agustus Petang dengan goncangan yang lebih besar dari sebelumnya, 7 SR (Liputan6.com/6/8/18). 

Menurut berita yang dilansir pada 7 Agustus 2018 oleh Viva.co.id, bahwa korban yang meninggal hingga saat ini telah mencapai 105 jiwa. Sesuai dengan penuturan Kepala Pusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ketika ditemui di kantor BNPB, Jakarta. Dari data tersebut wajar saja telah menjadi berita nasional dan menjadi buah bibir bagi setiap kalangan. 

Apakah hal ini ada korelasi dengan ‘dosa’ satu orang? Mengingat dari data bencana yang pernah bertandang ke Negeri Para Ulama itu. Dari data disebutkan, ada sekitar 9 kali goncangan sejak tahun 1956. Mungkin saja ini ada kaitan dengan dosa. Siapakah makhluk  yang tidak pernah berdosa selain para Nabi. Tapi, menjudge suatu kelompok yang terkena musibah adalah bukan sebuah akhlak yang terpuji. Coba kita cerna dengan baik apakah dalam Islam ada korelasi antara dosa dengan musibah?

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan (sebagian besar) kesalahan-kesalahan kamu.” (QS. As Syura: 30).

Terlepas dari benar atau tidaknya perkataan dari seorang Zainul Majdi, sang gubernur NTB (Nusa TenggaraBarat) atau yang akrab dipanggil TGB. Benar apa tidaknya perkataan TGB tentang, “Jokowi seperti Nabi Ayub.” Yang jelas mengaca pada QS As Syura ayat 30 di atas, pasti musibah terjadi karena adanya dosa. Entah itu dosa TGB atau dosa masyarakat. Terus, apakah musibah atau ujian yang tidak mengenakan seperti itu, menandakan bahwa Allah benci alias murka? Pastinya belum tentu. 

Apalagi kejadian tersebut terjadi di daerah yang boleh dikata “Negeri Ulama”. Ini hanyalah  ‘sentilan mesra’  dari Tuhan Yang Maha Rahman. Bukankah para Nabi juga mendapatkan ‘sentilan mesra’seperti itu. Lihatlah, bagaimana Nabi Yunus yang harus terpisah daari anak-anaknya. Terpisah dari istrinya dan dia sendiripun harus dibuang ke dalam lautan yang ganas. 

Setelah diundi tiga kali, selalu namanya yang muncul. Ia siyakini sebagai orang sholeh oleh penumpang dan anak buah kapal beserta nahkoda. Tapi, ketika diundi yang ketiga kalinya, tetap namanya Yunus yang keluar. Keputusan bulat, Nabi Yunus harus dilempar keluar geladak kapal. Tidak hanya sampai disitu, ditengah ombang-ambing gelombang yang buas, munculah seekor makhluk dari dasar samudera. Hitam, ganas, seperti sosok raksasa yang tengah kelaparan dan melihat seonggok daging segar. Tanpa ba-bi-bu sang Nabi langsung dilahap tanpa dikunyah oleh seekor ikan paus, atau ikan ‘Nun’ dalam istilah sejarah Arab. 40 siang, 40 malam diceritakan oleh ahli sejarah. 

Ia harus terkatung-katung hidupnya dengan nasib yang tidak jelas. Badannya jadi bau, penuh dengan kotoran ikan yang ada di dalam gua berjalan itu. Ia hanya pasrah dan berdoa kepada Allah, beristigfar mengingat segala kekurangan dan dosa. Apakah dia seorang yang hina dalam pandangan Allah? Tidak. Bahkan dia orang yang mulia.

Sampai dalam Shohih Bukhari Nabi saw. Pernah menyamakan perjalanan Isra dan mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw. Seperti perjalanan Nabi Yunus dalam perut ikan. Sedangkan kita ketahui dalam ayat pertama Surat Al-Isra, disebutkan maksud Allahmemperjalnkan Nabi Muhammad Saw, adalah untuk “linuriyahu min ayaatina”, untuk memperlihatkan ayat (tanda-tanda) kebesaran Kami. Begitupun, kehidupan orang-orang sholeh yang mendaptkan ujian demi ujian adalah untuk meningkatkan taraf ketakwaan dan derajatnya disisi Allah swt. Memang sih, teguran. Kenapa ditegur, karena orang itu masih berarti. 

Nabi Yunus as, ditegur setelah mengambil keputusan untuk memindahkan tempat dakwahnya. Ketika kaum Ninawa tidak menerima dakwah Nabi Yunus, beliau sepertinya tidak tahan. Bukan tidak berdakwah, tapi memindahkan areal kerja dakwah. Padahal SK nabi Yunus oleh Allah tetap berdakwah di wilayah Ninawa itu. Ketetapan Allah terjadi, setelah Nabi Yunus as, pindah. Allah ‘menyentil mesrah’ sang kekasih untuk kembali. Setelah ujian yang begitu berat diterima, beliau kembali ke wilayah dakwahnya, ternyata semua suku Ninawa telah memperoleh hidayah dari Allah swt. Memang segala sesuatu ada harganya. Begitupun untuk meninggikan derajat seseorang adalah dengan pengorbanan dalam berjihad, berdakwah dan beramal. Jika kadar pengorbanan kita belum sampai pada taraf tertentu yang Allah Ta’ala inginkan untuk ditinggikan derajat kita, maka Allah swt, memberikan bonus berupa ‘ujian’. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ
أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ

“Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba, yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya. Maka, Allah akan memberinya musibah pada dirinya atau hartanya atau anaknya. Lalu, Allah akan menyabarkannya (yakni, Allah memberi taufiq kepadanya sehingga ia mampu bersabar) kemudian ia bersabar, hingga kesabaran tersebut menghantarkannya kepada kedudukan yang diraihnya. (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-ahaadits Ash-shahihah 2599).

Beralih ke kaasus Lombok. Apakah musibah yang mereka aterima adalah kutukan? Tidak. Karena kebanyakan mereka adalah orang yang mengamalkan dan memahami agama, insya Allah. Cuman, Allah ingin derajat mereka ditinggikan dengan sebab kesabaran. “Innallaha ma’a Shabirin”. Allah bersama dengan orang-orang sabar. Mungkin selama ini, ada sedikit ‘jarak’ antara Allah dengan saudara kita di sana, tapi sekarang. Seakan, jarak itu sudah tiada. Hati mereka betul-betul terpaut langsung kepada Allah. Memohon ampunan dan ridhonya. Sebagaimana merekapun ridho dengan ketetapan Allah yang berlaku kepada mereka. Sudahlah. Berhentilah mengoceh. Bisa jadi, kedudukan mereka di sisi Allah lebih baik dari pada yang mengoceh. 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik (dari yang mencela). Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11). 

Hentikanlah segala ocehan. Mari peduli, mari mengulurkan tangan. Lahan amal ada di depan kita. Allah sengaja menggilirkan harta pada sebagian yang lain, agar menguji yang kelebihan itu untuk, pertama bersyukur. Yang kedua, untuk berbagi kepada yang lain. Marilah berbagi, karena nanti akan tiba suatu masa, ketika orang ingin berbagi dengan yang lain. Ia sudah tidak memiliki celah untuk berbagi. Why? Karena setiap orang telah sejahtera dan tidak membutuhkan apa-apa lagi dari orang lain. Yang dibutuhkan hanyalah kasih sayang dari Zat Yang Maha Penyayang. Mari sisihkan, satu-dua rupiah yang ada pada kita untuk berbagi. “wamimma razaqnahum yunfikun”, pada sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepadamu, infakanlah. Save Lombok!

Penulis petikan beberapa ayat dan hadits tentang pentingnya kita berbagi.

1.      “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).

2.      “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”- ia akan mendapatkan Naungan Pada Hari kiyamat. Hari itu, tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah- (HR. Bukhari).

3.      Bisik-bisik terbaik adalah bisik-bisik untuk sedekah. Apakah mau bisik-bisik ke tetangga, keluarga, kawan atau yang lainnya. 

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar." (QS. An-Nisa: 114).

4.      Setiap sedekah yang kita infakan, akan bernilai dengan kelipatan pahala 700 kali dari modal infak kita. Wow, ini bisnis amazing. Bisnis dengan Allah adalah bisnis yang pastinya tidak akan rugi, tinggal kita ikhlas aja.

“Permisalan orang yang menginfakan hartanya dijalan Allah, seperti sebuah bulir yang melahirkan tujuh tangkai. Setiap tangkai akan mengahasilkan 100 bulir lagi. Dan Allah akan melipat gandakan yang lebih besar lagi dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 261). 

Akhirnya, marilah kita menyisihkan harta yang kita punyai demi kemaslahatan dan kebaiakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah. Berhentilah berkata dengan perkataan yang tidak mengenakan. Allah swt, menyindir kita. 

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”(QS. Al-Baqarah: 263). 

Jika tidak mau bantu, yah jangan mencibir. Toh, Allah yang Maha Kaya, pasti banyak yang akan bantu mereka. Allah itu Maha Penyantun (Al-Halim) sangat Maha Lembut. Jadi kita cukup doakan dengan doa terbaik. 

#Save_Lombok
#Pray_For_Lombok


Tuesday, August 7, 2018

Wanita Hero Zaman Now




By
Mujiburrahman Al-Markazy

Mata nanar perempuan tua itu tiba-tiba berubah tajam. Ia menarik Cut Gambang yang tengah dirundung sedih itu dan menamparnya – plak!: “Dengar!” Bentaknya, “Sebagai perempuan Aceh, jangan meneteskan air mata atas orang yang syahid!” Namun setelah itu Cut Nya segera merangkul sang putri (iloveaceh.com). Itulah  motivasi dari seorang Cut Nyak Dien kepada kepada putri semata wayangnya, ketika wafat sang ayah yang begitu gagah perkasa, Teuku Umar. Ditengah kepungan dari Belanda itu, rasa takut dari sang wonder woman itu, tidak gentar sama sekali. Sisa-sisa pasukan masih ada, melihat teguhnya pendirian dan pejuang dari Sang Cut Nyak. Pelanjutan untuk menemukan sisa pasukan terus dilakukan. Sementara disisi lain, Belanda dengan kekuatan armada penuhnya terus mengejar para ‘teroris’ itu. Bagi para penjajah teroris adalah orang yang mengacaukan rencana mereka meraup keuntungan di negeri jajahan. 

Beberapa motivasi ‘super’ dari wanita paruh baya itu telah menggelorakan dan menggetarkan pihak kawan maupun lawan. Gelora semangat yang terus lahir dari elemen cinta kepada Ilahi Rabbi, semangat Jihad. Kata jihad yang telah lama diselewengkan dari makna sebenarnya. Dalam rubrik “Hati ke Hati” di Majalah “Panji Masyarakat”, Buya Hamka  pernah menyampaikan beberapa makana jihad. Salah satu diantaranya adalah mempertahankan milik sendiri, ketika diambil oleh orang lain dengan jalur yang salah, adalah suatu tindakan jihad. Diantar motivasi yang menggemparkan persada kala itu adalah, “Cuma sedikit orang yang relamenjadi kecil agar dipakai oleh Allah sebagai (tameng) agar bisa melewati dan menghindarkan ujian-uijian ‘kecil’.” Dia pun pernah berujar, “Pada saat kita khawatir (terhadap sesuatu), terkadang kita lebih percaya dengan maslah daripada percaya kepada (begitu dekatnya) pertolongan Allah.” Wanita yang telah menggelorakan semangat jihad selama 25 tahun itu, telah membuat kocar-kacir dan kerugian baik secara materi, amunisi dan korban jiwa para kolonel kesayangan Belanda. Wanita yang begitu tangguh, bukan hanya pada zaman itu, tapi akan terus dikenang hingga yaumil qiyamah.
 
Sang Cut Nyak Dien bukan hanya menampar anaknya, agar tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Akan tetapi, telah menampar jiwa kita sebagai bangsa, jiwa kita sebagai penerus bangsa. Apakah kita mampu melahirkan ‘Cut Nyak Dien- Cut Nyak Dien’ zaman now. Bukan hanya anaknya yang menjadi tegar, tetapi pasukan yang ia pimpin mendampingi mendiang sang suami. Semanagat dan gelora itu telah melahirkan militansi hingga bermunculan pahlawan demi pahlawan hingga merdekalah bangsa ini. 

Sekarang tantangan globalisasi begitu nyata. Jika tanpa didukung oleh militansi dari kaum wanita masa kini dalam menggelorakan semangat ‘jihad’. Bukan sekedar jihad fisik, tapi jihad pemikiran, jihad kebudayaan, jihad mempertahankan kemuliaan berumah tangga dan jihad untuk menciptakan generasi yang cinta kepada bangsa, generasi yang rela berkorban apapun demi memperjuangkan nilai-nilai humanisme keislaman. Bukankah dalam Islam dikenal dengan istiah, “Almar’atu imadul bilad”, wanita adalah tiang negara. Yah, wanita adalah penyokong terbaik dalam suatu negara. 

Perhatikanlah, tidak ada lelaki sukses tanpa dimulai dengan wanita yang berjiwa ‘hero’, wanita yang berjiwa besar. Bagaimana Imam Bukhari yang menghafal 200 ribu hadits dengan ditemani oleh seorang Ibu yang begitu tangguh. Walaupun sang Ibu yang buta matanya, begitu renta, membesarkan seorang diri serta menemani sang Imam untuk mensearching ilmu ‘talaqi’, dari guru ke guru. Setiap satu guru memakan waktu berbulan-bulan perjalanan. Baik dengan berjalan kaki, numpang pada kendaraan orang lain atau menggunakan keledai. Tidak langsung dengar hadits dari sang guru, tapi meneliti keseharian sang ‘calon guru’. Jika ia amanah, tidak suka bergurau, selalu menjalankan sunnah, maka hadits yang ia dengar dari sang guru akan dihukumi shohih. Jika tidak, hukumnya bisa jadi dho’if alias lemah.

Seorang Bung Karno pernah memberi syarat kepada pemerintahan Unisoviet, kala itu, sekarang Rusia. Beliau pernah mensyaratkan jika ingin kerja sama bilateral dengan Indonesia, supaya bisa menemukan dan memperbaiki makam dari Imam Bukhari. Walaupun persyaratan yang begitu aneh, tapi sang negara super power kala itu pun, menyetujuinya. Perhatikanlah, bagaimana efek pendidikan dan ketulusan seorang ibu, seorang wanita yang tidak lekang dimakan zaman. 
Sebenarnya, jika para wanita kita bisa menjawab tantangan zaman, arus globalisasi yang begitu deras pada zaman now. Bisa jadi, wanita kita akan melebihi patriotisme wanita-wanita yang telah berjaya pada zaman itu. Bagaimana tidak, wanita pada zaman apa dan kapanpun saja. Memiliki beberapa kelebihan diatas lelaki pada umumnya. 

1.      Kelembutan hati.

Berapa banyak lelaki yang tumbang oleh wanita yang gemulai dan lembut itu. Bagaimana Fir’aun yang tunduk di bawah kendali istrinya. Ketika, sang Musa kecil hendak dibunuh, dengan alasan bahwa dia akan membunuh dan menumbangkan kekuasaan Fir’aun dikemudian hari. 

Jika wanita zaman now ini, menggunakan potensinya untuk ‘merayu’, membimbing suaminya agar tidak membawa hasil haram ke dalam rumah tangganya. “Wahai suamiku, aku akan bersabar dalam kelaparan dan kesusahan dunia, tetapi aku tidak akan sabar dan tahan dalam menghadapi siksa di akhirat, Neraka yang membakar. Tolong jangan kamu beri makan aku dan anakku barang dari sumber yang haram. Tolong wahai suamiku.” Maka, berapa banyak korupsi bisa ‘direm’. Dan insyaallah tidak akan muncul koruptor-koruptor baru dalam menjalankan amanah kenegaraan saat ini.

2.      Air mata.

Air mata adalah jalan tengah bagi wanita dalam melerai duka dihatinya. Dengan menumpahkan gundah-gulananya dengan menangis, maka hatinya akan menjadi begitu plong. Sebenarnya, ini potensi besar, tangisan bukan mencari kasihan dari makhlik yang juga sebenarnya memiliki masalah. Tapi, menangis yang cerdas, menangis memohon dengan ketulusan hati kepada Dia Pemilik Seluruh Hati, Allah swt. Seorang ulama mengatakan, “Saya dapat mengetahui, doaku yang manakah yang dikabulkan oleh Allah”. Seseorang bertanya, “Bagaimana anda dapat mengetahuinya?”. Ia menjawab, “Ketika bulu romaku berdiri, hati bergetar, dan air mata berderai, saat itulah ku ketahui doa saya telah dikabulkan”. Inilah potensi wanita yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki kebanyakan atau bahkan dirinya sendiri.  
Jika potensi yang satu inidigunakan oleh kaum wanita dalam berdoa. Bukan hanya mendoakan suami agar tetap taat dan istiqomah. Bukan hanya mendoakan agar dagangan dan pekerjaanya terselesaikan. Tapi, ia juga peduli dengan keadaan bangsa yang morat-marit, senantiasa bersujud dan memohon agar segala permasalahan bangsa dapat diselesaikan dengan mudah, baik oleh para eksukutif, yudikatif, legislatif, kepolisian, pengusaha dan sebagainya. Ia bangun di akhir malam mendoakan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Inilah pahlawan zaman now dibalik tirai. 

3.      Sifat tarbiyah alias pendidikannya.

Dari seorang wanita muncul pemimpin hebat. Sejarah menyaksikan, seorang wanita yang hidup di padang sahara, lembah Batha, Makkah Al-Mukaramah. Ketika itu, ia hanya tinggal seorang diri bersama anak semata wayangnya Sang Ismail kecil. Bunda Hajar ra. Telah mengubah kesendirian menjadi kota gemerlapan. Bukan hanya gemerlap dari segi duniawi, tapi juga gemerlap darisegi ukhrawi. Negeri Makkah Al-Mukaramah telah melahirkan pemuda Sholeh yang dari keturunannya lahirlah Sang Pencerah ke seluruh Alam, Muhammad saw.
Bercermin dari pendidikan yang diberikan Bunda Hajar r.ha. kepada putranya Ismail. Terlihat jelas, bagaimana kepatuhan ananda Ismail, ketika ditanya oleh Sang Ayah yang telah lama berpisah. Tentang nubuwah akan disembelihnya dirinya. Sang Imail kecil hanya menjawab. Bukan hanya sekedar memberi jawaban yang kosong, tapi jawaban yang sekaligus meneguhkan dan menentramkan sang ayah untuk bertindak. “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu. Niscaya, engkau akan dapati saya dalam keadaan bersabar, insya Allah.” (QS. As Shaffat: 102).
Sifat murabi, pendidik yang dimiliki oleh Bunda Hajar haruslah mengilhami wanita di zaman sekarang ini. Disamping ia memiliki profesi di luar rumahnaya. Ia tetap tidak terlepas dari tanggung jawab mendidik seperti yang dicontohkan oleh Bunda Hajar. 13 tahun menurut sebagian ahli sejarah, Bunda Hajar menjadi single parent bagi Ismail kecil. Kamupun bisa menjadi wanita ‘hero’itu. 

4.      Multi Talenta 

Tidak ada wanita kecuali dia multi talenta. Bagaimana bisa? Lihat saja dalam satu waktu dia bisa menyelesaikan beberapa persoalan. Ketika sedang membersihkan rumah, ia memasak untuk keperluan suami ke kantor dan anak-anak sebelum ke sekolah. Sementara menyapu, terdengar yang bungsu menangis di ayunan. Segera ia berlari. Disamping itu, ingtannya harus tetap pada masakan agar tidak gosong. Terkadang ia lakukan sambil mencuci pakaian di mesin, ingatannya pun harus dikontrol. Suami setelah mandi masih juga menanyakan dimana pakaian kerja yang mesti dia kenakan, setelah dicuci kemarin. Tidak jarang, ia akan meninggalkan makannya untuk memenuhi itu, sedikit menyetrika atau lainnya. Bagaimana bisa seorang wanita tidak ditempatkan mulia dalam islam? Tidak ada surga dibawah telapak kaki suami, atau lelaki. Tapi, surga berada di bawah telapak kaki ibu, atau wanita. Itulah pahlawan wanita zaman now. Kalau dia bisa mengakumulasikan semua potensinya, bukan untuk sekedar diri dan keluarga. Tapi, ia menjadi patron perubahan besar bagi suatu negara, bahkan dunia.

#Selamat_Hari_Dharma_Wanita
#KMO_Alineaku

                                                                                   
Wanggudu, Asera, di Kamar Sepi, 13.45. 8 Agustus, Sulawesi Tenggara.


=========================================================================



Bahan Bacaan:
Al-Kandahlawy, Zakariyah. 2009. Himpunan Fadhilah Amal. Bandung. Pustaka Ramadhan.
Departemen Agama RI. 2013.  Al-qur’an Dan Terjemah. Jakarta. Suara Agung.
Hamka. 2016. Dari Hati Ke Hati. Jakarta. Gema Insani Press.
Iloveaceh.com. diakses 08/08/18 jam 11.30.